Debaran Dalam Cinta

Debaran Dalam Cinta
D: Kebohongan diri sendiri


__ADS_3

Semuanya dimulai saat aku beranjak di kelas 8 SMP waktu aku iseng menanyakan soal percintaan kepada teman-teman dekatku saat berkumpul di rumah Asep, rumahnya 3 tingkat dan kami ada di lantai paling atas di kamarnya.


Asep adalah sahabat terbaikku dari SD sekaligus anak orang kaya raya. meskipun dirinya dari keluarga terpandang tapi dia tidak pernah sombong dan justru malah sangat baik kepada teman-temannya, apalagi kepadaku sebagai sahabatnya.


Ketika saat itu, kami semuanya berlima baru saja selesai mabar (main bareng) mobile legends dan mendapatkan win streak (kemenangan beruntung) untuk yang ke-46 kalinya.


Waktu itu ketika aku mengobrol bersama-sama kami biasanya menggunakan kata 'lu' dan 'gua', kecuali ada orang yang lebih tua dari kami atau guru maka kami menggunakan 'aku' dan 'kamu' untuk menyesuaikan.







Rizal waktu itu menggunakan Karrie di gold lane, Zimam menggunakan Tigreal sebagai roomer, Asep menggunakan Estes di mid lane, Aswal menggunakan Zilong di exp lane, dan aku menggunakan Julian sebagai core sekaligus yang paling sering mendapatkan MVP.


"Hadeuh! musuhnya lembek banget kayak kertas. padahal heronya enak-enak ada Aldous, Luo Yi, Moskov, Gusion, sama Hylos, tapi tetep aja terlalu EZ!".


Rizal mengatakannya dengan bangga sekaligus sombong. Ia lalu menuangkan air es dari teko ke gelas dan meminumnya.


"Ya jelaslah, tanknya juga gua, Tigreal! demi kemuliaan!".


Zimam pun tidak ingin kalah untuk membanggakan dirinya sendiri. Ia juga ikut meminum air es miliknya.


"Tanpa gua kita gak akan mungkin menang! gua yang ngasih darah mulu kalau enggak juga lu semua udah banyak matinya. Top global Estes ke-sembilan nih bos!"


Bahkan Asep pun sama tak ingin kalah berargumen. Sesudah dirinya mengatakan hal itu, ia memakan gorengan.


"Lah?! ... dari tadi yang push tower kan gua, lu semua war. Kita menang terus karena gua fokus ngepush tower mulu sedangkan kalian fokus war, kill musuh, mancing musuh."


Aswal yang mendapatkan KDA 3/5/2 merasa tidak puas mendengar perkataan dari mereka semua. Ia ingin lebih membanggakan dirinya dan di akui oleh semuanya.


Aku sejak tadi hanya berdiam sambil memperhatikan mereka semua yang malah berdebat karena hal kecil.


"Iya kan lu Zilong, tugasnya ngepush! apalagi emang? ... Kita semua kan yang mengecoh lawan biar lu enak push towernya".


Asep mengatakannya dengan sejujurnya dan menaikan alisnya.


"Tau lu Wal, harusnya lu bersyukur udah di bikin gampang buat ngepushnya!".


Zimam terlihat mendukung Asep dan memojokkan Aswal.


"Kalau Aldous tadi gak ngerooming ikut war, lu gak akan bisa push, mati terus!".


Rizal pun sama, semuanya seolah-olah menjadikan Aswal seperti beban.


"Sialan lu semua! Lain kali gua gak mau di Exp, gak mau pake Zilong lagi gua!"


Aswal terlihat merajuk dengan tatapannya sinis dan ekspresi merajuk, kami semua menertawakan hal itu. Memang tidak ada yang lucu tapi entah kenapa kami malah tertawa melihat kelakuannya.


Karena aku tidak ingin debat itu menjadi panjang, aku pun mulai ikut nimbrung pembicaraan.


"Yaelah pada ngaku-ngaku semua, padahal gua yang gendong dan yang paling sering dapet MVP juga."


Aku mengatakan itu dengan santai dan tidak ada niatan sombong. lalu aku hendak memakan kue tapi semuanya melihat ke arahku sampai aku kebingungan dan melihat mereka satu persatu.


Aku menaikan alisku dengan ekspresi bingung, mereka juga menaikan alis mereka. kami berdiam-diaman sejenak dan saling bertatapan, dan pada akhirnya kami semua malah tertawa lagi.


"Yaudah lah, gua cape menang mulu, lanjut nanti aja deh." ucap Zimam.


"Gua setuju Mam! mending lanjut malem aja biar ketemu musuh mythical glory yang benar-benar keras bukan kertas kayak epical glory. Bosen gua menang mulu".


Rizal masih saja sombong dengan dirinya sendiri dengan nada suaranya yang membuat jengkel.


"Belagu banget lu, kebanyakan gaya. Nanti ketemu musuh yang jago terus di bantai nangis!!".


Aswal masih merasa dirinya dianggap beban karena perkataan Rizal.


"Mustahil! Karrie gua sulit buat di bunuh, udah terlalu jago. Kalau perlu gua lock jungle nya sampai dia kena mental!"

__ADS_1


"Siap! Si paling jago bisa bikin jungle musuh kena mental."


Asep mengatakan itu dengan memberikan hormat kepada Rizal yang sedang membanggakan diri. Aku pun memotong perdebatan mereka lagi.


"Udah-udah! Jangan di perpanjang. Ouh iya, kalau lanjut malem gua kayak biasanya aja cuman bisa main beberapa match. Kalian semua tau lah malem-malem gua gak boleh begadang dan harus tidur di bawah jam 11 sama harus belajar minimal 30 menitan sebelum tidur".


Perdebatan pun berhasil akh hentikan sambil di alihkan pembicaraannya.


"Oke. Kita semua paham kok, kalem aja." Asep menepuk bahuku dengan pelan, kami saling tersenyum tipis.


"Terus sekarang kita ngapain? Enaknya bahas apaan nih?" Aswal menaikan alisnya, semuanya diam sambil memikirkan topik pembicaraan.


Beberapa menit berlalu, kami semua hanya saling berdiam-diaman sambil mengemil makanan dan masih mencari topik pembicaraan yang cocok.


Aku melihat sekeliling kamar Asep yang sangat luas dan juga rapih, tidak, jauh dari kata rapih. Baju-baju bersih yang berantakan di atas dan di dalam lemarinya, tempat tidur yang masih belum di rapihkan dari dia bangun tidur, botol-botol yang menumpuk di bawah meja belajarnya, perlengkapan alat tulis yang tidak rapih dan berantakan di atas mejanya. kamarnya benar-benar seperti kamar cowok pada umumnya jika sedang malas bersih-bersih.


Terkadang, aku sering membantunya membereskan semua keberantakan itu agar menjadi rapih. dan biasanya Asep selalu memberiku upah berupa uang namun selalu aku tolak dan dia selalu memaksaku untuk menerimanya.


Yahh ... mau atau tidak aku pun menerima uang itu sebesar Rp. 100.000,00 hanya dengan sekali membantunya membereskan kamarnya agar rapih.


Dia benar-benar orang yang sangat baik, keluarganya pun ramah dan akrab denganku karena kami sudah kenal dari SD, aku bersyukur memiliki sahabat seperti Asep.


Bukan rasa insecure yang aku dapatkan ketika bermain bersamanya, tapi rasa kepeduliaan, tolong menolong, tidak memandang orang lain dengan sebelah mata, dan tidak memilih-milih teman dari derajat maupun statusnya-lah yang aku dapatkan dari sosok Asep dan Keluarganya.


Tak lama kemudian, Rizal memulai pembicaraan.


"Eh! pacar gua udah spam chat sampai 317 sama nelpon 12 kali, anjir! Dia udah nungguin gua dari tadi. Untung tadi notifikasinya gua matiin waktu push rank kalo enggak, pasti udah ngelag waktu main tadi. Gua telpon balik dia dulu yah?".


Entah kenapa wajah Rizal terlihat merasa lega sambil menunjukkan Whatsapp-nya. ia tidak merasa panik atau merasa bersalah karena meninggalkan pacarnya tanpa memberi kabar.


"Yaelah, lagi ngumpul bareng juga malah lebih mentingin pacar, heran gua".


Asep sedikit menyindir sebelum ia memakan kue putri salju.


"Tau tuh, mentang-mentang punya pacar. Non-aktifin lagi aja notifikasinya, gak usah online sekalian."


Aswal mendukungnya, ia mengambil dan memakan gorengan bala-bala.


"Setidaknya hargai perasaan kami Zal." Ucap aku.


Zimam tidak diam saja, ia ikut menyindir Rizal. mengucapkan perkataan itu dengan keras tapi Rizal terlihat biasa saja dan malah balik menyindir kami.


"Lu semua kan jomblo nih, jadi mana mungkin paham pentingnya pacar. Kasian juga dia udah nyariin sampai spam banyak gini, gua kan jadi risih".


Rizal tersenyum tipis sambil melihat balasan Wa-nya, ia lalu mengetik sesuatu. awalnya aku kira ia merasa tidak enak tapi ternyata, ya begitulah.


"Lah? Kalo risih blok aja ngapain di bales anjir! Terus lu kenapa senyum kayak gitu?"


"Gua senyum liat balasan chat dia lah, emangnya kenapa sih? Iri aja lu Mam. eh iya, lu kan jomblo."


Ia memasang ekspresi dan senyuman mencibir yang membuat kami semua tersindir dan rasanya ingin ... Ahh, ya sudahlah.


"Ngapain gua iri, anti iri hati gua bos!".


Meskipun Zimam berkata begitu dengan bangga, tapi ia terlihat jelas terpancing ucapan Rizal.


"Bisa aja nih bulu ayam."


"Dari pada lu, daleman medusa!"


"Masih mending daleman medusa yang wangi-wangi dari pada bulu ayam!".


Rizal tertawa dan senang sendiri sedangkan Zimam semakin kesal. Ia bahkan mengigit bibirnya sendiri karena bingung ingin menjawab apalagi.


"Sialan, gak ada celah anjir!" Kata-kata di dalam hatinya sambil menatap serius Rizal.


Rizal tiba-tiba mematikan ponselnya dan menghela nafasnya, ia melihat kami semua.


"Gua ada topik tentang cewek nih. Seandainya kalian tahu, bruh! cewek itu lebih ribet dari semua yang kalian kira, lu bakal serba salah nantinya. Terlalu baik salah, jahat juga salah, gak peka salah, terlalu peka juga salah, semuanya mereka salahin. Tapi untungnya gua ganteng jadi gak terlalu sering di salahin".


Rizal memasang sebuah pose dengan sebelah tangan kanan yang memegang dagunya, tujuannya mungkin agar kegantengannya terlihat oleh kami semua.


Itu membuat kami semua terdiam memperhatikan dirinya dengan rasa ingin menumbuknya.

__ADS_1


"Iya-iya, percaya yang ganteng mah".


Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, akhirnya aku memujinya dengan jujur.


"Siap! Si paling ganteng".


Asep hormat sebentar pada Rizal, ia pun ikut memuji Rizal seperti diriku. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Zimam dan Aswal, mereka berdua bertolak belakang dengan kami berdua.


"Sok ganteng banget nih anak, gantengan juga kita kan Wal?!" Zimam menoleh kepada Aswal.


"Yoi lah!! bahkan gua lebih percaya gantengan bapak gua dari pada lu Zal!" Mereka berdua melakukan tos tangan.


Terdengar seperti kata-kata kepalsuan dari mulut mereka di telingaku, aku bisa membedakannya karena aku tau karakter mereka berdua.


"Pake acara tidak menerima kenyataan segala. Gua tau kok lisan kalian tidak mengakui tapi batin kalian memujikan? Sedangkan cewek lisannya memuji tapi batinnya mencaci maki. Bener kan?".


Rizal mengatakannya dengan percaya diri, ia menaikan sebelah alisnya dan memasang senyum percaya dirinya, kami semua kemudian tertawa kecuali Rizal.


"Lah! kePDan lu Zal, sok tau banget." jawab Aswal dengan spontan.


"Percaya diri banget anjir! HAHAHA!".


Zimam tertawa terbahak-bahak, namun di balik tawanya itu pasti ada rasa kesal yang menusuk. Hal itu bisa di buktikan dari cara ketawanya.


"Siap! si paling ganteng".


Asep kembali hormat sebentar pada Rizal, aku hanya diam dengan senyuman tipis sambil menggeleng kepala dengan pelan.


Kami semua jadi saling sindir-menyindir dalam canda tawa. Tapi yang Rizal katakan itu sangatlah benar karena aku sendiri merasakannya dan karena itulah aku lebih memilih untuk jujur saja dari pada aku pendam, itu bisa menyakitkan.


Meskipun Zimam dan Aswal tidak mengakuinya secara lisan di depan Rizal, tapi terkadang saat berkumpul waktu Rizal tidak ada karena urusan pribadinya, mereka berdua malah berkata sebaliknya dengan yang sekarang mereka katakan, atau lebih jelasnya mereka memuji Rizal.


"Yaudah, lupain yang tadi! kembali ke topik pembicaraan, gua belum selesai ngomong. Cewek emang ribet tapi mereka juga ada sisi manisnya dan kalau dia udah jatuh hati banget sama lu, cewek bakal lakuin apa aja supaya lu seneng, nyaman, langgeng dan setia sama dia!".


Rizal menjelaskannya dengan detail bagaikan seorang ahli dalam hal percintaan, dia memang ahlinya sih.


"Halah, Bullshit! Bukannya pacaran itu sama kayak sebuah perbudakan modern ya? uang lu abis buat dia, lu harus ngertiin dia dan ngalah, terus banyak lagi".


Aku mengucapkan apa yang ada di pikiranku dengan nada datar.


"Gua setuju banget sama lu Yan".


Zimam mengelus pahaku, dia menjadikan celanaku pengganti kain lap.


"Oy! Jangan ngelap di celana gua juga kali!".


"Hehe ... maaf, gak sengaja tapi niat".


Asep memegang bahuku. "Sebagian besar gua juga setuju. gua lebih baik ngabisin waktu dan duit gua sama kalian semua dari pada sama cewek."


"Bener yang lu bilang Sep, dulu gua pernah pacaran tapi malah gak semanis yang gua bayangkan!"


Aswal mengatakan itu sambil menunjuk ke arah Asep.


"Heh! lu semua gak tau aja kalo pacaran itu bisa buat lu lebih semangat, percaya deh! hari-hari lu akan menjadi lebih berwarna, terlebih lagi kalau udah bisa nyubit pipi sama peluk, terus tiap hari di kasih PAP sama VN, uhhh!! ... mantap banget anjir! Kalau lu semua udah ngerasain apa yang udah gua rasain, pasti lu semua paham dan memihak ke gua!".


Rizal terlihat semangat mengatakannya.


"Huh!? gua gak sampai kayak gitu waktu pacaran. Gua pernah 6 bulan pacaran cuman pegangan doang, itupun jarang. ngasih PAP? VN? Cubit pipi? Peluk? Gua gak semanis itu! Malah hampir dikatakan gak pernah dan gua juga agak malu buat cubit pipi dia dulu".


Kata-kata itu terdengar sangat natural dari kenyataan yang Aswal rasakan.


"Elu nya aja yang bodoh. kurang peka banget jadi cowok. cewek itu sebenarnya pengen di manja, di elus-elus, di peluk, di traktir apalagi, dan sebagainya. Lu harus belajar banyak dari gua Wal!".


Rizal membusungkan dadanya dan tersenyum tipis, ia sepertinya sedang mencoba menunjukkan kewibawaannya dalam hal percintaan. Aku juga tidak tau dengan jelas sih.


"Ya gimana yah. (Zimam menggaruk dan mengusap rambut belakangnya) ... Lu kan fakboy sama playboy nih. pacar ganti mulu setiap sebulan sekali bahkan bisa menjalin hubungan dengan 7 cewek sekaligus, dan lu juga udah berpengalaman, terlebih lagi udah gak perjaka. Jelas bedalah sama kita semua yang bisa di katakan good boy. Iya, enggak, sih?".


Zimam menaik-turunkan alisnya pada kami semuanya sambil tersenyum tipis dan menjawabnya secara bersamaan.


"Yoi!!".


Kata-kata Zimam itu benar-benar terdengar menusuk untuk Rizal. Zimam tanpa belas kasih menampar Rizal lewat kata-katanya.

__ADS_1


Rizal yang tadinya membusungkan dadanya sekarang malah menunduk sambil tersenyum, tapi senyumnya bukan sepertinya orang yang kesal, rasanya begitu beda.


"Kita beda Zal!" Zimam pun tersenyum puas.


__ADS_2