Debaran Dalam Cinta

Debaran Dalam Cinta
Ah, masa sih?


__ADS_3

Keesokan harinya di sekolah, secara kebetulan aku dan Asep bertemu di kamar mandi saat jam pelajaran dan kami mengobrol sebentar.


"Eh! ada lu juga disini. Ngapain lu ke kamar mandi?".


Asep mengatakannya ketika baru keluar dari pintu kamar mandi yang di dalam.


"Ya kencinglah, ngapain lagi?" Aku berjalan mendekatinya, kami berhadapan di samping pintu kamar mandi.


"Gua kira lu cuman muter-muter doang ke kamar mandi".


"Lah?! itu mah kan lu sendiri".


"Hehe, tau aja. Gua lagi males pelajaran matematika, yang ngajarnya bu Sri lagi. Pusing otak gua dengernya".


Asep terlihat bingung sambil menggaruk rambutnya. Dalam semua mata pelajaran Asep paling tidak suka pelajaran matematika. Dia pernah bilang kalau, "Gua lebih baik lari keliling lapangan 15x dari pada belajar matematika!" Jika aku jadi Asep aku lebih baik memilih sebaliknya, aku ingin lebih menghemat tenaga dari pada membuang-buang tenaga.


"Padahal enak loh di ajarin sama bu Sri".


"Apanya yang enak? Ngejelasinnya bikin pusing, bukannya jadi mudah malah jadi sulit. Kenapa harus ada ‘x’ dan ‘y’? terus nyari 'n'. Perasaan dulu semuanya gampang, tapi sekarang semuanya berubah jadi bikin pusing!".


Dia benar-benar mengatakannya dengan jujur dalam hatinya, mau heran tapi Asep.


"Makanya, setiap beliau ngajar lu jangan bercanda apalagi bolos, tapi simak sambil cermati! Nanya kalau gak ngerti, jangan diem aja!".

__ADS_1


Aku berusaha memberikan saran terbaik untuknya,  bagaimanapun juga dia adalah sahabat terbaik yang aku miliki.


"Gimana mau nyimak coba? ngejelasinnya aja di persulit, di jabarkannya bikin pusing."


"lah kan- Terserah lu aja deh, gua capek jelasinnya".


Aku pasrah saja dengan sifat Asep yang seperti itu, aku ingin membantunya agar menyukai pelajaran matematika tapi ... Ya sudahlah.


"Yaudah. Eh iya, gimana hubungan lu sama Dinda? Lancar, enggak?" Ia menaikan alisnya.


Aku mengangguk, "Sejauh ini sih lancar. Gua rasa dia suka sama gua dan gua juga kayaknya sama. Agak bingung juga sih soalnya ini pertama kalinya, Lu sendiri ngertilah".


Asep memegang dagunya, "Hmm ... Yaudah, lu ungkapin aja perasaan lu ke dia".


"Maunya sih gitu Sep. Tapi kalau gua ungkapin perasaan gua lewat pesan WA, gua ngerasa kayak gak gentleman banget gitu, gak ada keberanian sebagai laki-laki! Terlebih lagi itukan hanya sebuah ketikan, bukan ucapan secara langsung, jadi rasanya pasti berbeda menurut gua. Bener, enggak?" Aku menaikan alisku.


"Ketemuan gimana!?".


Saat mendengar perkataan itu dari Asep aku benar-benar merasa bingung, 'bagaimana ketemuannya kan jauh?' aku berpikir demikian.


"Ya tinggal ketemuan. Dia kan satu sekolah sama kita, temen sekelasnya gua!".


"!!".

__ADS_1


Aku langsung reflex memasang wajah kaget sekaligus bingung tidak habis pikir. Mengapa demikian? Karena dulu aku benar-benar mengira bahwa kami berdua beda sekolah dan jaraknya jauh, aku gagal fokus dari awal dan itu sebuah kenyataan! Kebodohan pertamaku!


"... Ah, masa sih Sep. Dinda sama kita satu sekolah? Lu bohong kali".


Aku masih tidak percaya saat itu dan juga masih ragu-ragu. Semuanya terjadi karena aku terlalu fokus untuk menumbuhkan rasa cinta dan mendapatkan pengalaman first love dengan Dinda.


"Beneran, masa iya gua bohong sama lu. Bentar ... bukannya gua udah pernah bilang sama lu waktu pertama kali gua kasih nomor Dinda ke lu?!"


Aku mengingat-ingat kejadian itu dan akhirnya aku baru sadar.


Aku memegang kepalaku menggunakan kedua tanganku. "Aduhh! ... gua lupa, anjir!!" ucapku.


"Ling-lung lu, parah. emangnya selama sebulanan lu PDKT sama dia gak pernah nanya tempat tinggal dia dimana, gitu? Sekolah di mana, gitu?".


Tidak, hal tersebut tidak pernah aku tanyakan. Dulu aku terlalu berpikir kejauhan, aku takut dia mengira aku penguntit (Perilaku tersebut erat dengan kegiatan pemantauan yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung serta cenderung melecehkan dan mengintimidasi).


Aku menggelengkan kepala, "Enggak pernah. karena menurut gua kalau gua nanya kayak gitu gua takut dia nanti berpikir dan menyangka gua penguntit dong. Bener kan?" Aku menjawabnya dengan sejujurnya.


Asep memegang kepalanya dengan tangan kanannya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Hadehhh! ... gak gitu juga Raj! Lu terlalu Overthinking! Kejauhan pemikiran lu. Dan bisa-bisanya lu melupakan hal terpenting dari awal. Terus, Dinda juga sama sekali gak nanyain hal itu juga ke lu dan dia juga gak nyadar kalau kalian berdua satu sekolah, gitu?!" Ia menaikan alisnya sambil sedikit menelengkan kepalanya.


"Iya, dia juga gak nanya dan kayaknya berpikir seperti yang gua pikirin, mungkin. lagipula gua kan gak pernah terlalu deket sama cewek sampai nanya-nanya identitas lengkap dia. walaupun gua udah deket sama Dinda juga gak sampai gua interogasi identitas pribadinya."

__ADS_1


Itu benar, menginterogasi indentitas pribadi seseorang merupakan suatu tindakan yang tidak boleh sembarangan di lakukan!


Asep kembali menggeleng kepalanya, "Hadehhh!!".


__ADS_2