Debaran Dalam Cinta

Debaran Dalam Cinta
D: Debat seorang lelaki labil


__ADS_3

Suasana menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya yang ramai. Kami merasa puas karena berhasil membuat Rizal terdiam terlebih lagi Zimam, senyumannya sangat menyindir.


Namun, ada yang aneh dengan Rizal. ia menunduk dan tiba-tiba tertawa kecil yang membuat kami bertanya-tanya.


"Kenapa lu ketawa tiba-tiba, emang ada yang lucu?" tanya Zimam.


"Kesambet lu Zal?" tanya Aswal.


Rizal menatap kami dengan menggelengkan pelan kepalanya dan tersenyum mencibir.


"Tidak. tidak ada apa-apa. hanya saja aku berpikir percuma berdebat dengan orang yang tidak merasakan hal yang sama. Jomblo di tahun 2028? hahahaha." ia pun tertawa puas.


"Kampret lu Zal!"


Zimam terbawa emosi sampai beranjak diri. Aswal menahan dan menenangkannya.


"Santai-santai, kita harus bermain cantik. ambil nafas ... buang."


Zimam mengikuti perkataannya dan memasang ekspresi kesal karena tidak bisa membalasnya, ia mendecih.


"Tuh kan, gitu aja baperan. kelamaan sendiri sih." Rizal kembali menyindir.


"Gue cuman ga mau terlihat mencolok. pacaran itu mencolok. gampang aja bagi gue buat dapetin cewek mah." jawab Zimam.


"Iya-iya, terserah."


Rizal seperti tidak percaya dan menganggap Zimam berkhayal hingga ia pun kembali mendecih.


Aku menghela nafas, "Hahh! tapi kalau dipikir-pikir ucapan Rizal bener juga. secara kita belum merasakan apa yang udah dia rasakan. bukan berarti gua dukung dia ya, gua cuman meluruskan lagipula kita kan teman deket."


Rizal tersenyum superioritas dan menunjuk aku, "Nah! ini baru yang namanya temen beneran. seneng gua dengernya juga. nanti gua kasih tutorialnya deh buat dapetin cewek."


"Ga perlu Zal." aku menolaknya.


"Yaelah gapapa, ga usah malu-malu nanti gua ajarin."


"Sumpah Zal, ga perlu."


"Ya udah kalau lu mau berjuang hasil usaha sendiri dulu. lain kali kalau butuh bilang aja. gua mau bales telpon doi dulu ya." Ia berdiri.


"Gue minjem teras luarnya Sep."


"O-oke. pake aja."


"Yoo! dadah kaum jomblo." ia melambaikan tangannya dan pergi ke teras luar di belakang jendela.


"Ga usah balik lagi lu! sana sana!" jawab Zimam yang kesal.


Rizal memberikan kedipan mata dengan senyuman hangat padanya dan di liat oleh kami semua.


"Hoeek!" jawab spontan kami, Rizal tertawa kecil.


Ketika Rizal pun sudah keluar meninggalkan kami, aku pun di interogasi.


"Lu kenapa tadi malah dukung dia Yan?" tanya Zimam dengan menatapku.


"Gua kira hubungan kita istimewa." Asep pun ikut menatapku.

__ADS_1


"Gua salah menilai lu. kirain bakal balas nyindir dia." Aswal juga menatapku dan posisiku bagaikan terdakwah.


Aku menelan ludah dan mulai memikirkan alasan yang lebih meyakinan, "Tenang-tenang. coba deh bayangin kalau kita lanjut nyindir dia, nanti yang ada kita kena skakmat secara dia lebih menguntungkan sekalipun kita berempat."


Semuanya pun terpancing dan mulai membayangkan seperti yang aku katakan.


"Iya juga sih." Jawab Aswal.


"Ngebayangin senyumannya aja udah bikin gua kesel." jawab Zimam.


"Bener-bener." jawab Asep.


Lalu mereka kembali menatapku dengan tatapan yang bersahabat.


"Pinter juga taktik lu Yan." Ucap Zimam sambil menepuk punggungku.


"Malu gua udah ngeraguin lu." Asep pun menepuk pahaku.


"Lain kali kasih isyarat dulu dong biar ga salah paham." Aswal tersenyum polos.


Aku pun ikut tersenyum dan interogasi berakhir dengan cepat. saat suasana baru saja adem dan tenang, suara Rizal yang sedang telponan pun menjadi terdengar jelas.


"Nanti malam ya sayang. aku bakal kesana sambil bawa makanan." suara Rizal.


"Janji ya nanti malam, awas aja kalau engga! malam ini aku kan ulang tahun, tapi mama papa lagi keluar kota jadi aku sendirian di rumah. kamu harus dateng yaa!" suara ceweknya dengan nada bicaranya yang manja.


Kami pun mendengarnya dengan seksama dan Zimam memegang dadanya.


"Kampret, dada gua bergetar." ucap pelannya.


"Tahan Mam, ini ujian." Jawab Aswal yang memegang bahunya.


Cewek ditelpon pun merengek sebentar, "Heemm..! harus dateng ah, utamain aku dulu. jangan bilang mau nge-game? tadi udah, aku ngertiin. nanti malem giliran aku dong." ia manja sekali.


Kali ini Aswal pun ikut memegang dadanya seperti Zimam.


"Oy! Kenapa lu Wal?" tanya Zimam di sampingnya.


"Gua jadi inget masa lalu. sial!" ia memukul pelan karpet yang kami duduki.


"Enak ya punya masa lalu, gue ga punya." Zimam malah merasa iri dengan hal tersebut.


"Matamu enak. tiap hari pura-pura ga ada rasa tapi nyatanya masih tersimpan di dada." Aswal jadi curhat.


"Waduhh!"


"Bukan urusan karena game tapi yang lain gitu." Suara Rizal.


"Ga boleh. pokoknya malem nanti harus berduaan sama aku. kalau kamu dateng nanti aku kasih. emangnya kamu ga mau nih? yaudah ka-" ucapannya di potong.


"Jelas mau dong sayang. aku pasti dateng kok." Rizal tersenyum.


"Giliran ada gituannya mau, dasar."


"Kapan lagi kan?"


"Kapan lagi, kapan lagi? baru juga 3 hari yang lalu. hummm!" Si cewek pasti sedang berekpresi cemberut.

__ADS_1


Zimam yang sudah tidak tahan pun mulai berteriak kepadanya.


"Ga usah di loudspeaker juga kali bang. yang disini bisa denger semuanya nih!"


Rizal menoleh, "Lah! kedengeran?" Jawabnya.


"EHH!!" Si cewek kaget sekaligus sangat malu.


"Ya kedengeranlah, jelas banget."


"Bukannya redup suara?" Rizal bertanya untuk memastikan dan menaikkan alisnya.


"Yang kemarin redup, kalau yang sekarang udah di ganti jadi engga redup." jawab Asep.


"Kenapa ga bilang anjay."


"Lu ga nanya kan?"


Rizal pun menggaruk rambutnya dan tidak bisa berkata-kata lagi.


"Kenapa ga bilang lagi sama temen sih. dan kenapa di loudspeaker?" Nadanya menahan malu.


"Maaf, ga sengaja. aku cuman mau lebih jelas denger suara kamu sayang."


"Ahhh! bodohhh! aku jadi malu tau!"


"Ga apa-apa."


"Ga apa-apa dengkul kopongmu."


"Husss! jangan berisik-berisik, nanti aku ga dateng loh. pelan-pelan."


"Eumm."


Rizal sangat jago memanipulasinya, memang beda kalau kita good looking, terlebih lagi Rizal sangat terkenal di sekolah dan banyak yang menyukainya, jadi itu hal biasa.


Mereka berdua masih melanjutkan telponan dengan suara pelan yang sudah tidak terdengar oleh kami semua.


"Kampret banget si Rizal." gumam kesal Zimam dan menggigit bibirnya.


"Dulu gua ga sampai segitunya deh sama dia." Keluh Aswal yang masih memegang dadanya dengan wajah sedih.


Entah kenapa Asep justru tertawa kecil sebentar, "Haha! udah bawa santai aja, mending ngemil."


Aswal menoleh, "Bener, mending ngemil."


Ia mengambil makaroni dan raut wajahnya berubah menjadi ceria lagi.


"Iya sih, ngapain juga gua mikirin." Zimam mengambil pisang goreng.


"Iyalah, bawa santai aja. urusan cinta mah nanti juga datang sendiri." Asep hendak meminum es.


"Tapi gua jadi pengen nyobain pacaran."


Aku mengucapkannya begitu saja tanpa berpikir panjang, dan aku sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba bisa berkata seperti itu. bahkan Asep menjatuhkan gelas yang baru akan di tuang es.


Ia menatapku, Zimam bahkan sampai keselek pisang goreng, dan Aswal terlihat menatap histeris. aku pun jadi kaget sambil melototi mereka satu-persatu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2