Defeat - Victory

Defeat - Victory
Kihan, Pangeran Ketiga


__ADS_3

Seorang pria berwajah pucat dengan campuran debu perjalanan, berpakaian kumal dan kotor yang penuh dengan sobekan di mana-mana merasakan bibirnya gemetar menahan lapar terus berjalan dengan kacau seperti orang mabuk yang hampir kehilangan keseimbangan dan kesadaran. Kakinya melangkah mendekati sebuah pondok tua yang terbangun dari susunan kayu yang sudah tua. Pondok tua yang berdiri tunggal di dalam sebuah lembah gelap yang tak pernah ingin dijamah oleh siapa pun.


Tangannya yang berbalut oleh lengan baju panjang namun tetap tidak bisa menyembunyikan goresan-goresan luka dari tangannya dengan darah yang sudah mengering tersebut mengetuk pintu tua di depannya hampir tak bertenaga.


Seorang pria tua bertubuh kurus dengan kulit keriput tak menunjukkan adanya lemak di sana dan rambut yang dipenuhi oleh warna putih membukakan pintu. Matanya yang sedikit memutih melihat dengan jelas pemuda di depan rumah tuanya.


Penampilan yang kacau dari perjalanan jauh dan terkesan bukan perjalanan biasa yang ditunjukan oleh luka-luka tak terawat dari tubuh pemuda itu terlihat sangat jelas di mata tua tersebut.


Entah siapa dan apa tujuan dari kedatangan pemuda tersebut di pondok tuanya ini, tapi di mata pemuda itu, dia melihat dengan jelas sebuah tekat yang sangat kuat dan tanpa keraguan.


Rasa lapar dan bibir gemetar tidaklah begitu pemuda itu hiraukan seperti luka-luka ditubuhnya saat ini. Dia benar-benar berfokus pada pria tua yang ada di depannya. Semangatnya menyala lebih dari biasanya.


"Namaku adalah Kihan," ucapnya memperkenalkan diri dengan nada yang baik tidak menunjukan dirinya sedang mengalami masalah lelah, kelaparan atau menahan sakit.

__ADS_1


"Pangeran ketiga Kerajaan Qirthas. Aku datang kemari untuk meminjam kekuatan Anda Tuan Kaedius. Untuk mengambil alih Kerajaan Qirthas dari raja dan pangeran mahkota," tambahnya langsung pada inti dan tujuan yang dia bawa kemari.


Pria tua tersebut melihat Kihan dengan datar untuk beberapa detik sebelum dia merespon Kihan yang menunggu dirinya bicara.


"Aku tidak mengerti maksudmu nak," ucapnya. "Sepertinya kau telah salah paham terhadap beberapa hal. Kalau kau ingin mencari kekuatan, jangan datang pada pria tua yang sudah rentah dan hanya menunggu ajal menjemput," tambahnya.


"Tuan Kaedius. Anda mungkin adalah kriminal kerajaan yang bersembunyi sebagai pria tua untuk menghindari pasukan kerajaan. Bersamaku, Anda bisa menjadi diri Anda sendiri tanpa perlu bersembunyi di balik cangkang tua ini. Asalkan Anda membantuku menjadi raja, aku akan memberikan apa pun yang Anda inginkan," ucap Kihan dengan yakin kalau lawan bicaranya mengerti dengan baik apa yang dia bicarakan.


Lagi-lagi pria tua itu melihat Kihan dengan pandangan yang tidak biasa. Dia tersenyum aneh dengan ucapan Kihan. Dia tahu dengan baik tentang manusia. Manusia tidak bisa memberikan apapun yang diinginkan oleh orang lain.


"Aku yakin Anda sudah tahu bahwa kekacauan besar yang terjadi di mana-mana saat ini adalah alasan yang jelas. Aku akan mengambil alih tahta dan menjadi raja yang baru. Akan kumusnahkan para iblis yang telah dibangkitkan dan di bebaskan oleh raja dan pangeran mahkota dari segel yang mengurung mereka selama ribuan tahun," kata Kihan dengan penuh ambisi di dalam pondok.


Kaedius tersenyum meremehkan ambisi Kihan yang terlalu tinggi dan benar-benar sebuah mimpi dan hayalan. "Anak muda. Ada yang harus kau pahami dengan baik di sini. Perbedaan kekuatan manusia dan iblis sangatlah besar. Kesempatan menang untuk manusia adalah nol besar," ucap Kaedius sambil melihat Kihan.

__ADS_1


Dalam urusan hidup, Kaedius telah berpengalaman banyak. Jika hanya menjatuhkan raja dari tahta dan menaikan raja baru bisa mengalahkan para iblis dengan mudah, maka itu terlalu mudah. Masa depan tidak akan seperti saat ini jika konsepnya memang seperti itu.


"Anda tidak bisa memutuskan begitu saja Tuan Kaedius," balas Kihan.


Kaedius menjadi heran dengan respon yang diberikan oleh Kihan. Dia pikir Kihan akan berpikir dan menjadi ragu, tapi pemuda ini tidak berpikir ke sana. "Apa yang Anda katakan sama sekali tidak beralasan. Kalau Klan iblis sekuat pujian Anda, lalu kenapa mereka tidak menang ribuan tahun lalu?" tanya Kihan.


Mulut Kaedius sedikit terbuka mendengar pertanyaan Kihan. Seolah dia benar-benar tidak menduga akan mendapat hasil yang seperti ini.


"Mereka kalah oleh seorang raja manusia biasa. Hanya perlu satu orang untuk memulainya. Sebagai seorang Pangeran dari Kerajaan Qirthas, aku juga bertanggung jawab atas kekacauan ini. Di zaman ini, aku akan memulainya. Bahkan jika aku mati dengan kekalahan, setidaknya aku akan meninggalkan orang-orang yang ingin menang. Mereka yang akan melanjutkannya. Aku harap Anda tidak membiarkan jiwa Anda mengering dan tidak membiarkan jiwa Anda dilahab oleh para iblis,"


"Aku bisa melihat ambisi dan kesombongan dari dalam matamu Pangeran Ketiga. Tapi aku menyukainya. Ayo kita coba kemungkinan yang kau bicarakan itu. Aku juga ingin tahu, apakah kau bisa melampaui raja yang menyegel iblis di masa lalu atau kau hanya akan jadi bahan lelucon untuk para iblis. Aku, Kapten dari Hidden Sin akan meminjamkan kekuatanku kepadamu Pangeran Kihan," ucap Kaedius sambil memperlihatkan sosok asli dari dirinya.


Seorang pria yang benar-benar berbeda dari pria tua. Pria tua rentan hanyalah cangkang. Kihan tampak terkejut melihat sosok asli Kaedius. Terlihat masih muda hanya tua beberapa tahun darinya. Kihan yakin Kaedius terlihat seusia dengan Pangeran Mahkota Andre, kakak tertuanya. Kaidius menjadi tidak yakin jika inilah sosok asli dari Kaedius pemimpin kelompok buronan dengan harga termahal yaitu Hidden Sin.

__ADS_1


Tidak penting sosok asli Kaedius. Yang terpenting dia telah mendapatkan pria bermata biru safir yang terlihat mencerminkan keadilan dan kehancuran. Mata itu sudah menjelaskan semuanya bahwa orang ini benar-benar Kaedius. Kaedius Si Iblis Kotor kapten para Hidden Sin.


__ADS_2