
Kihan dan Kaedius yang baru saja mengisi kekosongan perut mereka menambah waktu istirahat mereka di bar tersebut dengan sedikit bir.
Melihat seorang wanita mabuk yang menari dengan begitu bebas dan kacau membuat Kihan termenung. Wanita tersebut mengajak beberapa orang untuk bergabung bersamanya. Melepaskan masalah mereka dalam kegilaan tarian yang tidak beraturan.
Pria berpedang yang sebelumnya mencoba untuk membujuk wanita itu duduk kini telah berhenti dan duduk di kursi dekat dengan Kihan sambil mengawasi tindakan dari si wanita.
Soul mencoba menghentikan tuannya yang tidak berhenti minum bir padahal sudah begitu mabuk. Setelah usaha yang begitu keras, dia akhirnya menyerah. Dia membiarkan tuannya melakukan apa yang tuannya inginkan. Dia hanya perlu mengawasi, melakukan tindakan kecil yang diperlukan tentunya untuk menghentikan tuannya keluar batas.
Semua itu adalah tanggung jawab Soul sebagai budak. Memastikan tuannya aman apa pun yang terjadi.
Melihat perempuan itu melepas semua beban, itu membuat Kihan mengingat negerinya saat ini. Negeri yang terkenal sangat kuat, makmur dan sangat disegani oleh seluruh daratan kini hanyalah sebuah negri mimpi. Semua itu tidak tersisa lagi.
Tanah terkuat yang seharusnya melawan para iblis justru menjadi ladang munculnya para iblis. Begitu menjijikan untuk Kihan menyandang gelar seorang Pangeran Kerajaan Qirthas. Sementara bencana besar saat ini disebabkan oleh keluarga kerajaan itu sendiri.
Jika ia bisa mabuk seperti perempuan itu, ia ingin. Perempuan itu terlihat seperti sangat tidak peduli dengan teror para iblis yang ada dimana-mana saat ini sangat merugikan. Kihan ingin tidak peduli, tapi dia tidak bisa. Dia tidak bisa melihat lebih lama kekacauan ini terjadi.
Karena itulah dia ingin membangun kekuatannya sendiri. Kekuatan yang lebih kuat dari kekuatan iblis terkuat sekali pun.
"Jauhkan pandangan itu dari tuanku!" kata Soul dengan nada yang tajam bersama mata pedang yang berada tepat di depan leher Kihan.
Soul tahu orang di sampingnya ini sedang memperhatikan tuannya dengan cara yang tidak biasa.
Nada ancaman itu membuat Kihan beserta Kaedius menoleh kepada Soul. Setelah melihat Soul, keduanya tidak hanya mendengar kata-kata tajam tapi juga tatapan yang tajam.
Dari melihat Soul, Kaedius yakin akan sesuatu tentang Soul. Orang yang sedang bicara itu dan pedang yang keluar dari sarungnya itu, tidak bisa dianggap orang dengan kemampuan biasa. Kaedius pun menoleh pada wanita yang dimaksud oleh Soul. Bahkan wanita itu juga sama.
__ADS_1
Kaedius tersenyum. Jujur saja dia tidak menyadari keberadaan Soul dan perempuan itu di sekitar mereka. Hawa keberadaan kedua orang ini lenyap seolah mereka tidak termaksud orang di dalam bar ini. Hanya orang-orang dengan kemampuan di atas rata-rata yang bisa benar-benar menyembunyikan hawa keberadaan mereka.
Kaedius terlihat tidak peduli sama sekali. Dia hanya melihat kepada budak dan pangeran ini.
Setelah mengatakan kalimat itu dan melihat Kihan yang tidak lagi memperhatikan tuannya, Soul menarik kembali pedangnya dan memasukan pedang itu kembali ke sarung.
Soul melihat pada tuannya yang sudah kelelahan dan akan kehilangan kesadaran sebentar lagi. Soul berdiri, melihat seseorang yang duduk seorang diri di pojok kiri dengan jubah yang menutupi sebagian kepalanya. Sejak tadi Soul tahu orang itu terus melihat ke arah dia berada.
Yang dilihat oleh orang itu bukanlah dirinya dan tuannya. Tapi dua orang di dekatnya.
Selain orang dipojok itu, Soul juga merasakan ada orang lain yang mencoba menyembunyikan hawa keberadaannya. Meski terasa tipis, tetapi Soul dapat merasakannya.
Soul tidak menemukan keberadaan orang tersebut. Jujur saja, Soul sedikit tidak percaya dirinya tidak bisa menemukan orang itu. Itu sebenarnya sama sekali tidak penting untuk Soul. Kedua orang itu mengincar orang di dekatnya ini. Soul hanya perlu memastikan tuannya baik-baik saja.
Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Soul harus segera membawa pergi tuannya dari bar ini.
"Bagaimana menurutmu pangeran tentang orang itu?" tanya Kaedius akhirnya membuka pembicaraan di antara mereka.
Apa yang harus Kihan komentari? Soul sangat percaya diri dengan kemampuannya. Dia dan pedang nya itu tidak memiliki keraguan. Seolah keduanya telah menyatu dan saling mempercayai satu sama lain.
Tak berapa lama setelah tuan dan budak itu meninggalkan bar, satu persatu orang di dalam bar jatuh tak sadarkan diri. Kihan yang terkejut dengan apa yang terjadi langsung berdiri melihat ke sekelilingnya.
Hanya empat orang yang masih memiliki kesadaran. Kihan yang berdiri memasang sikap waspada. Dia yakin, orang yang dikirim oleh raja untuk membunuhnya ada di antara salah satu dari dua orang itu atau bisa saja memang kedua orang itu.
Kaedius yang tetap tenang minum beberapa tegukan terakhir dari bir miliknya. Tidak Kaedius sangka budak dan tuan itu cukup diwaspadai. Bahkan orang yang coba menyergap mereka di dalam bar ini memilih untuk menunggu budak dan tuan itu meninggalkan bar.
__ADS_1
Dua orang asing itu juga masih tetap tenang di posisi masing-masing yang cukup berjauhan. Kihan coba mencari tahu siapa di antara dua orang yang melakukan ini.
Tiba-tiba semua orang yang tidak sadarkan diri itu mulai bertingkah aneh. Kihan mengepalkan genggamnya. Dia tiba-tiba menjadi sangat marah. Di depan Kihan, peristiwa mengerikan terjadi. Perlahan-lahan manusia yang tidak tahu apa-apa ini mulai berubah menjadi iblis. Kihan bersumpah pada dirinya, dia akan mengalahkan para iblis dan membawa kembali kedamaian kembali ke tanah ini.
Sejak kakinya memutuskan meninggalkan istana, sejak itu juga Kihan memutuskan akan melindungi rakyatnya.
Kihan melihat kepada orang yang ada di pojok kiri. Dia mengeluarkan belatinya untuk orang itu. Kihan yakin orang itulah pelakunya.
Kaedius melihat pada belati yang dipegang oleh Kihan. Dia teringat pada seorang anak yang dia beri belati yang sama persis seperti itu.
Kaedius tersenyum ringan mengingat moment tersebut. Dia pernah mengatakan kepada anak itu untuk memberikan belati tersebut kepada orang yang ingin dia lindungi. Yang ingin dilindungi oleh anak di masa lalunya adalah orang yang saat ini bersamanya.
Kaedius minum birnya lagi. Ketika mereka berlari melarikan diri dari Istana Kerajaan Qirthas waktu itu, Kaedius masih mengingat dengan jelas anak itu melepaskan pegangannya pada anak lain yang melarikan diri bersama mereka tanpa mengatakan apa-apa. Anak itu membiarkan dirinya tinggal seorang diri di istana yang penuh kegelapan dan membiarkan mereka pergi menyelamatkan diri.
Kalau tidak melihat belati itu di tangan Kihan, Kaedius mungkin tidak tahu alasan sebenarnya anak itu memutuskan untuk tinggal adalah untuk Kihan.
Dalam kritis dimana raja mengeluarkan surah penangkapan mereka saat itu, mereka benar-benar melupakan keberadaan Pangeran Kerajaan Qirthas yang baru berumur satu minggu. Kaedius yakin, bahkan Kihan tidak mengetahui kebenaran ini.
Anak itu, mungkin tidak akan pernah mengatakan kebenaran ini kepada siapapun dan menanggung semuanya sampai akhir.
"Tidak kusangka masih ada yang bertahan," ucap orang berjubah di pojok kiri sambil berdiri.
Orang di pojok kanan masih tetap diam tanpa keinginan ikut campur.
Orang itu membungkuk memberi hormat kepada Kihan yang justru telah siap.
__ADS_1
"Atas perintah suci dari Yang Mulia Raja dan Pangeran Mahkota, hamba diperintahkan untuk membawa Anda kembali ke istana Pangeran Ketiga," katanya tanpa mempedulikan dua orang santai di sana.