Dekan Muda Dijodohkan Dengan Mahasiswi

Dekan Muda Dijodohkan Dengan Mahasiswi
Episode 8


__ADS_3

Adhitama Putra , ia tidak tahu kenapa bisa satu ranjang dengan seorang gadis yang menurutnya masih bocah ingusan, ia juga tidak tahu kenapa bisa bocah ingusan itu istrinya, dan ia juga tidak tahu kenapa ia menerima permintaan papanya yang menyuruh dirinya menikah dengan gadis ingusan bernama lengkap Davira Putri Pratama.


"Om," panggil Davira berhasil membuat Adhitama tersadar dari lamunannya.


Mata Adhitama melirik kesal ke arah istrinya.


"Sudah enam bulan kita menikah, berhenti panggil saya dengan sebutan itu, Davira." Tekan Adhitama.


"Davira sudah kebiasaan panggil Om Adhitama dengan sebutan Om. Kalo Om Adhitama tiba-tiba suruh Davira panggil Mas jadinya lucu tahu, Om."


"Itu lebih baik daripada Om, kamu nggak tahu apa? Setiap kali kita keluar bareng, dan kamu sebut saya om, saya malu."


"Om Adhi malu keluar bareng Davira. ?"


"Ya malu karena kamu panggil saya Om di depan teman-teman saya, depan kolega saya. Saya ini om kamu atau suami kamu, sih?"


"Dua-duanya, suami davira , om davira juga."


Aditama berdecak, pria itu memilih memejamkan kedua matanya. Ia benar-benar lelah malam ini. Pekerjaan ia sebagai dekan, belum lagi masalah bisnis nya juga yang belum selesai karena ada masalah yang membuat dia semakin banyak fikiran.


"Om Adhi kenapa? Mau davira pijatin?" tanya Davira.


Kembali Adhi membuka mata. "Kamu bisa diam? Tidur aja, nggak usah cerewet davira ."


"Om Adhi selalu nyebelin kalo lagi capek. Davira kena semprot mulu. Sini Davira pijatin, biar Om Adhi nggak marah-marah terus."


"Nggak mau."


"Bener kata papah wirawan, Om Adhi itu gak laku karena suka marah-marah. Cuma Davira yang bisa sabar hadapin Om Adhi . Coba kalau perempuan lain? Mana mau disemprot mulu sama Om Galak kayak Om Adhi ."


Mendengar sindirian itu membuat Adhi tidak terima. Rupanya Davira memancing pertengkaran antara keduanya. Adhi terduduk dari posisi yang awalnya tidur. Pria itu menatap tajam kedua mata sendu davira. Mata yang bertolak belakang dengan mata yang ia miliki.


"Kamu udah berani gosipin saya ya di depan papa? Lagian siapa yang nggak laku? Saya itu cuma milih-milih. Banyak yang mau sama saya, tapi saya nggak cocok sama mereka. Papa aja yang nggak sabar buat lihat saya nikah, dan malah gegabah nikahin saya sama bocah ingusan kayak kamu. ." Omel Adhi panjang lebar.


Davira yang mendapat omelan itu malah menguap, membuat Adhi semakin kesal. Gadis itu memang tidak ada takut-takutnya pada Adhi .


"Om Adhi sini tidur, Davira jadi ngantuk dengerin Om adhi ngomel. Udah kayak radio rusak tahu." Davira menarik tangan Adhi untuk kembali berbaring menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Sebelum menerima omelan lagi, davira segera memeluk adhi , menjadikan tangan kekar Adhi sebagai bantal. Wajah Davira disembunyikannya di ceruk leher pria yang ia panggil Om itu. "Udah Om Adhi jangan ngomel lagi, merem aja." Bisik Davira .


"Kamu yang pancing saya ngomel."


"Tidur Om, Davira nina boboin sini."


Pelan, davira menepuk-nepuk punggung Adhi . Emosi Adhi perlahan memudar. Bocah ingusan itu memang pintar meredakan emosi adhi . Perlakuan kecilnya berhasil membuat Adhi tenang.


Lima belas menit tangan Davira menepuk-nepuk punggung Adhi perlahan tepukan tangan itu melambat, sampai akhirnya berhenti. Davira lebih dulu terlelap.


Adhi tersenyum remeh, pria itu memundurkan wajahnya beberapa senti untuk menatap Davira . Memperhatikan wajah gadis yang ia panggil bocah. Hidung mancungnya, bulu mata panjang yang begitu damai saat tertidur. Istrinya sudah seperti keponakannya sendiri. Tak pernah Adhi memandang davira sebagai seorang wanita. Tak bernafsu juga pada gadis yang berumur baru saja mengijak dua puluhan . Hubungan suami istri antar keduanya hanya status belaka.


"Davira ... Davira ...," keluh Adhi . Ia memang gampang kesal dan gampang marah pada gadis itu, tapi kekesalan dan kemarahan Adhi tidak bisa bertahan lama. Salah satu alasannya ya itu, Davira bertingkah layaknya bocah, dan mana mungkin orang dewasa seperti Adhi marah lama-lama pada bocah?


***


Davira terlambat bangun. Gadis itu terkesiap dan langsung terduduk. Ia menoleh ke samping, Adhi sudah tidak ada di tempatnya. Davira manyun kesal, ia segera turun dari tempat tidur, dan menggedor kamar mandi yang sudah pasti di dalam ada Adhi yang enak-enakan mandi lama.


Pada gedoran pertama tak ada sautan. Gedoran kedua pun sama, suara gemerencik air shower masih terdengar jelas.Davira menghentakkan kakinya kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan napas sebelum akhirnya maju satu langkah dan menggedor pintu kamar mandi berkali-kali. "Om adhiiiii!!! Davira telat! Om Adhi cepet mandinya!!!" teriak davira kesal. Kedua tangannya juga masih aktif menggedor pintu. Pintu kamar mandi ia jadikan beduk.


"Mandi di kamar mandi bawah, Vira !" teriak Adhi dari dalam kamar mandi.


"Tapi sabun, sampo, sama handuk Davira ada di dalam, Om!" rengek Davira kesal.


"Gausah pake haduk," saut Adhi


"Om Adhi ngeselin! Buruan Om! Ini udah jam tujuh! Davira ada quiz Om adhi ih!" Davira kembali menghentakkan satu kakinya. Hatinya sangat dongkol, ia ingin mendobrak pintu, tapi Davira tidak punya tenaga lebih untuk merusak pintu kamar mandi.


Karena hatinya yang kesal, air mata Davira mengambang di pelupuk mata hendak luruh. Dengan suara gemetar, Davira kembali berteriak. "Om Adhi ngeselin! Davira gak suka sama Om Adhi !"


Air mata Davira yang menumpuk di kelopak mata akhirnya jatuh. Gadis itu tak bisa menahan rasa gondok dalam tenggorokannya.


"Om Adhi gantian! Hiks... Davira telat hiks ...."


Pintu terbuka, ada Adhi yang sudah selesai mandi. Pria itu telanjang dada, hanya handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Adhi tersenyum lucu melihat Davira yang sudah menangis, seperti berhasil menggoda bocah kecil dengan merebut mainannya. Dan itu yang Adhi mau, ia ingin membalas perbuatan Davira tempo hari saat gadis itu libur kuliah. Adhi terlambat bangun dan butuh kamar mandi karena hendak menghadiri pembukaan bisnis nya . Tapi Davira malah asik-asikan berendam di bathup dan tidak mempedulikan teriakan Adhi dari luar untuk segera keluar. Alhasil Adhi memutuskan untuk berangkat ke acara pembukaan bisnis nya tanpa mandi. Untung saja ia sudah ganteng sejak menjadi kecil, jadi mandi atau tidak juga tidak akan kentara.


"Kesel, kan? Itu yang saya rasain tempo hari pas kamu nyebelin malah berendam di bathup pagi-pagi. Saya gedor pintu malah nyanyi keras-keras."

__ADS_1


"Dasar Om Adhi nyebelin!" Davira memukul dada Adhi keras sebelum akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi seraya membanting pintu kasar.


Pertengkaran sepele itu tidak hanya sekali dua kali terjadi. Hampir setiap hari mereka berdebat karena masalah sepele. Adhi yang kadang tidak bisa bersikap dewasa karena menuruti kekesalannya pada Davira , sedangkan Davira yang memang belum bisa dewasa dan masih berpikiran layaknya remaja pada umumnya.


Insiden berebut kamar mandi hanya satu dari seribu tingkah konyol mereka. Jika semua mengira pasangan yang menikah karena perjodohan akan bersikap dingin satu sama lain, itu tidak berlaku untuk Adhi dan Davira. Keduanya tidak bersikap dingin satu sama lain, lebih tepatnya Davira yang membuat Adhi tidak lagi bersikap dingin. Bagaimana bisa Adhi bersikap dingin kalau Davira saja tidak berhenti mengoceh jika Adhi tidak menjawab. Meski manja, Davira cukup keras kepala.


Pernah seharian Davira mengekori Adhi saat Adhi berusaha untuk mengabaikan gadis itu.Adhi ke dapur, Davira ikut. Adhi ke ruang TV, Davira ikut. Puncaknya saat Adhi hendak buang air kecil di kamar mandi, Davira juga masih setia mengekorinya sambil tak berhenti berkomat-kamit memanggilnya Om. Karena sudah tidak kuat menahan pipis, kesal, akhirnya Adhi mencubit pipi Davira seraya menyauti dengan penegasan kata-kata. Setelah mendengar suara Adhi , Davira akhirnya mau berhenti mengekorinya.


Enam bulan menikah membuat Adhi yang awalnya risih dengan sikap manja Davira terbiasa juga pada akhirnya. Mau mengeluh juga percuma, tak menghasilkan apa-apa. Adhi selalu menanamkan sugesti pada dirinya sendiri untuk sabar. Karena menurutnya orang dewasa harus sabar menghadapi bocah.


Adhitama itu pria cuek dan dingin, namun saat berhadapan dengan Davira , ia berubah menjadi cerewet dan aktif. Davira itu sudah manja dari orok, mungkin karena dia Anak perempuan satu-satunya Di keluarganya , jadi keluarga Davira sudah memanjakannya. Dan sikap manja Davira semakin jadi saat ia bertemu dengan Adhi yang cuek dan galak. Davira merasa tertantang saat bersikap manja kepada Adhi . Apalagi jika Adhi mengalah dan menuruti mau Davira, hati Davira sangat senang, ia merasa menang telah menghancurkan bongkahan batu karang. Sekeras itu Adhi di mata Davira.


Usai mandi, Davira melirik sinis Adhi . "Davira baru tahu kalau Om Adhi itu pendendam." Sungutnya seraya masuk ke ruang ganti dengan handuk kimono yang dipakainya.


Adhi yang tengah duduk di sofa memasang sepatu tertawa renyah, puas sekali melihat Davira masih kesal. Davira bisa menunjukkan bahwa tak hanya davira yang bisa membuat Adhi kesal, Adhi juga bisa membuat davira kesal.


Selesai berpakaian, Davira duduk di samping Adhi dengan sepasang sepatu yang ia tenteng. Adhi yang memang menunggu davira selesai bersiap, menumpukan dagunya seraya melirik jenaka ke arah davira . Tidak lembut, davira membanting sepasang sepatunya sampai terdengar bunyi benturan keras antara alas sepatu dan lantai. Tak sampai sana, kembali davira mengomel. "Tempo hari davira itu nggak bisa cepet-cepet keluar kamar mandi karena harus kuras bathup dulu. Nanti Om Adhi ngomel lagi kalau davira abis berendam dan lupa kuras air. Lagian juga salah Om Adhi nggak bilang kalau masuk kerja! Biasanya tanggal merah juga libur."


"Davira nggak suka ya Om Adhi bersikap kayak anak kecil!" tambah Davira karena Adhi tak menyaut.


Adhi yang awalnya bersikap santai seraya cekakak-cekikik berubah melotot mendengar kata terakhir yang davira ucapkan. Excuse me! Apa bocah ini mengataiku bocah? Apa dia tidak berkaca? Apa amnesia mengenai umurku? tanya Adhi pada dirinya sendiri. Terbata, seolah tak menyangka. "A... apa otakmu sedang tidak utuh? Kamu nggak salah ngatain saya bocah?"


"Om Adhi sadar engga sih kalau om itu udah tua ,masih aja bertingkah kaya bocah !Apa bedanya sama davira?."


"Asatga !Harus extra sabar hadapin kamu vir! Udahlah Ayo berangkat. "


Adhitama bangkit dari tempat duduk nya, ia menggambil kunci mobil nya yang terletak di atas nakas, Davira yang belum selesai mengikat tali sepatu nya ia pun dengan cepat menali nya dengan ngasal ,Kemudian berjalan cepat mengekori dibelakang Adhitama.


.


.


.


**Happy ReadingšŸ¤—šŸ¤—


Jangan lupa vote like and comenā˜ŗšŸ™**

__ADS_1


__ADS_2