
Perkenalkan namaku, Gabrelia Oktaviani dan aku sering di panggil Via oleh teman\-temanku. Aku tinggal di Bandung, aku sekolah di SMA BAKTI BANDUNG, sekarang aku sudah kelas 2 SMA. umurku kini sudah beranjak 16 tahun.
Aku adalah anak kedua dari Ibu dan Ayah ku, Adikku bernama Syintia Adhita, dan kakak ku bernama Ramadhan Andika, ayah dan ibuku sudah tiada disaat umurku masih 12 tahun, dikarenakan kecelakaan bus, jadi aku hanya tinggal bersama adikku saja karena, kakak ku pergi ke kalimantan, dia bekerja disana supaya bisa membiayai sekolah aku dan adikku.
Aku mempunyai seorang sahabat namanya adalah, Sisiliani dia adalah satu\-satunya sahabatku, hanya dia yang aku jadikan tempat ku membagi cerita hidup ku.
Aku melihat jam di layar hp ku, dan ternyata sekarang sudah menunjukan jam 13:48, dan perutku sudah sangat lapar.
Dikarenakan sekarang adalah hari minggu, maka aku dan Sisil pergi kesebuah pasar hanya untuk membeli sebuah sayuran, karena stok sayuran dirumahku sudah habis.
"Via, aku mau ke toko itu dulu ya, ada yang mau aku beli disana."ujar Sisil sambil menunjuk ke toko baju yang ada di sebrang jalan.
"Oh, iya aku tunggu di sini aja ya Sil." Jawab Via.
Via pun menunggu Sisil di tepi jalan, dia melihat layar hp nya, ada beberapa pesan yang harus ia jawab. Dia terlalu fokus untuk membalas pesan, sampai\-sampai dia tak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Kok perasaan aku sedikit nggak enak ya?" ujarnya sambil menekan dadanya, ritme jantungnya berdebar dengan cepat, dan tiba tiba pasar menjadi sepi.
Dari sisi kanan jalan ada seseorang yang membawa motor, dia secara tiba\-tiba langsung merampas tas Via secara paksa. Via masih mempertahankan tasnya, sehingga dia terseret jatuh oleh seseorang yang mengambil tasnya.
"Tolongggggg!" Teriaknya dengan tenaganya yang tersisa, tapi sayangnya pasar secara tiba\-tiba menjadi sepi.
Sisil yang baru saja keluar dari sebuah toko tiba\-tiba terkejut melihat Via terduduk di aspal dengan lutut dan sikunya yang berdarah\-darah.
"Via kamu kenapa?!" tanya Sisil panik, Tapi via hanya menangis mengumpulkan tenaga untuk berbicara.
"Aku kejambretan Sil" jawab ku dengan lemas.
__ADS_1
Dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang mengendarai motor, dan menepikan motornya di samping ku.
"sini aku bantu!" ujarnya sambil mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Via berdiri. Via pun memegang kedua tangannya untuk berdiri.
"biar aku bawa kamu kerumah sakit, naik lah!" ujar cowok itu sambil membantu Via menaiki motornya.
Sisil melihat raut muka Via yang berubah menjadi pucat, maka ia pun segera menenangkan Via.
"Via udah gapapa tenang aja! aku bakal nyusul ke rumah sakit kok" kata\-kata itu membuat hati Via sedikit tenang.
"oh iya kamu, aku minta ktp mu, supaya kalo ada sesuatu lagi, aku bisa mencarimu" ujar sisil untuk memastikan keselamatan Via.
Tanpa basa\-basi lelaki itupun memberikan e\-ktp nya, dan ia pun mulai melajukan motornya meninggalkan Sisil. Sesampainya di rumah sakit dia pun segera menuntun Via untuk di periksa.
Via menggenggam erat tangan lelaki itu dan mengatakan "aku takut di suntik." ujar Via dengan sisa tenaganya.
Setelah selesai di periksa, Via pun di antar ke kursi supaya ia duduk.
"kamu tunggu dulu disini biar aku tebus dulu obat mu" ujar cowok itu, dan dijawab anggukan oleh Via.
Secara tiba tiba banyak yang memperhatikannya, dan Via pun mendengarkan percakapan orang\-orang.
"Cowoknya ganteng bangettt."
"kayaknya cewek itu pacarnya?"
"kalo menurutku dia istrinya"
"apaan sih ni orang\-orang! ngaco banget ngomongnya:\(" ujar via di dalam hatinya.
" udah nih, mau dianterin pulang nggak?" ujar cowok itu.
"ya iyalah anterin pulang! gila kali masak aku harus ngesot dari sini sampai ke rumah:\(" ujar Via dari dalam hati. ia pun menganggukan kepalanya untuk mengiyakan pertanyaan cowok itu.
__ADS_1
Dari perjalanan pulang mereka tidak saling melemparkan pertanyaan, sampai akhirnya cowok iti membuka percakapan.
"karena aku udah bantuin kamu, kamu harus balas budi!" ujarnya
"dasar manusia miring! aku kira dia ikhlas eh ternyata ada udang dibalik nasi:\( mana Sisil belum datang untuk membantuku lagi:\(" ujar Via dari dalam hati.
"memang aku harus ngapain?" tanya Via.
"carikan aku kontrakan" ujar cowok itu sembari menutupi malunya, dikarenakan Via mempunyai kontrakan dia merasa lega.
"ada lah kotrakan mah, nanti ku bantu" jawab Via dengan santai.
Mereka pun pergi ke rumah Via.
"mana kontrakannya?" tanya cowok itu.
" nih" jawab via sambil menunjuk ke sebuah rumah.
" ya udah panggilin yang punya kontrakanya"ujar cowok itu.
"aku yang punya kontrakannya"jawab via.
"oh kamu yang punya kontrakannya, berapa satu bulannya?"
"500ribu, gimana sanggup?"
"oke, nih aku bayar untuk dua bulan kedepan" ujar cowok itu sambil memberikan uang ke Via, tapi Via terkejut.
"*nih orang kaya kali ya?masak langsung dua bulan kedepan? perasaan banyak orang yang nolak gara\-gara kemahalan deh? ya udah biarin lah yang penting dia udah bayar."ujar via di dalam hati*.
"hey? mana kuncinya?" ujar cowok itu menghancurkan lamunannya.
" oh iya iya tunggu" via pun mengeluarkan kunci yang ada di dalam saku celananya. kuncinya masih ada karena, yang ada di dalam tas via hanya lah daftar belanjaan, dan buku novel yang belum selesai ia baca. Jadi, uang, hp , dan kunci rumah masih ada padanya. *mungkin maling yang telah mengambil tasku akan kecewa setelah melihat isi tasku😂*. ujar Via dari dalam hati.
"oh iya aku minta no hp mu, untuk meminta bantuan karna aku belum mengenal lingkungan ini, dan kasih tau ke temenmu itu untuk mengembalikan e\-ktp ku" ujar cowok itu.
"oh, oke\-oke nanti akan ku beritahu nanti😊dan ini nomorku" ujar via.
dan cowok itu pun menyimpan nomor telfon via dan pergi masuk ke dalam kontrakannya tanpa memberikan sepatah kata pun.
"dasar es batu! dingin banget gila senyum dikit kek😒" ujar via dengan suara pelan, tapi cowok itu mendengarnya.
"lo bilang apa tadi?"tanyanya yang hanya mengeluarkan kepalanya dari balik pintu, dan berhasil membuat via terkejut dan malu.
"eh enggak kok tadi cuma ke inget es batu di rumah ku meleleh." jawab via dan langsung berlari memasuki rumahnya.
__ADS_1