
Terkadang, hidup tak berjalan sesuai yang kita mau. Meski telah berusaha sebaik mungkin, masalah tetap akan datang dan kita tak bisa mengelak darinya. Sekuat apa pun kita bertahan, pada akhirnya kita juga akan merasa lelah dan mungkin menyerah atas takdir yang kita dapat.
...❖❖❖...
Seorang anak bersurai hitam tampak tengah berdiri di atas sebuah jembatan tua. Diantara angin malam yang menerpa, ia dekap kuat dirinya dalam balutan cardigannya yang tebal. Dingin dan gelap, malam itu begitu tak berbintang, hanya ada awan-awan hitam yang menghiasinya.
“Jika semua ini dapat berakhir ketika aku mati, maka aku tak akan pernah menyesal dengan keputusan ini.”
Malam menjadi semakin dingin saat anak itu melepas cardigannya. Ia pun duduk di atas jembatan. Bayang-bayang dirinya terpantul buram di atas air sungai yang mengalir deras di bawahnya.
Ia bergumam pelan, “Andai hidupku bisa lebih baik lagi. Yah, walau itu mustahil, sih. Bukankah begitu, jembatan tua? Padahal hidupku masih panjang, tapi, aku sudah ingin mengakhirinya saja. Maaf ya, aku tak bisa hidup lebih lama darimu.”
Ia membuka kembali plester-plester yang ada di lengannya dan tak berselang lama, darah pun mulai mengalir dari lengannya.
“Sudah kuduga, luka ini pasti belum mengering. Lagi pula, kenapa aku harus memplesternya jika akhirnya akan kubuka lagi?”
Anak itu terus mengulangi perbuatannya, membuka plester dan perban-perban lainnya yang membuat luka-lukanya kembali terbuka. “Amis” itulah yang dirasakan anak itu.
Anak itu menatap semua luka yang ada di tubuhnya. Tatapan marah dan kecewa yang tak bisa di jelaskan. Anak itu berulang kali menarik napasnya panjang dan mulai bermonolog.
“Hah.. sekarang lihat, bagaimana jeleknya tubuhku ini. Mana ada pria yang mau menikahi wanita dengan banyak bekas luka seperti ini. Jangankan menikah, berteman saja pasti sudah merasa jijik.”
Ia tertawa miris sebelum akhirnya mulai tersenyum, “Aku tenang kalau begini.”
Dengan senyum terakhirnya, ia pun melompat dari jembatan. Diiringi musik angin malam, ia benar-benar terlihat seperti Dewi yang di sinari oleh sinar rembulan. Sungguh pemandangan indah seorang gadis yang telah menyerah akan hidupnya. Bukankah begitu?
Ia tenggelam dalam sungai yang berada di bawahnya. Sebenarnya ia masih sadar, hanya saja, ketika ia menyerah maka ia memang sudah menyerah dan tak ada lagi keinginan untuk memutar kembali pikirannya itu.
Tubuh mungilnya yang menghantam air membuat sebuah dentuman dan percikan indah. Meski berada di dalam sungai yang dingin, ia mulai merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya. Luka-lukanya mulai tak terasa, telinganya mulai tak mendengar suara dari arusnya, dan pandangannya pun mulai memburam dengan habisnya simpanan oksigen yang ia punya.
“Kini, aku akan benar-benar mati,” Pikirnya.
“Tuhan, maaf jika aku mendahului takdir-Mu, tapi hatiku telah mengajakku untuk melakukannya. Kuharap bisa segera bertemu dengan-Mu. Namun, jika aku belum boleh pulang, maka izinkan aku memiliki rumah.”
Itulah hal terakhir yang ia harapkan. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun memejamkan matanya. Membiarkan arus membawanya pergi sejauh-jauhnya dari kota ini.
...❖❖❖...
Di sisi lain, seorang pria yang kebetulan tengah merenung di jembatan ujung sungai melihatnya. Seorang anak yang tengah hanyut di bawahnya. Ia pun bergegas untuk menyelam demi menyelamatkannya. Walau ia tak tahu, kenapa ia harus menyelamatkan anak kecil itu.
__ADS_1
Setelah berhasil membawa anak itu ke tepian, ia lalu memompa dada anak itu menggunakan tangannya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke saluran pernapasannya. Cukup sulit dan sungkan baginya. Ia mencoba mengecek dahulu keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, ia baru melakukannya. Kalian pasti tahu alasannya, bukan? Ini malam hari..
Brush.. air pun keluar dari mulut anak itu. Anak yang terselamatkan itu lantas menatap tajam pria yang menyelamatkannya. Mulutnya gemetar seakan ingin mengucapkan suatu kata. Apakah itu 'terimakasih' ataukah 'kau siapa?' yah, tidak ada yang tahu juga, sih. Pria itu juga menebak-nebak.
Anak itu terus menatap pria itu sebelum akhirnya mulai membuka suara, "Kenapa kau menyelamatkanku?”
Ya. Itulah yang ia katakan. Padahal, nyawanya baru saja diselamatkan. Tapi, yah, hanya itu yang ingin ia katakan.
Pertanyaan barusan itu cukup membuat pria tadi terdiam. Karena sejujurnya, ia sendiri juga tidak tahu alasan kenapa ia menyelamatkan nyawa anak itu.
“Hey.. jawab aku. Kenapa kau menyelamatkanku?”
“Mungkin... simpati?”
“Pft.. yang benar saja. Mana ada orang di muka bumi ini yang mau bersimpati padaku.”
“Aku.” Jawabnya dengan muka datar.
Mendengar ucapannya barusan, anak itu pun membisu cukup lama. Sampai sebuah senyum terukir di wajahnya.
“Kau ini unik sekali ya. Padahal, kau tidak perlu melakukannya untukku.”
“Hee? Lalu kenapa kau melakukannya? Ini bukan karena simpati saja, ‘kan?” Anak itu masih bersikeras.
“Kalau begitu, ini karena rasa penasaran.”
“Kau ini.. tak perlu penasaran, aku bukanlah gadis cantik yang akan jatuh cinta pada Sang Hero seperti di film-film. Aku hanyalah seorang anak yang jelek.. buruk.. dan..”
“Apa pentingnya itu semua? Lagi pula, aku bukan Hero di film.” Potongnya dengan ketus.
Mendengar ucapannya barusan, anak itu lantas tertawa, “Kau ini lucu sekali. Kuberitahu ya, setelah menyelamatkanku, aku jamin kau akan menyesal suatu hari nanti!”
“Suatu hari nanti dan bukan hari ini. Bukankah begitu?”
Anak itu menganga sebentar. Hanya sebentar sebelum sebuah senyum lebar terukir di wajahnya. Ia lalu membenarkan posisi duduknya.
“Baiklah, aku kalah. Terimakasih telah menyelamatkanku. Walau bukan berarti aku senang karena itu. Namaku Rei, aku yakin kalau aku bukan berasal dari daerah sini, kecuali dunia ini begitu sempit sampai aku dikembalikan lagi ke kotaku. Jadi, siapa namamu?”
“Felix, Felix Ravenell. Aku berasal dari daerah ini, aku tinggal di kota yang tak jauh dari sini. Aku belum mempunyai rumah namun kini aku tinggal di apartemen dan aku-“
__ADS_1
“TUNGGU SEBENTAR! KENAPA MALAH JADI SEPERTI WAWANCARA KEHIDUPAN?!”
“Bukankah kau yang mulai?”
Mereka saling memandang beberapa saat sebelum akhirnya mulai tertawa bersama.
“Ah iya, benar juga. Sekarang, aku sudah tidak punya rumah. Kira-kira, dimana aku harus tinggal, ya~ Apakah tuan Felix punya saran?”
“Kolong jembatan?”
“Impresif.. bisa.. tolong sedikit saran yang berguna?”
“Kau memang benar-benar tidak punya rumah? Lalu selama ini tinggal dimana?”
“Aku baru saja di usir, hehehe. Jadi, aku akan sebatang kara mulai sekarang.”
Jawaban itu membuat Felix terdiam. Tak ada satu kata yang mampu ia ucapkan untuk menanggapi anak itu. Ia terus memutar otaknya berpikir tentang kata-kata yang akan membantunya tanpa menyakitinya. Kata-kata yang mampu ia pertanggungjawabankan dikemudian hari. Kata-kata.. yang bukan hanya sebuah janji.
“Bagaimana kalau kau tinggal bersamaku?” Tiba-tiba sebuah kata terucap di mulutnya.
Rei menganga lebar, “Hah? Yang benar saja?!”
“Tak apa, aku bisa menjadikanmu saudara angkatku. Disana juga sudah ada saudara yang lain.”
“Agak.. mencurigakan sih.. seorang pria dan wanita tinggal dalam satu atap. Jangan-jangan kau ini pedofil atau semacamnya, ya?" Ucap Rei dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
"Jangan bercanda, aku masih normal! Hanya itu yang bisa kuberikan untukmu. Daripada kau tidak punya tempat untuk beristirahat malam ini?" Jawab Felix meyakinkannya.
Anak itu terdiam, "Benar juga. Selain begini, memangnya mau tinggal di mana aku?"
Setelah pertimbangan yang panjang, akhirnya anak itu menerima tawarannya.
"Yah, baiklah. Daripada aku tidak punya tempat untuk tidur malam ini. Aku terima tawaranmu. Sebelumnya, terimakasih ya, Tuan Felix. Aku mungkin akan merepotkanmu. Tapi, aku berjanji. Jika nanti aku sudah punya penghasilan sendiri, aku akan mulai mencoba hidup mandiri dan berhenti merepotkan Tuan Felix."
Felix agak terkejut dengan jawaban itu. Tapi, di wajahnya terukir sebuah senyum yang indah.
“Tak perlu panggil Tuan, panggil aku kakak.”
Rei membalas ucapan itu dengan senyuman. Senyuman tulusnya yang hangat.
__ADS_1
Kini, secercah harapannya pun mulai terwujud. Tuhan mungkin tidak mengizinkannya pulang dengan cara yang seperti itu dan Tuhan pun menggantinya dengan mengabulkan permintaan mulianya. Yakni, mempunyai rumah.