
Malam kini telah berganti menjadi fajar. Burung-burung gereja berkicau dengan merdu di dahan-dahan pohon. Ayam-ayam hutan pun berkokok tak kalah keras dari sang burung gereja. Suasana di pagi itu terasa begitu damai.
Di hari libur ini, seperti biasa, keluarga Ravenell akan mengadakan sarapan bersama. Pembagian tugas pun akan dilakukan. Para lelaki akan bertugas untuk memanen sayur-sayuran, sedang mereka yang perempuan akan bertugas memasak di dapur. Namun, lain halnya dengan hari ini. Erland dan Zuito tidak terlihat membantu Felix memanen sayur. Rei yang penasaran, akhirnya menanyakannya pada Valencia sang Kakak.
“Erland dan Zuito kemana?”
“Hm?” Sahut Valencia.
“Erland dan Zuito. Aku tidak melihatnya pagi ini. Biasanya, mereka selalu ikut membantu kak Felix memanen untuk sarapan.” Jelas Rei mengulang pertanyaannya.
Valencia berpikir sambil memegang dagunya, “Mereka, ya.. coba kau tanyakan pada Felix.”
Rei mengangguk dan meneruskan membantu memotong sayur-sayuran.
Waktu sarapan pun tiba, ketiganya berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Hanya Erland dan Zuito yang tak terlihat di sana. Anehnya, kedua kakaknya tak ada yang mempertanyakan hal itu. Mereka tampak menikmati makanannya tanpa membahas apa pun.
Rei semakin penasaran dan akhirnya mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya, “Kak Felix, bolehkah aku bertanya satu hal?”
Felix mengangkat kepalanya, “Tentang apa?”
“Erland dan Zuito. Mereka tak terlihat dari pagi.” Lanjutnya bertanya.
Felix terdiam sebentar, hanya sebentar sebelum akhirnya meneruskan sarapannya, “Hm.. coba kau cari di kamarnya.” Jawabnya.
Rei mengangguk. Ia pun melanjutkan sarapannya meski masih diliputi dengan kebingungan.
Setelah selesai makan, Rei cepat-cepat mencuci piringnya dan menatanya kembali. Setelah itu, ia pun segera pergi menuju ke kamar milik dua saudaranya itu.
Setelah Rei pergi, Valencia menaruh sendoknya dan menatap Felix tajam.
“Kenapa kau tak memberitahunya?” Tanyanya.
“Tak perlu. Biar mereka saja yang menjelaskannya.”
Felix terlihat tak peduli. Ia hanya terus melanjutkan makannya bahkan tak menatap mata Valencia saat bicara.
Valencia hanya bisa menghela napas panjang, “Kau ini tetap saja keras kepala, ya.”
Setelah sampai di kamar mereka, Rei pun mengetuk pelan pintu kamarnya dan memanggil nama mereka dengan lembut.
“Erland, Zuito, kalian ada di dalam?”
“Ah, Kak Rei. Iya, kami ada di sini.” Sahur Zuito.
“Ada apa, Rei?” Erland ganti bertanya padanya.
“Kenapa kalian tidak ikut sarapan bersama?”
Erland dan Zuito terdiam sejenak. Mereka saling memandang satu sama lain, berpikir jawaban apa yang sebaiknya mereka berikan.
Akhirnya, setelah kesunyian yang cukup lama, salah satu dari mereka pun membuka suara.
“Kak Felix belum memberi tahumu?” Tanya Zuito.
__ADS_1
“Kami sedang dalam masa hukuman, Rei. Yah, kau tahu, insiden kemarin malam.” Ucap Erland.
“Itu ya.. kira-kira sampai kapan?” Tanyanya lagi.
“Sepekan.”
Rei terdiam sesaat. Ia memandang pintu di depannya, berpikir apa yang akan ia lakukan selama sepekan itu. Apa ia harus menjaga jarak? Ataukah tetap berkomunikasi? Tapi, bagaimana caranya?
Setelah terdiam beberapa menit, sebuah ide muncul di kepalanya, “Kalau begitu, aku akan mengunjungi kalian setiap hari.” Ucapnya.
Erland dan Zuito terkejut, mereka hampir tertawa ketika mendengar ucapan Rei yang barusan. Satu hal yang terlintas di pikiran mereka adalah, “Untuk apa?” Pasalnya, di hari biasa, Rei juga jarang mengunjungi mereka. Apa Rei sedang tidak sehat? Itulah dugaan mereka.
“Bagaimana?” Rei mengulang perkataannya.
“Untuk apa? Biasanya, kau juga jarang mengunjungi kami.” Sahut Erland.
“Memang tidak boleh, ya? Padahal niatku baik begini. Tapi, malah ditolak.” Rei pun menghela napasnya sambil menyenderkan tubuhnya pada pintu kamar mereka.
Erland menarik napas panjang, “Bukannya begitu. Tapi, aneh saja, ‘kan? Biasanya kau juga jarang mengunjungi kami. Lagi pula, kita masih satu atap, kau tahu?”
“Tapi, masalah awal bisa seperti ini adalah karena aku. Selain itu juga, kalian dihukum sepekan, aku jadi tidak bisa melihat kalian selama itu. Mungkin, aku juga jadi bisa rindu pada kalian..”
Mereka bertiga terdiam, memang benar apa yang di ucapkan Rei. Mereka pasti juga merindukannya.
Zuito pun memutar otaknya, mengingat-ingat hal yang barangkali akan berguna bagi mereka.
“BENAR JUGA!” Ucapnya tiba-tiba.
“Apanya?” Tanya Rei dan Erland secara bersamaan.
“BENAR JUGA!”
Mereka pun tertawa bersama dan membuat perjanjian serta waktu untuk saling berkomunikasi tanpa ketahuan yang lainnya.
Tentu saja, mereka membahasnya dari lubang rahasia itu. Lubang rahasia yang menghubungkan kedua kamar mereka. Lubang itu bertempatan di bawah tempat tidur Rei sehingga tidak akan mudah disadari oleh dua saudara mereka yang lain.
Dengan menggunakan secarik kertas, mereka pun saling berkomunikasi.
Zuito dan Erland:
Jadi bagaimana? Bagaimana kalau tengah malam saja?
^^^Rei:^^^
^^^Jangan, Kak Felix biasanya berpatroli kamar kalau malam.^^^
Erland dan Zuito:
Bagaimana kau tahu?
^^^Rei:^^^
^^^Aku pernah kepergok waktu aku belajar tengah malam. Bagaimana kalau jam 4 sore saja? Kak Felix dan kak Valencia masih bekerja jam segitu.^^^
__ADS_1
Setelah membaca isi surat itu, Erland dan Zuito tampak berdiskusi sebentar sebelum memutuskannya.
“Bagaimana, Kak?” Tanya Zuito pada Erland.
“Boleh saja. Ide yang bagus.”
Mereka berdua pun menuliskan hasil diskusi mereka pada kertas itu dan mengantarkannya ke kamar Rei dengan menggunakan perantara lubang rahasia itu.
Erland dan Zuito:
Ide bagus, kami setuju.
Rei membaca isi surat itu dan tersenyum. Ia lalu menyembunyikan kertas komunikasi rahasia mereka di balik album fotonya. Berharap saudaranya yang lain tak sadar dengan hal itu.
Setelah selesai menyimpannya dengan rapi, ia pun melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan rumah terutama kamar miliknya. Dengan penuh semangat ia menyapunya, mengelap debu-debu di meja, jendela, dan buku-buku bacaannya, serta mencuci pakaiannya. Perlu waktu seharian untuk membereskannya sehingga tanpa dirasa waktu kini telah memasuki sore hari.
Dering alarmnya berbunyi, Rei cepat-cepat mematikannya. 04.00 PM. Itulah yang tertulis di sana.
Ia pun segera mengecek kondisi di luar kamarnya, melihat dimanakah kedua kakaknya berada. Setelah dirasa aman, Rei pun menutup pintu lalu menguncinya.
“Sekarang, saatnya mengobrol dengan mereka!” Ucapnya dalam hati disertai dengan senyum puas yang terukir di wajahnya.
Ia mengambil pena dan secarik kertasnya yang tadi dan kemudian menuliskan beberapa patah kata ke dalamnya.
^^^Rei:^^^
^^^Hai, Erland, Zuito. Maaf kalau aku baru mengabari. Aku baru saja selesai membereskan kamarku. Memang cukup lama. Tapi, kurasa aku tepat waktu. Bukankah begitu? Bagaimana dengan kalian? Apa kalian sudah membereskan kamar kalian? Bagaimana dengan makan siang? Kalian juga makan siang, ‘kan?^^^
“Dan, kirim!”
Rei pun memasukkan kertas itu ke dalam lubang tadi. Lubang yang akan mengantarkannya pada kedua saudaranya itu.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ia mendapatkan sebuah balasan. Ia pun membacanya dengan perasaan semangat.
Erland dan Zuito:
Iya. Kami makan siang, kami juga sudah membereskan kamar kami.
^^^Rei:^^^
^^^Baguslah. Siapa yang mengantarkan makan siang kalian?^^^
Erland dan Zuito:
Kak Valencia, sekitar jam 1 tadi.
Mereka pun terus melanjutkan obrolan mereka. Hanya sebuah obrolan biasa, membahas keseharian yang biasa.
^^^Rei:^^^
^^^Jadi, awal Desember nanti, mau main kasti bersama?^^^
Erland dan Zuito:
__ADS_1
Memangnya salju belum turun?
Rei terdiam setelah membaca surat itu. Bukan isi suratnya yang ia pertanyakan. Melainkan, tulisan dari surat itu. Ia paham betul itu bukan tulisan Erland mau pun Zuito. Tulisan itu, lebih mirip seperti tulisan tangan milik Felix.