DETIK KEHIDUPAN

DETIK KEHIDUPAN
CHAPTER 8 : HITOTSU NO AI


__ADS_3

“Kak Valencia, Kakak lihat jaket biru-ku tidak?”


“Kak Valencia, airnya mati.”


“Valencia, kunci mobil di mana ya?”


“Kak Valencia, Kak Erland mandinya lama!”


“Kak Valencia, tolong ambilkan andukku!”


“Valencia, apakah kopi di rumah habis?”


“Valencia?”


“Kak Valencia...”


“Kak Valencia?”


Begitulah suasana di rumah Ravenell pagi ini. Suasana gaduh disertai kepanikan dari saudaranya yang lain. Entah itu kepanikan soal mencari keperluan mereka pribadi atau pun keperluan untuk bepergian nanti, pasti Valencia-lah yang selalu dipanggil namanya.


Valencia yang saat itu sedang menyisir rambut Rei hanya bisa menghela napasnya panjang. Berpikir kalau ia baru saja duduk sekitar 5 menit yang lalu. Ia pun membayangkan bagaimana jadinya kalau tak ada ia di rumah ini bahkan untuk 5 hari saja. Pasti sudah sangat kacau.


“Kak Valencia?” Panggil Rei pelan.


Panggilan itu menyadarkan Valencia, ia pun segera meresponsnya.


“Hm? Apakah aku menyisir terlalu kuat? Maaf ya.” Ucapnya sambil memelankan gerakan sisirnya.


Rei menggeleng pelan, “Bukan itu. Kak Valencia memang tidak apa-apa harus menyisir rambutku setiap pagi?” Ucapnya sambil memelankan suara.


“Apa kau merasa tidak nyaman dengan itu?”


Rei terdiam mendengar pertanyaan itu. Bukannya ia tidak nyaman. Hanya saja, ia takut itu merepotkan Kakaknya. Karena Kakaknya-lah yang selalu dicari dan dibutuhkan di rumah ini, terlebih saat ada acara di luar seperti saat ini.


“Rei? Kau baik-baik saja?”


Bisikan lembut itu memecah lamunannya, membuatnya tersadar dan segera menjawab pertanyaan dari Kakaknya.


“Bukannya tidak nyaman. Tapi, apa aku tidak terlalu egois meminta waktu Kakak untuk selalu menyisir rambutku setiap pagi?” Lirihnya.


Belum ada jawaban dari Valencia. Kakaknya itu hanya terdiam sambil terus menyisir surai hitam milik adiknya. Lumayan lama, Rei juga merasa kalau rambutnya sedikit ditarik ke sana dan kemari.


“Nah, selesai! Sesuai dugaanku, pita dan model kepang pasti cocok padamu.” Seru Valencia dengan senyum puas sambil memberikan sebuah kaca pada Rei.

__ADS_1


Rei hanya tersenyum melihatnya. Model rambut baru yang belum pernah Valencia buat sebelumnya. Model kepang Half Side Braid yang terlihat begitu menggemaskan.


Valencia pun menatapnya dam melanjutkan perkataannya, “Nah, begini ya, Rei. Bagi Kakak, menyisir dan menata rambut itu juga bagian dari kasih sayang. Sama seperti saat saudara-saudaramu yang lain mencari Kakak dan meminta untuk mengambilkan barang mereka, itu juga salah satu bentuk dan wujud kasih sayang. Dan karena Rei sudah sering mandiri mencari barang milik Rei, jadi, bentuk kasih sayang Kakak akan Kakak sampaikan melalui hal lain. Contohnya, membantu Rei untuk menata rambut milik Rei ini.” Jelas Valencia dengan lembut.


Seketika Rei terdiam, tak ada kata yang mampu ia ucapkan saat itu. Tak ada kata-kata sepuitis apa pun yang mampu menyamai penjelasan tadi dan Rei juga menyadari hal itu. Hanya ada satu kata yang bisa menjelaskan semuanya. Satu kata ajaib yang selalu Valencia ajarkan ketika kita menerima hal baik dari orang lain.


Kata itu tak lain adalah, “Terimakasih, Kak.”


Rei mengucapkan itu dengan lembut. Selembut hati orang yang memberi hal baik padanya.


Valencia pun membalas itu dengan senyuman. Sebuah senyuman hangat bagai mentari di pagi ini.


“Baiklah, mari bantu Kakak mempersiapkan keperluan lain.” Ajaknya.


“Siap!”


Mereka pun bangkit dan segera melanjutkan persiapan. Baik persiapan diri mereka mau pun saudara mereka yang lain.


Dengan turun tangan Valencia dalam membantu persiapan, kini semuanya jadi selesai lebih cepat.


“Apa ada yang tertinggal?” Tanya Felix meyakinkan mereka.


“Lengkap!” Jawab mereka serempak.


“Nice, mari berangkat!”


Selama di perjalanan, mereka tak banyak bicara. Bahkan, Erland yang biasanya antusias berbicara dengan Rei kini hanya terdiam sambil terus melihat ke arah jendela sambil menyangga pipinya.


“Ada sesuatu yang janggal.” Itulah yang mereka pikirkan.


Valencia dan Felix mulai merasa cemas. Ingin sekali rasanya mereka menanyakan kondisi adiknya itu. Tapi, setelah mereka pikir-pikir lagi, akhirnya mereka tidak jadi menanyakannya dan lebih memilih diam sambil mencoba menyembunyikan kecemasannya.


Alasan sederhananya, mereka tak ingin adiknya jadi ikut cemas karena pertanyaan mereka.


Setelah melalui kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di sebuah Panti Asuhan di dekat perbatasan kota. Panti Asuhan yang terkenal dengan nama Hitotsu no Ai atau jika diartikan adalah Satu Cinta.


Valencia jadi orang yang pertama turun. Ia pun langsung melihat ke sisi kanan dan kiri Panti Asuhan itu.


“Suasananya terlihat begitu menyenangkan ya!” Ucapnya antusias.


“Aku mengerti. Tapi, kau harus ikut membantu adik-adikmu dulu sebelum bermain, ya?” Ejek Felix padanya.


“Tentu Kakak Felix.” Balas Valencia sambil balik mengejeknya.

__ADS_1


Rei yang melihat tingkah Kakaknya itu pun jadi tersenyum.


“Padahal, usianya sudah lebih dari 20 tahun. Tapi, siapa sangka Kak Valencia ternyata juga masih senang bermain.” Ucapnya dalam hati.


Ia pun jadi mulai membayangkan bagaimana masa kecil Valencia yang mungkin juga seindah masa anak-anak kecil lainnya.


“Hoy, Rei. Jangan hanya melamun di situ. Ayo jalan.” Ajak Erland dari kejauhan.


“Ah, iya-iya. Kau ini memang tidak pernah bisa sabar ya, Tuan Rambut Putih!”


“Berhenti mengejekku dengan sebutan itu.”


“Siapa peduli?”


Mereka pun mengikuti Felix meminta izin lanjutan kepada pengurus Panti Asuhan itu. Untung saja sang pengurus memiliki hati yang lembut, hingga urusan perizinan jadi selesai lebih cepat dan mudah.


Ia pun tak lupa memperkenalkan mereka berlima pada anak-anak di Panti Asuhan itu. Mereka terlihat begitu ceria tanpa beban. Mereka begitu antusias menyambut keluarga Ravenell dengan penuh senyuman.


“Nah, Erland, Rei, Zuito. Ayo kita mulai bekerja. Ingat, jangan menganggap ini sebagai beban, ya. Tapi, anggaplah ini sebagai wujud kasih sayang kalian kepada sesama. Bahwa manusia pada dasarnya pasti saling membutuhkan.”


Motivasi singkat dari Valencia itu mampu membakar semangat mereka. Mereka pun mengangguk mantap dan dengan serempak menjawab, “Siap, Kak!”


Erland, Rei, dan Zuito pun langsung melancarkan aksinya. Tentu saja dibantu oleh Valencia dan beberapa anak lainnya. Karena kebetulan juga, hari itu adalah jadwal membersihkan lingkungan.


Mereka semua terlihat saling bahu-membahu, dalam menyelesaikan pekerjaan. Semangat yang mereka tunjukkan pun bukan main-main. Malahan, diusia mereka yang tergolong masih anak-anak, semangat, ketekunan, dan kerjasama mereka wajib diberi apresiasi lebih.


Valencia tak mau kalah. Ia pun juga bekerja lebih keras dibanding yang lain. Sampai-sampai jadi harus terjatuh ketika sedang berlari membuang sampah.


Felix yang duduk di kejauhan melihat mereka. Sorot mata bahagianya tak bisa disembunyikan saat itu.


“Kau tidak ikut mereka?” Tanya sang pengurus sambil membawakan teh padanya.


“Tidak.” Jawabnya sambil sedikit menyeruput tehnya.


Pengurus itu duduk di sampingnya. Ia menatap Felix sambil sesekali mengalihkan pandangannya ke arah di mana mata Felix memandang.


“Apa kau jadi memikirkan hal itu lagi?” Celetuknya secara tiba-tiba.


“Sedikit. Aku tak pernah melihat senyumnya yang sebahagia ini sejak ia tinggal bersamaku.”


“Begitu?” Tanya sang pengurus itu meyakinkannya.


“Hm, begitulah. Karena sejujurnya saja, waktu aku bertemu dengannya pertama kali, ia memang tak memperlihatkan senyumnya sama sekali. Ia sama sekali tak tersenyum di hadapanku. Dan mungkin, kalau kuingat-ingat lagi, hanya ia yang tak tersenyum kala itu."

__ADS_1


Pengurus itu tersenyum, “Aku mengerti perasaanmu. Namun, kau harus mencoba memahami ini, Felix. Bagi beberapa orang, rumah terbaik itu tidak akan datang dua kali.”


Felix menatap langit sambil menghela napasnya panjang, “Aku tahu itu, Emilia. Aku benar-benar mengetahui itu."


__ADS_2