
Musim kini telah berganti, daun-daun mulai menguning, dahan-dahan mulai kehilangan daun dan bunganya, musim gugur telah datang.
Terhitung sudah 3 bulan berlalu sejak Zuito kehilangan tupainya itu. Hubungan mereka kini masih dekat walau pun sudah tak seharmonis dulu. Karena bagaimana pun juga, memaafkan tetaplah tak mudah.
Rei sudah mulai mencoba untuk menjalani kehidupan normalnya lagi setelah terapinya selama 3 bulan ini. Karena selama 3 bulan terakhir, ia sama sekali tak berani untuk pergi keluar atau pun bersosialisasi dengan orang-orang lainnya.
“Sekarang sudah mulai masuk musim gugur, ya? Aku penasaran apakah sudah banyak daun-daun pohon yang berguguran?” Ucapnya sembari tersenyum.
Ia pun mengambil jaket dan topinya, menjepit sebagian poni rambut yang mengganggu matanya, dan tak lupa membawa sebagian uang sakunya.
“Hari ini, aku akan keluar setelah sekian lama tinggal dirumah. Pasti akan sangat menyenangkan.”
Ia keluar, menutup, dan tak lupa mengunci pintu rumahnya. Mengapa demikian? Karena saat ini semua orang juga sedang pergi. Jadi, rumah harus ia kunci kembali.
“Aku berangkat,” Ucapnya lirih.
Rei pun berjalan dengan perlahan, menjauh dari rumahnya menuju taman di kota.
Di sepanjang perjalanan ia melihat ada banyak sekali orang. Orang-orang itu membicarakan topik yang berbeda. Mulai dari masalah rumahnya, masalah dengan kekasihnya, gosip-gosip selebriti, bahkan beberapa dari mereka juga membahas tentang politik.
“Dasar manusia. Manusia itu kalau sudah bertemu, pasti saling membicarakan yang lainnya.” Ucapnya dalam hati.
Ia pun berjalan dengan cepat melalui sekelompok orang yang melakukan perundungan terhadap orang lain.
“Manusia yang kuat selalu mempunyai kuasa untuk menindas mereka yang lebih lemah darinya.” Itulah simpulan darinya.
Setelah melalui berbagai kelompok orang di luaran sana, akhirnya Rei sampai di taman. Ia melepas topinya dan menghirup udara taman itu dengan lembut.
“Aroma daun yang berguguran begitu menenangkan, ya.”
Ia lalu melihat sekelilingnya, “Ah, ada kursi disana.” Dan berjalan ke arah kursi itu berada.
Ia mengelap kursi itu, mendudukinya, dan menyandarkan kepalanya di atas kursi itu. Pandangan matanya melihat lurus ke atas langit, melihat awan-awan putih, dan burung-burung di langit sore itu. Sesekali ia memejamkan matanya dan berdesis pelan mengikuti irama angin.
“Sungguh ketenangan yang luar biasa.” Itulah yang ia pikirkan.
Meski awalnya ia membayangkan keseruan dan keramaian di taman itu. Namun, kini ia malah merasa bersyukur karena taman di sore ini tidaklah ramai seperti biasanya. Jadi, dia bisa menjadi sedikit lebih tenang setelah selesai terapi 3 bulan itu.
Yah, begitulah. Antara ekspektasi dan realita itu memang sering bertentangan. Iya, 'kan?
“Hmm.. aroma ini.. kurasa aku mengenalnya.”
Sebuah aroma lembut dan manis melewatinya. Ia pun memejamkan matanya, menajamkan indra penciumannya, dan mencari sumber aroma itu.
__ADS_1
Hingga perhatiannya terhenti pada sebuah gerobak bertuliskan "Cotton Candy".
Ia lalu tersenyum, “Sudah kuduga, pasti ada gula-gula kapas. Mari kita lihat, apakah uangku akan cukup untuk membelinya.”
Rei pun beranjak pergi meninggalkan kursinya menuju penjual gula-gula kapas tersebut. Ia melihat daftar harga dan varian rasa dari gula-gula kapasnya lalu tersenyum setelah menemukan salah satu varian rasa favoritnya.
“Permisi, aku beli yang ini 1, ya.”
“Baik, ‘Nak Rei.”
Rei terdiam sesaat, ia mencoba memutar otaknya lebih cepat agar segera mengenali suara itu. Ia menaikkan pandangannya untuk melihat siapa penjual gula-gula kapasnya.
“Persetan.” Batinnya dalam hati.
“Sudah lama aku tidak melihatmu, kau makin cantik saja, ya.”
Rei berusaha menenangkan dirinya agar tetap tenang dan tak hilang kontrol. Ia juga berusaha untuk mengatur ritme napas dan detak jantungnya agar tubuhnya tak hilang kesadaran lagi.
“Paman sehat?” Ucapnya dengan senyum pahitnya.
“Syukurlah kau masih ingat paman. Paman sudah mencarimu loh selama setahun ini, katanya kau keluar sekolah, ya? Kenapa? Apa kau takut bertemu Paman lagi?” Ucap orang itu dengan nada mengejeknya.
Rei masih berusaha tersenyum meski tangannya sudah mengepal seakan ingin meninjunya.
“Hey, ayolah. Jangan cepat-cepat begitu. Kita baru saja bertemu setelah perpisahan yang lama, loh. Paman masih ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama.”
Orang itu masih tertawa dengan perkataannya. Ia terlihat sangat santai dan meremehkannya.
lain halnya dengan Rei. Ia mulai serius dengan perkataannya. Ia sangat muak dengan orang itu. Jangankan bertemu dengannya, mendengar kabar kalau dirinya masih hidup saja sudah membuat Rei merasa mual seketika.
“Berikan makananku atau aku pergi.” Ucapnya dengan nada dingin.
Penjual itu terdiam tanpa menjawab. Sorot matanya juga mulai tajam mengikuti sorot mata Rei.
Karena dirasa tak juga mendapat apa yang ia inginkan, Rei akhirnya memilih untuk pergi tanpa gula-gula kapasnya.
Diakhir ia mengucapkan satu kalimat, “Kalau saja ada hal yang membuatku menyesal hari ini, itu adalah bertemu denganmu lagi dalam situasi yang sama seperti waktu itu.”
Setelah itu, Rei pun pergi. Ia pergi dari taman itu, berjalan memutari kota sebelum akhirnya sampai dirumahnya.
“Aku pulang...”
Tak ada jawaban. Lagi-lagi rumah sepi karena yang lain masih belum kembali.
__ADS_1
Rei mengunci pintu dan berjalan menuju kamarnya. Ia membenamkan wajahnya dalam selimut dan bantalnya. Perlahan ia mulai menangis, badannya gemetar hebat dengan napasnya yang tak beraturan. Ia berkali-kali mengutuk hari ini, berharap kalau ia tak jadi pergi ke taman dan memilih menghabiskan waktunya di rumah saja.
"Mengapa takdirku begitu buruk. Padahal, kupikir ini adalah hari terbaikku setelah sekian lama. Tapi, kenapa malah sebaliknya?"
"Kenapa harus orang itu lagi? Kenapa orang itu harus muncul lagi ketika aku mulai sembuh dari lukaku kala itu."
"Kenapa ia harus melihatku dengan pandangan dan sorot mata yang sama?"
"Menakutkan.. semua orang menakutkan..."
Ia terus menangis, menangis dengan hebat sampai para saudaranya pulang. Tak terhitung berapa air matanya yang telah tumpah kala itu.
Erland yang lewat di depan pintu kamar Rei mendengar suara tangisannya dan segera memanggil saudaranya yang lain.
Felix dan Valencia segera menuju ke kamar Rei untuk memastikan bagaimana kondisinya. Valencia memeluknya dan Rei pun mulai ditenangkan oleh mereka.
Valencia berusaha meminta Rei untuk memberitahu apa yang terjadi, sedang Felix memegangi tangan Rei untuk membantu menenangkannya.
Dengan sesenggukan Rei mencoba menceritakan semuanya. Dari keinginannya untuk berjalan-jalan di taman, sampai dengan paman penjual gula-gula kapas yang sangat tak ingin ia temui. Semua telah Rei ceritakan.
Awalnya mereka berdua masih belum memahami masalahnya, kenapa Rei bisa menangis hanya karena itu? Namun, setelah mengingat alasan Rei keluar sekolah waktu itu, mereka pun mulai paham inti masalahnya.
Felix segera menelpon teman perempuannya untuk meminta bantuannya menjaga dan berpatroli di rumah Felix malam ini. Ia tak berani meminta bantuan teman laki-lakinya ketika sedang dalam kondisi yang seperti ini, karena ia takut itu akan memperburuk kondisi Rei.
Erland dan Zuito hanya terduduk diam di luar. Mereka tak berani masuk untuk bertemu dengan Rei. Karena, ketika dalam situasi yang seperti itu, mereka akan lebih memilih menunggu di samping tembok kamarnya dan memberi Rei waktu daripada ikut mengerubungi Rei.
Mereka paham betul apa yang dirasakan Rei saat itu. Ketakutan tanpa akhir dan kebencian tiap melihat dirinya sendiri.
“Tsk- bajingan sialan itu.” Erland memukulkan tangannya ke tembok. Pukulan keras itu membuat tangannya jadi sedikit terluka.
Zuito hanya terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa, berulang kali ia mengutuk dirinya sendiri karena telah meninggalkan Rei sendiri tanpa ada yang menemaninya.
"Aku sangat teledor kali ini.." Begitulah isi pikirannya.
Mereka berdua sama-sama membenci kenyataan ini. Kenyataan kalau mereka belum bisa menjaga saudaranya itu dengan baik dan melindunginya dari orang jahat di luaran sana.
Sebuah hal terlintas di benak mereka. Bahwa, “Aku akan membunuh orang itu suatu hari nanti.”
Mereka pun saling berpandangan sesaat dan mengangguk. Sepertinya mereka tahu tentang apa yang ada di pikirannya masing-masing.
“Baiklah, kali ini aku akan bekerjasama dengan kakak.”
“Mari balaskan dendam.”
__ADS_1
Tanpa diketahui oleh yang lain, mereka berdua pun pergi melaksanakan misi rahasianya. Sebuah misi yang mungkin akan jadi masalah bagi mereka di kemudian hari.