
“Erland, Zuito.. Rei mencari kalian, cepatlah kesana. Erland, Zuito? Ke mana mereka?”
Valencia mendatangi mereka di kamarnya. Tapi, kosong. Tak ada tanda-tanda mereka disana. Kasur-kasur mereka masih tertata rapi, jendela mereka juga tertutup rapi, tak ada celah sama sekali. Hanya mereka yang tak ada di kamar itu.
“Ada apa?” Felix pun menghampiri Valencia yang terlihat kebingungan di depan kamar mereka.
“Erland dan Zuito, mereka tidak ada disini.”
“Mungkin ke dapur?”
“Ah, benar juga. Aku akan memeriksanya.”
“Kau jaga Rei saja, biar aku yang mencari mereka. Saat ini, Rei lebih butuh sosok dirimu disampingnya.”
Valencia mengangguk, ia kembali ke kamar untuk menemani dan menenangkannya. Sementara Felix pergi mengecek dapur untuk mencari 2 adiknya yang lain.
Ia berjalan pelan menuruni tangga sambil memegangi pinggiran tangganya. Cukup gelap sebelum ia akhirnya menyalakan lampu dapurnya.
“Kosong. Ke mana perginya mereka?”
Felix merogoh sakunya, ia terdiam sesaat sebelum kemudian segera berlari ke arah gudang senjata di dalam rumahnya. Sesampainya di sana ia melihat bahwa pintu gudang sudah terbuka dengan kunci yang masih tergantung di lubang kuncinya.
Felix pun masuk dan mengecek daftar persenjataannya. Dua buah Revolver, Kerambit, dan beberapa peluru menghilang.
“Dua bocah sialan itu.”
Felix kemudian mengambil Revolver miliknya untuk berjaga-jaga dan bergegas menuju kamar Rei untuk memberitahu Valencia tentang dua saudara mereka yang lain.
“Ketemu?” Tanya Valencia pada Felix.
“Tidak, mereka kabur. Namun, kurasa aku tahu ke mana mereka pergi.” Ucapnya sambil melihat Rei.
Valencia mengangkat alisnya, “Jangan bercanda.”
Felix hanya terdiam tanpa jawaban.
“Ya Tuhan. Tapi, bagaimana cara menemukannya?”
...❖❖❖...
Disisi lain, Erland dan Zuito telah berhasil menemukan lokasi orang yang mereka cari.
“Cara ini memang tak pernah gagal. Terimakasih karena telah mengantar kami, Paman.”
“Kita apakan dia?” Zuito menatap mata orang itu dengan tatapan dinginnya.
“Habisi dia.” Jawab Erland dingin.
“TIDAK! JANGAN BUNUH AKU! JANGAN BUNUH AKU! KUMOHON! KUMOHON AMPUNI AKU!”
Paman yang dimaksud itu pun memohon dengan melas pada mereka dan berharap mereka dapat melepaskannya. Namun, mana mungkin akan dilepaskan semudah itu, ‘kan?
Zuito mengangkat Revolvernya dan mengarahkannya kepada Paman itu. Tepat di samping pelipisnya, 4 buah peluru melayang. Darah merah mengalir keluar dari kepalanya.
“Sudah cukup. Simpan peluru yang lain untuk menghabisi Bajingan yang sebenarnya.”
Erland dan Zuito pun memasuki halaman rumah penjual gula-gula kapas itu dan mengecek sekitar rumahnya. Namun, nihil. Rumah itu terlihat seperti rumah kosong.
“Apa paman itu berbohong? Atau paman itu tidak tahu di mana rumah penjual itu?” Zuito mulai terlihat bingung.
“Itu tidak mungkin. Tadi dia membicarakan penjual gula-gula kapas itu. Bahkan, dari obrolan tadi, seharusnya mereka sempat bertemu dan membahas Rei.” Jawab Erland.
“Ada yang salah disini.” Sambungnya. Erland memutar keras otaknya, berusaha mengingat petunjuk yang mungkin ia lupakan.
“Tadi aku bertemu dengan gadis itu lagi, hahaha.”
“Bukan yang itu..”
__ADS_1
“Gadis itu semakin cantik, loh. Tampaknya dia mulai bisa hidup lagi. Hahaha, aku ingat betul raut wajah takutnya waktu itu.”
“Menjijikkan.”
“Malam ini, aku akan mendatanginya lagi. Mengulang masa lalu hal yang menyenangkan. Iya, ‘kan?”
“Persetan. Zuito, apa kau membawa HP-mu?”
“Iya?”
“Hubungi kak Felix. Cepat!”
Zuito mengambil HP di dalam sakunya dan segera menelepon Felix.
“Halo, kak Felix. Kakak dimana?”
“Di rumah.”
“Benarkah? Syukurlah. Kak Felix masih di rumah.” Ucap Zuito pada saudaranya itu.
Erland merebut HP-nya dan berbicara di telepon, “Berikan padaku. Halo, kak Felix. Maaf karena memakan kue tadi tanpa izin.”
“Tak apa, jangan khawatir.”
“Kami masih di supermarket, kami akan pulang sebentar lagi.”
Ia pun menutup teleponnya dan menatap Zuito tajam, “Kita kembali sekarang. Rei dalam bahaya.”
“Maksud kakak?”
“Ingatlah ini, jangan mudah percaya pada semua orang.”
Zuito tersadar akan sesuatu yang salah lalu segera berlari menuju rumahnya.
“Pantas saja kita bisa dengan mudah keluar dari rumah. Seharusnya teman kak Felix akan melarang kita.” Ucap Zuito sambil menggerutu.
Erland mengangguk, “Kecuali dia bukan teman kak Felix.”
Untung saja mobil itu masih sempat mengerem. Pengemudi dari mobil itu keluar.
“Kak Felix...”
“Disini kalian rupanya.”
“Kak Felix maafkan kami, kami gegabah. Rei, Rei sekarang dalam bahaya. Perempuan tadi, bukan teman organisasi kak Felix!” Jelas Erland.
“Aku tahu.”
“Apa?”
“Aku dan Midori sudah mengamankannya.”
Jelas, mereka berdua kaget bukan main.
"Segampang itu?" Itulah yang mereka pikirkan.
“Lalu, siapa yang menjawab telepon tadi?” Erland lanjut bertanya.
“Aku juga. Aku tahu kalau kau akan menggunakan trik itu dan akan segera kembali ketika ada yang mencurigakan. Kau itu selalu bertindak gegabah, Erland.” Ucap Felix disertai senyuman.
“Lalu, bagaimana dengan Bajingan itu? Apa tidak ada tamu mencurigakan yang datang ke rumah malam ini?” Lanjut Erland.
Zuito mengangguk dan sedikit memiringkan kepalanya. Ekspresi bingung terukir jelas di wajahnya.
“Sudah Valencia bereskan. Sekarang, dia sudah berada di tempat yang aman dan seharusnya.” Jawab Felix disertai senyum yang melegakan.
“Syukurlah...” Erland dan Zuito sama-sama menarik napas lega. Mereka sangat bersyukur karena saudaranya itu baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
Tiba-tiba Zuito teringat akan sesuatu, “Kak Erland, mayat pria tadi?”
“Kau benar. Kak Felix, ada satu mayat yang belum kami bereskan.”
“Dia belum mati. Kami juga sudah mengobatinya.” Jawab Felix.
"Apa? Tapi, bagaimana bisa?" Waktu itu.. kami kan.. dia..”
Felix tak menjawab kebingungan mereka. Ia hanya tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam mobil.
“Ayo pulang dan beristirahat.” Ajaknya.
Mereka pun saling memandang sejenak sebelum akhirnya segera masuk mobil dan bergegas menuju rumahnya.
“Kak Rei dan kak Valencia tidak ikut?” Tanya Zuito setelah mengetahui kalau di mobil itu hanya ada Felix seorang diri.
“Mereka menunggu di rumah. Rei masih butuh istirahat. Jadi, aku suruh Valencia untuk menemaninya.”
“Bagaimana kondisi Rei?” Tanya Erland pada Felix.
“Kau akan tahu setelah sampai di rumah.” Felix tersenyum meninggalkan seribu pertanyaan di benak Erland.
Setelah kurang lebih 10 menit perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah. Erland segera keluar dari mobil dan berlari masuk untuk menemui Rei.
"Anak itu, selalu saja terburu-buru.." Felix melangkah keluar dari mobilnya.
"Hm? Kau tidak mau menyusul kakakmu?" Ucap Felix saat melihat Zuito masih berada di sampingnya.
"Aku mau mencari udara segar dulu." Jelas Zuito sambil menyenderkan kepalanya pada badan mobil.
"Begitukah?"
Zuito hanya mengangggapi pertanyaan itu dengan sebuah anggukan kecil. Felix yang saat itu melihatnya hanya tersenyum kecil. Sebenarnya ia tahu apa maksud adik kecilnya itu. Sengaja memberikan waktu pada kedua kakaknya untuk berbicara berdua setelah berbagai masalah dan kejadian hari ini.
“Omong-omong, apa kau sudah berbaikan dengan kakakmu?” Felix tiba-tiba membuka suaranya.
“Mungkin." Jawabnya singkat.
“Syukurlah, kakak merasa lega.”
"Iya," Balas Zuito dengan perasaan yang masih diliputi ragu. Sejujurnya, ia ragu dengan jawaban yang ia berikan barusan. Tentang apakah mereka sudah benar-benar berbaikan atau justru sebaliknya.
Felix lalu menjentikkan jarinya, "Oh iya, bolehkah aku minta satu hal?"
"Apa?" Balas Zuito dengan nada acuh tak acuhnya.
"Ajaklah Erland untuk menemuiku sebentar. Tapi, tentu saja nanti setelah perbincangannya dengan Rei berakhir."
"Baiklah."
Zuito lalu memalingkan wajahnya sambil tersenyum kecil. Sebuah pertanyaan terlintas di benaknya, "Apa Kak Erland akan kena marah Kak Rei?"
Erland pun sampai di sana. Di depan kamar Rei dengan pintu yang masih tertutup dan dengan napasnya yang juga masih terengah-engah. Ia pun langsung membukanya ketika mengetahui bahwa pintunya tidak terkunci. Khawatir, itulah perasaan yang mendorong tindakannya.
"Rei!"
Tanpa basa-basi lagi, Rei langsung menampar wajah Erland. Sebuah tamparan keras yang langsung membuat pipinya semerah tomat masak.
“DASAR BODOH! APA YANG KAU PIKIRKAN? APA KAU TAHU BUAH DARI PERBUATANMU? BAGAIMANA KALAU KAU KENAPA-KENAPA? KAU SAMPAI MEMBAWA SENJATA MILIK KAK FELIX. APA KAU BERPIKIR AKIBAT YANG AKAN KAU DAPAT NANTI? BODOH! DASAR BODOH!”
Rei menangis hebat, ia berulang kali memukul dada milik saudaranya itu dan memarahinya atas perbuatannya tadi.
“Kau boleh melindungiku, aku tahu kau ingin melindungiku. Tapi, bukan begini caranya, Erland! Kalau begini caranya, kau sama saja membahayakan dirimu. Kau.. sama.. saja..”
Erland tersenyum dan membelai lembut kepala serta rambut milik Rei, “Aku tahu, aku salah. Maaf, ya. Aku bertindak dengan sangat gegabah.”
“Besok lagi, kau harus lebih dewasa! Jangan pernah bertindak membahayakan dirimu lagi, mengerti?!”
__ADS_1
Erland mengangguk, “Aku mengerti.”
Tangisan Rei masih pecah, ia belum mampu mengelola emosinya dengan baik. Erland yang disitu hanya bisa terus membelai lembut rambut milik saudaranya itu sambil menyandarkannya di pundaknya. Entah kenapa, kali ini ia tak merasa takut saat membelainya dan Rei juga tak merasa takut dibelai oleh saudaranya itu. Seakan, perasaan mereka saling terhubung saat itu, sebuah perasaan untuk saling melindungi satu sama lain.