DETIK KEHIDUPAN

DETIK KEHIDUPAN
CHAPTER 2 : KELUARGA BARU


__ADS_3

Satu tahun berlalu, kini Rei telah tubuh menjadi seorang anak cerdas.


Mereka pun kini sudah berhasil mempunyai rumah sendiri. Sebuah rumah tingkat 2 dengan halaman yang luas di sekitar rumahnya. Mereka memilih untuk tinggal di daerah yang tidak terlalu ramai. Alasan sederhana? Ketenangan adalah yang utama. Begitulah motonya.


Saat ini, Rei pun resmi berusia 11 tahun. Itu berarti, mulai tahun depan Rei sudah bisa masuk ke jenjang Menengah Pertamanya. Dan bisa dibilang, Rei adalah salah satu siswa yang hanya bisa masuk dengan tes masuk sekolah dan bukan dengan nilai ujian akhir. Karena, setelah peristiwa setahun yang lalu, Rei jadi tidak melanjutkan pendidikan Sekolah Dasarnya.


Ia hanya tinggal di rumah, belajar dengan buku-buku yang ia dapatkan di perpustakaan daerah dan beberapa ilmu pengetahuan dari para saudara angkatnya. Ia belajar dengan sangat tekun agar bisa masuk ke Akademi Swasta Favorit yang di mana murid berprestasi dengan rangking 15 besar di sekolahnya tak perlu membayar biaya sekolah. Dan juga, tak banyak akademi yang menerima siswa hanya dengan jalur tes masuk terutama Akademi Negeri.


Hal itulah yang membuat Rei jadi mati-matian belajar sampai lupa akan kesehatan dirinya.


“Rei, saatnya makan malam. Jangan terlalu memforsir diri, turunlah, dan mari makan bersama.” Ajak seorang kakak perempuannya.


“Baiklah Kak Valencia~”


Valencia Gracelina, ia adalah satu-satunya kakak angkat perempuan Rei. Nama cantik yang ia miliki sesuai dengan kepribadiannya yang juga cantik.


Rei menutup bukunya dan turun ke ruang makan keluarga dibawah. Sesampainya di meja makan, Rei tak melihat saudaranya yang lain. Hanya ada Valencia di meja makan saat itu.


“Di mana Kak Felix dan yang lain?” Tanyanya kemudian.


“Oh, mereka, ya? Katanya sih, tadi mau berburu kelelawar dulu. Mau menunggu mereka?” Tawar Valencia.


“Jika kak Valencia tidak keberatan?”


“Tentu.” Jawab Valencia disertai dengan senyuman.


Rei mengangguk dan sembari menunggu, Rei kembali sebentar ke kamarnya dan mengambil bukunya untuk belajar. Ia tak pernah ingin melewatkan kesempatannya untuk belajar. Meski mata dan tubuhnya sudah terlihat begitu lelah, ia masih saja memaksakan dirinya.


Melihat Rei yang seperti itu membuat Valencia mulai cemas akan kondisinya.


“Rei? Apa kau tidak lelah? Kenapa tidak istirahat dulu? Kakak lihat, kau tak berhenti belajar dari pagi, apa kau yakin tidak apa-apa?”


“Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memperdalam materi yang ini. Cukup sulit..”


“Kemari, coba kakak lihat. Ah.. ini ya.. ini materi lanjutan. Bahkan, kakak saja lumayan kesulitan waktu mengerjakannya dulu.”


Rei mengangkat sebelah alisnya, “Bukannya kakak bukan berasal dari sini? Harusnya materinya beda, kan?”


“Ma-maksudku....”


Klak...


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, mereka mendengar suara pintu belakang terbuka. Suara itu pun memecah obrolan mereka dan membuat mereka segara menengok untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


“Kami pulang,”


Rei dengan antusias menyambung mereka, “Kak Felix, Erland, Zuito, selamat datang kembali.”


Valencia pun ikut menyambut mereka, “Selamat datang kembali.”


“Terimakasih. Hasil malam ini lumayan, aku menemukan tupai di kebun belakang. Kurasa ini akan enak untuk menu makan malam.” Ucap Felix sambil menunjukkan tupai buruannya.


“Tapi, tupai ini begitu lucu.. lihatlah, warnanya putih, bukankah sayang jika dimakan begitu saja? Kak Rei juga berfikir begitu, kan?!” Oceh Zuito sambil memperlihatkan betapa lucunya tupai itu.


“Yah.. bagaimana ya..” Rei sedikit menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


Karena dirasa tak memberikan jawaban yang di inginkan, Zuito pun kembali merengek pada yang lainnya, “KAKK VALENCIA!”


Orang yang dipanggil namanya pun hanya bisa menarik napas panjang sambil menatap mata memelas anak itu, “Baiklah-baiklah, aku akan berburu besok. Felix, biarkan Zuito memelihara tupai itu. Aku akan carikan gantinya esok.”


“Kau? Berburu?”


Valencia hanya tersenyum pahit melihat kenyataan bahwa ia sangat payah dalam berburu hewan dimalam hari. Tapi, mau bagaimana lagi? Daripada melihat adik angkatnya menangis lagi, ia pun hanya bisa mengalah, ‘kan?


“Wahh yippii!! Tupai imut ini selamat dari wajan panas! Setelah ini, aku berjanji pasti akan merawatmu baik-baik! Aku bersumpah! Yippiii~”


Zuito kecil tampak begitu senang. Ia sesekali mencium tupai itu, memeluknya dengan erat, dan membawa tupai itu berlarian.


“H-hei, Zuito! Jangan berlarian seperti itu!” Erland mengejar sambil mencoba menangkap saudaranya itu.


“ZUITO, TUNGGU!!”


Mereka berdua pun terus berlari di malam itu. Memasuki kamar-kamar dan sesekali melompat dari tangga.


Felix, Valencia, dan Rei hanya bisa melihat mereka dengan senyum pahit. Membayangkan bagaimana berantakannya seisi rumah setelah ini. Mulai mereka muak, mereka bertiga pun saling bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya membuat sebuah keputusan.


“Hap!”


“Tertangkap!”


“Kemarikan!” “


Mulai detik ini, biar aku yang menyimpan tupainya.” Celetuk Rei secara tiba-tiba.


Zuito memberontak, “TIDAK! KAK REI, ITU PUNYAKU!”


“Tidak. Nanti kau hanya akan membunuhnya. Biar aku yang menyimpannya.”

__ADS_1


“TAPI, KAK REI JUGA PERNAH MEMBUNUH TUPAI SEBELUMNYA!”


“ITU KARENA KAU YANG MELEPASKANNYA, ZUITO! TUPAI ITU PERGI DAN DIMAKAN ANJING LIAR!”


“Tapi-”


“Apa yang kakakmu katakan benar, kali ini kita serahkan saja tupainya pada Rei. Kau hanya boleh menjenguknya 3 kali sehari dan jika melanggar, maka tupai ini akan berakhir di wajan penggorengan.” Ucap sekaligus ancam Valencia pada adiknya.


Zuito dengan murung pun menjawab, “Baiklah... Aku mengerti.. tolong jaga tupai itu ya, kak Rei.. hah..”


“Serahkan padaku.”


Semuanya pun mulai tersenyum dan memindahkan pandangan mereka ke meja makan.


“Baiklah, sekarang, mari kita makan malam! Aku sudah membuat hidangan favorit kita, loh~” Valencia membuka oven, aroma lezat menyebar ke seluruh ruangan.


“DAGING!” Para anak-anak terlihat sangat semangat untuk segera menyantap menu makan malamnya.


“Bagiannya sama, ya. ⅕ untuk masing-masing orang. Tua muda sama saja, kalau tidak terlalu suka daging boleh menyumbangkan ke orang lain. Lalu, menu kedua kita adalah.. jeng-jeng!”


Rei, Erland, Zuito, dan Felix tersenyum pahit setelah melihat masakan itu.


“Itu..”


“Bukankah...”


“Kurasa aku akan makan dagingnya saja.”


“Tanpa komentar.”


“Jeng-jeng-jeng! Sayur bayam! Oh, ayolah, bukankah ini terlihat lezat? Kalian juga harus memakannya! Sayur itu penting untuk kesehatan!” Oceh Valencia setelah melihat reaksi dari saudara-saudaranya.


Felix berdeham pelan, “Ukhum, tapi, aku alergi bawang.” Ia tersenyum pucat.


“Kau tak perlu makan. Tapi, 3 anak kecil ini harus tetap menghabiskan sayur bayamnya.”


Mereka bertiga saling bertatapan sejenak sebelum kemudian..


“1..3.. LARII!!”


“HE-HEY! JANGAN LARI!! KALIAN HARUS HABISKAN SAYURNYA!!”


“MAAF, TAPI KAMI TAK SUKA MAKAN SAYUR!”

__ADS_1


“AKU BENCI BAWANG!”


Rumah mereka pun menjadi sangat ramai malam itu. Mengisi malam yang sunyi dengan kehangatan keluarga baru mereka.


__ADS_2