DETIK KEHIDUPAN

DETIK KEHIDUPAN
CHAPTER 3 : BADAI DI MALAM HARI


__ADS_3

Dimalam yang sama, kala Rei tengah fokus belajar dalam kamarnya, ia mendengar sebuah suara seperti langkah kaki yang berjalan mendekati kamarnya. Lantas, ia pun segera menutup bukunya dan menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar dengan seksama irama langkah kakinya.


Tapi, hasil yang didapatkan ternyata nihil. Suara langkah kaki itu menghilang begitu saja.


“Aneh,” Pikirnya dalam hati.


Ia pun kembali ke meja belajarnya dan kembali menghadap buku pelajarannya. Memutar-mutarkan penanya dan sesekali membuat irama di mejanya.


“Malam ini dingin, ya, Tupai Kecil. Aku penasaran apa kau juga merasakan hal yang sama? Hahaha, tentu saja, ‘kan?”


“Tupai kecil, apa kau ini jelmaan peri? Kak Valencia pernah bilang padaku kalau peri itu bisa menyamar, loh. Apakah benar?”


Merasa terabaikan, Rei lantas mengerutkan keningnya dan memanyunkan mulutnya.


"Hey, ayolah! Kenapa kau tidak menjawab sama sekali? Aku jadi merasa kesepian, loh. Ah...”


Rei terus melanjutkan obrolan malamnya dengan tupai itu. Meski tak dijawab, ia terus saja menanyakan banyak hal pada tupai itu. Mulai dari namanya, jumlah keluarganya, makanan favoritnya, bahkan tentang siapa kekasihnya pun ia tanyakan padanya.


Zuito yang kebetulan bertempat tidur di sebelah kamar Rei jadi penasaran tentang apa yang terjadi di kamar saudaranya itu.


“Mengapa jadi sangat ramai? Biasanya kak Rei selalu tenang dimalam hari. ” Pikirnya.


Zuito kemudian bangkit dan bergegas untuk mengecek ke kamar milik saudaranya itu.


“Mau ke mana?” Tanya Erland yang kebetulan sekamar dengan Zuito.


“Anu, tidakkah kak Erland mendengar sesuatu?”


Erland melepas handsetnya dan mulai menajamkan pendengarannya, “Hm? Oh, kamar Rei, ya?”


“Iya! Bukankah sangat ramai? Aku penasaran apa yang terjadi, apakah tupai itu telah berubah menjadi peri?”


“Itu tidak mungkin, ‘kan?” Jawab Erland sambil tertawa kecil.


“Tidak ada yang tahu juga, ‘kan?” Zuito pun ikut tertawa sambil beranjak pergi ke kamar Rei dan disusul oleh Erland saudaranya sekamarnya.


Tok tok tok


Mereka lalu mengetuk pintu kamar Rei dan memanggil namanya secara bersamaan.


“Kak Rei?”


“Rei?”


Yang merasa terpanggil pun segera menjawab panggilan mereka, “Iya?”


“Boleh kami masuk?”


“Tentu. Tunggu sebentar, akan kubukakan pintunya. Ada apa?” Tanya Rei pada mereka.

__ADS_1


“Kamar kakak terdengar ramai. Jadi, kami penasaran tentang apa yang terjadi. Tapi, sepertinya semua baik-baik saja, ya?” Tanya Zuito sambil melihat keadaan kamar Rei.


“Kamarmu ini berantakan sekali ya, Rei. Sudah berapa bulan tak kau bersihkan?” Ejek Erland ketika melihat buku-buku yang berserakan di kamar saudaranya itu.


“Dan ejekan itu cukup lucu ya saat diucapkan oleh seorang anak yang selalu lupa mencuci pakaian dalamnya.” Balas Rei sinis.


“Tupai!” Zuito berlari menghampiri tupai itu. Ia lalu berusaha memegangnya dari luar kurungan.


“Uhh.. susah.. tak sampai... Kak Rei, tolong...” Rengeknya kemudian.


Rei kemudian menggeleng dengan tegas, “Tidak. Kau sudah berjanji bahwa aku yang akan menjaganya.”


“Aku hanya ingin memegangnya. Kumohon, Kak!”


“Tidak.”


“Kumohon...”


“Tidak~”


“Hahh... Ayolah!”


“Tidak mau~”


Rei dan Zuito terus berdebat kecil tentang Tupai itu, sementara Erland hanya memperhatikan mereka dan sesekali mengalihkan pandangannya.


"Dasar anak-anak." Pikirnya.


Erland menghela napasnya panjang. Ia lalu kembali melirik kembali kedua saudaranya itu. Dan ketika itu pula, ia terdiam untuk mengamati sejenak.


Perdebatan panjang antara Rei dan Zuito berakhir. Itu hal bagus. Tapi, perdebatan mereka berakhir karena Rei tiba-tiba menjadi diam tanpa suara dan menatap tupai itu tajam. Dan Erland yakin kalau itu bukan hal yang benar.


“Ia bicara..” Ucap Rei secara tiba-tiba.


“Ha? Siapa?” Ucap Erland yang refleks terbangun dari duduknya.


“Tupai itu.. bicara..” Jawabnya.


Erland dan Zuito makin kebingungan karena mereka sama sekali tidak mendengar suara apa-apa.


“Tupai itu bicara... Tupai itu.. Tupai itu... Tidakkk!”


Tiba-tiba Rei melompat mundur sambil menunjuk ke arah tupai itu. Reaksi Rei barusan membuat Erland dan Zuito kaget. Mereka lalu berusaha dengan keras untuk menenangkan Rei dan mencari tahu apa yang Rei dengar barusan.


“Hey, hey, tenanglah. Ada apa sebenarnya?” Tanya Erland pertama.


“Kak Rei.. Kak Rei..” Zuito pun tampak semakin ketakutan.


Rei sama sekali tidak menjawab, ia hanya menatap tajam tupai itu sambil menutup telinganya. Erland yang kehabisan ide pun akhirnya mengambil jalan tengah untuk masalah ini.

__ADS_1


“Zuito, panggil Kak Felix dan Kak Valencia. Cepat!” Teriaknya.


“Ba-baik, Kak.” Zuito berlari sekuat tenaga menuruni tangga sambil berteriak memanggil nama para kakak angkatnya itu.


Mulai dari dapur, ruang tamu, teras, Zuito terus berlari mengelilingi isi rumahnya.


“Kak Felix, Kak Valencia, tolong! Kak Felix, Kak Valencia, tolong! KAK FELIX! KAK VALENCIA! KALIAN DIMANA?!” Zuito kecil saat itu jadi sangat cemas karena tak kunjung menemukan mereka.


Zuito pun langsung mengambil keputusan untuk kembali ke kamar dan memberitahu hal ini pada kakaknya. Namun, hal yang terjadi ternyata diluar perkiraannya.


“Kak Erland, aku tidak bisa menemukan mereka dimana-mana! Kak Erl-” Ucapan Zuito terputus, ia mematung, dan perlahan air matanya pun mulai mengalir.


“Kak Erland... Tupai...”


Saat itu Zuito melihatnya sendiri, tupai yang baru saja ia selamatkan mati terpotong di tangan Erland dan oleh Erland sendiri. Begitu sadis, darah merahnya mengalir melumuri tangannya.


Rei masih terlihat berusaha menutup telinganya, gemetar, dan bicara meracau seolah mendengar tupai itu berbicara.


Erland yang sadar bahwa saudaranya telah kembali pun kini jadi ikut terlihat kacau. Ia menoleh dan memanggil namanya pelan, “Zuito...”


Zuito tidak merespon panggilan itu. Ia terus saja menatap dengan tajam tupai yang baru saja mati di tangan saudaranya itu. Tatapan matanya kosong, ia terlihat seperti makhluk yang tak lagi hidup.


Waktu seakan berhenti dengan irama detak jantung yang semakin bertambah cepat. Kepala mereka mulai merasa pusing dengan napas yang makin tak beraturan. Mereka saling tak mengerti harus berbuat apa. Ekspresi yang harus mereka buat atau kata-kata yang mereka ucapkan.


Mereka sangat berharap agar bisa pingsan saat itu juga. Agar cerita ini bisa berakhir dengan cepat dan saat bangun pagi mereka sudah lupa akan waktu semalam. Namun, kenyataan pasti selalu terbalik dengan khayalan, ‘kan? Tentu saja.


“Zuito.. maaf.. sungguh.. aku tak tahu harus apa.. aku tadi panik.. sangat panik.. aku bingung tentang Rei. Maaf, Zuito.. maaf..”


Tangan Erland saat itu masih gemetaran. Ia melepas tupai yang telah dipotongnya dengan gunting dari tangannya dan beranjak untuk memegang wajah saudaranya itu dengan tangannya yang masih berlumuran darah.


“Hey.. Zuito.. jawab aku.”


"Kenapa... Kenapa harus begini?"


Zuito membuka suaranya. Matanya masih menatap tupai itu tajam. Mengamati darah yang kian mengalir dari tubuh tupai itu.


Dengan suara gemetar Erland pun menjawab pertanyaan saudaranya tadi, "Kenapa? Kau tanya kenapa?"


Ia lalu mengarahkan wajah Zuito pada Rei.


“Lihat Rei, dia begitu ketakutan. Apa yang menurutmu lebih penting? Tupai atau Rei? Tentu saja aku akan memilih Rei, ‘kan? Oleh sebab itu aku menolongnya dan aku pun jadi harus membunuh tupainya. Jangan marah padaku ya, Zuito..”


Zuito tetap tak bereaksi. Ia hanya mematung disepanjang malam itu dengan mengulang pertanyaan 'mengapa' dan 'haruskah'. Pikirannya sangat kacau mengingat nasib tupai kecil yang ia selamatkan kini telah benar-benar tiada. Kalau tahu akhirnya akan begini, buat apa ia selamatkan tupai itu tadi?


Itulah yang membuat Zuito menjadi sangat marah dan kecewa. Bukan hanya pada Erland, tapi, pada isi takdir yang juga tak terlihat dengan jelas.


Di badai malam itu, masalah mereka akhirnya dapat berakhir berakhir ketika para kakak angkatnya pulang. Yah, meski aku tak yakin apakah benar-benar berakhir. Setelah para kakak angkatnya, mereka pun dilerai. Kamar mereka dipisahkan sementara dan Rei juga diberi penanganan yang berbeda atas masalahnya.


Hingga tanpa dirasa, waktu pun kini terus berlalu. Namun, meskipun begitu, mereka bertiga masih tak bisa melupakan kejadian di malam itu. Karena bagaimana pun juga, meski waktu bisa menghapuskan luka, tapi, tidak semua luka bisa terhapus oleh waktu itu.

__ADS_1


Kejadian di malam itu kini telah mengubah Zuito sepenuhnya, menjadi sosok pendiam yang lebih sering menarik diri dari lingkungannya.


__ADS_2