DETIK KEHIDUPAN

DETIK KEHIDUPAN
CHAPTER 7 : HUKUMAN


__ADS_3

Rei terdiam beberapa saat. Ia terus mengamati tulisan yang terdapat di kertas itu.


“Benarkah ini tulisan tangan mereka? Tapi, kurasa bukan, deh. Coraknya lain. Punya Erland tidak selembut ini dan punya Zuito itu cenderung kotak.” Ucapnya dalam hati.


“Pura-pura tidak tahu saja kali, ya? Atau coba tanyakan saja?” Gumam Rei lirih.


Rei pun menunduk untuk melihat kondisi kamar Erland dari lubang itu.


“Uh, tidak terlihat.. jangkauan lubang ini terlalu sempit.”


Rei menghela napas dan bangkit dari sana.


“Baiklah kak Felix, aku tahu itu kau.” Celetuknya tiba-tiba.


“Bodoh! Kenapa aku sejujur itu! Bagaimana ini?” Batinnya panik sambil menutup mulutnya.


“Mana tidak ada jawaban! Bagaimana kalau benar-benar kak Felix?”


^^^Rei :^^^


^^^Aku akan ke kamarmu.^^^


Setelah mengirim surat itu, Rei kemudian bergegas untuk menuju ke kamar mereka dan segera mengetuk pintunya.


Lumayan lama ia menunggu pintu itu terbuka. Mungkin, sekitar 15 menit? Rei sendiri juga tidak tahu kenapa bisa sangat lama.


“Erland, Zuito, buka! Kenapa tidak ada jawaban? Kalian kenapa? Kalian baik-baik saja, ‘kan?”


Rei mulai cemas. Menunggu adalah hal yang sangat ia benci. Apalagi, menunggu tanpa kepastian.


“Kalau kalian tidak membukanya. Maka, terpaksa aku akan mendobraknya!”


“Yakin nih mau di dobrak?”


“Mau gimana lagi?”


Rei tampak sedikit berdiskusi dengan dirinya sendiri sebelum akhirnya mendobrak pintu itu.


Ia mundur beberapa langkah untuk mengambil posisi ancang-ancang dan bersiap mendobrak. Tubuhnya menghantam pintu itu dengan keras. Sudah 3 kali percobaan, tapi, ia masih saja belum bisa membukanya. Yah, dari awal memang tak sebanding, sih.


“Ini yang terakhir.” Ucapnya menyemangati diri.


“1..2..3..”


Ia pun menabrakkan dirinya dengan keras hingga akhirnya pintu itu dapat terbuka.


“ERLAND, ZUITO!”


Rei segera bangkit dan melihat ke dalam kamar. Mereka berempat sudah berada di sana. Erland, Zuito, Felix, bahkan Valencia pun ada di sana.


Felix tersenyum saat melihat usaha Rei berhasil. Ia sedikit tertawa sambil melontarkan beberapa kalimat untuknya.


“Dirimu sepertinya sudah pulih, ya. Kekuatanmu meningkat drastis, bahkan lebih kuat daripada saat berlatih bela diri denganku.”


Rei hanya bisa senyum cengengesan sambil melihat kondisi kedua saudaranya yang terduduk menuduk di depan Felix dan Valencia.

__ADS_1


“Mereka baik-baik saja. Aku tak akan menyakiti mereka kok, apalagi sampai membunuhnya. Jadi, bagaimana, Rei? Apa kau sudah lega?” Sambung Felix.


Rei lalu menyatukan kedua tangannya sambil terduduk dan memejamkan kedua matanya, “Aku minta maaf! Kali ini benar-benar minta maaf!”


Ia tak berani membuka matanya untuk melihat raut wajah kakak tertuanya itu. Felix memang sedang tersenyum saat itu. Tapi, justru senyum itu yang menakutkan. Karena, kalau saat seperti ini, senyum miliknya akan menjadi awal dari sebuah hukuman yang berat.


“Sungguh-sungguh minta maaf....ya? Sungguh meminta maaf....” Rei mengulangi perkataannya.


10 menit ia menunggu. Namun, masih saja tak ada jawaban. Sama seperti tadi, ia jadi harus menunggu tanpa kepastian, lagi.


10 menit tanpa suara berlalu, hanya ada keheningan saat itu. Sampai, sebuah suara tawa terdengar diantara mereka. Valencia berusaha menutup mulutnya dan membalikkan tubuh untuk menyembunyikannya.


“Parah.. waktunya gak tepat..” Batin mereka bersamaan.


Rasa penasaran Rei meningkat, ia pun akhirnya membuka matanya. Di sana ia melihat kakaknya, Valencia yang sedang berusaha menahan tawa dan Felix yang berusaha tetap terlihat dewasa.


“Kata siapa kami marah padamu?”


“Eh?”


Semua kaget dan sontak terdiam. Raut wajah mereka pun berubah, hanya Felix sendiri yang masih bertahan dengan senyumnya.


“Kak Felix.. benar tidak marah?” Rei berusaha memastikannya. Dengan raut muka tertekan miliknya, ia sangat berharap kalau apa yang diucapkan Felix barusan bukanlah jebakan untuknya.


“Sungguh,”


“Bahkan setelah aku melakukan pelanggaran?”


“Kata siapa kau melanggar? Aku saja tidak pernah berkata agar, 'Jangan menjenguk mereka', ‘kan? Jadi, kenapa kau tidak tanyakan dulu sebelumnya?"


“Kurasa aku berlebihan.” Ucapnya sambil memegangi tengkuknya.


“Tapi, bukan berarti kau bebas dari hukuman, loh. Lihat ke belakang!"


Rei pun refleks menoleh. Terlihat di sana pintu kamar yang tadinya rapi telah berubah menjadi potongan kayu yang berserakan di lantai. Hancur lebur, kamar itu jadi tanpa pintu sekarang.


Rei menelan ludahnya dengan berat dan kembali menghadap Felix.


“Uangku.. kurasa tidak cukup, deh..” Ucapnya sambil merogoh saku celananya.


Felix kemudian memiringkan kepalanya, “Hm? Tidak cukup? Bagaimana, ya. Nah, bagaimana, kak Valencia?”


“Eh? Aku?”


Valencia memegangi dagunya dan berdeham pelan, “Kalau sesuai perjanjian sih, harus tetap diganti. Bagaimana, ya? Apa Erland dan Zuito punya saran?”


Valencia lalu memegangi bahu kedua saudaranya itu sambil berbisik pelan di kedua telinga mereka.


Dia orang yang dituju itu hanya bisa bergidik ngeri sambil berlari pelan ke belakang pundak milik Rei. Mereka bertiga takut pada hukuman yang akan diberikan.


“Sesuai peraturan yang tertera. Kerusakan yang disebabkan oleh kesengajaan harus tetap digantikan. Seberapa kecil pun biayanya. Jadi, harus tetap ganti rugi, deh!” Ucap Valencia sambil tersenyum santai.


“Jadi.. apa yang harus kami lakukan untuk menebusnya?”


“Bakti sosial.”

__ADS_1


Perkataan Felix barusan hampir membuat mereka bertiga tertawa. Bukan karena salah. Namun, aneh saja, sosok Felix yang lumayan keras ternyata juga punya jiwa sosial?


"Kak Felix baik-baik saja, 'kan?"


Erland sedikit memiringkan kepala sambil memegangi dagunya. 'Aneh' satu kata yang terus tebersit di kepalanya mereka.


"Baik, kok. Aku baik-baik saja." Jawabnya enteng.


"Kenapa harus bakti sosial? Bukankah ada pekerjaan lain? Yah, seperti sebelum-sebelumnya itu misalnya?" Sambung Erland bertanya.


"Kak Felix kan maunya kalian bakti sosial. Jadi, mau gimana lagi deh." Jawab Valencia sambil mengangkat bahunya.


"Dimana kita akan melakukan bakti sosial?" Tanya Rei ragu-ragu.


Valencia tersenyum, "Pertanyaan bagus! Nah, ayo Kak Felix, kami semua menunggu jawaban darimu." Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak milik Felix.


"Panti Asuhan? Kurasa itu tempat yang bagus."


Zuito, Rei, dan Erland terdiam cukup lama. Mereka mencoba mencerna perkataan tadi sambil berusaha berpikir positif. Hingga akhirnya salah satu dari mereka bersuara.


"Kenapa harus Panti Asuhan, Kak?"


Kini, giliran yang Zuito bertanya. Sebagai sosok dengan jiwa pemikir, ia terus memikirkan maksud Felix sedari tadi. Hingga berbagai pertanyaan pun muncul di benaknya. Beberapa diantaranya seperti :


"Apa Kak Felix mau adopsi adik lagi?"


"Apa Kak Felix mau buang kita semua ke Panti Asuhan?"


"Apa Kak Felix udah gak sayang sama kita?"


"Jangan-jangan..."


Dan banyak lagi pertanyaan rumit di otaknya.


Felix menggeleng pelan, "Tak ada maksud lain aku memilih tempat itu. Hanya saja, kurasa, sesekali kalian perlu main ke sana. Bukankah begitu, Valencia?"


"Yah.. begitulah."


Valencia tersenyum sendu. Sorot matanya turun melihat ke arah lantai kamar itu. Berbagai kenangan pun tebersit dalam ingatannya.


"Jangan sedih begitu! Lihat, mereka jadi ikut sedih, loh." Ucap Felix pelan sambil menepuk pundak saudaranya.


Valencia pun mengangkat pandangannya dan mulai tersenyum dengan senyum manisnya yang khas.


"Kau benar." Jawabnya lirih.


"Jadi, bagaimana? Kalau kita berangkat besok apa kalian semua sudah siap?" Ucap Felix semangat.


"Ya. Kami siap." Jawab mereka tak kalah semangat.


"Baguslah. Hari esok mungkin akan sangat melelahkan. Jadi, sekarang, mari kita beristirahat. Ingat, istirahat, ya! Jangan ada yang berpikiran untuk bergadang semalaman dengan alasan apapun! Apa kalian mengerti?" Ucap Valencia lembut.


Dengan serempak mereka menjawab, "Kami mengerti!"


"Bagus, adik-adikku sungguh pintar." Lanjut Valencia kemudian.

__ADS_1


Akhirnya masalah hari ini terselesaikan. Mereka pun mulai istirahat dan mempersiapkan diri untuk menyambut hari esok. Hari yang mungkin akan sangat melelahkan bagi mereka.


__ADS_2