
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Avisa dengan keras ketika ia baru saja memasuki rumah. Tubuhnya yang masih lemah harus terjerembat ke lantai.
"Dasar anak tidak punya moral! Berani sekali kamu pulang setelah mencoreng muka Papa!" hardik Irawan dengan nafas terengah oleh amarah.
Avisa meraba pipinya yang terasa panas, perlahan menoleh papanya. Belum sempat ia membuka suara, sebuah handphone terhempas ke pangkuannya. Ia pun memungut benda pipih warna hitam itu. Membukanya, langsung ada sebuah video. Ia pun memutar video yang ternyata menampilkan dirinya yang semalam terjebak di hotel kumuh itu.
Mulutnya membuka tampa suara, air mata langsung menderai. Ternyata peristiwa di hotel itu direkam, bahkan rekamannya sudah sampai pada orang tuanya.
'Arnav Adikara ... kau seorang iblis!'
Avisa merutuk dalam hati.
Kembali ia mengingat peristiwa paling mengerikan dalam hidupnya itu.
Tiga belas jam yang lalu ....
Avisa baru selesai mengenakan gaunnya, wajahnya sangat berseri karena malam ini ia akan bertunangan dengan Lunar Andreanus. Kekasih yang satu tahun ini menjalin hubungan dengannya, meski sempat ada kendala-namun akhirnya mereka akan mengikat janji.
Memang baru bertunangan karena tapi itu cukup untuk mengumumkan pada dunia bahwa ia dan Lunar memiliki satu sama lain.
Tiba-tiba saja ada yang menerobos masuk ke kamarnya melalui jendela, ia hendak berteriak namun orang bertampang sangar itu segera membekap mulutnya dengan sapu tangan-hanya dalam beberapa detik ia tak sadarkan diri. Pria itu gegas membawanya keluar, sudah ada yang menunggu di bawah sana. Pria itu pun melemparkan tubuh Avisa ke arah pria di bawahnya yang dengan sigap menangkap.
Lalu pria itu pun turun kembali, mereka gegas meninggalkan rumah keluarga Andreanus. Pesta pertunangan memang diadakan di rumah itu.
Avisa membuka mata perlahan, aroma yang ia hirup dari sapu tangan tadi masih menyisakan pening.
"Kau sudah sadar rupanya!" suara bariton seorang pria membuatnya terperanjat. Ia pun menoleh pemilik suara itu-seketika matanya melotot.
Ia tahu siapa pria itu. Arnav Adikara Mahesh, CEO dari Mahesh Group. Juga kakak dari Irena-temannya yang meninggal sebulan lalu.
Arnav Mahesh terkenal sebagai pria yang tak memiliki hati.
"Ka-kau!" seru Avisa terbata, ia menatap ke seliling. Rupanya ia berada di tempat yang asing. Ruangan itu cukup buruk dan pengap. "Di-di mana aku?"
"Di tempat yang akan membawamu ke neraka!"
__ADS_1
Jelas saja Avisa menatap pria itu seketika dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau lakukan ini, apa yang kau mau?"
"Membuatmu merasakan apa yang Irena rasakan, kaupikir kau bisa tertawa bahagia di atas tangisan adikku dalam kuburnya!" Arnav menggerutu.
"Ini tentang Irena?"
"Orang yang menyakiti adikku tidak akan lolos dariku!"
"Menyakiti Irena, aku tidak menyakiti Irena!" sangkal Avisa.
Plak!
Satu tamparan pedas mendarat di pipinya.
"Masih berani membela diri, perbutanmu tak bisa kumaafkan. Dasar pengkhianat!" maki Arnav lalu menjambak rambut Avisa hingga kepalanya mendongak, dengan cepat ia pun meminumkan sesuatu ke dalam mulut Avisa yang terbuka.
Avisa mencoba meronta, namun satu gelas cairan itu sudah tertuang ke dalam mulutnya. Ada kemungkinan 70% tertelan, meski meluap-luap hingga membasahi gaunnya. Arnav melempar gelas kosong ke lantai hingga pecah saat melepaskan Avisa dari tangannya.
"Apa yang kau minumkan padaku?"
Avisa gegas berlari ke pintu, menggedor pintunya, "Arnav buka pintunya, aku harus pulang. Semua orang menungguku, Lunar pasti mencariku!"
"Lupakan pertunanganmu hari ini, Avisa. Karena di sini ... kau akan bersenang-senang!" ucap Arnav dari luar lalu tertawa.
"Apa maksudmu? Buka pintunya!" teriak Avisa menggedor pintu lagi.
Avisa membiarkan air matanya tumpah, harusnya malam ini ia bertunangan dengan Lunar. Harusnya malam ini menjadi moment bahagia untuknya. Tapi ia malah terjebak di ruangan pengap itu.
Pintu pun terbuka kembali, Avisa sudah bersiap untuk kabur. Namun kali ini justru ada orang lain yang masuk, pintu kembali tertutup rapat.
Mata Avisa kembali membeliak, pria yang kini berdiri di depannya adalah pria bertampang sangar yang tadi menculiknya.
"Siapa kau? Kau mau apa?" ia mulai mundur.
"Menunggumu menggodaku, Nona!" jawab pria itu dengan senyum nakal.
__ADS_1
Jelas mata Avisa kian melebar, ia melangkah mundur kembali. Namun ia mulai merasakan ada yang aneh dalam tubuhnya. Udara di sekitarnya menjadi terasa panas, keringat muncul dari pori-porinya yang mulus. Ia mulai merabai diri.
"Apa yang terjadi? Ada apa denganku?" ucapnya yang mulai gelisah, ada rasa aneh yang menjalari sekujur tubuhnya. Bahkan pusat intinya terasa berdenyut hebat seperti minta disentuh, ingin rasanya ia menyentuh namun di depannya ada seorang pria asing.
"Butuh bantuanku, Nona?" tanya pria itu yang mulai dikuasai gairah. Menatap ada wanita cantik yang bertingkah seperti ****** tentu saja langsung memancing gairahnya.
"Tidak!" ucap Avisa mencoba mempertahankan diri.
Pria itu mulai melangkah.
"Jangan, aku mohon!" pintanya namun kedua tangannya tak berhenti menggerayangi diri.
"Tapi sepertinya kamu butuh bantuanku, Nona cantik. Mau kubantu melepaskan gaunmu?" seringai m*sum jelas telah membuat matanya menggelap.
Avisa menggeleng, namun tubuhnya seolah memanggil pria di hadapannya. Tanpa disadari salah satu tangan meremas dadanya sendiri, wajahnya benar-benar menampakkan ekspresi gairah yang sudah tak mampu lagi dibendung. Ya, cairan yang diminumkan Arnav padanya sudah dicampur dengan obat.
'Tuhan, apa yang terjadi padaku? Tolonglah aku! Selama ini aku selalu menjaga diri dengan baik!' ia hanya bisa memohon dalam hati. Berharap Tuhan mengirimkan seorang penyelamat, Lunar mungkin!
"Sentuh aku!" justru itu yang keluar dari mulutnya tanpa bisa dihentikan. Pria di hadapannya pun segera menghampiri, membantunya melepas gaun.
Ia juga tak menghindar ketika pria itu mulai menggerayangi tubuh indahnya. Justru terkesan menikmati. Pria itu yang sedari tadi menunggu pun tak bisa lagi menahan hasratnya. Dengan cepat ia membuka seluruh pakaiannya, mendorong Avisa ke kasur. Memposisikan dirinya di atas tubuh Avisa yang menggeliat-liat seolah tak sabar untuk menikmati kehangatan dari pria asing di atasnya.
"Argh!" ia berteriak kencang saat pria itu merobek mahkotanya dengan kasar. Si pria sempat berhenti, menatap wanita di bawahnya yang meneteskan air mata.
'Dia ... masih perawan!'
Tapi sudah kepalang basah kan, ia sudah sangat berhasrat dan ia juga sudah terlanjur memasukinya. Maka ia pun melanjutkan aksinya hingga mendapat melepasan.
Sesuai perintah, selesai melakukan tugasnya si pria segera mengenakan pakaiannya kembali lalu meninggalkan ruangan.
Meninggalkan Avisa yang sesenggukan setelah sadar dengan apa yang terjadi. Ia tak menyangka jika mahkota yang ia jaga selama ini harus terenggut dengan cara yang sangat memalukan seperti itu. Bagaimana ia bisa menatap Lunar nanti?
Sementara Arnav menyaksikan semua itu melalui macbooknya di dalam mobil. Ia lalu mengedit video itu hingga menurutnya sempurna untuk menghancurkan nama nama baik Avisa, setelahnya ia mengirim videonya ke nomor salah satu anak buahnya yang menyamar menjadi keamanan di pesta pertunangan Avisa dan Lunar.
Semua orang yang tengah bingung karena Avisa menghilang begitu saja. Mereka sudah mencarinya ke setiap sudut rumah, anehnya cctvnya rusak sejak beberapa jam yang lalu. Tiba-tiba saja perhatian mereka tersedot ke layar yang menampilkan adegan panas dua orang manusia.
"Apa!" tubuh Lunar membatu saat mengenali wanita yang ada dalam video itu. Tangannya mengepal dengan geram.
__ADS_1
"Apa-apan ini!" teriak Agha membuat semua mata mengarah pada sosoknya yang baru saja muncul