Devil In My Life

Devil In My Life
Terancam Lumpuh


__ADS_3

“Melemah! Apa maksudnya, Dok?" Ema mengerjapkan mata beberapa kali.


"Begini, akibat salah satu pembuluh darahnya pecah, maka aliran darah dari jantung ke lengannya menjadi terhambat. Itu menyebabkan kurangnya stabilitas antara lengan kiri dan lengan kanan. Mungkin efeknya nggak signifikan, tapi perlahan itu akan terlihat. Lengan kiri Nona Avisa akan melemah!"


Jelas Ema sangat tercengang dengan penuturan dokter Arta. Bibirnya bergetar saat melemparkan pertanyaan, "A-apakah ... itu bisa memburuk, Dok?"


"Ya, jika dibiarkan saja itu bisa menyebabkan kelumpuhan."


"Lu-lumpuh, jadi maksudnya ... lengan kiri Nona Avisa bisa lumpuh? Pasti masih ada yang bisa kita lakukan kan, Dok?"


"Tentu saja, Ema. Kita harus sering menstimulasi lengan kirinya. Tapi juga nggak boleh terlalu lelah dan membawa beban yang berat. Itu bisa fatal!"


Akibat dari cambukan itu rupanya menyisakan luka yang fatal bagi Avisa. Salah satu pembuluh darah di punggung kirinya pecah, mengakibatkan aliran darah dari jantung ke lengan kiri terhambat. Lengan kiri Avisa terancam lumpuh jika tak ditangani dengan baik.


Ema sangat terpukul mendengar itu, itu memang hanya lengan kiri. Tapi tetap saja, itu tak sepadan.


Tubuh Ema terhuyung, Untung saja di belakangnya tepat tembok hingga ia bisa bersandar. Jika nonanya tahu akan hal ini, ia pasti akan sangat sedih dan kian terluka.


"Ema!"


"Ini nggak adil, Dokter. Ini nggak adil!" isaknya menutup mulut dengan telapak tangan.


Dokter Arta bisa melihat ketulusan yang dimiliki Ema terhadap Avisa. Gadis itu menyayangi Avisa seperti saudara hingga rasa sakit Avisa juga bisa melukai hatinya.


"Ema, kamu harus lebih kuat dari Nona Avisa. Karena hanya kamu yang bisa menguatkannya!" dokter Arta mencoba memberinya semangat.


Ema menghentikan tangisnya, "Anda benar, Dokter. Saat ini Nona hanya punya saya. Saya harus lebih kuat jika ingin Nona lebih kuat," ia pun menyeka air matanya lalu menatap dokter Arta. "Terima kasih, Dokter. Anda baik sekali, bersedia mendengarkan saya!"


Arta mengembangkan senyum kembali, "Jika Nona Avisa mengalami sesuatu, kamu bisa hubungi saya!”


Ema pun mengangguk. Ia kembali ke ruangan Avisa, gadis itu kembali terlelap. Ema menghempaskan diri di sofa. Menatap nonanya terkapar di sana sungguh membuat hatinya pedih. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Avisa dulu menolongnya, memungutnya dari jalanan dan memberinya tempat berteduh.


Sebelas tahun yang lalu ....


Ema menapaki jalanan yang panas dan terik dengan lunglai. Tiga Minggu ia terlunta di jalanan, tak memilik apa pun selain pakaian yang menempel pada tubuhnya. Tiga Minggu yang lalu orang tuanya yang hanya seorang buruh pabrik meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Dalam sekejap ia menjadi yatim piatu. Tak hanya itu, ia juga diusir dari kontrakan karena tak ada yang menjamin. Ia sama sekali tak tahu apakah orang tuanya memiliki saudara atau tidak, tapi pasca orang tuanya meningal memang tak ada siapa pun yang datang padanya dan berniat mengasuhnya. Ia jadi menggelendang. Usianya masih 11 tahun, ia lapar tapi tak memiliki uang sepeser pun. Ia mencoba mencari pekerjaan untuk bisa menyambung hidup namun tak ada yang mau menerima. Ia hanya bisa makan dari mengais sisa makanan di tempat sampah, selama tiga Minggu ia bertahan hidup seperti itu. Tidur di mana saja yang penting bisa lelap.


Langkah Ema terhenti di halaman sebuah restoran. Ia baru saja melihat ada pelayan yang membuang sisa makanan ke tong sampah. Gegas ia pun menghampiri tong sampah dan mulai mengais, berharap mendapatkan sisa makanan yang masih bisa mengganjal perutnya.


Tepat di balik dinding kaca, Avisa yang tengah bersantap siang bersama orang tuanya melihat seorang anak seusia dirinya sedang mengaduk-aduk sampah. Tampangnya sangat dekil, sepertinya anak perempuan itu tak pernah mandi. Wajah lusuhnya sumringah tatkala tangannya menemukan sisa burger. Gadis itu hendak memakannya namun tertunda saat seorang security menegurnya.


"Hei, kamu. Ngapain kamu di situ?"


"Sa-saya _"

__ADS_1


"Kamu mau mencuri ya?"


"Nggak, Pak. Saya cuma mengambil sisa makanan ini saja!" ia menunjukkan sisa burger di tangannya yang sudah kotor.


"Halaah, jangan bohong kamu. Kecil-kecil sudah jadi pencuri! Pergi sana! Nanti para pelanggan di sini pada kabur ada kamu yang bau ini!" security itu mendorong Ema hingga jatuh, burger sisa di tangannya pun terpental jatuh ke kubangan air sisa hujan semalam. Ema hanya bisa menangis dalam diam, memegangi perutnya yang melilit.


Avisa segera berlari ke luar restoran.


"Avisa, kamu mau ke mana?" tanya Aliza yang terkejut putrinya tiba-tiba berlari keluar. Ia pun mengekor diikuti Irawan.


Avisa berdiri di sisi Ema, "Kamu llapa?" tanyanya membuat Ema mendongak. Ema terpaku menatap gadis berparas rupawan seusia dirinya menyapa. Ia hanya bisa mengangguk.


Avisa tanpa rasa jijik menyodorkan tangan untuk membantu Ema berdiri. Ema menatap tangan putih bersih milik Avisa. Perlahan ia pun menyambut tangan itu dan berdiri.


Avisa mengembangkan senyum, "Kenapa kamu cari makan di tempat sampah? Itu kan kotor dan nggak higienis?"


"Saya nggak punya uang.”


"Rumah kamu di mana?"


"Saya nggak punya rumah."


"Avisa kamu ngobrol sama siapa? Ihhh ... jangan dekat-dekat, dia sangat kotor dan bau. Pasti bawa banyak penyakit!" Aliza menarik Avisa menjauh.


"Tapi, Ma. Dia kelaparan!"


Avisa menahan diri, "Ma, kasihan dia. Dia nggak punya rumah, dia juga lapar. Kita kasih makan ya, Ma!"


"Avisa ... kamu tahu, sekarang itu banyak penipu yang pura-pura miskin!"


"Tapi, Ma. Dia nggak pura-pura!" Avisa keukeh dengan pemikirannya.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Aku tahu, Ma. Aku bisa lihat dia jujur."


"Aliza, ada apa?" Irawan mendekat.


"Ini, Pa. Avisa mau mengajak gadis dekil ini makan, yang benar saja!"


"Avisa, kamu jangan dekat-dekat dengan orang-orang seperti mereka. Mereka itu hanya menipumu!"


"Tapi, Pa. Dia beneran lapar, dia ambil makanan dari tempat sampah, kasihan Pa!"

__ADS_1


"Ya sudah, beri dia uang lalu suruh pergi!" perintah Irawan dengan nada congkak.


"Tapi dia nggak punya rumah, lalu dia mau pergi ke mana?" ucapan Avisa membuat Irawan memutus langkah saat hendak kembali ke dalam. Ia menatap putrinya dalam.


"Itu bukan urusan kita, Avisa."


"Pa, kita ajak dia pulang ya!" pinta Avisa membuat kedua orang tuanya melotot.


"Apa!" seru keduanya bersamaan.


"Dia nggak punya rumah, jadi biarkan dia tinggal di rumah kita ya? Kan dia juga bisa nemenin Avisa kalau Mama dan Papa sibuk!"


Irawan dan Aliza saling melempar pandang, mereka memang terkadang sibuk hingga putrinya merasa kesepian. Avisa tak terlalu dekat dengan para sepupunya kecuali Agha. Tapi Agha juga tak setiap hari berkujung ke rumah. Jika ada anak seusia Avisa yang menemaninya bermain-putrinya itu pasti tidak akan kesepian.


Irawan menatap Ema, "Siapa nama kamu?"


"E-Ema, Tuan!" bibirnya bergetar karena takut dan juga lapar.


"Baiklah, kamu boleh tinggal di rumah kami!" tukas Irawan membuat Ema melebarkan kedua matanya. "Sebagai pelayan. Tugas kamu adalah menemani Avisa. Jika Avisa mau makan, kamu ambilkan. Kalau Avisa butuh sesuatu, kamu sediakan. Pokoknya tugas kamu adalah melayani Nona Avisa, mengerti?"


"Su-sungguh, Tuan. Saya boleh bekerja di rumah, Tuan?" girangnya dengan mata berkaca.


"Kamu kan sudah dengar apa yang suami saya bilang tadi. Kamu akan jadi pelayan putri kami!" timpal Aliza.


"Terima kasih, Tuan. Nyonya!" Ema tak bisa menahan untuk tak menangis. Keluarga ini adalah orang pertama yang peduli padanya pasca orang tuanya meninggal. Ema lalu menatap Avisa dengan penuh rasa hormat.


"Nona, terima kasih banyak. Saya janji saya akan bekerja dengan baik. Saya akan mengabdi kepada Nona seumur hidup saya!" ucap Ema berjanji.


Avisa kian melebarkan senyum, "Ya, dan kita akan berteman."


"Bukan teman, Avisa. Dia pelayanmu!" Aliza mengingatkan.


Ema tak akan pernah melupakan hari itu untuk selamanya. Avisa memberinya tempat tinggal, kehidupan yang layak meski hanya menjadi pelayannya. Ia senang bisa melayani Avisa.


Ema pun bangkit dari sofa, menghampiri ranjang Avisa. Menatap gadis berhati malaikat itu dengan penuh cinta.


"Nona," bibirnya gemetaran, "Nona telah mengangkat saya dari lumpur. Menjadikan saya manusia terhormat meski hanya berstatus pelayan. Andai ... saya bisa menggantikan hukuman Nona, Nona tidak akan seperti ini!"


Ia sudah berusaha berlari ke arah Avisa ketika Agha mencambuk Avisa. Namun salah satu anak buah Agha menahannya dan baru melepaskannya setelah Avisa tersungkur.


"Maafkan saya yang telah lalai!"


"Lalai?" tanya Avisa lirih, membuat Ema melebarkan mata.

__ADS_1


 


 


__ADS_2