
"Lalai?" desis Avisa, "Kenapa kamu bilang kamu lalai, Ema?"
Pertanyaan Avisa membuat Ema melebarkan mata, "Nona. Maafkan saya, harusnya saya nggak membiarkan Nona di kamar sendiri waktu itu. Harusnya saya membantu Nona berganti gaun! Mungkin kita bisa mencegah semua mimpi buruk ini. Maafkan saya yang nggak berguna!"
"Itu bukan salah kamu, Ema. Aku yang nggak mau kamu temani waktu itu karena aku terlalu girang akan bertunangan dengan Lunar."
"Tapi harusnya saya tetap berjaga di depan kamar agar jika terjadi sesuatu ...."
"Ema, kapan aku boleh pulang?" potong Avisa.
"Besok, besok Nona sudah boleh pulang!" ia menyeka air matanya. Ia kan sudah berjanji akan lebih kuat agar bisa menguatkan Avisa, "O-ya, Nona. Dokter Arta yang menangani Anda-dia orang yang baik. Dia bahkan bersedia mendengar cerita saya, dan yang paling penting. Dia percaya jika Anda adalah wanita baik-baik. Mungkin suatu saat-kita bisa minta bantuan Dokter Arta!"
"Nggak ada laki-laki baik di dunia ini, Ema!" potong Avisa. Kekejaman Arnav, ketidak-pedulian Lunar dan Agha membuat Avisa tak percaya lagi ada laki-laki baik di dunia. Bahkan Beni yang ia anggap baik dan polos-tega menfitnahnya sedemikian hina.
Ema membeku dengan sikap Avisa yang sekarang berbicara dengan nada dingin. Ia teringat perkataan dokter Arta, bahwa Avisa bisa saja menjadi sangat paranoid. Dan ia-harus bisa menjaga perasaannya jika tak ingin dicurigai juga oleh Avisa. Ia tak ingin nonanya itu nanti akan menjaga jarak dari dirinya.
"Iya, Nona. Memang banyak laki-laki yang nggak baik di dunia ini!" setidaknya pernyataan itu tak membuat Avisa marah.
Akhirnya tiba waktu Avisa keluar dari rumah sakit. Ema memapahnya memasuki rumah. Saat itu mama dan papanya sedang tak ada di rumah. Ema langsung membawa Avisa ke kamarnya.
"Nona, Nona istirahat saja dulu. Biar cepat sembuh, nggak perlu memikirkan apa pun dulu!" pesan Ema.
Avisa tak menyahut bahkan sampai Ema meninggalkan kamarnya. Ia berbaring miring karena di bagian belakang ada luka yang cukup serius sehingga jika ia telentang itu rasanya sangat perih. Ia berbaring miring ke kanan, menatap jendela.
Matanya bergeser ke nakas. Sejak malam itu ia belum menyentuh handphonenya. Saat ia menghilang dan rupanya hpnya ada di kamar di mana ia berganti gaun, Ema segera mengamankannya.
Avisa bergerak untuk bangkit, ia menggeser lengan kirinya yang ternyata sangat lemah. Seperti tak ada tenaga. Ini aneh? Karena tangan kanan dan seluruh tubuhnya masih bertenaga. Ia sedikit kesusahan untuk bangkit duduk, saat merangkakkan tangan kiri ke nakas untuk meraih hamdphonenya-belum tangan itu sampai ke nakas sudah terkulai.
"Ada apa dengan tanganku?"desisnya seorang diri. Ia pun mengangkat tangan kiri itu perlahan. Menatapinya. Tak ada yang salah. Tapi kenapa jadi lebih lemah? Atau mungkin karena kondisinya belum 100 persen sembuh, makanya masih lemah.
__ADS_1
Akhirnya ia pun menggunakan tangan kanan saat meraih handphonenya. Membuka aplikasi chatting, ada dari group magang di Rodex.
Sebagian besar menghujat karena mendengar kabar tentang video asusila Avisa. Tidak, bukan mendengar. Tapi mereka bahkan sudah menonton videonya.
Avisa menjatuhkan hpnya, Untung saja tidak jatuh ke lantai dan pecah. Hanya ke kasur. Ia pikir, video itu tidak akan tersebar sampai ke kantor! Jadi ia bisa melepaskan kesedihannya di sana. Namun rupanya mimpi buruk ini berlanjut. Mana mungkin ia berani datang ke kantor?
Sebuah notifikasi masuk terdengar, ia kembali memungut hpnya dan membuka pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal. Matanya melebar membaca isi pesan itu.
AKU TAHU KAMU SUDAH KELUAR DARI RUMAH SAKIT. BAGAIMANA KEJUTAN HARI INI? KAMU SUKA! SELANJUTNYA AKU AKAN MEMBERI TUGAS BUAT KAMU. JIKA KAMU MENOLAK VIDEO ITU AKAN SEGERA VIRAL DI YOUTUBE!
Sekali lagi Avisa menjatuhkan hpnya, ia tahu siapa pengirim pesan itu. Arnav!
"Iblis itu ... Kenapa dia belum puas menghancurkanku seperti ini? Apa yang dia mau?" isaknya.
"Kamu sudah pulang?" suara tegas nan dingin menyapa di ambang pintu, dulu pria itu selalu berbicara dengan sangat hangat dan manis. Nada suara Irawan membuat hati Avisa teriris.
"Papa!"
"Semarah itukah Papa sama aku?" pertanyaan Avisa membuat Irawan membatu. "Sampai sedetik saja ... Papa nggak nengok aku ke rumah sakit!" air mata Avisa pun mengalir tanpa diperintah. Irawan tampak mengeraskan rahang.
"Kenapa Papa biarkan Ema membawa aku ke rumah sakit? Kenapa Papa nggak biarkan aku mati saja," bibirnya bergetar, "Toh ... hidupku juga sudah hancur!"
"Kamu sendiri yang menghancurkannya, Avisa. Kamu lupa itu!" tukas Irawan tanpa menoleh. Hatinya sangat hancur karena putri satu-satunya yang sangat ia banggakan selama ini ternyata tak sesuci itu.
"Jadi Papa benar-benar lebih mempercayai orang lain? Apa menurut Papa semua itu masuk akal?"
Irawan juga ingin menyangkal, tapi semua bukti-saksi ... itu memang menjelaskan jika putrinya bersalah. Hingga detik ini hatinya masih berperang, namun ego seorang ayah jauh lebih kuat ketimbang nurani.
Tanpa berucap apa pun lagi, ia pun meninggalkan kamar putrinya. Sang mama pun akhirnya memasuki kamar.
__ADS_1
"Avisa!"
"Mama," air matanya kian membanjir. "Mama juga nggak percaya sama aku. Kenapa semua orang lebih percaya sama orang yang baru kalian temui satu kali? Aku juga kecewa sama kalian, kenapa Mama sama sekali nggak jenguk aku? Jika aku nggak bertahan dan meninggal, apa Mama juga nggak akan peduli?" Avisa mengelap hidungnya yang sesak.
"Sayang," Aliza berhambur memeluk putrinya. "Maafkan, Mama. Mama ingin menjenguk kamu-tapi Agha dan papamu melarang. Mereka nggak ijinkan Mama datang ke rumah sakit!"
"Aku dijebak, Ma. Apa Mama akan percaya itu ... kenapa nggak ada yang percaya sama aku?"
"Nak, kalau kamu jujur ... dan mau memberi penjelasan sama Agha mungkin Agha bisa memaafkan kamu!"
Avisa terhenyak, ia segera melepas peluknya dari sang mama.
"Jadi Mama masih nggak percaya sama aku?"
"Avisa!"
"Tinggalkan aku sendiri, Ma!"
"Avisa, Mama hanya mau kamu-"
"Aku nggak mau diganggu!" potongnya, "Tinggalin aku sendiri, Ma!" ia pun melempar wajahnya ke samping. Ia pikir mamanya percaya jika semua itu hanya fitna belaka. Tapi ternyata tidak, mamanya masih menganggap ia bersalah. Ia seorang gadis nakal, meski kekecewaan seorang ibu bisa tergerus oleh kasih sayang yang dimilikinya. Tetap saja, Avisa merasa kecewa karena mamanya tetap mempercayai fitna yang Arnav buat untuknya.
Karena Avisa menyeka air matanya dengan kasar dan menampakan wajah kecewa, maka Aliza pun meninggalkan kamar. Sebenarnya hatinya menolak keras semua tuduhan terhadap putrinya itu. Tapi tak ada satu bukti pun yang bisa menjelaskan jika semua itu tidak benar.
Bahkan Beni, meski Agha sudah menyiksanya sedemikian rupa. Tetap saja pria itu bersikeukeuh dengan semua yang diucapkannya tentang kenakalan Avisa. Seolah ia tak peduli dengan nyawanya sendiri. Model dalam video-itu juga asli Avisa dengan seorang preman. Memang percakapan dalam video tak dapat terdengar.
Avisa memungut gelas air minum di atas nakas dengan tangan kiri. Ia bisa meraihnya, menggenggam meski dengan gemetar. Saat mengangkat untuk ia minum, rupanya tangannya tidak kuat menahan beban satu gelas air saja.
Gelas itu pun meluncur ke lantai. Menciptakan suara gaduh. Ia memegang tangannya, meremas dengan geram.
__ADS_1
"Kenapa dengan tanganku?"