Devil In My Life

Devil In My Life
Kenapa Tuhan Nggak Ambil Nyawaku Saja!


__ADS_3

Avisa membuka mata perlahan. Ia berada di ruangan serba putih yang bau obat. Saat bergerak, seluruh tubuhnya sakit. Juga ada rasa perih di bagian punggung yang robek.


"Arghhh ...!" rasa sakit itu membuat air mata harus tumpah tanpa diminta.


"Nona," seru Ema mendekat, "Nona sudah siuman. Syukurlah, saya sangat takut Nona tidak bisa bertahan!" air mata Ema juga langsung membanjir.


"Ema!"


"Saya di sini, Nona!" sahutnya.


"Apakah aku di rumah sakit?"


"Iya."


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tenggorokkannya terasa kering.


"Minum dulu, Nona!" Ema hendak memungut air putih di meja.


"Berapa lama, Ema?" tanyanya lagi menghentikan gerakan Ema.


"Empat hari, Nona!" jawabnya dengan pedih.


"Mama dan Papa ...."


Ema justru kian dalam terisak. Avisa menatapnya semakin dalam, dari reaksi Ema ia tahu orang tuanya mungkin tak pernah menemaninya di rumah sakit.


"Mereka tidak menemaniku di sini?" suaranya snagat pilu di telinga Ema.


"Tuan dan Nyonya ... hanya menelepon untuk mengetahui kabar Anda."


Avisa sangat tercengang mendengarnya, "Hanya ... menelepon? Itu artinya-mereka bahkan tidak datang ke rumah sakit untuk melihatku?"


"Tapi saya ada di sini, Nona. Saya tidak akan pernah meninggalkan Nona!"


Tangis Avisa kian pedih, mama dan papanya bahkan tidak sedetik pun melihat kondisinya. Apakah mereka begitu marah? Apakah mereka begitu kecewa?


Harusnya ia yang kecewa bukan? Karena mereka tidak mempercayainya, mereka ... tidak mau melihat kondisinya yang tidak sadarkan diri selama empat hari di rumah sakit. Bagaimana ... seandainya dirinya tak selamat. Apakah mereka juga tidak peduli? Apakah harga diri dan martabat itu jauh lebih berharga dibanding nyawanya?


"Mereka tidak peduli padaku, Ema!" perihnya dalam Isak.

__ADS_1


"Tapi saya peduli dengan Nona. Saya yakin ... Nona tidak seperti yang mereka tuduhkan!"


Avisa menghentikan tangisnya seketika, kembali menatap pelayan di rumahnya yang sudah ia anggap saudara itu.


"Kau percaya padaku, Ema?"


"Saya sangat mengenal Nona. Pasti ada alasan untuk semua itu kan?"


Ungkapan Ema membuat Avisa kembali terisak. Tak ada yang percaya padanya, kak Agha, orang tuanya tapi yang bukan siapa-siapa justru mempercayainya. Dan itu sangat berarti bagi Avisa.


"Aku dijebak, Ema. Apa kamu percaya itu? Pria dalam video itu menculikku. Dia dibayar oleh seseorang yang memberiku obat sampai aku bertingkah layaknya wanita ****** dan seolah ... menggoda preman yang akhirnya merampas mahkotaku. Aku bersumpah Ema, sebelum itu terjadi, aku masih suci. Kesucianku direnggut paksa dengan cara yang sangat memalukan. Tapi kenapa aku justru dituduh berzina?"


"Nona!"


"Apa kamu mempercayai itu, Ema. Apakah ada yang percaya dengan ceritaku?"


"Saya mempercayai Anda, Nona. Nona tidak pernah berbohong, harusnya semua orang tahu itu. Harusnya mereka lebih percaya terhadap Nona dari pria brengsek yang menyamar jadi keamanan itu!" ada amarah dari nada suara Ema. Tapi siapakah ia, hanya seorang pelayan. Suaranya tidak akan didengar.


"Hidupku sudah hancur, Ema. Mama dan Papa bahkan tidak peduli aku mati atau tidak, kenapa Tuhan Nggak ambil nyawaku saja!"


"Nona tidak boleh bicara seperti itu!” potong Ema memungut tangan Avisa dan menggenggamnya.


"Nona masih punya Allah. Allah tidak pernah tidur, Nona. Pasti ada rencana dibalik semua yang terjadi!"


Avisa tidak menyahut lagi. Ia hanya menangis, karena saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan.


Ia sudah menjadi anak yang baik selama ini, tak pernah meninggalkan ibadah. Selalu berbagi, tak pernah menyakiti hati orang tua. Selalu bersikap bersahaja, menjaga kehormatan. Tapi kenapa Allah menghukumnya oleh kesalahan yang tak pernah ia lakukan?


Arnav bilang ia yang sudah membuat Irena menderita, apa yang ia lakukan? Ia selalu memperlakukan Irena dengan baik. Ia menganggap Irena lebih dari sekedar sahabat.


Kenapa laki-laki itu tidak bertanya dulu? Kenapa langsung menvonisnya seperti itu dan menghancurkannya?


Ia memang baru bertemu Arnav satu kali, di hari ulang tahun Irena. Arnav sangat sibuk karena sejak orang tuanya meninggal ia harus mengambil alih semua bisnis dan tanggung jawab. Tapi satu pertemuan itu cukup membuat Avisa mengagumi pria itu. Apalagi cerita Irena yang selalu membanggakan kakak laki-lakinya. Tapi kenyataannya Arnav tidaklah sebaik yang ia kira selama ini. Laki-laki itu hanyalah seorang iblis. Iblis yang sudah menghancurkan hidupnya.


Ia tidak akan pernah percaya lagi jika ada yang mengatakan jika Arnav Adikara Mahesh adalah orang yang baik dan suka berbagi.


Butuh waktu bagi Avisa untuk benar-benar tenang, peristiwa di hotel juga hukuman yang diberikan Agha akan menciptakan trauma baginya. Saat dokternya menyentuhnya untuk memeriksa, ia benar-benar tak mau disentuh. Khususnya laki-laki. Hanya Ema yang ia biarkan menyentuhnya. Karena hanya Ema yang ia percaya.


Dokter yang menanganinya akhirnya meminta bantuan dokter lain yang berjenis kelamin wanita untuk memeriksa Avisa.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Nona saya, Dok?" Ema bertanya di luar ruangan rawat Avisa.


"Luka-luka di bagian tubuhnya akan menghilang dalam waktu kurang lebih dua Minggu asal rutin mengoles salepnya. Nona Avisa sudah boleh pulang besok!"


"Sungguh?" ada rona bahagia di wajah Ema namun itu segera hilang, "Tapi saya khawatir, Dok. Kesehetan mental Nona Avisa bisa tambah terguncang jika melihat reaksi seluruh anggota keluarganya nanti. Anda lihat sendiri, saat Dokter hendak memeriksa saja-Nona Avisa sudah ketakutan. Apa Dokter akan percaya jika Nona saya,” Ema memutus kalimatnya. Ia ragu apakah harus mengatakan permasalahan nonanya?


“Saya tahu, kamu mau menjelaskan tentang video viral itu kan?”


“Dokter tahu?”


Dokter Arta mengangguk.


“Dok, Nona saya bukan seorang wanita penggoda? Dia hanya dijebak Dokter, Nona Avisa diculik dan dinodai dengan keji. Tapi kenapa dia justru dituding melakukan perzinahan hingga harus dirajah oleh Tuan Agha seperti ini?" air mata Ema segera membulir di pipinya.


"Dari reaksi Nona Avisa tadi, saya percaya dengan apa yang kamu katakan! Setelah saya amati beberapa kali video itu, saya tahu Nona Avisa dalam pengaruh obat perangsang.


Mata Ema melebar, "Dokter percaya jika Nona saya wanita baik-baik kan? Saya sangat mengenalnya, Dokter. Nona Avisa orang yang sangat bersahaja. Bagaimana mungkin seluruh keluarganya nggak mempercayainya?"


"Itu artinya kamu harus lebih menjaga Nona Avisa ke depannya, karena sepertinya hanya kamu yang ia percayai saat ini. Nona ...."


"Ema, panggil saja Ema. Saya hanya pelayan di keluarga Drasmana, jadi jangan panggil saya Nona!"


Dokter Arta mengembangkan senyum, ia dokter yang tampan dan baik. Itu yang ada dalam pemikiran Ema.


"Ema, kamu orang yang baik. Jaga Nona Avisa dari orang-orang di sekitarnya. Karena ... semua yang terjadi ini menyisakan trauma baginya. Ia akan menjadi cukup paranoid terhadap semua orang."


"Se-separah itu, Dok?"


"Ya, dan saya juga harus memberitahumu tentang ini _” ia sengaja memutus kalimat.


"Apa?"


"Ada pembuluh nadi di bagian punggung sebelah kiri Nona Avisa yang pecah, akibat dari hantaman cambuk bertubi yang mungkin cukup keras. Pembuluh nadi itu yang menyambung ke lengan kirinya. Mungkin ...," dokter Arta memutus kalimatnya lagi.


"Mungkin apa, Dok? Katakan!" potong Ema setengah mendesak.


"Ada efek yang serius karena hal itu. Bisa saja ... lengan kiri Nona Avisa akan melemah!"


"Melemah, apa maksudnya Dok?"

__ADS_1


__ADS_2