
Handphone di tangan Avisa terlepas, seiring derai air mata yang kian membanjir. Selama dalam perjalanan ia terus berfikir agar bisa mencari alasan dari pertanyaan yang mungkin akan membombardirnya.
Namun akhirnya, semua itu tidak perlu. Video menjijikkan ini sudah sampai di tangan keluarganya. Apa yang harus ia katakan. Di dalam video itu jelas sekali dirinya terlihat seperti wanita murahan yang mengemis minta disentuh. Seolah ia sudah biasa melakukan itu, padahal ... semalam itu adalah untuk yang pertama kalinya. Bahkan hingga detik ini rasa perih masih menjalari bagian intinya. Apalagi ia harus berjalan dari hotel kumuh itu hingga sampai rumah. Kakinya-juga seperti mati rasa.
Lalu siapa yang akan percaya jika ia katakan semalam itu adalah sebuah penculikan dan juga pemerkosaan. Tapi semoga saja kak Agha bisa percaya padanya. Selama ini kak Agha selalu mencari tahu segala hal sebelum memutuskan sesuatu.
"Apa itu, Avisa?" hardik Irawan, "Bagaimana bisa kaulakukan ini pada keluarga kita!"
"Papa, dengar aku dulu!"
"Tak ada lagi yang harus didengar, Mama juga sangat kecewa. Kamu itu putri kami satu-satunya, selama ini Mama dan Papa berusaha menjaga kamu. Tapi ternyata ... kamu justru memberontak!" seru Aliza dengan gerutu.
Bagaimana tidak, putri yang ia jaga dan banggakan selama ini rupanya justru menghancurkan keluarganya. Peraturan keluarga yang diberikan sepertinya hanya dianggap sebagai rantai belenggu oleh Avisa.
"Ma, Pa. Apa yang terjadi tak seperti yang ada di video ini!"
"Agha sudah mengeceknya, video ini asli Avisa. Pembelaan seperti apalagi yang ingin kamu berikan?" suara Irawan cukup lantang hingga seisi rumah bisa mendengar.
"Tapi aku dijebak."
"Dijebak!” suara Agha yang memasuki ruangan membuat wajah Avisa sedikit berseri. Namun perkataan Agha berikutnya membuat senyum yang hendak merekah itu pun harus tersimpan. "Jangan membuat lelucon, Avisa. Kaupikir bisa menipuku!"
"Kak Agha!" desis Avisa tak percaya.
Di belakang Agha, Neil menyeret seseorang yang jelas Avisa kenal.
"Beni!"
__ADS_1
Beni adalah cleaning service di tempatnya magang. Mereka diterima di Rodex Company nyaris bersamaan. Hanya selisih 3 Minggu saja. Beni memang ramah terhadap dirinya, dan terkesan mencari perhatian. Karena Avisa termasuk orang yang humble, ia pun sedikit akrab dengan Beni.
"Maaf, Nona Avisa. Saya terpaksa membongkar hubungan kita!"
"Hu-hubungan kita?" beo Avisa.
"Ya, Avisa. Kamu sering kan minta dipuaskan sama Beni?" seru Agha. "Sama seperti kamu juga minta dipuasin sama pria aneh dan jelek di video itu!"
Mulut Avisa membuka tanpa suara lalu kembali menatap Beni dengan tatapan tak percaya.
"Beni, kenapa kamu menfitnah saya? Memangnya saya pernah jahat sama kamu!"
Padahal selama ini ia selalu baik terhadap semua orang di kantornya, bahkan Beni sekalipun yang hanya seorang cleaning service. Tapi kenapa pria itu tega sekali menfitnah dirinya?
"Fitnah? Nona, saya hanya mengutarakan kebenarannya. Itu juga salah Nona sendiri, Nona janji tidak akan melupakan saya. Tapi Nona malah mencari pria lain yang lebih jelek dari saya malahan!"
Avisa menoleh Agha yang wajahnya sudah sekeras batu, "Kak, Kak Agha percaya kan sama aku. Itu semua nggak benar Kak, aku dijebak!"
"Apa buktikan kamu dijebak, Avisa?" gerutu Agha, "Di dalam Video itu jelas sekali kamu yang menggoda si bajingan itu. Video itu asli-itu memang muka kamu. Mau menyangkal apalagi?"
"Dalam video itu memang aku, Kak. Tapi kenyataannya nggak seperti itu!"
"Cukup Avisa!" hardik Agha memotong. "Aku sangat kecewa terhadapmu!" nafas Agha mulai terengah oleh amarah. "Kau tahu ... Perbuatanmu di video itu adalah sebuah perzinahan. Dan siapa pun yang berbuat zina di keluarga kita harus dihukum!"
Avisa mendongak tak percaya oleh ucapan kakak sepupunya.
"Neil!" panggilnya dan Neil pun melangkah. Menyodorkan sebuah cambuk kepadanya. Agha pun menerima benda itu.
__ADS_1
Mata semua orang melotot, mereka tahu apa yang akan terjadi. Namun tak ada yang Berani mencegah.
"Kakak!" ucap Avisa berharap Kakak sepupunya itu akan berbelas kasih. Kakinya sangat kebas, bagian pribadinya juga perih sekali. Dan apakah sekarang ia juga akan menerima rasa sakit di sekujur tubuhnya lagi?
"Laki-laki itu memang bukan yang ada dalam video. Tapi dia juga menyentuhmu secara haram!" tukas Agha mengayunkan cambuk ke tubuh Beni.
Satu teriakkan menggema ke seisi rumah, selanjutnya adalah teriakan Avisa. Karena ayunan cambuk yang kedua dihadiahkan kepadanya.
Avisa mengangkat pandangan ke arah orang tuanya. Berharap mereka mau percaya dan membantunya. Namun semua orang yang menyaksikan itu hanya membatu. Kecuali Layya, gadis itu justru menyunggingkan senyum bahagia.
"Argh!" teriakkan demi teriakkan keluar dari mulut Avisa ketika cambuk itu menghujam bertubi ke tubuhnya. Hingga akhirnya ia hanya memejamkan mata sembari menggigit bibirnya hingga berdarah untuk meredam rasa sakit dan pedih di sekujur tubuh. Bahkan pakaiannya koyak di beberapa bagian, menampilkan warna merah karena ada beberapa bagian tubuhnya yang terluka dan berdarah akibat sabetan cambuk Agha.
Agha baru menghentikan ayunan tangannya ketika Avisa tersungkur tak sadarkan diri.
Ema, palayan yang sangat dekat dengan Avisa dan selalu mengurusi keperluannya tergopoh menghampiri.
"Nona. Nona Avisa!" ia sangat panik. Lalu ia pun menatap Agha, "Tuan, Nona sudah sepucat mayat. Tolong ijinkan saya membawanya ke rumah sakit!" tangisnya memeluk kepala Avisa.
Cambuk terlepas dari tangan Agha, hatinya sakit menghukum Avisa dengan cara seperti itu. Tapi memang itu hukumannya, ia tak ingin dianggap pilih kasih.
Karena tak ada jawaban dari Agha, Ema pun gegas menelpon ambulans. Bahkan sampai Avisa ditangani dokter, air mata Ema tak berhenti mengalir. Tak ada yang menunggui Avisa di sana selain Ema. Sementara Beni-ia juga dibawa ke rumah sakit setelah sopir ambulans menelpon satu ambulans lagi dari rumah sakit. Tapi tak ada yang peduli dengannya dan juga siapa yang akan membiayai perawatannya. Ia hanya memiliki satu anak yang dititipkan di panti asuhan. Dan orang yang membayarnya sudah memberikan uang yang sangat banyak yang ia titipkan kepada ibu panti untuk digunakan keperluan putrinya. Ia bahkan tak peduli pada nyawanya sendiri. Ya, Beni memang hanya orang suruhan. Arnav sengaja mencari orang yang baru saja keluar dari penjara untuk melakukan tugas itu. Yang terpenting tak ada resiko buka mulut. Dan Beni adalah orang yang tepat.
Arnav menyuruh Beni melamar sebagai cleaning service di Rodex Company dengan ijazah palsu yang ia buatkan. Tugas Beni adalah menjadi akrab dengan Avisa di kantor, jadi ia bisa melancarkan rencananya dengan sempurna. Sementara Burhan, preman yang ia bayar untuk menodai Avisa hanyalah seorang preman pasar biasa. Ia sengaja memilih pria menjijikkan untuk menyetubuhi Avisa dalam video itu karena gadis murahan itu tak layak disentuh pria terhormat macam dirinya. Ia yakin, Avisa juga sudah menyerahkan tubuhnya berkali-kali kepada Lunar. Dan mungkin juga kakak sepupunya sendiri hingga ia begitu disayangi.
Seringai iblis tercetak di bibirnya menyaksikan video penyiksaan yang Agha lakukan terhadap Avisa. Ia sangat puas menyaksikan Avisa nyaris tewas di tangan kakak sepupunya sendiri. Tapi itu belum seberapa-ia berharap gadis itu selamat agar bisa memberikan neraka sesungguhnya yang ia rancang khusus untuk Avisa.
"Aku menunggumu pulih, wanita ******! Begitu pulih-kita akan bertemu lagi dan kuharap kau siap dengan kejutan selanjutnya!"
__ADS_1