
“Apa-apaan ini?" teriak Agha yang mengepalkan tinjunya dengan geram. "Hentikan videonya!" teriakannya lantang.
Orang-orang yang tadi berbisik-bisik kini menjadi hening, tak ada yang berani bersuara. Mereka semua menciut ketika Agha memasuki ruangan.
"Hentikan videonya kataku!" hardik Agha.
Orang yang bertugas untuk memutar video yang harusnya berisi moment-moment indah Avisa dan Lunar pun gegas untuk menghentikan pemutaran videonya.
Wajah Agha sudah semerah saga, siapa lelaki yang bersama Avisa? Dan bagaimana bisa Avisa berbuat seperti itu? Yang ia tahu selama ini Avisa adalah bidadari tanpa cela. Gadis itu selalu menjaga dirinya dengan baik.
"Kak Agha, kenapa Avisa lakukan ini?" tanya Lunar dengan bibir bergetar. "Apakah cintaku tidak cukup baginya? Aku bahkan nggak dibiarkan nyentuh dia, tapi apa! Dia malah berbuat tidak senonoh dengan lelaki yang tidak jelas seperti itu!"
Buk!
Satu tinju mendarat di wajah Lunar. Membuat semua mata yang menyaksikan melotot. Aghasya Drasmana dikenal sebagai pria yang tegas, dan tak bisa dibantah. Bahkan Irawan saja tak berani membantahnya. Sejak Hartawan, kakak Irawan meninggal-Agha yang mengambil alih keputusan di keluarga besar Drasmana.
"Tidak ada yang boleh menghakimi Avisa kecuali aku!" ucapannya adalah perintah.
Lunar merutuk dalam hati! Yang seharusnya marah adalah dirinya sebagai tunangan Avisa. Selama satu tahun menjalin hubungan! Ia sudah menahan hasrat untuk menyentuh kekasihnya itu. Paling ia hanya bisa menggandeng tangan atau pun memeluk Avisa saja. Apalagi hubungan mereka juga selalu diawasi oleh Agha.
Tapi ia juga tak mampu menentang Agha. Pria itu bisa memenggal kepalanya jika ia berani berbuat macam-macam terhadap Avisa-sepupu yang sangat disayanginya.
Avisa gadis yang baik, tidak sombong seperti anggota keluarga Drasmana yang lainnya. Itu sebabnya dulu ia langsung menargetkan Avisa. Tapi ia juga benar-benar menyukai gadis itu setelah lama menjalin hubungan. Ya, awalnya ia hanya berharap bisa mendapatkan suntikan dana dari keluarga Drasmana karena saat itu keluarga Andreanus sedang failed.
Sebenarnya hati kecilnya menentang apa yang ia saksikan beberapa saat lalu. Tapi wajah wanita itu benar-benar Avisa!
"Bubarkan pesta ini!" perintah Agha dengan nada yang berat. Suaranya membuat lamunan Lunar buyar. Anak buahnya segera meminta para tamu undangan untuk bubar.
Keluarga Drasmana memang bukan keluarga terkaya di seantero negeri, tapi menjadi keluarga terkaya nomor 10 di Indonesia termasuk pencapaian yang luar biasa.
Kini hanya tinggal keluarga besar Drasmana dan Andreanus di rumah itu.
"Penjagaan di rumah ini sangat payah, bagaimana bisa Avisa menyelinap dan tidak ada yang tahu!" kesalnya menggerutu.
"Maaf, Tuan Drasmana. Tapi CCTV di rumah ini rusak tiba-tiba!" Neil, orang kepercayaannya melapor.
"Rusak tiba-tiba, itu artinya ada yang sengaja merusak. Cari tahu siapa dan bawa ke hadapanku!" perintahnya.
"Ya, kami sudah menemukan orangnya Tuan," Neil memberi isyarat anak buahnya untuk membawa seorang pria yang berpenampilan seperti salah satu keamanan di rumah itu. Pria itu langsung dihempas hingga berlutut.
"Siapa kamu?" tanya Agha.
__ADS_1
Pria itu masih diam.
"Kamu tidak punya mulut?" bentaknya.
"Saya Beni, Tuan."
"Apa aku menanyakan namamu?"
Akhirnya lelaki itu tahu maksud Agha.
"Saya hanya dibayar Nona Avisa untuk merusak CCTV-nya, Tuan. Tapi hanya itu saja!"
"Jangan menipuku!"
"Tidak, Tuan. Saya tidak berani, selama ini Nona Avisa memang sering memakai jasa saya Tuan!" aku pria itu.
Mata Agha menyipit, "Memakai jasamu?"
"Nona Avisa juga sering melakukanya dengan saya, Tuan. Karena saya butuh uang jadi saya bersedia. Lagi pula siapa yang mau menolak jika diajak begituan sama orang secantik Nona!"
Bam.
"Beraninya kamu menyentuhnya!"
"Maaf, Tuan."
"Tunggu, Agha!" akhirnya Aliza membuka suara juga, "Mungkin pria ini berbohong, mana mungkin Avisa mau melakukan hal semacam itu dengan pria ini!"
"Saya tidak berbohong, Tuan. Nona memang sering meminta itu sama saya. Saya adalah cleaning service di tempat Nona magang. Anda bisa tanyakan pada seluruh kantor jika saya memang bekerja di sana. Tapi hubungan saya dengan Nona itu rahasia. Awalnya saya mengintip Nona yang sedang di toilet, saat ketahuan bukannya marah Nona malah mengajak saya begituan!"
"Jangan bohong kamu" hardik Lunar, "Aku yang selalu mengantarnya bekerja!"
"Untuk apa saya berbohong, Tuan."
"Lalu siapa yang merekam video itu?"
"Teman sesama cleaning service saya, Tuan. Dia mengikuti Nona begitu Nona naik taksi. Katanya Nona ketemuan dengan pria aneh yang nggak jelas lalu memasuki hotel kumuh. Dia berhasil menyelinap waktu keduanya di kamar mandi lalu merekam dengan hpnya yang ia sembunyikan di meja. Di antara barang-barang."
"Kenapa dia lakukan itu?"
"Katanya dia sakit hati, Nona Avisa janji akan mengajaknya lakukan itu tapi malah orang lain yang diajak. Sudah sebulan ini saya juga diceukin, Tuan. Makanya tadi waktu teman saya memberikan video ini saya setuju untuk memutarnya!" ia mengambil nafas sejenak. "Nona Avisa sebenarnya memiliki kelainan hipers*ksual, tapi karena Anda selalu mengawasi dan juga Tuan Lunar katanya terlalu takut jika ketahuan menyentuhnya. Jadi ... Nona melampiaskannya di kantor, Tuan!"
__ADS_1
Tangan Agha mengepal dengan geram. Bagaimana pun orang yang bernama Beni ini harus dihukum karena telah memutar video asusila Avisa yang harusnya tak boleh diketahui publik.
"Neil, bawa orang ini ke belakang dan hajar dia!" perintahnya.
"Baik, Tuan."
"Tuan, jangan. Tolong jangan hajar saya!" rengeknya. Namun Neil tetap menyeretnya ke halaman belakang. Lalu terdengar teriakkan dari halaman belakang.
Lunar begidik mendengar cerita Beni. Ia tak menyangka jika Avisa semurahan itu. Tapi benarkah?
"Pertunangan ini batal, aku tidak sudi menikahi gadis murahan seperti Avisa!" celetuk Lunar lalu meninggalkan rumah. Ia pun memacu mobilnya dengan kencang. Klub adalah tempatnya untuk melampiaskan semua kekecewaan. Maka ia pun menuju ke sana.
"Agha, Lunar benar. Kami tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, apalagi nyaris semua kolega kita menyaksikan video menjijikkan itu. Aku tidak mau putraku menjadi bahan olok-olokkan!" seru Kelvin.
"Maafkan putriku yang tidak bermoral itu, Kelvin," ucap Irawan penuh sesal. "Aku sungguh malu sebagai papanya!"
"Kita pulang, Paman Irawan!" perintah Agha yang melenggang lebih dulu. Ia tak mungkin mengucap maaf kepada keluarga Andreanus. Itu bisa menurunkan pamornya.
Agha tak pulang ke rumahnya melainkan ke rumah Irawan. Ia bisa saja mencari Avisa, tapi ia sengaja menunggu agar gadis itu pulang sendiri.
Semalaman mereka semua tidak tidur, Beni yang babak belur juga dibawa.
Agha merasa sangat kecewa karena selama ini ia selalu membanggakan Avisa dari sepupunya yang lain. Bahkan terhadap adiknya sendiri, Alayya. Hal itu juga yang membuat Alayya sering sinis terhadap Avisa. Karena di mata kakaknya, Avisa adalah gadis sempurna bak bidadari.
"Lihatlah, Kakak. Sepupu kesayanganmu, dia tidak sesuci yang kita kira kan!" kesal Layya. "Kakak selalu membandingkan aku dengannya, Kakak lebih menyayangi Avisa dari pada aku. Tapi lihat! Kasih sayang Kakak yang berlebihan justru membuat keluarga kita malu!"
"Diam Layya!" hardiknya membuat tubuh Layya melonjak kaget.
Air mata langsung tumpah di pipi Layya, "Kakak masih mau membelanya? Membela orang yang sudah mencoreng nama baik keluarga kita!" ia menggeleng lalu berhambur meninggalkan rumah omnya itu.
Agha mengeraskan rahang, ya ... selama ini ia tak adil pada adiknya sendiri. Dan sepupu yang selalu ia anak emaskan justru mencoreng mukanya.
Tapi ia akan tahu kebenarannya nanti. Ia sudah menyuruh orang untuk menyelidiki apakah benar Beni cleaning service di kantor Avisa magang.
Neil memasuki ruang tengah.
"Bagaimana, Neil?"
"Iya, Tuan. Beni memang cleaning service di Rodex Company. Dia baru bekerja selama dua bulan, mungkin itu juga yang membuat Nona Avisa memilihnya!"
Tangan Agha mengepal seketika. Informasi ini membuat darahnya makin mendidih. Jadi apakah ini sebabnya Avisa menolak untuk langsung bekerja di Drascort Corporasion? Dan memilih magang di Rodex.
__ADS_1