
"Kak Agha!" ucap Avisa lirih dengan mata sayu. Baru saja ia akan terlelap.
Pintu kamarnya terbuka mendadak, sosok Agha muncul di sana. Avisa pun bangkit duduk.
Dengan langkah lebar, Agha melangkah ke dalam. Menatap tajam gadis di depannya.
"Kau tahu, akibat perbuatanmu. Sekarang Drascort Corporation terancam hancur, kenapa kau bisa melakukan perbuatan hina itu Avisa? Tanpa memikirkan akibatnya!"
Avisa mengalihkan pandangan, masalah apalagi yang muncul. Drascort Corporation terancam hancur?
Ia tak ingin mengatakan apa pun karena semua yang ia ucapkan tidak akan dipercaya. Ia memilih diam, hanya mengalihkan pandangan.
"Nyaris semua rekan bisnis sudah melihat video itu, kamu sudah benar-benar menghancurkan keluarga kita!"
"Agha, ada masalah apalagi?" tanya Aliza yang ikut masuk ke kamar putrinya.
Agha menghela nafas kasar sambil berkacak pinggang, "Semua investor akan menarik sahamnya, para klien membatalkan kerja samanya. Drascort akan hancur!"
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Aliza dengan tubuh melemas.
"Ini semua dampak dari perbuatanmu, Avisa!" Agha memajukan diri hingga cukup dengan Avisa. "Kalau kau ingin bersenang-senang, seharusnya lebih berhati-hati. Karena kecerobohanmu telah menghancurkan segalanya!"
Avisa masih menatap ke arah lain, dan itu membuat Agha kian marah.
"Tatap aku jika aku bicara padamu!" gerutunya.
Avisa terpaksa mengangkat wajah untuk menatap sepupunya.
"Mulai sekarang, kau dilarang keluar rumah. Selangkah kau melewati gerbang rumah ... akan ada hukuman untukmu. Mengerti!" tegas Agha.
Avisa sama sekali tak menjawab, ia memilih diam karena percuma saja jika ia buka suara. Suaranya tidak akan didengar.
Mata Avisa memerah menahan tangis, dadanya terasa sesak sekali. Pria yang berdiri menjulang di hadapannya adalah kebanggaannya selain sang papa. Pria yang pernah mengatakan akan selalu melindungi dirinya. Apa pun yang terjadi, akan selalu berdiri di belakangnya. Bahkan jika ada mara bahaya, pria itu rela menjadi tameng di depannya.
Tapi nyatanya apa?
Fitna murahan seperti ini saja tak bisa ia kenali, pria itu memilih untuk mempercayai orang lain ketimbang dirinya. Avisa sangat kecewa akan hal itu. Semua kejadian ini ... semua tanggapan seluruh keluarga! Perlakuan mereka ... mulai membuat Avisa meyakini sesuatu.
Ia tak boleh mudah percaya pada siapa pun, bahkan Ema sekali pun. Mungkin suatu saat pelayannya itu akan meninggalkannya.
__ADS_1
"Aku mengerti!" ujarnya masih menatap Agha. Sekarang ia akan berani menatap mata pria itu. Karena ia tahu dirinya tak bersalah. Ia hanya dijebak. Maka ia tak akan takut untuk mempertahankan pendiriannya untuk tak mengakui semua perbuatan nista itu.
Ia hanya percaya satu. Pada Allah! Ia tahu Allah tidak akan meninggalkannya.
Mendapati Avisa yang berani menatapnya tanpa takut, dan mata memerah wanita itu. Hati Agha sedikit mencelos, ada keraguan di dalam hatinya tentang tuduhan yang ditujukan pada wanita itu.
Namun ia telah menyelidiki rekaman video itu. Meski ada editan, namun video itu asli. Bukan rekayasa. Wanita di dalam video itu memang Avisa dan wanita itu melakukan perbuatan nista dengan seorang preman jelek yang tidak jelas.
Hal itu jelas telah mencoreng nama baik keluarga Drasmana. Itulah yang membuat Agha kecewa.
Agha lekas memutus tautan pandangnya dengan Avisa, semakin lama ia menatap mata gadis itu maka mungkin dia akan semakin iba. Dan seluruh keluarganya pasti akan mengatakan bahwa ia telah pilih kasih terhadap Avisa.
Tanpa mengucap kata lagi, Agha pergi meninggalkan kamar Avisa.
Sementara Irawan langsung meloncat dari mobil begitu sampai rumah. Ia tergesa memasuki rumah itu dan menghentikan langkah ketika melihat Agha berjalan ke ruang tamu.
"Agha, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumah?" tanyanya menghampiri Agha yang akhirnya memutuskan untuk duduk. Karena Irawan kembali ke rumah ia merasa harus membicarakan hal ini.
Mereka duduk berhadapan.
"Drascort Corporation terancam hancur, semua klien memutus kerja sama. Vendor menarik produk mereka, sampai investor pun menarik saham!" katanya dengan frustasi.
Agha memejamkan mata sambil menyandarkan kepala.
"Maafkan Om. Ini semua salah Om, seharusnya Om bisa menjaga Avisa dengan baik!" aku Irawan.
Agha malah melirik Aliza, "Tugas mendidik Avisa itu adalah tugas utama Tante Aliza, mungkin selama ini Tante kurang memperhatikan Aliza!" tuding Agha.
Aliza seolah tak terima dengan tudingan itu. "Jadi kamu menyalahkan Tante atas apa yang Avisa lakukan?"
Agha menghela nafas panjang.
"Aliza!" sergah Irawan memberi kode kedipan kata kepada sang istri.
"Memang ini salah kami, Agha. Kamu pun sudah menghukum Avisa, dia bahkan nyaris kehilangan nyawa."
"Tapi karena perbuatannya, sekarang Drasmana di ambang kehancuran!"
"Tapi Agha _"
__ADS_1
"Pasti masih ada yang bisa kita lakukan, tak mungkin tak ada jalan keluar kan?" harap Irawan memotong kalimat sang istri.
Ia tak mau membuat Agha kian murka dengan pembelaan sang istri.
"Kita harus bisa membujuk para investor untuk kembali, jika gagal ... artinya kita harus mencari investor baru!"
"Mencari investor baru? Apakah itu mungkin?" Irawan tak yakih akan hal itu.
"Masih ada beberapa perusahaan raksasa yang belum pernah kita sentuh, salah satunya Mahesh Group!"
Kedua mata Irawan melebar. Mahesh Group! Itu adalah salah satu perusahaan raksasa yang saat ini tengah melejit.
"Agha, Mahesh Group sangat sulit untuk dijangkau. Apalagi dengan status Drascort saat ini!"
"Kita belum mencobanya. Kudengar pimpinannya saat ini cukup dermawan, mungkin dia bersedia membantu kita."
Malam harinya di sebuah klub, Lunar tengah menikmati wiski ditemani seorang wanita seksi di sisinya.
"Kerjaanmu selama beberapa hari cuma teler lalu berakhir di pelukan seorang wanita, apa kamu terlalu menyukai Avisa?" tanya Deon yang beberapa malam ini menemani Lunar di klub.
Luna menyunggingkan senyum kecut, "Dia memang gadis yang menarik, tapi munafik. Perusahaan Papa membutuhkan Drascort untuk bia bangkit lagi!"
"Kamu nggak dengar berita ya hari ini, Drascort sedang di ambang kehancuran. Jika keluargamu masih menjalin kerja sama dengan mereka. Pasti kalian akan ikut hancur!"
Lunar membesarkan bola matanya, "Maksudmu?"
"Ada masalah dengan mereka, nggak tahu kenapa katanya semua investor menarik dana mereka dari Drascort Corporation!"
"Pasti itu dampak dari video Avisa. Bagus juga sih, aku sudah sangat muak dengan Aghasya. Selama aku pacaran sama Avisa, gerak-gerik kami selalu diawasi."
"Nyatanya pacarmu itu jauh lebih liar dari dugaan, memangnya kamu nggak bisa cari celah bawa dia ke hotel?"
Lunar menghela nafas berat, "Dia terlalu menipulatif, keluarganya saja tertipu. Apalagi aku!"
"Tapi Nar. Tadinya aku pikir kamu bakal nikahin Irena, kalian kan sering menghabiskan malam di hotel?"
"Irena itu cuma pelampiasan, Avisa terlalu jual mahal sama aku sementara Irena cenderung agresif. Ya mana mungkinlah aku nolak rejeki. Iya nggak?"
Deon mengeluarkan tawa, "Kamu emang bangsat!"
__ADS_1