Devil In My Life

Devil In My Life
Tak Boleh Kalah Dengan Keadaan


__ADS_3

"Kenapa dengan tanganku?"


Avisa memegang tangan kirinya. Rasanya lengan kirinya itu tak memiliki tenaga. Jika itu hanya karena ia masih lemah dan butuh banyak istirahat, harusnya tangan kanannya juga. Tapi kenapa harus hanya tangan kiri saja?


"Nona, ada apa?" Ema yang baru saja masuk tercengang melihat Avisa menangis sambil meremas tangan kirinya. Juga ada pecahan gelas di lantai.


"Nona mau minum? Biar saya bersihkan belingmya dulu ya sambil ambil air minum baru!"


"Ada apa dengan tanganku, Ema?"


"Hah!" Ema pura-pura terkejut.


"Mungkin, itu karena Nona masih lemah."


"Tidak, kenapa hanya tangan kiri. Aku seperti merasa tangan ini sama sekali tak bertenaga. Apakah tanganku cedera?"


"Tidak, Nona!"


"Jangan bohong, Ema. Kau tahu aku tak suka pembohong!"


"Nona, tenang dulu ya!"


"Katakan padaku, tanganku kenapa?" ia pun mencengkeram lengan Ema. "Katakan padaku, Ema" isaknya.


"Nona!"


"Katakan Ema!"


"Kata Dokter Arta ... luka cambukan itu ... pembuluh darah di punggung kiri Anda yang tersambung ke lengan pecah, sehingga aliran darah ke lengan kiri Anda terhambat Nona. Itu yang menyebabkan lengan kiri Anda melemah!"


"Melemah ... apa artinya melemah?" mata Avisa melebar.


"Tangan kiri Anda nggak akan sekuat tangan kanan Anda, nggak akan bisa digunakan untuk mengangkat beban dan melakukan aktifitas berat. Kalau Anda paksakan ... akibatnya bisa fatal!"


"Apa ... itu bisa membuat tanganku lumpuh?"


"Kita bisa mencegah agar itu nggak terjadi, Nona. Mungkin juga bisa sembuh!" Ema terus memberinya semangat. Andai yang memberinya semangat adalah mama dan papanya?

__ADS_1


Ema menyeka air mata Avisa, "Nona jangan merasa sendirian, ada saya yang nggak akan pernah meninggalkan Nona!"


"Terima kasih, Ema. Kamu selalu bisa aku andalkan sejak dulu?"


Ema mencoba tersenyum, "Kalau begitu ... Nona nggak boleh seperti ini. Nona harus kuat, dan buktikan kepada semua orang. Mungkin saat ini kita nggak punya bukti Nona, tapi saya yakin suatu saat kebenaran akan terungkap. Untuk itu Nona harus berjuang!"


Avisa menyeka air matanya sendiri, "Kamu benar, Ema. Aku nggak boleh kalah dengan keadaan ini, apalagi oleh iblis itu. Aku nggak boleh membiarkan dia menghancurkanku kan Ema!"


"Itu benar, Nona. Nona Avisa yang aku kenal selama ini ... dia adalah gadis yang kuat dan nggak mudah ditindas. Maka jadikan Avisa yang seperti itu!"


"Tapi Ema, kamu jangan pernah kasih tahu siapa pun tentang keadaan tangan kiriku. Aku nggak mau ada yang memanfaatkan itu untuk menyakitiku!"


"Iya, Nona."


Di ruangan kantornya ....


Arnav menutup dokumen yang baru saja ditandatanganinya. Menyandarkan punggung.


"Apa kabarnya gadis murahan itu? Tak kusangka dia nggak mati setelah disiksa oleh Agha. Padahal Beni saja sampai sekarat!" ia memainkan pulpen di tangannya.


"Sudah cukup memberinya waktu beristirahat, Avisa ... selama kamu masih hidup-aku akan menciptakan neraka untukmu. Sampai kamu menyerah dan memilih mati seperti Irena!" ia menggenggam erat pulpen itu dengan geram.


Irena selama ini selalu menceritakan satu orang pria yang sangat dicintainya. Yaitu Lunar Andreanus. Namun tiba-tiba Lunar dan Avisa berencana menikah, kata Irena ... Avisa telah merebut Lunar darinya. Melemparkan dirinya ke ranjang Lunar agar dinikahi dan Lunar mencampakan Irena. Hal itu membuat Irena depresi karena Lunar berkali-kali menolak menikahi Irena padahal Irena mengandung anaknya.


Hingga suatu hari Irena ditemukan terjatuh dari jembatan dan Avisa berada di atas jembatan. Irena tewas seketika, baru satu bulan Irena meninggal tapi Avisa dan Lunar malah menggelar pesta pertunangan. Maka Avisa harus merasakan derita yang dialami oleh Irena.


Gadis penggoda seperti Avisa tak pantas mendapatkan nama baik hanya karena keluarganya terpandang. Itu sebabnya langkah pertama yang Arnav buat adalah menghancurkan nama baik Avisa dengan menjebaknya di hotel itu bersama seorang preman.


Otomatis-ia akan kehilangan Lunar juga orang-orang yang menyayanginya. Tapi gadis itu tidak mati. Ia bertahan hidup. Maka Arnav bersumpah akan terus menciptakan derita sampai gadis itu mati.


Arnav memangil orang kepercayaannya untuk memasuki ruangan.


"Iya, Tuan."


"Art, kau sudah lakukan perintahku?"


"Semua sudah seperti yang Anda mau, Tuan."

__ADS_1


"Good!"


Drascort Corporasion ....


"Apa maksudnya ini?" lantang Agha pada Neil dan juga bebrapa dewan direksi di ruang meeting.


"Maaf, Tuan Aghasya. Tapi semua investor menarik dana mereka karena ... alasan video asusila Nona Avisa!" seru Pak Deri.


"Semua klien juga membatalkan kerja-sama. Perusahaan kita terancam failid, Tuan Aghasya! Apa yang harus kita lakukan?"


Agha mengepalkan tinju. Kenapa Avisa bisa begitu ceroboh. Kalau pun ia ingin bersenang-senang apa ia tak bisa memeriksa dulu apakah ada yang mengikuti atau tidak. Agar kejadian seperti ini tak terjadi.


"Meeting kita sudahi dulu, aku akan mencari jalan keluar!" perintahnya. Semua orang pun meninggalkan ruang meeting satu-persatu.


Agha tak menyangka kasus Avisa bisa berdampak begitu buruk seperti ini. Bahkan perusahaan keluarga pun ikut kena imbasnya. Gadis itu sungguh keterlaluan!


Padahal ia sedikit menyesali karena telah memberinya hukuman puluhan cambukan hingga gadis itu tak sadarkan diri selama 4 hari di rumah sakit.


Tapi jika imbasnya sampai membuat perusahaan hancur, ia rasa hukuman itu setimpal. Kenapa ia harus menyesal? Toh gadis itu masih hidup dan sekarang baik-baik saja.


Agha pun meninggalkan kantor dan meminta Neil untuk membawanya ke rumah Irawan. Avisa pulang hari ini kan? Ia ingin lihat kondisi gadis itu, apakah separah yang Ema ceritakan atau hanya rekasaya.


Aliza yang mengetahui dari pelayan jika Agha datang pun gegas menyambut. Alasannya ia ingin agar Agha tidak menghukum Avisa dulu. Putrinya itu kan baru saja keluar rumah sakit.


"Agha, kau ke sini?"


Agha tak menyahut, tetap berjalan memasuki rumah. Sepertinya Agha sengaja ingin menemui Avisa.


"Agha tunggu, Avisa sedang istirahat. Bagaimana kalau Tante buatkan minuman dulu!"


Agha menghentikan langkah, "Tante, aku perlu bicara dengan Avisa. Ini genting!" ujarnya melanjutkan perjalanan. Aliza mengekori sembari mengirim pesan terhadap Irawan yang hendak pergi ke kantor.


Membaca pesan dari istri yang justru membuat Irawan segera memutar kembali mobilnya. Ia takut Agha akan mengamuk lagi.


"Avisa!"


Avisa yang hendak terlelap pun gegas membuka matanya kembali.

__ADS_1


"Kak Agha!"


__ADS_2