Dewa Importal Kematian

Dewa Importal Kematian
Arti sebuah kehidupan


__ADS_3

Menjelang beberapa hari setelah putra kaisar Huai Chen kembali ke kuil sembari membawa informasi mengenai iblis pemenggal kepala, dengan para gadis kediaman Wei. Membuat rumor baru tersebar hingga ke seluruh penjuru kultivasi. Tepat di sore yang disinari oleh senja nya matahari, kini disanding oleh rentikan hujan yang turun tidak begitu deras. Membuat suasana dan udara di sekitar nya menjadi sangat dingin.


Dari kejauhan. Terlihat sebuah ngarai yang jaraknya tidak jauh dari kota kediaman Li. Angin sepoi-sepoi yang terhembus di udara membuat suasana di dekat ngarai itu sangat sejuk. Air terjun yang tak terhitung jumlahnya mengalir seperti sutra panjang berwarna putih. Air membasahi seluruh tempat saat bepercikan tinggi di udara.


Di sisi langit barat, banyak awan yang menggantung berkerumun. Abu-abu warnanya. Matahari yang tadi seakan menyeringai panas, kini tertutup awan yang mungkin saja membawa kabar akan datangnya badai di malam ini. Angin bertambah kencang. Air-air mulai turun perlahan. Aliran air di dalam ngarai kembali pada pekerjaan semula. Seorang lelaki duduk di atas bebatuan di tepi ngarai. Ia sedikit terheran, pada cuaca seperti ini mengapa burung-burung terus berkeliaran di udara. Termasuk diri nya sendiri. Air ngarai kini mulai menaik. Banyak ombak yang menghantam tepat di bawah batu tempat dimana lelaki itu duduk.


“Aku pernah berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan aku selalu menghabiskan waktu ku di tempat seperti ini. Apa aku akan merasa lebih baik jika aku Menghilang suatu hari nanti?” lingkaran mata nya mulai berkaca-kaca. Pandangan nya tak lepas dari langit berwarna gelap yang terus menurunkan air dari langit.


Saat merasa sendiri, lelaki ini kerap timbul rasa tidak tenang dan kesepian. Perasaan tidak nyaman ini sering memunculkan perasaan sedih yang mendalam. Pandangan nya hanya tertuju pada langit. .gelap yang terus menurunkan hujan sampai saat ini. Gerumuhan petir pun mulai terdengar menghiasi gelapnya langit saat ini.


“Aku akan hidup?” mulut yang terus mengatakan hal-hal aneh dengan raut yang terus menunjukkan ekspresi  lelah nya. Tatapan nya juga tidak kalah kosong dari isi pikiran nya saat ini. “Hidup dalam setiap hembusan napas ku yang kemudian berbaur dengan hembusan angin. Meliuk liuk dengan berbagai keresahan hingga akhirnya menguap sebab resah itu tidak lagi menjadi kepingan utuh. Terpecah belah, terpecah berai sampai menjadi bentuk terkecil.”


Manik mata nya meredup. Dengan perlahan kelopak matanya mulai menurun, hingga menutupi pandangan nya dari lingkungan di sekitar nya. “Bahkan kultivasi kegelapan yang selama ini ku pelajari, tidak mampu membangkitkan arwah mu yang sudah lama pergi meninggalkan dunia ini”


Bulu mata lelaki ini bergetar, ia perlahan menurunkann kepala nya, yang di ikuti dengan sepasang mata yang ikut terbuka pelan. Pandangan nya tertuju pada aliran sungai yang memantulkan wajah nya yang suram. “Aku ingin tahu, sebenarnya apa arti sebuah kehidupan? Jika memang kehidupan tidak memiliki arti. Kematian juga bukanlah jawaban nya”

__ADS_1


Di sisi lain. Tidak jauh dari ngarai, terlihat sang dewa kegelapan dari sekte Fei tengah memperhatikan lelaki yang tengah terduduk di bebatuan besar di tepi ngarai. Di bawah naungan payung berwarna gelap, ia mempercepat langkah kaki seiring dengan derasnya hujan. Meskipun sudah menggunakan payung, baju lelaki ini tetap saja basah karna terkena percikan di antara menangan air yang ia lewati. Sampai di tepi ngarai, lelaki itu dengan langkah kecil nya mulai berjalan menghampiri lelaki yang masih tidak menyadari akan kehadiran diri nya.


“Tuan muda Chen”


“Mn” mendengar nama nya terpanggil, kepala nya menengadah ke atas melihat sekilas ke arah lelaki yang berdiri di belakang nya.


“kaisar Huai Chen meminta ku untuk membawa mu kembali ke kuil. Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu waktu mu”


“Tidak. Kehadiran mu tidak mengganggu ku sama sekali”


Longfei menggerakan sedikit lengan tangan kanan nya. Membuat payung yang ia gunakan bergerak hingga menjadi alat teduh untuk lelaki itu. Pakaian nya sudah basah kuyup akibat derasnya hujan saat ini. “Saya sangat tidak mengerti. Mengapa anda berada di tempat seperti ini di waktu hujan?”


Mendengar hal itu. Longfei hanya bisa menghela napas panjang, ia juga menurunkan pandangan nya. Ada senyum pahit yang terukir di wajah nya saat melihat lelaki di depan nya ini mulai beranjak dari duduk nya. “Sebaiknya anda kembali ke kuil. Ada seorang lelaki muda yang datang mencari diri mu. Kaisar Huai Chen tidak mengenali nya. Akan tetapi, karna lelaki itu mencari diri mu. Dia tidak mengusirnya dan membiarkan nya beristirahat di kamar tamu.” Tukas nya.


Tubuh nya bergerak hingga berhadapan dengan tubuh lelaki di belakang nya. Mata Chyou Chen tampak menyusut. Lirikan nya bagai hewan buas yang sedang kelaparan. “Lalu?”

__ADS_1


“Apa anda tidak ingin bertemu dengan pemuda itu?”


“Tidak”


Chyou Chen berjalan melewati bahu kanan lelaki di depan nya. Hal itu membuat Longfei spontan menoleh dan tangan nya dengan cepat menahan pergelangan lelaki itu. “Tuan muda Chen tunggu anda harus-


Belum selesai dengan ucapan nya. Longfei di kejutkan dengan pergerakan tuan muda Chen ini yang tiba-tiba saja memutar arah tubuh nya. Hingga membuat tangan nya terlepas dari genggaman nya. Tidak hanya itu, saat tubuh nya kembali ke posisi awal yaitu berhadapan dengan nya. Tangan kanan lelaki itu telah mengganggam pedang nya. “….”


“Mnn?” Bola matanya melirik ke arah pegang yang ada dalam genggaman lelaki itu. “Ingin bertarung?”


“Lakukan jika kau menginginkan nya”


•••••


Energi spiritual melayang dan menerjang daerah di sekitar ngarai. Tanah yang terus menerus di hanya oleh spiritual menghasilkan goncangan besar yang membuat ombak di sekitar ngarai melonjak hingga ke naik ke daratan. Perkelahian antara dua penguasa kultivasi kegelapan ini benar-benar membuat kerusakan besar terjadi di sekitar ngarai. Tidak peduli seberapa sering serangan nya tidak mengenai lelaki itu. Longfei terus menerus menyerang nya dengan energi spiritual miliki nya. Chyou Chen menoleh. Kening nya berkerut-kerut saat menerima serangan mengerikan dari lelaki yang di kenal sebagai dewa kematian.

__ADS_1


Begitu mereka berpindah dari ngarai hingga masuk ke dalam kelebatan hutan. Langsung di suguhkan dengan kebakaran yang terjadi karna hantaman spiritual yang mereka gunakan. Dari kejauhan… Beberapa gerombolan pendekar tengah melesat menuju ke tempat pertarungan  sengit antara Chyou Chen dengan Longfei.


Sesaat kemudian terdengar jeritan seorang lelaki di tengah pertarungan. “Chyou Chen.. Longfeii.. Kumohon hentikan!!!” salah seorang pendekar memisahkan diri dari barisan yang kemudian berlari ke tengah medan perang.


__ADS_2