
Setelah melewati malam yang cukup panjang di bawah langit malam. Kini kembali berganti dengan matahari yang naik dengan membawa cahaya terang bersama nya. Daun-daun berderai berjatuhan dari pohon nya. Tertiup dan terbang lepas di udara yang luas. Disisi bagian timur dunia kultivasi, banyak orang yang sudah berkumpul di sana. Pakaian nya lengkap dengan senjata. Suasana yang awalnya seakan damai, kini telah tertutupi begitu banyak dengan pandangan mengerikan yang akan datang.
Hanya dengan menghitung beberapa detik saja, beberapa energi spiritual melayang di udara dan menghantam tanah di depan nya. Menyaksikan ledakan besar, para pendekar menyiapkan pedang nya, begitu pandangan nya melihat sekumpulan asap datang dari kejauhan. Tidak salah lagi, mereka merupakan segerombolan makhluk dari kawasan anomalia. Tidak dapat terhitung jumlah nya, mereka datang bagaikan lautan berwujud manusia.
Dari kejauhan, dan tinggi di atas langit. Para penghuni surgawi tengah menyaksikan pertarungan yang berlangsung sangat hebat di dunia kultivasi. Kedua belah pihak mengeluarkan seluruh kekuatan nya untuk mendapatkan sebuah kemenangan. Akan tetapi, energi spiritual kawasan anomalia justru jauh dari perkiraan yang telah bicarakan. Bisa di katakan 4× lebih kuat di bandingkan energi spiritual milik pengguna spiritual di dunia kultivasi. Perbedaan ini benar-benar sangat jauh.
Tidak akan heran, jika hasil pertarungan ini jauh lebih kuat berada di pihak lawan. Dari matahari terbit hingga tergelincirnya matahari yang bergantian dengan bulan, pertarungan tidak pernah berhenti sebentar saja. Energi spiritual milik kawasan anomalia benar-benar sudah menghancurkan sebagian besar gerbang dunia kultivasi di bagian timur. Namun setelah beberapa lama kemudian, tiba-tiba sebuah keajaiban datang entah dari mana. Sebuah ledakan besar datang dan menghantam tepat di tengah sekumpulan bangsa Anomalia. Para pendekar dunia kultivasi terdiam, tubuh nya mematung melihat ledakan besar tepat di depan mata nya.
“A-apaan ini? Apa yang terjadi?” salah seorang di sana berseru dengan lantang setelah ledakan tersebut berakhir dengan meninggalkan kabut asap di sekitar nya.
Mengira bahwa medan perang ini telah berakhir adalah satu pemikiran yang sama sekali tidak memiliki jawaban. Pada akhirnya, setelah kabut asap telat menghilang. Pandangan mereka di suguhi ribuan mayat bangsa anomalia yang telah hancur tanpa berbentuk tubuh asli nya.
Pemandangan yang terlintas jelas di depan mata nya, membuat sekumpulan para pendekar kultivasi terdiam membeku. Tidak ada yang bergerak ataupun berkata. Walau sejujurnya mereka ingin sekali pergi meninggalkan tempat itu.
“Hahaha”
Di tengah suasana tegang, tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggelegar kencang di tengah hutan. Suara nya terdengar sangat jelas dan dekat. Para pendekar mulai menolehkan kepala nya, saling memandang satu sama lain, dan memperhatikan lingkungan di sekitar nya. Tidak ada yang aneh, namun.. Dari mana suara tawa itu terdengar?.
Tidak ada siapa pun. Hong Li mulai cemas. Tubuh nya gemetar mencapai titik pusat nya. Penglihatan nya dapat merasakan hal aneh di sekitar nya. Dengan demikian, Hong Li berseru memberi perintah untuk semua pendekar meninggalkan medan perang dan masuk ke dalam gerbang dunia kultivasi.
Tanpa pikir panjang, para pendekar berbondong-bondong berlari memasuki gerbang kultivasi. Tubuh di antara nya terluka begitu parah. Ada yang tersayat pedang, tertikam panah, dan bahkan terbakar karna terjangan energi spiritual bangsa anomalia. Benar-benar dahsyat. Perang ini berakhir setelah hal tidak terduga terjadi di sana. Menunggu hingga tidak ada seorang pun yang tertinggal, Hong Li tidak berhenti memperhatikan sekeliling nya. Hancur, kobaran api, mayat, asap, dan darah tergabung menjadi satu di tempat ini.
__ADS_1
“Hong Li” Jing Li yang berada di dekat Hong Li mulai berjalan mendekat sembari memanggil nama nya.
Ia seketika tersadar, terlepas dari kunci pandangan nya dan mulai menoleh ke arah lelaki yang tengah berdiri tepat di dekat nya. “Ge-Gege??” ucap nya dengan suara yang terbata.
“Ayo. Kita juga harus kembali” ajak Jing Li sembari mengulurkan tangan nya.
Hong Li terdiam sesaat. Setelah itu ia meraih tangan sang kakak di depan nya. “Suara itu..” ekspresi di wajah nya perlahan merubah. Ketakutan kini telah menyelimuti seluruh aliran energi Spiritual nya.
“Hiraukan” tegas Jing Li sembari menarik tangan Hong Li dan membawa nya berlari menuju gerbang kultivasi di depan nya. “Tutup mata mu Hong Li!! Jangan pernah membuka nya, sebelum kamu mendapat izin dari ku” ujar nya dengan tegas.
Meski berada dalam ambang kebingungan, Hong Li tetap patuh. Ia memejamkan penglihatan nya dan tetap berlari mengikuti langkah sang kakak yang berjalan di depan nya dengan tangan yang tidak pernah melepas pergelangan tangan nya. Namun setelah beberapa saat kemudian...
*SHINGG*
Setelah beberapa saat di tangan kesunyian. Hong Li memberanikan diri untuk membuka mata nya dengan perlahan. Napasnya terengah-engah, namun ia tidak dapat mendengar nya.
“Gege?? Apa yang terjadi?” ia mengangkat kelopak mata nya secara perlahan. Pandangan gelap kini berganti dengan samar hingga ke jelas secara berurutan.
Tidak. Tidak ada seorang pun di tempat itu. Hong Li menggeser manik mata nya dari kiri ke kanan. Menelusuri lingkungan di hadapan nya. Tidak, dia tidak salah liat. Tempat itu benar-benar kosong. Hong Li terkejut spontan kepala memikirkan sosok yang masih menggenggam pergelangan tangan nya.
“Gege..”
__ADS_1
“Gege” Hong Li mencoba memanggil Jing Li di sebelah nya, dengan harapan mendapat respons walah hanya sebuah deheman. Namun, semua tidak berjalan sesuai keinginan keinginan. Jing Li tidak merespons teguran Hong Li.
Karna tak kunjung mendapat sahutan. Akhirnya Hong Li dengan ragu mencoba menolehkan kepala nya yang kaku menoleh ke sebelum kanan nya. Tepat dimana Jing Li menggenggam pergelangan tangan kanan nya.
“Ge-Ge” sekali lagi Hong Li mencoba memanggil Jing Li, yang di sanding dengan pergerakan kaku kepala nya mendapat ke arah sosok di sebelah nya.
Ketika kepala nya menoleh, seketika membuat manik mata nya terbuka membelalak ekspresi terkejut dan rasa takut kini telah tercampur aduk. Hong Li menjerit sembari melepaskan genggaman di tangan nya. Tubuh yang awal nya mengabaikan keheningan kini telah tercampur dengan ketakutan. Sosok lelaki dengan dada yang terkoyak, dan memperlihatkan isi dalam tubuh nya keluar dari dalam dada nya. Berdiri tepat di sebelah Hong Li. Cairan merah segar tidak berhenti mengalir dari tubuh tersebut.
Hong Li bergerak menjauh. Melangkah mundur dengan tubuh nya yang kini telah gemetar hebat. Ia ketakutan dan tidak dapat berpikir harus berbuat apa. Tidak hanya 1, akan tetapi seluruhnya. Seluruh pendekar yang ikut dalam pertarungan, kini telah terkapar di tanah dengan tubuh yang terkoyak di bagian dada nya.
Hong Li yang tengah di hantui ketakutan yang sangat besar, mencoba berlari menjauh dari tempat itu. Di tempat itu, suasana nya di sekitar nya benar-benar sangat gelap. Hal seperti ini sangatlah tidak asing untuk nya. Pengalaman seperti ini pernah Hong Li rasakan sewaktu masih berusia 23 tahun. Dimana penglihatan nya akan terus memperlihatkan kematian seseorang di depan mata nya.
Akan tetapi, saat itu ia tidak terlalu membebani penglihatan nya. Karna sewaktu itu reinkarnasi nya lah yang menghadapi semuanya sendirian. Kehancuran, kematian dan bahkan luka di tubuh seseorang dapat terlihat jelas di mata nya.
Diri nya pernah merasakan rasa takut itu, akan tetapi entah mengapa. Tubuh nya merespons pemandangan ini sangat berlebihan. Kepala nya terasa sakit, berat dan terasa seperti ingin meledak. Sampai ketika, Hong Li telah berlari cukup jauh. Pandangan nya perlahan mulai menyusut. Tubuh nya memperlambat pergerakan kaki nya, dan..
*BRUKK*
Tubuh nya ambruk dan terjatuh tidak sadarkan diri di tempat ia berdiri. Ada apa? Mengapa energi spiritual nya tidak dapat menstabilkan ketenangan nya? Hong Li berpikir sejenak ketika tubuh nya telah terkapar tidak berdaya. Ia menyerah dan tidak menggerakkan tubuh nya sedikit pun. Yang telah terjadi saat ini, hanyalah ilusi semata yang seharusnya tidak pernah ia rasakan kembali.
“Ayah, kutukan yang kamu berikan pada ku sewaktu itu, kini dapat kurasakan kembali..” wajah nya tersenyum dengan mata yang telah terpejam. “Terima kasih”
__ADS_1