
Selama beberapa hari ke depan, para pendekar dengan para pengguna spiritual berlatih sepanjang hari. Menyatukan kekuatan serta kekompakan mereka. Sampai tiba 1 hari sebelum pertarungan di mulai, Hong Li terjebak dalam suasana hati yang sangat gelisah. Ketenangan nya pun terus menyusut di dalam diri nya. Dari matahari yang berperan menjadi penerang, hingga berganti bulan, Hong Li menghabiskan waktu nya di taman belakang kuil nya. Disana, ia berdiri di atas jembatan yang di bawa nya terdapat danau yang di penuhi dengan bunga teratai di atas nya.
Entah apa yang ada di dalam pikiran nya. Ia hanya terdiam, pandangan nya tertuju ke arah air yang memantulkan bayangan serta bulan di atas nya. Hembusan angin malam menerpa rambut serta pakaian nya yang berderai begitu panjang. Menari-nari mengikuti arah ke mana hembusan angin menerpa diri nya.
Ketika malam semakin larut. Dari kejauhan, seorang lelaki berjalan keluar dari kuil nya. Menghampiri lelaki yang tengah tenggelam di dalam lamunan nya. Tak lain, lelaki itu adalah kakak laki-laki dari lelaki bernama Hong Li ini. Begitu ia sudah berada di ujung jembatan, mulutnya terbuka, dan memanggil nama lelaki di depan nya.
“Hong Li” suara lembut nya terdengar hingga ke telinga si pemilik nama.
Ia tersadar dari lamunan nya, kemudian kepala nya mulai menoleh ke arah sumber suara tersebut. Begitu ia melihat Jing Li tengah berjalan ke arah nya, spontan ia memberikan anggukan pelan sebagai tanda kehormatan nya. “Gege, sudah berapa lama anda berada di sini? Maaf, adik laki-laki mu ini tidak dapat menyadari kehadiran diri mu”
Kepala nya bergerak menunduk. Rambut panjang yang terus berderai tertiup angin tanpa hiasan di atas kepala nya, hingga membuat penampilan nya terlihat seperti di usia 18 tahun dahulu. “Tidak apa, itu bukan masalah yang besar untuk ku” Jing Li mendekat, tangan nya bergerak menyentuh dagu Hong Li di depan nya, kemudian menggerakkan kepala nya lurus menghadap ke arah diri nya. “Angkat kepala mu Hong Li. Aku bukanlah orang yang patut kamu hormati”
Hong Li terkejut saat mendengar nya, seketika membuat tangan nya menepis pelan tangan sang kakak yang berada di bawah dagu nya. “Gege, Kamu ini bicara apa?” tanya nya. “Bukan orang yang patut ku hormati? Kamu ini adalah kakak laki-laki yang selalu menjaga ku dari kecil. Dimana letak ke tidak layak untuk di hormati”
“Mn” ia tersenyum lalu mendekapkan tubuh Hong Li yang lebih kecil dari tubuh nya ke dalam dekapan nya. “Ada apa Hong Li, mengapa hari ini kamu cepat sekali marah? Apa ada hal yang mengganggu pikiran mu saat ini?” ia membelai rambut panjang sosok di dalam pelukan nya.
__ADS_1
“Tidak ada, lupakan saja. Aku tidak menyukai kalimat itu, sebaiknya hentikan saja” tangan nya bergerak dan melingkar ke pinggang lelaki di depan nya.
Jing Li tersenyum, kepala nya sedikit terangkat ke atas. Melihat ke arah langit berbintang di atas nya. ‘Ayah, Ibu.. Anak yang telah kalian rawat selama 21 tahun ini telah menjadi sosok terpenting di kediaman Li. Begitu juga dengan adik perempuan ku, Jia Li. Dia sudah menikah setahun yang lalu, dan kini ia tinggal bersama suami nya di kediaman Yin. Dia akan berkunjung ke mari sebulan sekali. Seandainya kalian masih berada di sisi kami, mungkin saat ini yang akan memeluk tubuh kecil Hong Li adalah diri mu ibunda. Tubuh nya benar-benar gemetar, dia sangat ketakutan. Aku juga tidak merasakan ketenangan yang mengalir di dalam energi spiritual nya’ batin nya menyampaikan doa agar angin malam saat ini dapat menyampaikan cerita nya sampai kepada kedua orang tua nya.
Setelah terdiam beberapa saat, tubuh Hong Li yang masih berada di dalam dekapan sang kakak akhirnya mulai menenang. Jing Li juga tidak dapat merasakan nya, dan membiarkan Hong Li keluar dari pelukan nya. “Bagaimana? Apa perasaan mu jauh lebih tenang?” ia tersenyum sembari merapikan sedikit pakaian Hong Li yang berantakan.
Hong Li mengangguk. “Terima kasih gege” mulut nya tersenyum, namun kepala nya bergerak sedikit menunduk. Sikap tersipu nya benar-benar membuat Jing Li tertawa kecil saat melihat nya.
“Hehehe.. Katakan, apa yang membuat mu seharian ini termenung di sini?”
“Tidak biasanya kamu akan berpikir negatif seperti ini. Apa para murid mu sulit memahami pelajaran yang kamu berikan?” tanya nya.
“Entah, aku sedikit tidak mengetahui nya” dengusan pelan terdengar menjeda di tengah ucapan nya. “Sejauh ini, aku belum pernah bertarung dengan bangsa anomalia yang terkenal dengan spiritual yang cukup besar. Tidak tahu apa yang akan terjadi, pasti akan membuat kehancuran dimana-mana. Itu mengingatkan ku dengan peristiwa saat itu”
“Maksud mu, Han Zhao? Lelaki reinkarnasi mu?” tanya nya.
__ADS_1
Hong Li mengangguk. “Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi di kehidupan ku. Benar-benar menyakitkan” tangan nya terangkat dan mencengkeram pakaian di dada nya.
“Tidak perlu di pikirkan. Kita fokus saja dengan strategi yang telah kau susun selama ini. Jangan biarkan keraguan menyelimuti perasaan mu” Jing Li menyentuh lembut tangan Hong Li yang masih mencengkeram pakaian nya. “Gerbang importal kematian telah terbuka lebar. Kalahkan siapa pun dewa itu Hong Li. Berjanji pada ku untuk tidak melindungi siapa pun yang berdiri sebagai dewa importal kematian”
Mendengar hal itu, Hong Li seketika membeku. Tidak biasanya Jing Li akan berbicara seperti ini. Seolah dia tahu siapa dewa importal kematian tersebut, namun jika memang dia mengetahui nya, bukan kah itu adalah hal yang bagus. Lalu, mengapa dia bereaksi seolah diri nya akan melindungi dewa tersebut.
“Gege, kamu ini bicara apa? Tidak mungkin aku akan berpihak pada orang yang akan menghancurkan dunia ini”
Jing Li terdiam, membungkam mulut nya rapat-rapat. Ia sadar telah mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan. Untuk menanggapi ucapan Hong Li, ia hanya bisa mengangguk pelan seolah ia menanggapi ucapan Hong Li pada nya.
“Gege, Ada apa?”
Ia bergeleng pelan. “Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita kembali ke kuil. Malam sudah semakin larut, istirahatkan tubuh mu untuk perang esok, Hong Li” ujar nya sembari memutar badan nya dan melipat tangan kiri nya ke belakang.
“Aku tahu itu. Maafkan aku gege”
__ADS_1
“Sudah hentikan saja. Mari, aku akan mengantar mu sampai ke kamar mu” ucap nya seraya berjalan pergi. Di belakang, Hong Li hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Jing Li di belakang nya.