
Ke esokan harinya rita pergi sekolah seperti hari hari biasanya.
Rita sedang berjalan sambil memikirkan dirinya menjadi sering mual, bahkan tadi pagi saat berada di kamar mandi ia mual lagi di tambah selera makan menjadi apa yang ia ingin kan saja, jika tidak ia inginkan rita tidak akan makan.
Setelah sampai di sekolah nya, rita mengotak ngatik ponselnya, ia browsing tentang dirinya yang sering mual.
Rita membulatkan kedua bola matanya, karna yang muncul itu tanda tanda hamil.
" Lo kenapa ta?" Tanya andin yang berada di sebelah nya.
Rita tidak menjawab tetapi ia malah melamun, lalu andin merebut ponsel rita dan melihat nya.
" Hah kenapa lo? apa lo punya tanda tanda seperti ini mual ta?" Tanya andin lagi.
Rita hanya menjawab dengan mengangguk kan kepalanya.
" Din, bantu in solusi dong bagaimana kalo gue beneran hamil, gue takut." Ucap rita dengan muka yang tertunduk.
" Tenang ta, kan itu belum tentu benar sebaiknya di cek dulu." Ucap andin.
" Apa gue harus ke dokter kandungan gituh din? gak mungkin lah kan gue masih anak sekolah masa ke dokter kandungan." Ucap Rita.
" Gak harus ke dokter kandungan saja rita, bisa kok di cek memakai alat tes pack gitu nanti pulang sekolah kita beli ke apotek ya, dan nanti di cek di rumah gue aja." Ucap andin menjelaskan.
" Yahh, tapi gue udah janjian di jemput sama bagas nih din." Sahut rita.
" Rita bisa gak sih batalin dulu, ini penting kan mau ngecek lo gimana kalo bener lo hamil coba." Ucap andin.
" Ihh jangan lah, mit amit jabang bayi gue gak mau sampe hamil ih serem deh gue bayanginnya juga." Ucap Rita.
" Yaudah biar tau hasilnya dan meyakinkan lo kita cek biar tau, kan kalo emang gak hamil tenang juga buat lo." Ucap Andin.
Rita hanya mengangguk kan kepalanya dan kalo di pikir pikir memang benar juga apa yang di ucapkan andin.
" Yaudah gue ke rumah lo pulang sekolah, nanti biar abis selesai dari rumah lo, tinggal suruh bagas jemput gue ke rumah lo." Ucap rita.
__ADS_1
Kelas pun segera di mulai, andin tidak sabar mengetahui kebenaran rita yang hamil atau tidaknya, karna andin yang mempengaruhi rita menjadikan hubungan seksual itu biasa saja semata mata kesenangan dan menginginkan Rita hancur, ia menukar obar kontrasepsi itu dengan vitamin.
*****
" Nih ta, ayo di cek garis dua nggak." Ucap andin yang berharap tes pack itu garis dua merah.
Lalu rita berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air seni nya.
Rita yang melihat dari bacaan plastik tes pack tersebut menunggu beberapa menit, ia menunggunya dan memandangi testpack itu terus.
Tok.. Tokk..
" Rita udah belum, lama banget gue kepo nih mau liat hasilnya." Ucap andin di luar pintu yang menunggu rita keluar.
Rita keluar kamar mandi, ia nampak lemas dengan apa yang ia lihat di testpack itu, lalu ia memberikan nya pada andin.
" Garis dua, lo beneran hamil dong ta?" Ucap andin.
Sedangkan rita hanya diam tertunduk memikirkan semua ini, bagaimana ia harus berbicara semua ini pada kedua orang tuanya.
" Ta, mending kita ke dokter aja siapa tau ini gak bener, udah dong jangan banyak pikiran gitu mukanya." Ucap andin.
" Santai ta, mendingan lo bilang aja dulu sama bagas gimana solusi dari dia itukan anaknya bagas." Ucap Andin.
" Yaudah deh, gue hubungin bagas dulu dan biar jelas ngomongnya gue mau ketemu aja." Ucap rita.
" Hemmm iya, semangat ya gak boleh nyerah." Ucap andin padahal di hatinya ia sangat senang karna rita telah hamil dan ia yang menjerumuskan nya, andin menginginkan kedua orang tua rita kecewa pada rita dan juga rita menjadi bahan omongan di sekolah nya karna ia tidak bisa melanjutkan sekolah karna hamidun.
Andin tersenyum miring melihat kepergian rita yang di jemput oleh bagas di depan rumah nya.
Selama dalam perjalanan di motor rita hanya diam saja tidak banyak berbicara.
" Kamu masih sakit ta?" Tanya bagas yang heran karna rita tidak seperti biasanya yang banyak bicara.
Rita hanya menggeleng kan kepalanya saja, lalu bagas tidak banyak bertanya lagi pada rita.
__ADS_1
Mereka sampai di kebun teh tempat pertama mereka jalan dan bisa sampai sedekat ini.
" Gas, ada yang mau aku bicarain." Ucap rita setelah duduk di kursi yang terbuat dari pohon.
" Apa? Kenapa seperti serius bikin aku deg deg gan aja kamu tuh ya." Ucap bagas sambil mencubit hidung nya rita.
" Dengerin aku dulu." Ucap rita serius.
" Iya iya apa? bicara lah." Jawab bagas.
Lalu rita mengambil hasil testpack di dalam tas nya dan menyodorkan nya ke telapak tangan bagas.
" Apa ini?" Tanya bagas yang bingung dan ia tidak tau itu benda apa.
" Kamu gak tau? atau pura pura gak ngerti sih gas." Sahut Rita.
" Aku gak tau Rita, suwer demi apapaun aku gak tau ini tuh apa." Ucap bagas yang polos.
" Aku hamil! Itu alat tes kehamilan dan di situh menunjukkan kalo aku hamil gas makanya aku mual mual dan mood makan aku berubah rubah ternyata itu hasilnya." Ucap rita menjelaskan.
" APA!!" Bagai tersengat di siang hari bagas mendengar kekasihnya hamil.
" Kamu jangan becanda ta, mana mungkin cuma alat gini doang, huhh ini ma apaan di potek aja terpisah." Ucap Bagas lalu melempar benda itu ke depannya, yang membuat rita mengeluarkan bola matanya karna tingkah Bagas itu.
" Gas, udah jelas itu tuh alat tes kehamilan dan aku membelinya di apotek, yaudah deh kalo kamu gak percaya sama alat begituan kita ke bidan atau dokter untuk membuktikan nya kalo ini benar atau tidak." Ucap rita dengan kesal.
" Kalo bener gimana dong ta?" Tanya bagas malahan bertanya yang tidak perlu ia tanyakan pada rita karna itu adalah anaknya.
" Kamu nanya gimana? ya kamu tanggung jawab lah karna kamu yang berbuat." Ucap Rita
" Gas, denger ya semenjak sama kamu aku gak pernah melakukan hubungan **** lagi dan gak pernah berhubungan lagi sama lelaki mana pun." Ucap bagas.
" Bisa aja kan kamu bohong, dan bisa aja itu bukan anak aku karna aku bukan yang pertama kali menyetubuhi kamu." Ucap bagas.
" Kamu tega gas padahal ini jelas jelas anak kamu, darah daging kamu." Ucap Rita yang akhirnya keluar cairan bening dari ujung matanya.
__ADS_1
" Ayok kita ke bidan buat buktikan." Ucap bagas lalu berdiri dari duduk nya dan di ikutin rita di belakang nya.
Selama dalam perjalanan mereka hanya saling diam dan berperang dengan isi pikiran nya masing masing.