DI JEDA!!!

DI JEDA!!!
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Kedua pasangan muda yang terlihat sangat romantis tengah berjalan mengitari pusat perbelanjaan untuk mencari sesuatu. Keduanya tampak begitu bahagia, terlihat dari ekspresi wajah mereka yang tampak begitu sumringah.


Saat ini toko yang mereka tuju adalah toko jam tangan paling terkenal di Mall tersebut. Hingga tak lama kemudian seorang pelayan toko menyambut mereka dengan begitu sopan nya.


"Selamat datang di toko kami, Mbak, Mas, silahkan." sambutnya sebaik mungkin.


Yoga dan Anin tersenyum seraya mengangguk, lalu masuk setelah dipersilahkan. Salah satu pelayannya lagi langsung menyapa keduanya dengan sambutan yang serupa.


"Mau cari jam apa, Mas, Mbak?" tanyanya.


"Tolong perlihatkan jam tangan dibawah harga dua puluh juta." ucap Yoga yang langsung di iyakan oleh si karyawan.


"Ini, Mas."


Yoga menerimanya lalu melihat dengan detail setiap sisi dari jam tangan tersebut. "Kualitasnya?"


"Jam tangan ini tentunya kualitasnya sangat baik, Mas, karena jam tangan satu ini dibuat dengan bahan dasar stainless steel sehingga tidak akan mudah berkarat."


Yoga menganggukkan kepalanya lalu melirik pada sang kekasih untuk meminta pendapat. "Sayang, bagaimana menurutmu?"


"Bagus kok, aku suka." jawab Anin, namun ucapan Anin sedikit disalahartikan oleh Yoga.


"Kamu suka? Ya, udah buat kamu aja." Lantas Anin langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Hah? Enggak, maksud aku itu, aku suka sama pilihan kamu, bukan suka ataupun mau sama jam tangannya." ucap Anin mengklarifikasi.


Yoga meringis. Ternyata pemikirannya salah. Inilah yang ia sukai dari seorang Anin. Kekasihnya tersebut beda dari wanita-wanita lain. Anin gadis yang tidak pernah memanfaatkan sesuatu. Ya, walaupun Yoga sedikit mampu memberikan apa yang Anin mau, tapi Anin selalu menolak dengan alasan tidak membutuhkannya. Kalaupun mau, Anin lebih memilih barang-barang yang lebih murah dan tentunya irit di kantong.


"Ya, sudah, Mbak. Saya pilih yang ini saja." putusnya.


Karyawan toko mengangguk dengan senangnya, lalu meraih jam tangan tersebut untuk di masukan kedalam kotaknya.


"18, 790.000 rupiah, Mas."


Yoga menyerahkan kartu ATM nya. Setelah transaksi selesai, keduanya pun mengucapkan terimakasih lalu pergi untuk mencari hadiah yang lain.


"Kamu mau cari hadiah apa buat Papa?" tanya Yoga.


Anin tampak berpikir sebentar lalu menjawab. "Gimana kalo dasi aja?" tanyanya meminta persetujuan.


"Boleh tuh, biar aku aja yang bayar ya." Sontak Anin langsung menggeleng cepat.

__ADS_1


"Ya, enggak boleh lah. Kan yang mau ngasih hadiah, aku. Kalo kamu yang bayar sama aja hadiah dari kamu." kata Anin dengan mimik bete.


Yoga terkekeh lalu mencubit hidung kecil Anin dengan gemas. "Ya, udah kalo itu mau kamu. Tapi kalo misal butuh apa-apa ngomong aja sama aku. Tenang aja, ini uang aku kok bukan uang Papa."


Anin tersenyum. Tentu saja ia tahu kenapa Yoga berkata demikian. Yoga memang belum bekerja di perusahaan Papa nya, tapi sudah dua tahun ini Yoga bekerja di sebuah restoran mewah milik orang tua teman kuliahnya. Setelah lulus nanti, baru Yoga akan bekerja di perusahaan milik papa nya yang berada tidak jauh dari apartemen nya.


"Iya, aku tahu kok. Ya, udah ayo masuk!" Anin pun langsung menarik tangan kanan Yoga membawanya masuk ke toko pakaian formal.


Anin dan Yoga pun kemudian disibukkan memilih dasi yang cocok yang menurut keduanya akan disukai oleh Papa nya Yoga. Tak sampai disitu, setelah mendapatkan dasi yang diinginkan, Yoga langsung membawa Anin ke butik untuk membelikan sesuatu yang nantinya bisa dipakai oleh Anin saat menemui Papa nya.


...***...


...Pukul 19.15 WIB...


Mobil mewah dengan body yang terlihat sangat mengkilat, berhenti tepat didepan sebuah rumah yang terlihat sangat megah. Anin sampai melongo melihat betapa mewah rumah kekasihnya itu.


Tentu saja Anin terpukau. Selama tiga tahun menjalani hubungan asmara dengan Yoga, baru kali ini Anin berani datang ke rumah sang kekasih. Karena dulu-dulu saat Yoga mengajaknya ke rumahnya, Anin selalu menolak dengan alasan belum siap. Dan Yoga pun memaklumi nya karena Anin sendiri tergolong orang kurang mampu, atau lebih tepatnya dari kalangan bawah. Sehingga Yoga beranggapan kalau kekasihnya tersebut sungkan datang ke rumahnya. Namun setelah ia membujuk Anin dengan usaha yang tidak mudah, akhirnya Anin mau juga diajak ke rumahnya untuk dikenalkan pada sang Papa.


"Ayok!" Anin tersentak saat sebuah tangan sudah menyambut dihadapannya. Dengan sedikit gugup Anin meraih tangan Yoga lalu keluar dengan sangat hati-hati.


"Jangan gugup, rileks aja." ucap Yoga menenangkan sembari mengelus pipi kiri Anin.


Anin tersenyum lalu mengangguk. Setelahnya menghirup udara banyak-banyak lalu menghembuskan nya perlahan. "Bismillah.."


Yoga mengangguk dengan ekspresi datarnya lalu melingkarkan tangan kanan Anin pada pergelangan tangannya. "Ayo, sayang."


Dengan gugup Anin mengangguk lalu berjalan sejajar dengan Yoga. Anin sedikit bingung karena Yoga tidak biasanya berekspresi dingin seperti itu. Apakah pada para pelayan memang seperti itu?


Anin tersenyum ramah pada para pelayan saat melewati mereka, begitupun para pelayan membalas senyuman Anin dengan senang.


"Dimana Papa?" tanya Yoga sesaat setelah duduk di sofa ruang keluarga.


Salah satu pelayan maju, kemudian berkata. "Ada di taman belakang, tuan. Kalau begitu saya panggilkan dulu." ucapnya. Namun sebelum berbalik, Yoga langsung mencegahnya.


"Tidak perlu, biar saya dan kekasih saya saja yang ke belakang." tuturnya.


Yoga langsung mengajak Anin dan membawanya ke taman belakang. Papa nya memang terkenal dengan sosok yang gila kerja, tapi di setiap tanggal ulang tahunnya, Papa nya itu selalu menyempatkan diri untuk merayakan ulang tahunnya sendiri di taman belakang. Tempat yang selalu menjadi area saat mendiang istrinya selalu memberikan kejutan ulang tahun padanya.


Anin terpana melihat dekorasi taman yang terlihat sangat indah dan estetik. Lampu-lampu hias tergantung dimana-mana membuat suasana taman terlihat sangat romantis. Ditambah bunga-bunga segar yang terhias dimana-mana menambah kesan keindahan taman tersebut. Tak ketinggalan juga lilin-lilin hias yang terletak di atas rumput taman yang membentuk menyerupai hati. Ternyata calon mertuanya sosok yang romantis.


Astagfirullah! Apa yang kamu pikirkan Anin!

__ADS_1


Yoga tersenyum saat mendapati keberadaan Papa nya. Jujur ia sangat merasa kasihan setiap kali melihat raut kesedihan di wajah lelaki itu. Papa nya begitu sangat mencintai mendiang sang Mama, sehingga Papa nya mengunci hatinya untuk wanita lain dan memilih menduda selama bertahun-tahun.


Dan bagi Yoga sudah biasa melihat taman belakang di dekor sedemikian rupa pada saat hari penting Papa nya itu. Tak hanya pada hari ulang tahunnya saja, Papa nya juga selalu mendekor taman saat hari ulang tahun mendiang istrinya dan juga hari ulang tahun pernikahan mereka untuk merayakan Aniversary.


"Papa.." Yoga memanggil dengan nada lembut. Takut-takut Papa nya akan terkejut jika ia memanggilnya dengan cara berteriak.


Merasa ada yang memanggilnya, sosok yang dipanggil Papa itu kemudian menoleh ke arah belakang. Seketika kedua matanya terpaku saat menangkap bola mata yang amat sangat dirindukan nya. Tapi, siapa gadis itu, pikirnya.


"Ayo." Anin mengangguk ragu saat Yoga mengajaknya. Dengan perasaan gugup Anin mengikuti langkah Yoga sedikit dibelakang.


"Selamat ulang tahun, Pa." ucap Yoga tulus lalu memeluk Papa nya dengan sayang.


Prawira Satyo Ardiantoro, lelaki yang sudah berusia kepala tiga itu tidak menanggapi ucapan selamat dari putranya, akan tetapi kedua bola matanya malah memandang dengan sangat lekat pada Anin.


Dipandang seperti itu, tentu saja membuat Anin gugup. Apalagi sosok yang dipanggil Papa oleh kekasihnya itu tidak terlihat seperti pria tua yang selama ini ada dalam pikirannya, melainkan seperti pemuda yang masih berusia dua puluhan. Terlihat sangat awet muda dan... tampan!


Anin langsung memutuskan pandangannya, lalu menundukkan wajahnya. Tiba-tiba perasaan salah tingkah melingkupi dirinya.


Yoga melepaskan pelukannya lalu meraih tangan Anin untuk mendekat padanya. "Pa, kenalin pacar Yoga. Namanya Anin."


Deg!


Entah kenapa tiba-tiba Wira merasa tidak suka mendengar kata pacar yang diucapkan oleh putranya. Hatinya merasa tidak terima saat pemilik kelopak mata itu di klaim sebagai kekasih putranya.


Namun setenang mungkin Wira menanggapi ucapan putranya. "Oh, Hai, saya Wira, Papa nya Yoga." Wira mengulurkan tangannya tentu dengan senyuman kecilnya.


Dengan gugup Anin membalas uluran tangan Wira, kemudian membalas senyumannya walaupun gugup melanda tubuhnya. Namun, sepertinya ada yang aneh, kenapa punggung tangannya serasa geli. Dan saat melihatnya, Anin terhenyak karena ibu jari milik wira tengah mengelus perlahan pada punggung tangannya itu.


Dengan cepat, Anin langsung menarik tangannya lalu mengucapkan kata maaf.


"Kenapa, sayang?" tanya Yoga saat melihat ekspresi aneh dari raut wajah Anin.


Lagi-lagi Wira merasa tidak terima saat sang putra mengucapkan kata 'sayang' pada gadis bermata cantik itu. Kelopak mata yang tiba-tiba Wira klaim sebagai miliknya.


"Maaf, Aku barusan melamun, karena teringat dengan mendiang istri saya." sela Wira, sebelum Anin berucap.


Yoga menanggapi penjelasan Papa nya dengan anggukan pelan dan ia pun memaklumi nya. Lain lagi dengan Anin yang merasa tindakan Wira amatlah kurang sopan padanya. Namun, Anin memilih melupakannya saja, mungkin saja ucapan Wira benar adanya.


"Gak pa-pa, om. Saya mengerti."


Jedar!

__ADS_1


Apa?! Aku dipanggil Om?


__ADS_2