DI JEDA!!!

DI JEDA!!!
Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak kunjungannya ke rumah Papa nya Yoga, Anin tidak berani datang ke sana lagi karena ketakutannya pada Wira. Dan hari ini Anin tengah membantu ibunya membuat kue pesanan tetangga.


Ya, aktivisnya adalah membantu ibunya membuat berbagai macam kue pesanan para pelanggannya. Kue yang dibuat tergantung jenis kue yang di pesan oleh konsumen. Tapi biasanya jenis kue yang paling sering dipesan adalah kue-kue kering.


Dan saat ini Anin dan ibunya yang bernama Wina tengah sibuk mengolah bahan-bahan mentah menjadi adonan basah. Anin lebih suka di bagian memanggang karena sedari dulu Anin memang lebih sering membantu di bagian tersebut, tapi sekali-kali Anin juga membantu di bagian lainnya supaya ibunya tidak kelelahan.


"Bu, ini kayaknya udah kering." seru Anin saat melihat kue-kue kecil di dalam oven sudah terlihat kecoklatan.


"Angkat aja, Nak. Terus masukin lagi yang udah siap." kata ibu Wina yang masih fokus mengaduk adonannya menggunakan tangan.


"Iya, Bu." Anin lantas melalukan apa yang diperintahkan ibunya. Setelahnya Anin pun kembali mengaduk adonan miliknya sembari menunggu kue yang sudah masak sedikit mendingin sebelum dimasukkan ke dalam kemasan.


Tiba-tiba suara dering handphone terdengar dari kamar Anin, kebetulan letak kamar Anin dengan dapur tidaklah jauh, maklum lah karena rumahnya berukuran kecil, tapi Anin dan ibunya sangat bersyukur karena di luaran sana masih banyak yang belum mempunyai tempat tinggal.


"Bu, Anin angkat telpon dulu ya." Anin lantas berdiri setelah mendapat anggukan dari ibunya. Setelahnya pergi berlalu meninggalkan dapur.


Bu Wina memandangi kepergian putrinya dengan tatapan yang entah bagaimana. Jujur dirinya sangat khawatir saat mengetahui putri satu-satunya memiliki hubungan khusus dengan laki-laki yang bukan dari kalangan mereka. Bukannya ia tidak bersyukur ataupun bahagia, hanya saja Wina khawatir karena yang ia tahu orang-orang dari kalangan atas itu selalu mengukur apapun dari segi bibit bebet bobot, dan salah satunya mengenai pasangan.


Tapi sejauh ini Wina sedikit merasakan ketenangan karena sosok laki-laki yang dicintai putrinya adalah laki-laki yang sangat ramah, todak sombong dan arogan seperti anak majikannya dulu.


Di kamarnya, Anin tersenyum senang saat mendapati kekasihnya lah yang menghubunginya, sudah satu minggu dirinya tidak bertemu dengan Yoga karena kekasihnya itu tengah sibuk kuliah dan juga kerja, dan Anin tidak mau mengganggunya. Lantas Anin langsung mengangkatnya sebelum kekasih manjanya itu merajuk.


"Assalamu'alaikum, Mas. Apa. Kabar?"


"Wa'alaikum salam, kok lama sih angkatnya." jawab Yoga. Benar kan, kekasihnya itu merajuk. Padahal belum lewat satu menit sedari awal handphonenya berdering.


"Hehe maaf, Mas. Aku lagi bantuin ibu buat kue. Alhamdulillah lagi banyak pesanan. Pertanyaan aku belum dijawab loh."


"Oh, kirain aku kenapa. Aku khawatir sama kamu, maaf ya aku baru sempat hubungi kamu karena seminggu ini aku sibuk banget. Kabar aku baik, kamu gimana?"


"Alhamdulillah aku juga baik, Mas. Ga pa-pa kok, aku ngerti. Sekarang lagi ngapain?"

__ADS_1


"Aku lagi rebahan aja, sayang. Makanya aku langsung hubungi kamu. Mas kangen." kata Yoga dengan nada manjanya yang berhasil membuat pipi Anin memerah.


"Emangnya kamu gak kerja?" tanya Anin, gugup.


"Kayaknya kamu butuh refreshing deh, sekarang kan hari Sabtu, sayang. Kamu lupa ya?" tanya Yoga disertai tawa kecil.


Anin tercekat, saking sibuknya membantu ibunya, ia sampai lupa sekarang hari apa. Jujur saja, selama seminggu ini juga Anin selalu kepikiran dengan perbuatan tak senonoh yang dilakukan Papa nya Yoga kepadanya beberapa waktu lalu.


"Halo? Masih ada kan?" Anin tersentak, lagi-lagi pikirannya selalu tertuju pada Papa nya Yoga itu.


"I-iya Mas. Ya udah kamu istirahat aja ya. Aku juga mau bantuin ibu lagi." ucap Anin mengalihkan.


Terdengar helaan nafas, rupanya Yoga masih ingin mendengarkan suara lembut Anin, tapi mau bagaimana lagi, Anin punya kesibukannya sendiri.


"Ya udah gak pa-pa, kalo gitu aku juga mau istirahat ya. Nanti malam aku ke rumah kamu. Kita malmingan hehe."


Anin geleng-geleng kepala, ia hanya mengiyakan saja karena ia pun sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu.


Setelah sambungan terputus, Anin lantas kembali lagi ke dapur sebelum ibunya mengambil alih adonan miliknya. Anin tidak ingin ibunya kelelahan, apalagi sekarang usia ibunya sudah tidak muda lagi, dan ibunya pun sudah sering sakit-sakitan karena akibat terlalu kelelahan.


Malam harinya, benar saja Yoga datang ke rumahnya. Kedatangannya sudah tidak aneh lagi bagi tetangga di sana karena Yoga sudah sering berkunjung ke rumahnya Anin. Namun ada beberapa yang kurang menyukainya, apalagi para tetangga yang mempunyai anak gadis, mereka iri karena gadis-gadis nya tidak seberuntung Anin yang bisa mendapatkan laki-laki kaya dan tentunya sangat tampan.


Tentu saja para tetangga mengklaim kekasih Anin itu kaya, karena Yoga selalu datang menggunakan mobil mahalnya yang terlihat sangat mengkilat, apalagi saat diterpa sinar matahari jika siang hari.


"Assalamu'alaikum." ucap Yoga sembari mengetuk pintu. Rumah Anin memang berbeda dengan yang lain. Dimana rumah tetangganya di jam segini masih tampak ramai di terasnya, sedangkan rumah Anin sudah terlihat sepi, sampai-sampai orang lain beranggapan si pemilik rumah pastinya sudah tertidur nyenyak, padahal sebenarnya belum.


"Wa'alaikum salam.." Akhirnya suara yang sangat di rindukan nya itu terdengar menyahut dari dalam rumah.


Pintu terbuka dan tampaklah senyum manis Anin yang menyambutnya dengan begitu tulus, senyuman yang selalu menggetarkan hati Yoga.


"Kirain aku gak jadi datang, ayo masuk." Anin memberikan jalan dan mempersilahkan Yoga masuk, pintu dibiarkan terbuka agar tidak menimbulkan fitnah.

__ADS_1


"Eh, Nak Yoga. Apa kabarnya?" tanya ibu Wina tersenyum ramah. Kedatangan Yoga tidak membuatnya terkejut karena Anin sudah memberitahukannya akan kedatangan kekasih putranya tersebut.


"Alhamdulillah, Yoga sehat, Bu. Ibu kabarnya gimana?"


"Alhamdulillah, kabar ibu juga baik. Eh silahkan duduk. Ibu buatkan minum dulu ya."


Yoga hanya mengangguk, lalu duduk di kursi yang terlihat sudah sobek-sobek di beberapa bagian. Anin juga duduk si kursi lainnya sengaja mengambil jarak jauh karena dirumahnya tidak bisa sebebas di luaran sana yang bisa dekat-dekat dengan Yoga. Ya, walaupun sebenarnya Yoga lah yang sering mepet-mepet padanya.


"Kok jauh amat duduknya." kata Yoga seraya tersenyum jahil.


"Sengaja! Kamu udah makan belum?" tanya Anin menghiraukan ucapan Yoga.


"Belum, makanya aku datang ke sini. Aku mau ajak kamu makan malam di luar. Mau ya?" ajak Yoga, lebih tepatnya memohon.


Anin tampak terdiam seraya menatap pada Yoga. "Tapi, ibu aku sendirian di rumah. Aku gak bisa ninggalin ibu sendirian lagi."


"Pergi aja, Nak. Ibu gak pa-pa kok. Yang penting pulangnya jangan kemalaman." tiba-tiba suara ibunya menyahut. Bu Wina meletakkan teh hangat manis beserta kue yang di buatnya tepat di hadapan Yoga. "Diminum, Nak Yoga."


"Iya, Bu. Makasih ya." Yoga lantas menyeruput nya sedikit untuk menghargai suguhan yang sudah diberikan.


"Jadi gak pa-pa kan Bu, Yoga ajak Anin keluar?" tanya Yoga memastikan.


Bu Wina tersenyum lalu mengangguk pelan. "Iya, tapi ibu minta pulangnya jangan kemalaman ya, Nak Yoga pasti mengerti kekhawatiran ibu."


"Iya Bu. Yoga ngerti kok. Yoga pasti jagain Anin, ibu gak usah khawatir." kata Yoga serius.


"Iya, ibu percaya sama kamu. Silahkan dimakan kuenya, ibu mau ke belakang dulu ya pastinya kalian mau ngobrol berdua." katanya yang langsung membuat kedua anak muda tersebut tersenyum malu-malu.


Setelah kepergian Bu Wina. Keduanya pun mengobrol ringan membahas kegiatan masing-masing, sebelum akhirnya mereka berpamitan karena takutnya kemalaman.


Diperjalanan, keduanya tampak berbincang-bincang lagi entah membahas tentang apa, yang pasti keduanya terlihat sangat bahagia. Sebelum pada akhirnya obrolan keduanya terhenti sejenak karena ada panggilan yang masuk di handphone Yoga.

__ADS_1


Saat melihat siapa yang menghubunginya, ternyata Papa nya lah yang menelponnya.


"Iya, Pa. Ada apa?" tanya Yoga.


__ADS_2