
Anin membantu ibunya lagi membuat kue-kue kering yang pesanannya semakin banyak saja. Kali ini ibunya mendapat pesanan kue kering jenis nastar dan dua jenis lainnya dengan total semuanya sebanyak tiga puluh kotak yang dipesan oleh konsumen.
Anin dan Bu Wina sangat antusias mengerjakan pekerjaan mereka. Untungnya saja pemesan mengatakan pesanannya untuk dikirim esok lusa saja, hal itu tentu membuat Anin dan Bu Wina merasa lega, dengan itu mereka bisa mengerjakannya berdua saja tanpa harus mencari orang lain lagi untuk membantu.
"Bu, yang ini udah matang." ucap Anin saat melihat kue di dalam oven sudah terlihat menguning keemasan. Oven yang digunakan juga bukanlah oven yang berenergi kan listrik, akan tetapi menggunakan api kompor sebagai sumber panasnya.
"Ya, sudah angkat saja. Terus masukin yang lain." jawab Bu Wina yang tengah fokus mengaduk adonan tepung secara manual alias menggunakan tangan kosong.
Anin menuruti perkataan ibunya, ia mengeluarkan yang sudah matang lalu memasukkan lagi yang masih basah, dan seterusnya seperti itu sampai mereka tidak sadar jika kue-kue yang sudah matang sudah terlihat banyak dan siap untuk segera dikemas ke dalam kotak-kotak yang sudah tersedia.
Tok
Tok
Tok
"Paket!"
Anin dan Bu Wina saling pandang saat mendengar teriakan seseorang dari depan rumah.
"Kamu pesan paket?" tanya Bu Wina.
Anin menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bu."
Kening Bu Wina mengerut. Jika bukan putrinya, lantas siapa yang memesan? Ia pun merasa tidak memesan apapun, apalagi via online karena ia tidak bisa menggunakan handphone.
"Coba kamu cek dulu, mungkin saja salah alamat." titahnya. Anin mengangguk lalu berlalu meninggalkan dapur.
Dibukanya pintu teras dan tampaklah seorang laki-laki muda menggunakan jaket hitam beserta masker yang menutupi setengah wajahnya. Ditangan kanannya terlihat seikat bunga mawar putih yang terlihat masih sangat segar, sedangkan ditangan kirinya tergantung sebuah paper bag berukuran kecil.
"Selamat pagi, Mbak. Apa benar ini dengan rumah Mbak Anin?" tanyanya.
Anin mengangguk, "Iya, saya sendiri."
"Ini ada paket buat Mbak, mohon diterima ya." pria tersebut langsung mengulurkan bunga dan paper bag tersebut.
Anin menerimanya walaupun terlihat ragu. "Ini dari siapa ya? Saya gak pesan paket soalnya, Pak." akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.
"Saya kurang tau, Mbak. Saya hanya bertugas mengantarkan saja. Dan ini, tolong tanda tangani di sini ya sebagai tanda terima."
Anin tampak tak puas mendapat jawaban itu. Tapi mungkin saja kurir tersebut memang tidak mengetahuinya, pikirnya. Dan Anin pun menandatanganinya.
Setelah itu, kurir tersebut langsung pamit setelah Anin mengucapkan kata terimakasih. Tapi yang membuat Anin terkejut, kenapa kurir itu menaiki mobil yang terlihat sangat mewah? Bukannya kendaraan roda dua yang biasanya digunakan oleh para pengantar paket.
Kenapa aku baru sadar kalo di sana ada mobil mewah? Tapi, aku seperti pernah melihat mobil itu, tapi dimana ya?
Tak mau banyak berpikir, Anin langsung saja masuk kembali dan menghampiri ibunya lagi.
"Itu kiriman bunga dari siapa, Nak?" tanya Bu Wina saat Anin datang lalu meletakkan bunga dan paper bag itu di sampingnya.
"Gak tau, Bu. Anin juga belum liat isinya." ucapnya jujur, karena Anin memang belum melihatnya sedikitpun.
__ADS_1
"Kenapa gak dibuka? Siapa tau itu dari Nak Yoga." kata Bu Wina yang langsung membuat Anin tampak berpikir.
Apa mungkin?
"Iya, Bu." Anin meraih kembali paper bag tersebut lalu membukanya perlahan.
Sebuah kotak merah bertali kan pita berwarna emas. Anin mengambilnya lalu membuka ikat tali pita tersebut. Matanya berbinar saat melihat berbagai bentuk coklat yang terlihat sangat lucu menyerupai beragam bunga.
"Coklat, Bu. Dari siapa ya?" kata Anin senang. Anin melihat sebuah amplop kecil dibalik tutup kotak.
"Coba buka amplopnya, kayaknya itu ditempel." ujar Bu Wina yang tampak masih keheranan.
Anin mengangguk lalu membuka amplop tersebut. Dan memang benar, isinya adalah sebuah kertas yang dilipat yang tak lain adalah surat.
Perlahan Anin membukanya, dan terlihatlah sebuah tulisan yang terlihat sangat rapi dan cantik.
Hai, sayang....
Kalau kamu sudah membuka surat ini, berarti kamu sudah menerima coklat dan bunga itu. Bagaimana, apa kamu suka? Aku membelinya khusus untukmu. Semoga saja kamu suka ya.
Kamu simpan bunganya ya, supaya saat kamu rindu padaku, kamu bisa menghirup aromanya. Dan jangan lupa, dimakan juga ya coklatnya. Tapi jangan banyak-banyak nanti gigimu sakit, hehe.
Salam sayang dariku.
(### P)
P? Prayoga?....
"Dari Mas Yoga, Bu." ucap Anin memberitahukan ibunya.
Bu Wina tersenyum lega. "Syukurlah, ibu takut kalo kiriman itu dari orang yang tak dikenal. Ya, sudah, kamu simpan dulu bunga sama coklatnya, takutnya rusak kalo diletakkan di situ."
Anin mengangguk. "Iya, Bu. Kalo gitu Anin ke kamar dulu, ya." Anin langsung membenahi kotaknya, lalu membawa semuanya ke dalam kamarnya sembari tersenyum-senyum bahagia.
Melihat itu, Bu Wina hanya bisa geleng-geleng kepala. "Dasar anak muda." gumamnya.
.
.
.
"Bagaimana? Apa dia menerimanya?" tanya Wira yang tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya.
"Sudah, Bos. Beres." terdengar suara itu dari handphone nya.
"Kerja bagus! Dan untuk bayaran mu, sudah saya kirimkan ke rekening mu."
"Siap, Bos. Terimakasih banyak."
"Ya." Wira langsung mematikan sambungan telepon nya. Diletakkan nya handphone nya, Wira tersenyum sembari mengelus dagunya yang terlihat berburu tipis, mungkin karena sudah dicukur.
__ADS_1
"Semoga suka, sayang." gumamnya tersenyum senang.
Wira membayangkan kembali ekspresi-ekspresi Anin saat bertemu dengannya. Gadis itu tampak ingin menjauhi darinya, bahkan ekspresi wajahnya juga seperti orang yang terlihat jijik padanya. Tapi, itulah yang membuat Wira suka, ia merasa tertantang untuk menaklukkan hati Anin, dan mendapatkan seluruh perhatian gadis itu.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat lamunan nya langsung terputus, Wira menatap kesal ke arah daun pintu yang dibaliknya terdapat seseorang yang berani membuyarkan bayangan indahnya.
"Boleh saya masuk, Bos?" tanya seseorang dari luar sana.
"Ya!" jawab Wira terdengar kesal.
Setelah mendapat izin, pintu pun langsung terbuka. Terlihat lah seorang pria berbalut jas yang terlihat lumayan tampan.
"Maaf Bos, saya menganggu waktunya. Di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bos. Orang itu mengatakan kalau dirinya putranya Bos." ucap Reno yang bertugas sebagai sekretaris Wira.
Memang belum ada satupun yang tahu siapa putra dari pengusaha kaya raya tersebut, Wira sengaja menyembunyikan identitas putranya demi keamanan Yoga yang ingin hidup bebas di masa remaja.
Karena saat kecil, banyak sekali saingan bisnis yang ingin menghancurkannya, baik melalui putranya maupun istrinya. Dan karena hal inilah ia sekarang menjadi seorang duda. Beberapa tahun silam istrinya meninggal karena menjadi korban penculikan dari saingan bisnisnya yang tak lain adalah sahabat dekatnya sendiri. Istrinya menjadi korban penculikan yang dipergunakan untuk bahan ancaman.
Sayangnya, Wira tidak bisa menyelamatkan istrinya yang saat itu ingin menyelamatkannya dari peluru yang tengah melesat pada dirinya. Hingga pada akhirnya, istrinya lah yang harus meregang nyawa karena malah istrinya yang terkena tembakan itu.
Karena itulah Wira tidak ingin memberitahukan identitas putranya, semua tentang Yoga ia tutup rapat-rapat. Beruntung kampus tempat kuliah putranya juga adalah gedung miliknya. Jadi semuanya aman terkendali sampai saat ini. Hingga pada akhirnya ia akan membebaskan Yoga dari perlindungannya jika putranya itu sudah memiliki kekuatan dan keberanian sendiri.
"Suruh untuk masuk!" titahnya.
Mendapat titah itu, Reno langsung mengiyakan dan kembali keluar. Tak lama kemudian orang yang dimaksud pun masuk.
"Pagi, Pa." sapa Yoga.
"Pagi, duduk!" balas Wira mempersilahkan.
Yoga menurut lalu duduk di sebrang meja. "Yoga kira Papa gak kerja di akhir pekan."
"Memang seharusnya seperti itu, semua karyawan Papa libur, hanya Papa dan asisten Papa yang tetap bekerja." jawab Wira sembari meneliti penampilan putranya.
Yoga mengangguk. "Yoga baru tahu."
"Karena kamu terlalu sibuk pacaran sama kuliah, sampai-sampai kamu tidak memperhatikan Papa mu sendiri." sindir nya.
Dan memang itulah kenyatannya, Yoga terlalu fokus pada kegiatan kuliah dan kekasihnya, sampai-sampai ia lupa terhadap Papa nya yang juga ingin diperhatikan olehnya walaupun dalam bentuk perhatian kecil.
"Hehe, maafin Yoga, ya, Pa." ucap Yoga terlihat merasa bersalah.
"Ada keperluan apa kamu datang ke sini? Apa sudah siap mengenai tawaran semalam?" tanyanya.
Yoga terdiam sesaat terlihat meyakinkan dirinya sendiri. Terdengar helaan nafas syarat akan kebimbangan. "Iya, Pa. Yoga sudah siap."
__ADS_1