
Anin duduk dengan perasaan gelisah dan tidak tenang. Bagaimana ia bisa tenang, jika duda beranak satu itu terus menatapnya dengan tatapan intens. Yoga sendiri kenapa belum kembali, padahal waktu sepuluh menit sudah berlalu sejak kekasihnya itu ijin menerima telpon.
"Kenapa gugup seperti itu?" suara berat dan sedikit serak itu tentu saja mengagetkan Anin yang sedari tadi memandang ke arah ruangan yang menjadi tempat berlalunya Yoga.
Astagfirullah..
"E-nggak pa-pa kok, om." Anin memilih menunduk sembari mere-mas jari-jari tangannya yang terlihat mungil.
Wira tersenyum, tentu ia menyadari gadis tersebut tengah gugup padanya. Di liriknya ruang tamu yang menjadi tempat putranya berlalu. Dirasa aman, Wira langsung beranjak dari tempatnya lalu duduk kembali tepat di samping Anin.
Keberadaan Wira yang tiba-tiba duduk di sampingnya tentu saja membuat Anin tersentak kaget.
"Sssttt.. Jangan berisik, nanti Yoga tau." ucap Wira dengan suara lirih sembari menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Anin menelan ludah dengan susah payah. Jarak Wira padanya sungguh sangat dekat, sehingga membuat Anin hanya bisa mematung.
"Om... Ma-mu ngapain?" Anin berusaha menjaga jarak dengan menggeser tubuhnya, namun ia dibuat tersentak saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
"Om! Jangan macam-macam ya!" sentak Anin, namun Wira langsung menutup mulut Anin menggunakan tangan kanannya. Sontak saja jarak keduanya terlihat semakin intim.
"Jangan berisik kalo kamu tidak mau kekasihmu melihat kita dalam posisi seperti ini." ancam Wira dengan suara lirih.
Anin langsung terdiam, tentu saja ia tidak mau jika sampai Yoga memergokinya dalam keadaan seperti ini, Anin takut Yoga akan salah paham padanya. Dan dengan ragu Anin pun mengangguk.
Wira tersenyum puas, ternyata gadis dihadapannya ini sangat mudah untuk diancam. Kemudian Wira melepaskan bekapan tangannya. Namun, ibu jarinya itu malah mengelus bibir bawah Anin dengan sensual.
Lagi dan lagi Anin dibuat tersentak dengan perbuatan tak senonoh dari Wira. Ia tak menyangka Papa nya Yoga akan bersikap tidak sopan padanya.
"Lepasin! Om jangan kurang ajar ya!" ucap Anin setengah berteriak.
Bukannya merasa bersalah, Wira malah menampakkan seringai-an misterius nya. "Apapun yang aku inginkan akan secepatnya menjadi milikku." ucapnya pelan namun terkesan dingin.
Kemudian Wira pindah kembali ke tempat semula saat mendapati putranya sudah kembali dari kejauhan.
__ADS_1
"Maaf ya, tadi ada telpon dari temen aku." kata Yoga merasa tidak enak pada kekasihnya, begitupun pada Papa nya.
"Tidak apa-apa, Papa senang kok ngobrol sama gadis cantik ini." Wira menjawab dengan begitu santainya. Namun dibalik perkataannya tersebut ada sebuah pesan yang tersirat.
Anin sendiri hanya terdiam menunduk, ia masih syok dengan perbuatan Wira yang tidak mengenakan beberapa saat lalu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Wira saat mendapati Anin hanya diam tertunduk.
Anin terhenyak. "Ee... Aku gak pa-pa kok, Mas."
"Syukurlah, aku kira ada apa. Kalo ada apa-apa ngomong aja sama aku, gak usah didiemin, ngerti?"
Anin hanya menanggapinya dengan anggukan pelan, ia masih belum berani menatap pada Wira, biarlah jika Yoga menganggapnya tidak sopan. Sedangkan Wira hanya menatap datar pada Anin karena merasa tak suka Anin memanggil putranya dengan sebutan 'Mas'
"Oh iya, Pa. Ini buat Papa." Yoga menyerahkan paper bag kecil yang berisikan jam tangan yang dibelinya siang tadi.
Wira mengalihkan tatapannya pada paper bag yang terulur di hadapannya, lalu meraihnya dengan berekspresi senang, padahal dalam hatinya Wira merasa amat sangat dongkol. Wira pun tidak mengerti ada apa dengan hati dan tubuhnya. Sejak pertama kali melihat gadis yang diperkenalkan sebagai kekasih putranya itu, Wira langsung jatuh cinta dan ingin memilikinya. Padahal sebelum-sebelumnya banyak sekali wanita yang mengantri ingin diperistri olehnya, tapi satupun tak ada yang berhasil menggantikan sang mendiang istri di hatinya. Apakah karena kelopak mata itu?
"Pa, kok ngelamun?" tanya Yoga.
"Oh iya, sama-sama, Pa. Semoga suka, ya. Maaf Yoga beli yang murah, soalnya tabungan Yoga belum banyak hehe."
"Gak pa-pa, mau murah ataupun yang mahal, yang terpenting bisa digunakan." jawabnya bijak. Sehingga membuat Yoga tersenyum semakin senang, begitupun dengan Anin yang sedikit menyunggingkan bibirnya.
"Oh iya, Pa. Ada satu lagi." kata Yoga, lalu melirik pada Anin yang juga tengah melirik padanya.
Dengan kode gerakan alisnya, Yoga mempersilahkan Anin memberikan hadiah yang ingin Anin berikan pada Papa nya. Perasaan gugup pun tiba-tiba menghampiri Anin lagi. Namun dengan sebisa mungkin Anin bersikap setenang mungkin supaya Yoga tidak menyadari kegugupan nya.
"I-ini, om. Se-semoga suka." ucap Anin gugup, tangannya pun sampai gemetaran saat mengulurkan paper bag nya.
Lain lagi dengan Wira, bibirnya langsung tersenyum senang dengan naturalnya, disela-sela mengambil paper bag nya, Wira mencuri kesempatan lagi mengelus punggung tangan Anin.
Astagfirullah.. Sepertinya aku harus segera pulang..
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya, padahal tidak usah repot-repot. Dengan kedatangan mu saja om sudah sangat bahagia."
Yoga tersenyum senang, ia bahagia Papa nya menyukai Anin, itu berarti dirinya tidak akan susah mendapat restu dari Papa nya. Sedangkan saat ini pikiran Anin malah kemana-mana, Anin tentunya mengerti apa arti ucapan dari Wira.
"Anin gadis baik, Pa. Tentu saja Papa akan langsung suka padanya." ucap Yoga memuji kekasihnya.
"Ya, Papa sangat menyukainya." sambung Wira dengan menatap dalam pada Anin.
"Mmmm, Mas. Sepertinya aku harus segera pulang. Takutnya ibu menunggu ku di rumah."
Sejujurnya Yoga masih ingin bersama Anin, tapi karena Yoga tahu Anin hanya tinggal berdua dengan ibunya, jadi Yoga langsung mengiyakan karena pastinya ibunya Anin sendirian di rumahnya. Apalagi Anin tinggal di sekeliling warga yang masih berpikiran kolot, yang dimana seorang gadis tidak boleh berkeliaran malam-malam apalagi sampai tidak pulang.
"Ya, udah. Kalo gitu pamit dulu sama Papa."
Ragu-ragu Anin menatap pada Wira yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang membingungkan.
"Om, Anin pamit pulang ya. Te-terimaksih sudah mengijinkan Anin bertamu. Semoga sehat selalu."
Dengan tidak ikhlas Wira menganggukkan kepalanya. "Aku senang kok, terimakasih juga hadiahnya ya, kapan-kapan mampir lagi. Om tunggu."
Anin hanya menganggukkan kepalanya, entahlah.. sepertinya ia tidak akan berani lagi masuk ke istana ini, yang sekarang baginya sudah seperti kandang singa. Bahkan sepertinya lebih berbahaya dari si raja hutan itu.
"Kalo gitu Yoga anterin Anin, ya, Pa. Yoga juga sepertinya langsung pulang ke apartemen aja."
"Ya, sudah. Hati-hati, ya. Jangan kebut-kebutan." pesannya.
Yoga mengernyit, perasaan Papa nya tidak pernah berkata seperti itu setiap kali ia akan pergi, barang sekalipun. Namun, Yoga memilih menghiraukan nya saja. Mungkin Papa nya sedikit mulai memperlihatkan perhatiannya padanya.
"Iya, Pa. Kami pergi ya. Ayo, sayang." Yoga langsung merangkul Anin yang tentunya membuat Wira panas.
"Duluan, om. Permisi." Wira hanya mengangguk. Lalu Yoga dan Anin pun berlalu meninggalkan ruangan.
Wira duduk kembali lalu meraih hadiah pemberian dari Anin, Wira membukanya lalu tersenyum senang saat mendapati sebuah dasi berwarna merah maroon, yang memang adalah warna kesukaannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang sudah bergerak menjauh. Kemudian Wira menyunggingkan senyuman misterius nya. "Kamu akan menjadi milikku, Anin!"