DI JEDA!!!

DI JEDA!!!
Kecurigaan Yoga


__ADS_3

Anin kini memilih duduk di samping kiri Yoga, setelah sebelumnya dirinya duduk di sisi yang lain. Melihat itu tentu saja membuat Wira tidak suka.


"Sudah, sayang?" tanya Yoga, namun Anin hanya meresponnya dengan sebuah anggukan kecil.


Yoga merasa ada yang aneh dengan kelakuan kekasihnya tersebut, namun ia urung untuk bertanya karena di sana ada Papa nya. Yoga pun memilih untuk melanjutkan makannya lagi, dan ia akan bertanya nanti saja, pikirnya.


Tak lama kemudian aktivitas makan malam pun selesai juga. Para pembantu langsung saja membereskan piring-piring kotor setelah diperintahkan untuk dibereskan oleh tuannya.


"Jadi hal apa yang mau Papa bicarakan sama Yoga?" tanya Yoga tiba-tiba, karena ia memang sudah sangat penasaran, info yang ingin disampaikan Papa nya padanya.


Deg!


Wira terdiam, tentunya ia tidak tahu harus menjawab apa karena sebenarnya tidak ada hal apapun yang ingin ia katakan pada putranya, semuanya hanya sandiwara dan akal-akalan nya saja supaya dirinya bisa bertemu dengan Anin.


Wira berusaha bersikap biasa saja supaya tidak menimbulkan kecurigaan pada diri putranya. "Eee, sebenarnya, Papa cuma, Papa mau mengatakan kalau gedung perusahaan yang ada di kota B akan secepatnya Papa serahkan sama kamu."


Hah, untung saja aku cepat menemukan alasan yang tepat...


Kening Yoga berkerut, tatapannya pun terlihat sedikit syok mendengar kabar itu. Apa yang dikatakan Papa nya benar-benar diluar dugaan.


"Tapi, Pa. Bukankah itu terlalu cepat? Papa sendiri tahu, kan, kalo Yoga masih kuliah." ucap Yoga.


"Iya Papa tahu, kuliah kamu kan tinggal beberapa bulan lagi, jadi selama kuliah kamu bisa sambil belajar mengurus perusahaan dulu di kantor utama. Baru setelah itu mengelola perusahaan Papa yang ada di sana."


Yoga terdiam, ia bingung, entah harus senang atau tidak. "Tapi, Pa.."


"Sudah, jangan banyak tapi-tapian, kamu sendiri, kan yang bilang ingin cepat-cepat menikahi Anin?" tanyanya, sembari melirik pada Anin yang kebetulan tengah meliriknya juga.


Bertabrakan pandangan tentu saja membuat Anin tersentak, ia langsung membuang muka ke arah lain. Melihat itu, Wira tersenyum jahil karena gemas melihat tingkah lucu gadis cantik tersebut.


Sedangkan Yoga, dirinya tampak memikirkan ucapan Papa nya. Apa yang diucapkan Papa nya memang ada benarnya juga, ia ingin segera menghalalkan Anin agar dirinya bisa terus bersama Anin di setiap waktu.

__ADS_1


Tapi, untuk saat ini ia belum punya tabungan yang cukup, ia juga harus punya pekerjaan tetap supaya nantinya ia tidak membawa Anin hidup susah. Apalagi niat menikah tak lain adalah untuk memiliki keturunan, tentu saja kebutuhannya pun semakin besar. Dan sebagai kepala rumah tangga, ia mempunyai tanggung jawab besar untuk menafkahi.


Yoga menatap Papa nya. Sebenarnya hatinya masih bimbang untuk menerima tawaran Papa nya yang lebih terdengar seperti sebuah titah.


"Baiklah, Pa. Yoga mau, tapi sesuai ucapan Papa, Yoga akan belajar mengelola dulu di perusahaan Papa." putusnya walaupun terdengar enggan.


Wira tersenyum senang, akhirnya putranya mau menerima juga tawarannya. Sekarang ia tinggal memikirkan cara lain untuk bisa lebih dekat dengan Anin. Wira akan berusaha membuat putranya sibuk supaya tidak ada waktu untuk bertemu dengan Anin lagi.


"Baguslah, Papa hanya ingin kamu bisa secepatnya mengelola salah satu perusahaan Papa, karena rasanya Papa sudah tidak sanggup lagi kalau harus mengurus semua perusahaan Papa. Tubuh Papa tidak sekuat dulu lagi." ujarnya mendramatisir.


Anin yang sedari tadi menunduk rasanya ingin meneriaki pria tersebut tepat ditelinga nya. Pria tua itu sungguh sangat pandai bersandiwara, pikirnya.


Yoga agaknya merasa bersalah dan kasihan terhadap Papa nya karena selama ini dirinya memang sedikit masih menjadi beban Papa nya. Walaupun ia sudah bekerja, tetap saja semua fasilitas yang ia gunakan masih dari Papa nya, termasuk biaya kuliah yang masih menggunakan uang Papa nya. Sedangkan uang hasil kerjanya sendiri, ia gunakan untuk keperluan-keperluan yang tidak penting.


"Maafin Yoga ya, Pa. Karena sampai sekarang Yoga masih menjadi beban Papa. Yoga janji, setelah ini Yoga akan mengurus perusahaan yang Papa berikan sama Yoga dengan baik." ujarnya terdengar tulus.


Anin melirik pada kekasihnya itu, bibirnya pun tersenyum kecil mendengar ujaran Yoga yang terdengar begitu serius dan tulus. Ia patut untuk berbangga karena mendapatkan kekasih seperti Yoga, pria yang sangat berbeda dari pemuda lainnya.


Dan gerak-geriknya itu tentunya dipantau oleh Wira, Wira menatap Anin dengan perasaan tak suka, apalagi Anin menatap putranya dengan tatapan memuja. Dan gerak-gerik Wira sendiri tentu terlihat juga oleh putranya. Yoga memandang Papa nya dengan tatapan aneh, karena ucapannya pun tak mendapatkan respon.


Wira tersentak, ia langsung berdehem untuk menormalkan keterkejutan nya. "Maaf, Papa melamun." alasannya.


Yoga sedikit merasa curiga melihat kelakuan aneh Papa nya tersebut, namun ia hanya memilih diam karena urung untuk bertanya. "Oh, iya, Pa."


Mungkin hanya perasan ku saja...


"Sudah malam, kalo gitu Yoga mau anterin Anin pulang dulu ya, Pa. Soalnya Anin gak dibolehin pulang malem-malem sama Ibu mertua."


Uhuk!


Wira tersedak mendengar ucapan terakhir putranya, pas saja ia sedang menyeruput kopi hitam saat Yoga berkata hal itu.

__ADS_1


"Masih calon!" tegasnya.


Bukannya curiga, Yoga malah terkekeh karena ia mengira ucapan Papa nya hanyalah hal biasa.


"Hehehe, Kan sebentar lagi juga Anin bakalan jadi istri Yoga, Pa. Jadi minta do'anya ya, Pa. Supaya Yoga bisa cepet-cepet nikahin Anin." pintanya seraya terkekeh.


Walaupun ragu, Wira pun menganggukkan kepalanya. "Iya, pasti."


Pasti Papa do'akan supaya kamu cepat putus sama Anin, karena Anin hanyalah milik Papa. Maafkan Papa, ya. Kamu bisa cari yang lain saja.


Yoga tersenyum senang, sedangkan Anin hanya tersenyum seadanya saja. Tentunya masih dengan berusaha untuk tidak menatap pada Wira.


"Makasih ya, Pa. Ya, sudah, Yoga pamit sekarang ya. Kasihan Anin udah ngantuk kayaknya." ujarnya, karena sedari tadi ia perhatikan, kekasihnya tersebut terus saja menunduk dan terlihat tidak bersemangat.


Sebenarnya Wira masih enggan berpisah dengan Anin, karena ia tahu Anin bukannya sudah mengantuk, tapi tengah menghindari bertatapan dengannya.


Gadis menggemaskan, sikap malu-malunya itu malah membuatku semakin jatuh cinta padanya... Kamu adalah milikku, Anin, dan selamanya akan menjadi milikku..


"Ya, sudah. Terimakasih ya, sayang, sudah mau makan malam di sini. Ke depannya kita makan bersama lagi, bisa kan?." tanya Wira yang tentunya pada Anin.


Anin yang merasa ditanya sebenarnya urung untung menjawab, tapi demi menjaga kesopanan nya dimata Yoga, ia mau tak mau harus merespon ucapan Wira walaupun tampak canggung.


"I-ya, Om." jawab Anin singkat.


Lagi-lagi Wira dibuat bete mendengar panggilan itu. Ia ingin sekali dipanggil nama atau Mas oleh Anin, tapi saat ini tentulah bukan waktu yang tepat.


Setelah menjadi milikku, kamu harus memanggilku lebih romantis lagi... Hah, Anin, Anin, kenapa dirimu begitu menggoda...


Yoga melirik pada Papa nya yang masih setia tersenyum pada Anin. Melihat itu Yoga tiba-tiba merasa cemburu. "Kalo gitu kita pamit, ya, Pa. Assalamu'alaikum. Ayok sayang."


Yoga langsung menarik tangan Anin. Dan Anin pun menurut saja karena ia pun memang sudah ingin keluar dari ruangan yang terasa pengap baginya.

__ADS_1


Wira tersenyum, rupanya ia sadar putranya tengah cemburu padanya. "Wa'alaikum salam." gumamnya.


"Hah, rasanya tidak rela melepaskannya begitu saja. I Love You, sayang." lanjutnya sembari memberikan kecupan ke udara.


__ADS_2