DI JEDA!!!

DI JEDA!!!
Pria Tua Menyebalkan!


__ADS_3

Setelah yakin menerima tawaran Papa nya. Yoga memutuskan untuk memulai belajar dari sekarang. Tapi Papa nya malah mengatakan untuk memulainya hari senin saja karena hari ini Wira beralasan sangatlah sibuk.


Yoga percaya saja karena ia melihat tumpukan-tumpukan berkas yang berserak di hadapan Papa nya.


Karena tidak ada kegiatan, Yoga pun memutuskan untuk pamit pulang karena harus melanjutkan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang ia bawa ke apartemen nya.


Tentu saja Wira langsung mengiyakan, karena memang itulah rencananya. Setelah kepulangan putranya, Wira langsung mengirim pesan pada seseorang. Setelah terkirim, Wira langsung memerintahkan salah satu bodyguard nya untuk menjemput seseorang menggunakan alamat yang akan ia kirim. Setelah selesai mengirim alamat, Wira pun memerintahkan sekretaris nya untuk menjemput gadis yang tak lama lagi akan berkunjung ke ruangannya. "Katakan saja tuan Yoga yang menunggu, mengerti?"


"Baik, Bos, saya mengerti."


Sedangkan di basement kantor, Yoga langsung menaiki mobilnya dan melajukan nya keluar dari parkiran khusus tersebut. Dan saat akan keluar dari gerbang, mobilnya tepat bersebrangan dengan mobil lainnya yang tengah melaju masuk.


.


.


.


Dan sekarang di sini lah Anin berada, di ruangan yang tak ubahnya kandang singa.


Anin melotot tajam pada seorang pria yang kini tengah menatapnya juga. Ia tak menyangka ternyata saat ini dirinya tengah masuk ke dalam perangkap Wira.


Aduh gimana ini?


"Kamu kerjasama sama dia kan?!" tanya Anin pada pria yang menjadi sekretaris Wira.


"Maaf, maksud anda apa, ya?" tanya balik Reno tidak tahu apa-apa. Karena memang ia tidak tahu apa-apa, ia hanya melakukan apa yang diperintahkan bosnya.


"Jangan pura-pura! Kamu pasti kerjasama kan, sama pria tua itu?" tanya Anin lagi dengan sorot matanya yang semakin tajam.


Galak sekali...


"Maaf nona, saya tidak mengerti apa yang nona maksud. Saya di sini hanya sekedar menjalankan tugas saja." ujar Reno dengan raut heran.


Anin mendengus, ia masih tidak percaya dengan ucapan pria tersebut. "Antar kan saya keluar!" pinta Anin yang lebih terdengar memerintah.


"Apa? Tidak bisa nona! Tuan sudah menunggu anda di dalam. Saya juga bisa dipecat kalau nona tidak menemui tuan terlebih dahulu." ujar Reno tampak panik.


"Saya tidak peduli! Pokoknya antar kan saya keluar! Atau saya laporkan anda ke polisi atas tuduhan penculikan!" ancam nya sembari mengacungkan telunjuknya pada sekretaris tersebut.


Reno menelan ludahnya dengan susah payah, ternyata wanita dihadapannya sangatlah ganas. Tidak seperti penampilannya, terlihat lembut dan kalem.


Cantik sih, tapi garang... Siapanya si bos sih? Ini lagi, gimana nyuruh masuknya kalo galak kayak gini? Apa dipaksa aja?


"Apa?!" sentak Anin saat melihat gerak-gerik Reno yang akan menyentuhnya.


Reno tersentak. "Aaa, tidak-tidak. Hehe, maaf." jawabnya cengengesan.

__ADS_1


"Buruan antar saya keluar!" bentak Anin lagi. Lalu berjalan tergesa ke arah lift.


Aduh bos, keluar dong bos...


"Bos! Mangsa mau kabur!" teriak Reno pada atasannya yang entah kenapa malah betah di dalam.


Sekian detik kemudian, pintu pun terbuka. Tampaklah Wira yang malah terlihat santai. "Dasar bodoh!" umpat nya pada sekretaris nya tersebut.


Reno hanya bisa meringis. Sedangkan Wira langsung berjalan santai menghampiri Anin yang sudah berdiri didepan lift.


"Aduh, ini gimana bukanya ya?" gumam Anin panik. Ia tadi hanya diberitahukan kegunaan-kegunaan tombol yang ada di dalamnya. Sedangkan diluar?


"Open! Ya, Open artinya buka. Open mana open..." Anin terus bergumam sembari mencari tombol bertuliskan kata itu.


Gerakannya yang panik tentu saja membuat dirinya tidak bisa terlalu fokus.


"Mau kemana, sayang?"


Deg!


Suara itu!


Anin menelan saliva dengan susah payah. Suara itu adalah suara yang paling ingin dihindari nya.


"Hey, kenapa diam? Apa kamu tidak merindukan ku?" ucap Wira lagi menatap punggung Anin yang masih setia membelakangi nya.


Dengan memberanikan diri, akhirnya Anin membalikkan badannya. Ia mengangkat wajahnya dan langsung memberikan tatapan tajam pada Wira.


"Sebenarnya mau om apa sih? Ini udah kelewatan! Apa om gak kasihan sama anak om karena sudah berani-berani menggoda kekasihnya!" akhirnya Anin berani bersuara. Ia sudah sangat muak menghadapi kelakuan Wira yang kelewat batas dan juga sangat mesum.


Wira mengangkat sebelah alisnya, bibirnya pun tersenyum miring. "Menggoda? Siapa yang menggoda mu? Ah aku tau, aku memang sangat menggoda, wajar saja kalau kamu tergoda oleh ketampanan ku." ucapnya penuh percaya diri.


Anin melotot tak percaya mendengar ucapan Wira, sebenarnya pria tersebut sehat atau gila?


"Om!" sentak Anin. Ia sungguh gemas ingin mencakar wajah pria menyebalkan itu.


"Apa? Mau peluk?"


"Aaarggh!" sungguh, Anin ingin sekali mencakar wajahnya.


"Jangan berteriak seperti itu, teriakan mu seperti desa*han yang membuat ku terangsang." ujarnya sembari tersenyum nakal.


Oke, Anin sudah tidak ingin bersikap sopan lagi padanya.


"Aaarggh! Pria tua gila! Mati kau! Dasar mesum! Cabul!" Anin langsung menyerang Wira dengan pukulan bertubi-tubi.


Mendapat serangan mendadak bukannya membuat Wira panik, tapi dia malah diam membiarkan Anin memukulinya. Bahkan, pukulan Anin malah membuatnya tersenyum senang.

__ADS_1


Anin berhenti, ia menatap tajam Wira yang juga tengah menatapnya santai, sempat-sempatnya pula Wira menggodanya dengan mengangkat-angkat kedua alisnya.


"Udah?" tanya Wira tersenyum menyebalkan.


"Aaarggh mati kau!" Anin menyerang kembali tubuh Wira dengan pukulan-pukulan nya yang malah terasa seperti sentuhan erotis bagi Wira.


"Hahaha, sudah dulu sayang main-mainnya. Kamu pasti capek. Mending lanjut di dalam saja ya. Ayok!" Wira mencoba menarik tangan Anin, namun Anin malah langsung menepis nya.


"Jangan berani sentuh aku! Dasar gila!" Anin mundur, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari jalan keluar, Anin tidak ingin dekat-dekat dengan pria mesum tersebut.


"Sayang sekali tidak ada akses keluar lain selain lift ini. Jadi sudah ya menyerah saja. Sekarang ikut aku ke dalam, aku tidak akan macam-macam kok sama kamu selain satu macam saja." goda nya seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan harap! Aku gak akan mau satu ruangan sama pria gila kayak kamu!"


"Kalo satu kamar?"


"Kamu!" Anin mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ingin sekali ia menjambak rambut pria gila tersebut.


"Hehe, aku becanda kok. Jangan marah kayak gitu, menggemaskan tau." santai sekali ucapannya. Anin benar-benar dibuat frustasi menghadapinya.


Anin menyerah, ia tidak tahu harus berbuat apalagi supaya Wira mau melepasnya dan membiarkannya pulang.


Anin memilih diam sejenak untuk menenangkan pikirannya, ia harus berpikir dalam keadaan tenang. Supaya ide brilian bisa cepat muncul di otaknya.


Tring!


Anin tersenyum samar saat melihat sebuah lorong, sepertinya ada jalan keluar dari sana, pikirnya.


Kenapa aku baru kepikiran, di gedung pasti ada tangga darurat kan? Semoga aja itu jalannya...


Anin menatap pada Wira yang rupanya tengah menatap menyelidik padanya.


Kenapa liatin akunya kayak gitu banget sih...


"Kenapa?" tanya Wira dengan suara menyelidik nya.


Anin terhenyak. "Hah? Enggak ada, gak kenapa-kenapa kok."


Anin tiba-tiba menatap terkejut ke arah belakang Wira, apa yang dilihatnya sungguh membuatnya syok.


"Om! Dia pingsan!" teriaknya panik. Sontak saja langsung membuat Wira melongok ke belakangnya.


Wira mengernyit, tidak ada siapapun di belakangnya lalu siapa yang dimaksud Anin? Atau jangan-jangan!


Wira langsung memutar kepalanya. Dan benar saja, Anin telah menipunya. Wira langsung mengedarkan pandangnya dengan begitu panik. Dan diujung loro, ia melihat siluet gadis itu.


"Aniiiiiiinn...."

__ADS_1


__ADS_2