DI JEDA!!!

DI JEDA!!!
Wira Yang Nakal


__ADS_3

"Iya, Pa. Ada apa?" tanya Yoga.


"Kamu lagi dimana? Ada yang mau Papa bicarakan sama kamu."


"Yoga lagi diluar Pa, sama Anin. Maju makan malam." kata Yoga yang langsung membuat Wira tersenyum senang.


Tiba-tiba saja otak cerdasnya bekerja dengan sangat baik saat mendapatkan ide nakal untuk menjerat mangsa empuknya.


"Kalo gitu makan malamnya di rumah aja, sekalian Papa mau bicara, penting." ucap Wira sembari menekankan diakhir kata.


Yoga melirik pada Anin, lalu kemudian mengiyakan permintaan Papa nya. Setelahnya Yoga langsung mematikan sambungannya dan meletakkan kembali handphonenya di dashboard.


"Sayang, maaf ya, kayaknya kita gak jadi makan di luar. Ada yang mau Papa omongin sama aku, katanya. Gak pa-pa, kan?" tanya Yoga dengan perasaan tidak enak.


Anin terdiam, seminggu ini ia berharap tidak bertemu lagi dengan Papa nya Yoga itu. Setidaknya tidak dalam waktu sedekat ini. Tapi jika ia meminta diantarkan pulang, Anin merasa kasihan pada kekasihnya tersebut karena jarak rumahnya juga lumayan jauh jika harus meminta diantarkan kembali, sekarang. Dan pada akhirnya Anin pun mengangguk walaupun tampak ragu. "Iya, gak pa-pa."


"Makasih ya, aku janji, lain kali kita akan makan di luar lagi." Yoga mengelus sayang rambut Anin. Tentunya ia semakin cinta karena Anin selalu bisa mengertikan dirinya.


Anin hanya mengangguk mengiyakan. Hatinya tiba-tiba saja merasa gelisah entah karena apa. Yang jelas ia masih merasa takut untuk bertemu dengan Wira.


.


.


.


Mobil yang dikendarai Yoga akhirnya tiba juga di halaman mansion. Yoga langsung turun begitupun dengan Anin yang tidak menunggu untuk di bukakan, karena dirinya bukan tuan putri yang harus diperlakukan berlebihan seperti itu.


Seperti biasa, para pelayan langsung menyambut keduanya dan menuntun keduanya ke ruang makan.


Sebelum kedatangan keduanya, sang tuan rumah yang tak lain adalah Wira memberitahukan sekaligus memerintahkan pada para pekerjanya untuk mempersiapkan menu makan malam.


Mereka yang merasa senang mendapat info tersebut tentu saja langsung mengerjakan perintah majikannya sebaik mungkin. Para pelayan sangat menyukai sosok Anin yang bagi mereka sangat lah ramah.


"Selamat datang, sayang. Aku senang sekali akhirnya kamu mau berkunjung lagi ke sini. Silahkan duduk." ucap Wira menyambut dengan tatapan yang membuat Anin risih. Semakin risih pula saat mendengar Wira memanggilnya sayang.


Yoga sendiri malah mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Papa nya. Yoga berpikir, se-senang itukah Papa nya pada Anin, sehingga Papa nya sudah berani memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang. Namun, Yoga tidak mempermasalahkannya, langsung saja dirinya mengajak Anin duduk bersebelahan dengannya. Hanya saja Anin dibuat risih karena harus duduk dengan jarak satu kursi dengan Wira. Dan Wira tepat duduk di kepala meja dekat Anin.


Tak hanya Yoga, para pelayan pun merasa aneh mendengar ucapan majikan mereka. Mereka merasa ada yang salah pada tuannya itu, apalagi saat melihat tatapan tuannya yang terlihat memuja pada kekasih tuan muda mereka.


"Gimana kabarnya?" tanya Wira, tentunya pada Anin yang sudah terlihat gugup.


"Ba-baik, om." jawab Anin, gugup.


"Jangan gugup kayak gitu, nanti kedepannya kamu harus terbiasa sama aku. Maksudnya, nanti kan kamu akan menjadi anggota keluarga di sini." Dan tentunya akan menjadi istriku...


Yoga tersenyum, belum juga ia meminta restu, tapi Papa nya sudah memberikan restu lebih dulu sebelum ia mengatakan niatannya yang ingin meminang Anin. Iya kan restu?


"Jadi Papa merestui aku nikah sama Anin?" tanya Yoga antusias.

__ADS_1


Wira terdiam sembari menatap pada putranya, kemudian Wira mengangguk dengan memaksakan senyum.


"Alhamdulillah, makasih ya, Pa. Kalo gitu Yoga secepatnya akan melamar Anin. Yoga udah gak sabar ingin punya anak. Papa juga pasti udah pengen punya cucu kan?" kata Yoga yang langsung membuat Wira bungkam.


Sial! Sepertinya aku salah bicara...


"Jangan terburu-buru, selesaikan dulu kuliah kamu, terus belajar dulu mengelola perusahaan Papa, baru setelahnya kamu memikirkan pernikahan."


Senyum Yoga seketika luntur, apa yang diucapkan Papa nya memang benar. Ia harus bisa mengelola perusahaan dulu, tidak mungkin juga ia menikahi Anin menggunakan uang Papa nya. Apalagi uang tabungannya belum cukup banyak.


"Iya, Pa. Untungnya sidang skirpsi tinggal beberapa bulan lagi. Sayang, tunggu aku ya. Aku janji akan segera melamar kamu sama ibu kamu." kata Yoga sembari meraih kedua tangan Anin dan mencium punggung tangannya sekilas.


Pemandangan tersebut tentu saja membuat Wira ketar-ketir. Antara panas dan tidak rela Anin diperlakukan seperti itu oleh putranya.


"Ehem!" Wira berdeham, dan langsung membuat keduanya tersadar dan tersenyum malu pada Wira.


"Hehe, maaf, Pa. Yoga terlalu senang."


"Hem! Ya sudah silahkan dimakan, sayang." Wira mempersilahkan, lebih tepatnya hanya pada Anin. Dan lagi-lagi Anin dibuat tidak nyaman mendengar panggilan itu.


"Sini aku ambilin." Yoga berdiri lalu menyajikan nasi beserta lauk pauknya di piring Anin. Sebenarnya Yoga tidak perlu melakukan itu karena Anin bisa melakukannya sendiri. Tapi kalo sudah begini, ya mau bagaimana lagi.


Wira berusaha bersikap biasa saja, ia membiarkan keduanya bersenang-senang dulu sebelum pada akhirnya Anin akan menjadi miliknya.


Ketiganya pun akhirnya tenggelam menikmati makannya masing-masing, hingga tiba-tiba Anin merasakan sesuatu yang menggelikan di punggung kakinya.


Raut wajah Anin berubah panik saat sesuatu yang terasa menggelikan itu semakin naik ke atas. Perlahan Anin melirik pada Wira, namun Wira hanya menunjukkan ekspresi biasa sembari menikmati hidangannya. Lantas apa yang tengah bergerak di betisnya?


Anin menatap marah pada Wira, namun Wira hanya membalasnya dengan senyuman nakal.


Merasa muak, akhirnya Anin memilih ijin beralasan ke toilet untuk menghindari ke mesuman Wira.


"Mas, aku ke toilet dulu ya." ucap Anin sembari berdiri.


"Mau aku antar?" tawar Yoga. Sedari tadi ia hanya fokus makan sampai-sampai tidak menyadari gerak-gerik aneh yang ditunjukkan oleh Anin.


"Gak usah, aku sendiri aja." Anin mere-mas jari-jarinya, rasanya sudah tak tahan ditatap lapar oleh Wira.


"Ya udah. Toiletnya deket dapur, kamu tanya-tanya aja sama para pelayan." ucap Yoga yang langsung di iya kan oleh Anin.


Anin hanya mengangguk, lantas langsung berlalu meninggalkan ruang makan.


Yoga melanjutkan kembali memakan makanannya, lain lagi dengan Wira yang malah bergerak-gerak tidak nyaman. Baru beberapa saat Anin berlalu, tapi dirinya sudah merasa rindu. Padahal gadis itu hanya ijin ke toilet.


Sepertinya aku sudah sangat tergila-gila padanya.. Maafkan aku Manda, aku mengkhianatimu.


"Papa ke dapur dulu ya." ucap Wira tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban putranya, Wira langsung berdiri dan berlalu meninggalkan meja makan.


Sedikitpun Yoga tidak merasa curiga, hanya saja ia merasa aneh karena Papa nya itu baru kali ini mau menginjakkan kakinya ke dapur. Padahal selama ini wilayah yang sering di jamah oleh Papa nya hanya sampai ruang makan.

__ADS_1


Memilih tak peduli, Yoga pun kembali menyantap makanannya sendirian.


Wira langsung pergi ke dapur karena ia yakin gadis cantik itu pasti ada di sana. Dan tepat, tebakannya tidak salah. Anin sedang berdiri di depan wastafel tanpa cermin.


Kedatangan Wira ke dapur tentu saja mengejutkan para pekerjanya, apakah mereka tidak salah melihat?


Wira tidak peduli dengan tatapan para pelayannya, dan memberikan isyarat pada mereka untuk diam. Segera ia memberikan kode pada para pelayan untuk meninggalkan dapur. Mereka yang mengerti langsung saja berangsur meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah semua pelayan pergi, Wira langsung mendekati Anin yang masih terdiam tidak melakukan apa-apa, bahkan wastafel pun terlihat masih kering.


Anin tersentak saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Anin mengira pelakunya adalah Yoga, tapi saat melihat tangan yang dipenuhi bulu yang lebat, Anin malah dibuat panik karena tangan itu bukan milik Yoga. Tangan Yoga tidak berbulu lebat, lantas tangan itu milik siapa?


Wira tersenyum merasakan tubuh Anin yang menegang, kedua tangannya semakin memeluk erat pinggang Anin, sampai-sampai Wira berani menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anin. Menghirup aroma tubuh Anin yang ternyata sangat memabukkan.


Anin panik, ia tahu pelakunya. Tangannya berusaha melepaskan tangan Wira yang melingkar erat di pinggangnya.


"Om, lepas! Jangan macam-macam ya sama aku! Atau aku teriak!" ancam Anin berharap Wira segera menjauhkan tubuhnya.


Bukannya takut, Wira malah terkekeh dan kembali mengendus leher jenjang Anin, bahkan mengecupnya beberapa kali.


"Berhenti Om! Aku bakalan laporin om ke polisi kalo om berani macam-macam sama aku." ancam Anin lagi, namun Wira masih tetap tak bergeming dan terus mengecup leher dan bahkan merayap sampai ke telinganya.


Anin bergerak-gerak mencoba menjauhkan lehernya dari jangkauan Wira. Namun bukan Wira namanya kalau kalah begitu saja.


"Diam, atau para pelayan akan melihat kita. Kalau sampai itu terjadi, kemungkinan besar mereka akan melaporkannya pada Yoga." kali ini Wira yang mengancam, dan ancamannya tentu saja berhasil membuat Anin terdiam.


"Jangan begini, om. Aku kekasih putra om. Kalo Yoga tau pasti putra om bakal salah paham."


"Aku gak peduli."


"Om!" sentak nya.


"Diam! Atau aku bawa kamu ke kamar!" ancam Wira yang langsung membuat Anin melotot tajam.


"Bagus, aku janji tidak akan lebih dari ini. Wangi tubuh mu tenyata menjadi candu ku." Wira kembali mengendus-endus leher Anin, mengecupnya bahkan menjilatinya sampai-sampai meninggalkan jejak basah di sana.


Anin rasanya ingin menangis diperlakukan seperti itu, tapi ia menahannya karena ia takut para pelayan atau bahkan Yoga memergokinya.


"Jangan menjauh dari ku, atau aku akan membocorkan perselingkuhan kita pada putraku." tiba-tiba ucapan Wira membuat Anin tersentak tidak percaya.


Siapa yang selingkuh?


"Om jangan gil- mmfftt.."


Wira langsung membekap mulut Anin sebelum Anin berteriak. "Jangan teriak atau perselingkuhan kita akan cepat terbongkar."


Anin geleng-geleng kepala, ia sungguh tidak percaya dengan kegilaan Wira. Tidak punya pilihan lain, akhirnya ia pun memilih diam.


"Gadis pintar, aku suka gadis penurut sepertimu. Ayo kembai ke meja makan, sebelum Yoga menyusul dan melihat kita dalam posisi panas seperti ini." Wira mengecup pipi kanan Anin lalu melepaskan pelukannya dan berlalu meninggalkan Anin yang terlihat masih syok.

__ADS_1


"Astaghfirullah..."


__ADS_2