DI JEDA!!!

DI JEDA!!!
Masuk Perangkap


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, Bu." ujar Anin mengucap syukur saat kue-kue yang dibuatnya bersama ibunya sedari pagi sudah selesai sebagian.


Bu Wina pun ikut tersenyum lega melihat kue-kue hasil buatan ia dan putrinya tak ada yang gagal satupun. Walaupun baru mendapat lima belas toples, setidaknya ia dan putrinya sudah merampungkan setengahnya, supaya nanti sore atau besok mereka bisa menyelesaikan lagi yang sebagiannya.


"Iya, Nak. Alhamdulillah. Sebaiknya kamu sekarang bersih-bersih dulu. Udah lewat waktu dzuhur." ucapnya nampak kelelahan. Namun, Bu Wina masih berusaha untuk terlihat semangat di mata putrinya.


Anin masih bisa melihat raut kelelahan di wajah ibunya walaupun ibunya itu berusaha untuk menutupinya.


"Ibu duluan aja. Perabotan yang kotor ini biar Anin aja yang beresin, ibu juga harus istirahat. Atau Anin cari orang aja ya buat bantuin Anin selesain yang setengahnya ini, supaya ibu bisa banyak istirahat." ujarnya.


Bu Wina langsung menggelengkan kepalanya mendengar penuturan putrinya. "Jangan! Ibu gak pa-pa kok, Ibu masih bisa ngerjain ini semua." ucapnya meyakinkan sang putri.


"Tapi, Bu..."


"Udah, ibu gak pa-pa. Istirahat sebentar saja ibu pasti kuat lagi kok, hehe." lanjutnya. "Kalo gitu ibu bersih-bersih duluan ya, kamu jangan lupa sholat."


Anin mengiyakan ucapan ibunya, mau tak mau ia pun harus mengiyakan keputusan ibunya.


Setelah kepergian ibunya, Anin membereskan perabotan seperti baskom dan alat-alat lainnya yang sudah kotor untuk dikumpulkan sebelum di cuci.


Sembari menunggu ibunya bebersih, Anin memutuskan untuk mencuci perabotan-perabotan kotor sekarang saja supaya nantinya ia bisa langsung bertempur lagi membuat kue.


Disela-sela aktivitasnya itu, tiba-tiba saja handphone nya terdengar berbunyi dari arah meja. Anin segera mencuci tangan dan mengelap nya lalu menghampiri meja dan meraih handphone nya. Ternyata sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


+6285********


Sopir ku sebentar lagi menjemput mu, segeralah bersiap-siap.


(P)


Anin mengernyitkan dahinya, siapa orang yang mengirim pesan tersebut padanya. Dan inisial itu?


Apa mungkin Mas Yoga? Tapi kenapa gak pakai nomor yang biasanya?


"Aku hubungi saja, deh, takutnya orang iseng."


Segera Anin mencari kontak kekasihnya itu, setelah menemukannya Anin langsung menekan ikon telpon.


Setelah menunggu beberapa saat, ternyata handphone kekasihnya itu tidak aktif.


"Kok gak aktif, sih? Mas Yoga kemana ya?" gumamnya heran. Tidak biasanya juga kekasihnya itu mematikan handphone nya.


"Apa jangan-jangan pesan ini beneran dari Mas Yoga? Aduh gimana ya?" Anin menggigit jarinya karena bingung harus melakukan apa.


Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya Anin pun memutuskan untuk bersiap-siap saja, mungkin saja kekasihnya itu ingin memberikan kejutan padanya. Makanya memberikan pesan secara misterius seperti itu.


Anin meletakkan kembali handphone nya lalu buru-buru melanjutkan mencuci perabotan yang sempat tertunda. Beberapa saat kemudian, semuanya sudah tercuci bersih. Anin langsung bergegas mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi yang letaknya masih berada di dapur.


Setelah bersih-bersih, Anin beralih masuk ke kamarnya untuk berpakaian dan melaksanakan sholat dzuhur.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, Anin sudah siap dengan penampilan apa adanya. Ia keluar lalu mencari ibunya yang ternyata sedang beristirahat di kamarnya.


"Ibu mau tidur?" tanya Anin saat melihat ibunya masih terjaga.


"Iya, Nak. Ibu mau tidur sebentar. Kamu mau kemana sudah rapi gitu?" tanyanya sembari bangun lagi dari posisi tiduran nya.


"Anin izin keluar sebentar ya, Bu. Kayaknya Mas Yoga mau ngajak ketemuan." jelasnya antara yakin tak yakin.


"Kok kayaknya? Emangnya yang menghubungi kamu siapa?" tanyanya heran.


"Itu dia, Bu. Tadi yang ngirim pesan sama Anin dari nomor baru."


"Kalo gitu jangan pergi, Nak. Takutnya pesan itu bukan dari Nak Yoga." putusnya.


Tin, Tin, Tin


Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar dari halaman rumah. Anin dan Bu Wina saling bertanya dalam tatapan masing-masing.


"Itu pasti orang yang mau menjemput Anin, Bu." jelas Anin.


"Ya, sudah. Kita liat keluar." ajak Bu Wina. Anin mengangguk lalu mengikuti ibunya keluar.


Dan benar saja, di luar sudah berdiri seorang pria dengan seragam khasnya bodyguard.


"Dengan Mbak Anin?" tanya pria tersebut memastikan.


"Iya." jawab Anin.


"Tunggu!" tukas Bu Wina. "Ini beneran yang nyuruh jemput putri saya, Nak Yoga?"


"Iya, Bu. Jika ibu tidak percaya ini KTP tuan yang dititipkan pada saya untuk jaga-jaga jika ibu ataupun Mbak tidak percaya." ujarnya sembari menyerahkan KTP pada Anin.


Anin menerima dan melihatnya dan memang benar KTP tersebut milik kekasihnya. "Iya Bu, ini KTP Mas Yoga. Berarti bener, yang kirim pesan ke Anin beneran Mas Yoga."


Bu Wina ikut memeriksa KTP tersebut. Walaupun ia masih terlihat kurang percaya, tapi ia ikut mengiyakan ucapan putrinya.


"Ya sudah. Kamu hati-hati ya, jangan pulang malam." ucapnya yang langsung di iyakan oleh Anin.


"Boleh saya tahan KTP kamu?" tanya Bu Wina pada bodyguard tersebut sembari menengadahkan telapak tangannya. Jaga-jaga jika terjadi sesuatu pada putrinya ia bisa langsung melaporkannya pada polisi.


Pria tersebut tampak ragu. Kenapa bisa dirinya yang kena, pikirnya. "I-iya Bu." Dengan ragu-ragu pria tersebut langsung menyerahkan KTPnya sebagai jaminan.


"Bu, apa gak terlalu berlebihan?" bisik Anin merasa tak enak hati pada pria dihadapannya.


"Demi keselamatan mu. Ibu gak akan percaya begitu saja." tegasnya. Anin tak percaya ibunya punya sikap berbeda dari yang biasanya, terkesan tegas dan penuh waspada.


"Kalo begitu bisa berangkat sekarang?" tanya pria tersebut yang sudah tidak tahan ditatap horor oleh wanita setengah paruh baya tersebut.


"Iya." jawab Anin. "Anin berangkat ya, Bu. Ibu istirahat aja, jangan dulu buat kue." pinta Anin.

__ADS_1


"Iya, Hati-hati ya." pesannya. Lalu Bu Wina menatap tegas lagi pada pria yang sudah terlihat ciut tersebut.


"Jangan macam-macam, KTP mu ada sama saya!"


"I-iya Bu, aman." jawabnya gugup.


Setelahnya Anin pun langsung berpamitan, Anin menyalami ibunya lalu bergegas pergi menaiki mobil.


Mobil pun perlahan maju meninggalkan pekarangan.


Sepanjang perjalanan Anin dibuat gugup karena tak biasanya Yoga se-misterius ini.


"Sebenarnya kita mau kemana, Mas?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


"Maaf, Mbak. Tuan Yoga melarang saya untuk memberitahukan tempatnya pada anda." jawabnya yang malah membuat Anin semakin heran.


Anin pun memilih untuk diam saja dan membiarkan pria tersebut membawanya kemana. Anin masih merasa aman karena mobil yang ditumpanginya masih melaju di keramaian jalan kota.


Hingga setengah jam kemudian, mobil pun memasuki kawasan gedung yang terlihat sangat mewah. Anin terpukau melihat betapa tingginya gedung tersebut. Hanya saja keadaan gedung sedikit terlihat sepi, apa mungkin karena hari minggu? Lantas, gedung apa ini?


"Kita sudah sampai, Mbak." ucap si bodyguard yang mengejutkan Anin. Setelah berucap pria tersebut langsung keluar lalu membukakan pintu untuk Anin.


"Silahkan."


"Makasih." ucap Anin, lalu melangkah turun.


"Mari saya antar kan."


Anin mengangguk lalu mengikuti langkah si bodyguard memasuki gedung. Anin menyapu setiap sudut ruangan yang terlihat sangat berkelas interior nya. Ia tak menyangka bisa merasakan menginjakkan kaki ditempat semegah ini.


"Maaf, Mbak. Saya hanya bisa mengantarkan anda sampai di sini. Mbak silahkan masuk, lalu naik ke lantai 30. Nanti di sana akan ada seseorang yang akan menjemput anda." ujarnya memberitahukan.


Anin sedikit kaget karena ia tidak tahu cara menggunakan lift. "Tapi saya gak bisa naik lift, Mas."


Pria tersebut lantas memberitahukan cara-cara mempergunakan tombol-tombol yang ada di dalam lift. Tak sampai lama, akhirnya Anin pun mengerti.


Anin langsung masuk setelah pria tadi pamit pergi. Jujur, dirinya sangat takut berada dalam ruangan berbentuk segi empat tersebut sendirian. Anin memejamkan matanya, hingga tiba-tiba pintu lift pun terbuka kembali.


Anin membuka matanya, ia sedikit tersentak saat seseorang sudah berdiri di hadapannya.


"Mari, tuan sudah menunggu anda." ucap pria tersebut mempersilahkan.


Anin yang masih syok hanya merespon dengan sebuah anggukan. Ia melangkah mengikuti si pria yang berpenampilan sangat rapi.


Hingga tak lama kemudian, langkahnya terhenti karena pria itu berhenti tepat didepan sebuah pintu. Pria itu mengetuk pintu dan mengucapkan. "Tuan, seseorang yang anda tunggu sudah datang."


"Ya, suruh masuk!"


Deg!

__ADS_1


Suara itu?!


__ADS_2