Dia Anak CEO

Dia Anak CEO
Penghianatan


__ADS_3

Seorang lelaki tampan dengan gaya rambut Clasissic Undercut, masuk ke apartement mewah di kawasan Menteng. Dengan membawa satu buket bunga mawar berukuran besar, dan juga kotak kecil berisi cicin untuk melamar kekasih hatinya, Laura. Wajahnya berseri-seri, ketika sampai di lantai lima belas. Perlahan dia masuk ke apartemen, pintu yang memakai smart lock mempermudahkan dirinya masuk tanpa menggunakan kunci.


'Laura, kamu pasti menyukai kejutanku ini!' gumam Gavin Alexander.


"Maaf, Pak. Non Laura tidak ada!" Bik Ijah mencegah Gavin masuk ke dalam kamar Laura.


Gavin yang sedang memegang handle pintu kamar Laura, langsung menoleh ke arah suara. Gavin menatap heran pada pembantunya, biasanya Bik Ijah tidak berani melarangnya masuk ke ruang mana saja yang ada di apartementnya.


"Di, cepat! Aku sudah enggak tahan! Aaah ...." Suara rintihan dari seorang wanita tertangkap telinga Gavin, ketika dirinya sedang fokus pada Bik Ijah yang terlihat gelisah.


"Ada orang di dalam, Bik?" tanya Gavin lirih, pada pembantu yang dia pekerjakan untuk menjaga Laura. "Seperti seorang sedang_" Gavin tidak melanjutkan ucapannya.


Bik Ijem hanya diam, dan melipat kedua bibirnya ke dalam. Terpancar ketakutan di wajah rentanya, makin membuat Gavin curiga.


"Aaah! Di, lebih cepat ... Lebih cepat!" Telinga Gavin kali ini mendengar dengan sangat jelas, suara ******* dan rancauan dari seorang wanita.


"Tahan, Laura sayang. Aku belum ... Ah, sial! Kamu nikmat sekali!" sahut suara lain, yang menyebut nama Laura, membuat mata Gavin membola.


Meski emosi, Gavin tidak ingin bertindak gegabah. Dia mengambil ponselnya dan menghidupkan kameranya. Perlahan di buakanya pintu, agar dua orang yang sedang kasmaran tidak menyadari kedatangannya. Setelah puas mengambil beberapa gambar.


"La-Laura kau!" Teriak Gavin, kesal. Karena dua manusia itu benar-benar tidak menyadari keberadaannya yang ada didekat mereka.


"Brengsek, kalian!" Pekik Gavin.


Pergumulan itu pun terhenti dengan sendirinya, menjauh dari kenikmatan yang hampir saja mereka teguk di atas penderitaan Gavin.


"Kalian benar-benar brengsek!" Gavin kembali memaki dua orang yang ada di ranjang.


Laura, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Begitupula selingkuhannya, yang ternyata adalah teman Gavin sendiri. Laura meraih baju tidurnya dan mengenakannya di dalam selimut.


Gavin mendekati Adi yang tersenyum sinis tanpa rasa malu, setelah perbuatannya diketahui. Tanpa kata, Gavin melayangkan satu pukulan ke wajah lelaki yang dianggap teman baik.


"Keterlaluan, lu!" teriak Gavin.


"Aku hanya menikmati keindahan yang kamu sia-siakan! Wanita bukan hanya butuh uang, tapi juga menginginkan belaian" ejek Adi, memegangi pipinya yang terasa panas.


Gavin terpancing dengan ucapan Adi, lalu kembali melayangkan pukulan demi pukulan secara membabi buta. Sedangkan wanita yang menyebabkan pertengkaran ini hanya bisa menangis, dia takut dengan amarah Gavin yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Hentikan, Vin! Dia bisa mati!" teriak Laura, yang membuat tangan Gavin berhenti memukul.

__ADS_1


Hati Gavin benar-benar terbakar, bukan karena cemburu, melainkan rasa sakit karena dikhianati oleh dua orang yang sangat dia percayai. Laura mendekati Gavin dan meminta maaf atas kesalahan yang dia lakukan.


"Percuma!" Gavin mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa keram. "Aku hanya mengotori tanganku saja, kalau seperti ini." Emosi Gavin mulai terkontrol, sejenak dia menatap Laura dan tersenyum sinis. "Selamat berbahagia, sekaligus menderita!" Gavin menunjukkan senyum smirk yang membuat nyali Laura ciut.


Gavin menjauh dari Laura yang memohon maaf darinya, tapi perhatian wanita itu ke arah selingkuhannya. Gavin langsung mengambil ponselnya dan membuka galeri, kemudian mengirimkan beberapa gambar pada seseorang.


"Show time," lirihnya, dengan senyum sinis.


Gavin mengenal baik kedua orang tua Laura dan Adi. Dalam pikirannya saat ini akan menjadi sebuah pertunjukan yang sangat bagus, meskipun dia tidak akan melihatnya.


"Ayo, Bik!" ajak gavin, setelah hati puas melampiaskan kekesalannya pada kedua benalu di hidupnya.


"Maaf, Den," lirih Bik Ijem dan hanya dibalas dengan senyuman.


Gavin berjalan dengan cepat, begitu juga Bik Ijem. Perempuan setengah baya itu berusaha mengimbangi langkah tuannya. Meski langkah mereka cepat, Laura dapat menyusul mereka dengan napas tersengal-sengal.


"Vin! Tolong dengar penjelasanku dulu," pinta Laura mengiba.


Gavin tidak memperdulikan panggilan, Laura. Dia terus berjalan menjauh, enggan memperlihatkan kerapuhannya sebagai laki-laki.


"Vin ... Gavin!" bentak Laura, ketika tangannya mampu meraih baju Gavin.


"Mulai hari ini, jangan pernah mencariku! Hubungan kita selesai!" ujar Gavin tenang, tapi nada suaranya terdengar sinis dan sadis.


"Vin, dengar dulu. Jangan emosi, aku mohon." Laura mencoba mengiba, tapi diabaikan oleh Gavin, Lelaki tinggi dan bertubuh tegap itu terus melangkah menjauh.


"Gavin! Aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku tetap mencintaimu dan aku tidak ingin berpisah, Vin!" teriak Laura, dan masih bisa didengar oleh Gavin. "Gaviiiin!" Suara laura menggema di lorong.


Gavin menghembuskan napas berat dan terasa sesak. Dia tidak menduga, jika Laura dan Adi mampu menghianatinya. Banyak yang sudah dia lakukan untuk kekasihnya, dirinya selalu berusaha memberikan yang terbaik, tapi yang didapatkan hanya sebuah penghianatan disaat dia ingin membawa hubungan mereka ke arah yang lebih serius


.


"F*ck you, Di!" teriak Gavin di dalam lift, sedangkan Bik Ijem hanya diam menahan rasa bersalahnya.


Gavin keluar dari lift dengan terburu-buru, hingga tanpa sengaja menabrak seorang wanita tua yang duduk di kursi roda, juga seorang wanita muda berkacamata tebal, yang sedang membantu mendorongnya.


"Hei, Tuan!" panggil wanita muda yang ditabrak Gavin. "Anda punya mata dan hati, enggak sih! Bukannya bantuin dulu, malah main nyelong!" lanjutnya dengan mengomel, penuh emosi.


Satu tamparan mendarat di wajah manis wanita muda itu, hingga membuat kacamatanya jatuh dan pecah. Membuat Gavin tersentak kaget, tidak menyangkan jika Laura sudah menyusulnya dengan sangat cepat, padahal melalui tangga.

__ADS_1


"Kamu bicara apa! Hah!" teriak Laura. "Berani membentak tunanganku?" Laura yang sedang sangat kesal, butuh pelampiasan dan wanita di depannya adala sasaran yang empuk pikirnya.


Satu tamparan kuat, mengenai pipi Laura. Hingga ada bekas tangan yang sangat nampak.


Tadinya, Gavin ingin memarahi Laura yang sembarangan menampar orang. Akan tetapi, dia urungkan. Laura mendapatkan perlawanan seimbang dari gadis berkaca mata itu.


"Ayo, Bik. Sudah ada rival yang seimbang untuk wanita penghianat itu!" ketus Gavin.


*


*


Dua tahun, Gavin berjuang melupakan kejadian yang membuatnya terpuruk. Semua terkena imbasnya, dari rasa sakit hati Gavin, dari keluarganya hingga perusahaan yang dia pimpin mengalami kemunduran. Dengan terpaksa ayahnya harus kembali turun tangan untuk membangun kembali perusahaan keluarga yang sudah dirintisnya sejak muda dulu, dan memberikan hukuman untuk Gavin karena tidak bisa bertindak secara profesional.


Selama mengobati luka hatinya, Gavin mengembangkan usahanya dibidang kuliner, hingga mampu mendirikan restoran dan cafe di beberapa daerah di Indonesia. Juga, sedang membangun bisnis barunya di bidang entertainment.


"Ryan, ke ruangan sekarang!" seru Gavin pada asistennya melalui sambungan telepon.


"Iya, Pak!" sapa, Ryan setelah masuk ke dalam ruangan, dalan langsung mendapatkan omelan karena memanggil 'Pak' pada Gavin.


Gavin menyodorkan tumpukan kertas pada Ryan, dan meminta asistennya untuk mengecek semuanya. Gavin menanyakan tentang laporan dari restoran-restoran miliknya dan dengan Ryan sigap mengambil laporannya dan memberikannya pada Gavin.


"Besok, aku mau ke restoran yang ada di Kemang. Ada laporan dari beberapa teman, jika pelayanan di sana sangat buruk!" keluh Gavin. "Persiapkan semuanya!" pinta Gavin kemudian.


Ryan fokus mendengarkan arahan dari bosnya, tapi suara dering ponsel menganggu. Gavin menatap Ryan dengan tatapan menyelidik, ada apa dengan si asisten yang enggan menerima panggilan.


"Kamu dengar sesuatu?" sindir Gavin.


Ryan menghela napasnya berat dan memperlihatkan siapa yang sedang meneleponnya.


"Jika urusan pekerjaan, mana mungkin aku tidak menerima panggilan itu!" kesah Ryan.


Gavin meminta Ryan menerima panggilan dari ibunya, dia tidak ingin ada keributan di lain hari hanya karena panggilan diabaikan oleh asistennya itu. Ini bukan kali pertama Ryan mengabaikan ibunya, Gavin tahu persis, ini semua pasti dikarenakan ibu dari Ryan yang ingin menjodohkan anak pertamanya itu.


"Aku sudah bosan dengan wanita yang ibu pilihkan, semuanya tidak ada yang sesuai dengan kriteriaku!" Kembali Ryan mengeluh.


"Kadang aku ingin seperti dirimu, yang bisa bebas memilih pasangan hidup!" Ryan menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Yakin kamu ingin sepertiku?"

__ADS_1


__ADS_2