Dia Anak CEO

Dia Anak CEO
Terpana


__ADS_3

"Apa kamu ingin merasakan amukan dari orang tuamu, hanya karena kegagalan dam percintaan?!" Gavin mendesah lelah.


"Terimalah, bagaiamana pun dia adalah orang pertama yang memberikanmu kehidupan!" pinta Gavin.


[iya, Mah,]


Sapa Ryan setelah menerima panggilan itu secara terpaksa, dan dia menghidupkan pengeras suaranya, agar Gavin bisa mendengar permintaan ibunya yang tidak pernah berubah dalam dua tahun ini.


[Besok temui gadis yang mama pilihkan di cafe G 'Angel di daerah Kemang! Dia bekerja sebagai manager di sana.]


Tanpa menunggu jawaban dari Ryan, ibunya sudah mengakhiri panggilan secara sepihak.


Gavin dan Ryan saling pandang, dan tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Sepertinya ada yang aneh dengan dua pemuda itu!


***


Sesuai rencana, hari ini Gavin akan mengunjungi cafe miliknya, sedangkan Ryan, dia bekerja sejkaligus untuk menemui gadis yang dijodohkan olehnya.


Jam kerja belum dimulai, akan tetapi kesibukan sudah sangat terlihat di sana. Beberapa karyawan membersihkan semua suduh cafe dan menyun apa yang terlihat berantakan. Semua karena berita yang diterima mereka kermarin, jika owner cafe akan sidak mendadak.


"Hari ini, bos akan dateng dan memeriksa semuanya. Kita tidak tahu dengan caranya seperti apa!" teriak salah satu pegawai senior di bagian dapur. "Jangan sampai ada yang salah, atau kita terkena imbasnya!" Dengan semangat lelaki paruh baya itu memberikan perintah, tapi dirinya pun tidak tinggal diam.


Para karyawan memang tidak ada yang tahu, siapa pemilik cafe ini. Semua dikelola dan dijalankan oleh senior dari kafe utama, dan setelah berjalan, para senior itu kembali kehabitatnya. Untuk pengecekan, pemilik cafe hanya mengirim manager keuangan, selain untuk melihat data pengeluaran dan pemasukan, manager tersebut harus dapat melihat kondisi cafe dengan baik.


Ryan sudah 15 menit berada di luar cafe, dia menunggu cafe benar-benar dibuka, dirinya hanya sibuk bermain ponsel. Berdiri dan bersandar pada mobil barunya, hadiah dari Gavin, karena dapat menyelesaikan satu pekerjaan penting yang diberikan oleh bosnya.


"Pak Gavin," sapa, Ryan.


Gavin bedecak kesal, "Aku belum tua, sehingga terus-terusan dipanggil Pak!" Ryan hanya tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih, mendengar ocehan Gavin.


"Bagaimana kelihatannya cafe ini?" tanya Gavin, ketika memasuki restoran miliknya yang baru bisa dia datangi, setelah beroperasi.


"Baik, Pak. Menurut laporan yang di berikan ke saya semua berjalan sesuai arahan Pak Gavin, pada Pak Andi." Ryan berusaha menjawab dengan tenang, dengan menggunakan bahasa formal. Ryan sangat senang, jika melihat Gavin kesal hanya karena masalah sepele yang dia buat. "Tapi saya belum masuk, karena sepertinya mereka sedang mempersiapkan penyambutan untuk anda, Pak," Ryan menambahkan info untuk Gavin.

__ADS_1


"Panggil pak sekali lagi!" pinta Gavin dengan tatapan membunuhnya. "Gajimu akan aku sunat setengahnya!" Gavin teramat kesal dengan asistennya, yang terlalu perfeksionis dalam bekerja, padahal dirinya lebih baik dari Ryan.


Dengan santai, Gavin masuk ke dalam cafe miliknya, dan Ryan mengekor di belakang. Gavin membuka kaca mata hitam yang dia kenakan, dan memilih duduk di sudut ruangan. Dengan posisi ini, dirinya dapat melihat seisi ruangan depan cafe.


'Apa informasi yang aku dapatkan salah, ya?' gumam Gavin, dengan memegang dagunya.


"Pak, kita lihat ke dapur," Ryan mencoba mengalihkan perhatian Gavin, tapi kepalanya malah digetok oleh Gavin. "Kita sedang kerja, jadi aku harus panggil, Pak!" Ryan mencoba membela diri, tapi malah mendapatkan jitakkan kedua dari Gavin dan dia hanya bisa menghela napas pasrah.


Gavin memperhatikan sekitar, tidak ada seorang pramusaji yang melayani mereka. Semua terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Apa kita kekurangan orang?" tanya Gavin.


"Enggak," jawab Ryan cepat, dan mengikuti arah ke mana bosnya memandang. Ryan baru paham, kenapa Gavin bertanya. "Mereka terlalu fokus dengan kedatangan kita, sehingga melupakan tugas utama!" Ryan mulai serius dengan apa yang sedang terjadi.


Gavin berdiri dan menghela napas kasar, lalu keluar dari cafe, Ryan langsung mengikuti langkah bosnya. Kepalanya mulai berdenyut, karena dia mulai mengerti apa yang akan dilakukan oleh bosnya itu.


"Carikan aku baju_" Gavin menghentikan ucapannya, dan menatap wajah Ryan.


"Sepertinya, perintah ini tidak usah aku ucapkan lagi, kan?" Gavin bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya, membuat Ryan tersenyum kikuk.


"Ini!" Ryan menyodorkan satu stel pakaian pegawai yang masih baru, dan langsung disambut oleh Gavin.


Gavin masuk ke dalam mobil, dan berganti pakaian dengan cepat. Setelah selesai, Gavin keluar dan berjalan dengan sangat pecaya diri, tapi langkahnya terhenti, ketika seseorang menabraknya dari arah belakang.


"Maaf ... Maaf!" Suara itu terdengar sangat lembut di telinga Alex.


Gavin menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sengaja menabraknya, matanya langsung tertuju pada gadis berkepang dua yang memegang alat pel. Seketika mata Gavin membola, tidak percaya dengan apa yang dilihat.


'Bukankah dia gadis yang dulu?' gumam Gavin.


"Kamu karyawan di sini?" tanya Gavin. Matanya memindai gadis di depannya yang sedikit berubah, ya, tidak ada kacamata tebal di sana.


Saat wanita itu akan menjawab pertanyaaan Gavin, pandangannya teralihkan dengan suara langkah kaki yang sudah sangat familiar di telinganya.

__ADS_1


"Hei, kalian berdua!" teriak seorang wanita dari ruang manager. "Ke sini sekarang!" Suaranya membuat semua orang terfokus pada Gavin yang masih duduk di lantai dan karyawan wanita,


Gavin berdiri, setelah wanita di depannya mengulurkan tangan untuk membantunya. Mereka berdua berjalan bersama, menuju ruangan yang yang sama.


"Dasar pemalas!" gerutu wanita itu, kemudian masuk ke ruangannya.


Wanita di samping Gavin diam dan menggengam sapu di tangannya dengan erat, seakan-akan siap digunakan untuk memukul orang. Gavin yang tadinya akan melangkah, mengurungkan niatnya. Memperhatikan wanita manis di sampingnya.


"Ayo, nanti kena semprot, nenek sihir! Oya, kenalin aku, Oline," Oline menarik paksa Gavin yang masih saja bengong. "Ayo! Awas, jaga mata!" lanjut Oline, terkekeh melihat tingkah Gavin.


Gavin terkesiap, tidak pernah ada wanita yang menariknya dengan kasar dan berbicara seperti itu. Jantungnya berdebar kencang, wanita di sampingnya sungguh berbeda dengan wanita yang dia kenal selama ini. Menurutnya, Oline bukanlah tipenya. Penampilannya saja jauh dari kriteria yang dia kenal.


Kini, dua orang yang baru berkenalan itu, sudah berdiri di depan manager cafe yang memasang wajah jutek.


"Kamu, Oline! Baru satu minggu kerja udah males-malesan! Mau saya pecat!" bentak wanita berpenampilan sexy, di hadapan mereka. "Sudah sana! Pergi!" bentak wanita itu kemudian.


"Baik, Bu Berta!" jawab Olive santai.


Oline hanya bergeser sedikit dari tempatnya berdiri, Gavin memperhatikannya melalui ekor matanya yang tajam, kemudian sudut bibirnya terangkat.


Wanita yang biasa dipanggil Berta, kini mendekati Gavin, tanpa memperdulikan Oline yang masih ada di ruangan yang sama. Dengan senyum manis, Berta mengalungkan tangannya ke leher Gavin dan ******* bibir lelaki yang ada di depannya. Mata Gavin membulat sempurna, karena Berta menciumnya dengan sangat buas.


"Apa yang kamu lakukan!" bentak Gavin, setelah mendorong tubuh Berta hingga tersungkur.


Gavin menyeka bibirnya berkali-kali, menghapus jejak lipstik Berta. Dia merasa marah dan tidak rela, diperlakukan seperti itu, apalagi ada Oline di dekatnya. Sekilas, Gavin melirik Oline yang masih memasang wajah terkejutnya.


"Saya tahu siapa kamu!" ujar Berta, dengan menunjuk ke arah Gavin.


Berta berusaha berdiri, tapi pergelangan kakinya sangat sakit. Dia berusaha meminta pertolongan dari Gavin, bukannya mendapatkan bantuan, Gavin malah tersenyum mengejek.


"Saya tidak kenal kamu, dan tidak ingin kenal kamu!" tegas Gavin, dengan memamerkan wajah malas.


"Tapi, Tante Erni akan memarahi kamu, jika tahu kamu memperlakukan aku seperti ini!" ancam Berta dengan menunjukan ponselnya, tentu saja ditambah dengan memasang wajah yang berpura-pura.

__ADS_1


"Telepon saja!" Alex berkata dengan gayanya yang cool.


Tanpa ragu, Berta menelepon orang yang bernama Tante Erni. Video call pun berlangsung dan Berta mengatakan, jika anak Tante Erni melakukan kekerasan padanya. Dengan cepat mengarahkan ponselnya menghadap ke arah Gavin. Begitu kamera menyorot wajah lelaki di depannya, panggilan video langsung diputus secara sepihak. Berta merasa aneh, kembali dia menghubungi Tante Erni dan mengadu dengan gaya yang manja. Namun, wajahnya langsung pias dan tubuhnya ambruk seketika, saat Tante Erni mengatakan jika itu adalah bos dari anaknya, dan bukan Ryan.


__ADS_2