
Gavin dengan semangat sudah berada di cafe miliknya dan akan menjadi karyawan biasa, tentunya sang asisten pun ikut menjadi pelayan.
"Pak Gavin, yakin mau jadi pelayan?" tanya Ryan memastikan untuk kesekian kalinya.
Senyum Gavin yang mengembang, Tiba-tiba memudar saat mendengar pertanyaan dari asistennya itu. Rasanya ingin sekali Gavin menendang bokong Ryan yang masih saja memanggilnya 'Pak' dan terus bertanya tentang keyakinan pekerjaan yang sedang mereka jalani.
"Iya--iya, maaf!" seru Ryan lirih.
"Kok belum dateng, ya?" Gavin terus memperhatikan pintu masuk, dan tangannya sibuk mengelap meja yang sudah kinclong.
Tidak biasanya Oline terlambat, begitu kata karyawan lama yang juga khawatir dengan keadaan Oline.
"Kita ke kontrakannya, yuk! Siapa tahu dia sedang sakit!" ujar Gavin, lalu melepaskan celemek yang dia pakai.
Ryan menghela napas panjang dan kesal, karena Gavin terus saja berulah. Bagaimana mungkin pergi ke kontrakan Oline, mereka saja tidak tahu. Sudah dipastikan, Gavin akan memintanya untuk mencari keberadaan Oline lagi.
Saat Gavin hendak melangkah dari tempatnya, seorang gadis cantik masuk ke dalam cafe dengan wajah murung dan mata sembabnya. Dia tidak menyapa teman-temannya, terus masuk menuju ruang belakang.
"Hai," sapa Gavin, dan Oline hanya memberikan senyuman samar.
Gavin melongok melihat perlakuan Oline yang berubah drastis. Bahkan teman Oline pun merasa jika Oline sedang tidak baik-baik saja dan ini untuk pertama kalinya.
Hari terasa begitu lama bagi Gavin, Oline pun merasakan hal yang sama. Dia ingin segera mencari pekerjaan baru untuknya. Tekadnya sudah bulat ingin membahagiakan ibunya, dengan hasil keringatnya sendiri.
"Aku enggak bantuin, ya, ada perlu!" Oline meminta izin pada teman-temannya dan mereka hanya menganggukkan kepala saja.
"Mau kemana, Pak?" tanya Ryan, melihat Gavin terburu-buru.
Gavin tidak memedulikan Ryan, dia ingin tahu kenapa Oline bisa berubah drastis. Padahal kemarin dia sangat ceria.
__ADS_1
Dengan menggerutu, Ryan mengekori bosnya itu. Tidak mengindahkan pertanyaan para karyawan yang lainnya.
Oline terus menyusuri jalanan dan sesekali berhenti untuk bertanya pada toko, atau melihat secarik kertas yang ditempel dimuka toko.
'Apa dia mau cari kerja? Bukannya dia sedang bekerja dan tidak dipecat?'
Gavin terus saja membuntuti Oline, tanpa menunjukkan keberadaannya.
Hari sudah malam, dan Oline belum juga menemukan pekerjaan sampingan untuknya. Apakah sesulit ini untuk membahagiakan ibunya.
Langkah Oline sudah melemah, dan dia duduk di taman yang masih di sekitar tempat itu. Terisak, ketika bayangan sang papa terlintas dalam benaknya.
"Brengsek!" makinya, pada udara kosong di sekitarnya.
Gavin dan Ryan yang melihat itu hanya saling pandang. Tidak tahu harus berbuat apa.
Cukup lama Oline terisak, meratapi nasibnya yang malang sejak kecil. Kekurangan kasih sayang dari papanya dan malah melimpahkan kasih sayang pada gadis muda lainnya.
Rasa tak nyaman masuk ke dalam hati Gavin, dia melihat laki-laki lain dekat dengan wanita yang sedang diincarnya. Namun, dia hanya bisa memantau dari jarak dua meter.
"Kamu nangis?" tanya lelaki yang baru saja duduk di samping Oline.
"Ti--tidak, aku hanya sedang membutuhkan pekerjaan tambahan dan aku sedang lelah, karena belum juga mendapatkannya," lirih Oline.
Lelaki di samping Oline, hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tahu masalah sebenarnya yang dihadapi oleh Oline, karena gadis itu enggan bercerita padanya.
"Apa yang kamu butuhkan sampai harus mencari pekerjaan lagi?" suara berat itu sungguh mengganggu Gavin yang terus menguping. "Jika kamu butuh pekerjaan lagi, berarti kamu membutuhkan banyak uang. Kenapa kamu tidak kembali saja ke rumahmu?" tanya lelaki itu membuat Gavin penasaran.
"Aku butuh pekerjaan tambahan untuk hidupku dan mama!" tegas Oline, tanpa mau menjawab pertanyaan yang lainnya dari lelaki yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Lelaki itu menggenggam tangan Oline dan membawanya ke dadanya, Oline sempat terkejut, tapi membiarkan lelaki itu terus memegang tangannya.
"Sudahlah, Josh. Aku hanya ingin membahagiakan mama untuk saat ini!" Perlahan Oline menarik tangannya dari pegangan tangan Joshua.
"Lin, beri kesempatan aku untuk menyelami hati dan kehidupanmu. Aku ingin berbagi semua rasa denganmu dan biarkan aku membantu. Tentang apapun itu!" Lagi-lagi, perkataan laki-laki itu membuat Gavin meradang.
"Bos, kita pulang, yuk!" ajak Ryan, yang mulai merasakan hawa mencekam.
"Pulang sendiri!" ketus Gavin, dia tidak mau lagi kehilangan Oline. Dirinya harus tahu ada apa dengan gadis incarannya itu.
Ryan mau tidak mau hanya mengikuti kemanapun Gavin pergi, takut jika bosnya itu akan melakukan hal gila untuk mendapatkan Oline.
Oline beranjak dan hendak meninggalkan Joshua, tapi langsung ditahan oleh lelaki itu.
"Temanku sedang membutuhkan seorang sekertaris, apa kamu mau mencobanya?" tanya Joshua.
Oline terdiam, dan memikirkan tawaran dari sahabatnya itu. Kemudian dia mengangguk.
"Aku akan memberitahu manager cafe, jika saat ini aku memiliki dua pekerjaan dan hanya bisa bekerja di Cafe setelah tugas kantorku selesai," ujar Oline yakin.
Oline mengambil keputusan penuh resiko, karena harus bekerja di dua tempat sekaligus, yang mana jam pulangnya saja tidak tentu.
"Baiklah, aku akan memberitahu temanku. Nanti aku juga akan memberitahunya tentang pekerjaanmu yang lainnya." Joshua menepuk pundak Oline.
Gavin sudah gerah berada di sana, tadinya dia hanya kesal dengan perubahan Oline. Meski belum mengetahui apapun, Gavin lega, jika Oline tidak akan berhenti dari cafe dan saat ini dia sedang memikirkan cara agar Oline membatalkan niatnya bekerja dengan orang lain.
Ryan yang ditatap oleh Gavin hanya bisa menghela napas panjang, dia sepertinya mengetahui apa yang ada di dalam otak bosnya. Hal yang membuat dia harus bekerja secara extra atau menyingkirkan orang lain.
***
__ADS_1
Mohon dukungannya 🙏🙏 untuk karya pertama saya.