
Tubuh Oline gemetar, saat matanya menangkap sosok yang sangat dia hormati sedang merangkul pundak seorang gadis yang usianya tidak jauh darinya. Tangan Oline langsung membekap mulutnya sendiri, agar tidak berteriak secara spontan.
"Apa papa selingkuh?" pikiran Oline sudah berkecamuk.
Tidak pernah dirinya menduga hal ini akan terjadi dalam kehidupannya, melihat keluarganya hancur karena orang ketiga.
Kaki Oline terus melangkah, mengikuti papanya dan gadis muda yang berada di rangkulan sang papa. Air mata Oline mengalir tanpa bisa dia tahan, berpikir jika papanya tidak sebaik yang terlihat.
Canda dan tawa dua orang di depannya terekam jelas di mata Oline, rasanya sangat sakit. Dirinya saja tidak pernah diperlukan seperti itu, tapi mengapa gadis muda itu dengan mudahnya mendapatkan semua yang ingin dirasakan oleh Oline dari papanya.
"Kamu suka?" tanya sang papa pada gadis di sampingnya, dengan mengulurkan sebuah kotak.
"Aku sangat menyukainya, Pa. Ini sangat bagus," ujar gadis itu dengan sangat ruang.
Jarak Oline memang tidak terlalu jauh dari dua orang yang diikutinya, karena dia ingin memastikan dengan mata dan telinganya.
"Pa?" lirih Oline.
Oline berkali-kali menepuk telinganya, mungkin dia salah dengar atau gadis muda itu salah mengucapkan kata.
"Papa sangat senang, jika kamu bahagia dengan hal sekecil ini. Papa akan memberikan semua yang papa miliki untukmu," ujar sang papa.
Tangan Oline terkepal erat, matanya memerah dan napasnya memburu. Menahan gejolak amarah sejak pertama melihat sang papa merangkul mesra gadis yang bersamanya, ditambah panggilan gadis muda itu.
"Apa maksud dari ucapan papa?!" pekik Oline, yang memancing suasana gaduh.
Semua mata kini tertuju pada Oline yang menatap marah pada sang papa dan gadis muda di sampingnya.
"Oline?" Mata sang papa membulat, tidak menyangka jika akan ketahuan seperti ini.
"Ini yang menyebabkan papa selalu kasar denganku?!" teriak Oline tidak Terima.
Air mata yang coba dia tahan, terus saja mengalir. Menunjukkan sisi lemahnya, yang selama ini tidak pernah ada yang melihatnya.
__ADS_1
"Papa tidak pernah kasar denganmu!" kilah sang papa, membuat Oline meradang.
"Cih! Tidak pernah kasar? Apa perlu aku mengeluarkan semua rekaman saat anda melakukannya padaku dan memberikannya pada polisi sebagai bentuk pengaduan?" Oline berdecih kesal, serta menampilkan senyum mengejek.
"Papa hanya mendidikmu, Oline. Kamu terlalu liar sebagai perempuan, kamu lihat gadis ini begitu lembut dan sangat sopan, jauh berbeda denganmu yang arogant!" Membuat Oline terperangah tidak percaya.
"Ha ... Ha ... Ha, mendidik? Baiklah, sepertinya semua rekaman itu akan aku sebarkan dan biarlah para orang tua di luaran sana yang menilai kelakuanmu padaku! ****** itu tidak pantas dibandingkan denganku! " tekan Oline.
"Kamu!" Sang papa ingin menampar Oline, dan Oline hanya bisa memasang wajah datarnya. Rasa benci itu semakin berkali-kali lipat menguasai hatinya.
"Kenapa tidak jadi memukul? Malu, atau menjaga image dari ****** kecil yang ada dipelukanmu itu? Inilah contohmu sebagai orang tua yang katanya memberikan didikan terbaik untuk menyiksaku?" Lantang sekali Oline berucap, rasanya dia sudah tidak bisa memendam semua kekecewaan dalam dirinya selama ini.
"Oline, dia bukan ******! Dia wanita baik-baik!" bentak sang papa, dan Oline hanya menanggapinya dengan tersenyum sinis.
Kini pandangan matanya menuju gadis yang ada di sisi sang papa.
"Ternyata, papa tidak ubahnya dengan lelaki hidung belang, pantas saja aku selalu papa tekan, begitu juga mama! Ternyata, mainan papa adalah daun muda yang bisa menurut dengan semua aturan busukmu!" ujar Oline sinis, memandang gadis yang menundukkan kepalanya.
Oline tertawa miris, kala papanya tidak ada niatan berdiri di sampingnya. Malah mengeratkan rangkulannya pada gadis yang mulai terisak di sampingnya.
"Aku tidak pernah berharap lahir ke dunia ini, apa lagi menjadi anak darimu, yang hanya bisa membuat luka sejak aku masih kecil!" runtuh sudah rasa hormat yang dimiliki oleh Oline untuk sang papa.
"Lihatlah, sekarang kau merangkul gadis yang usianya hampir setara denganku, dan tidak mengindahkanku. Anakmu sendiri! Oh, atau aku anak haram?" ejek Oline.
"Oline, jangan bicara sembarangan! Kamu sedang termakan emosi, baiknya kamu pulang dan kita bicarakan di rumah!" rayu sang papa dengan pelan.
"Aku tidak akan pernah pulang, kecuali menjemput mamaku! Aku sanggup membiayai hidupku sendiri sejak lama, jadi jangan sok menjadi pahlawan dalam hidupku!" pekik Oline, menahan debaran di jantung yang siap meledak.
Sang papa menatap nanar anaknya yang sangat terluka oleh tindakannya selama ini, ada rasa sakit di sudut hatinya. Namun, dirinya tidak mampu untuk berbicara baik pada anak gadisnya yang sedang emosi.
"Kalian tidak akan bisa jauh dariku!" ucap sang papa dan di bales dengan kekehan dari Oline.
Orang-orang di sekitar mereka melihat dan mendengar semuanya, dan mulai menyudutkan sang papa yang lebih memilih gadis di sampingnya, dibandingkan anaknya sendiri. Sebagian ada yang merekam secara diam-diam dan berencana meng-uploadnya nanti, dan ada juga yang melakukan live streaming, sehingga banyak yang menghujat kelakuan sang papa.
__ADS_1
"Cih! Aku akan melakukannya, seperti sekarang. Ternyata keputusanku meninggalkan rumah tidaklah salah!" balas Oline, yang mulai menguasai amarahnya. "Terlalu banyak rasa sakit yang sudah kau toreh dalam hatiku dan tidak akan pernah ada obatnya lagi!!" Oline langsung berbalik dan mematikan ponsel yang tadi dia nyalakan untuk merekam kejadian yang membuatnya sangat terluka.
Oline berniat langsung membawa sang mama ke kontrakannya dan akan memberi kehidupan yang layak. Akan tetapi dia butuh banyak pegangan uang saat ini.
"Pa, kenapa tidak mengejarnya?" tanya wanita muda itu pada sang papa.
"Biarlah, dia wanita keras kepala!" ujar sang papa dengan helaan napas panjang, tidak menyangka akan terungkap secepat ini. Rasanya dia belum sanggup untuk menjelaskan semuanya pada Oline.
Oline yang masih mendengar ucapan sang papa dan wanita muda itu, hanya bisa mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, hingga rasa sakit tidak lagi dia rasakan.
[Halo, Aisyah. Bisakah aku meminjam uangmu, tapi cukup banyak,]
Oline menelpon Aisyah, dan langsung pada inti pembicaraan.
[Kamu kenapa? Baru saja kita ketemu dan kamu baik-baik saja!]
[Nanti akan aku ceritakan semuanya, tapi aku butuh uang yang banyak saat ini!]
[Baiklah, aku akan cek berapa jumlah tabunganku, dan akan memberikannya padamu secepatnya,]
Aisyah sebenarnya ragu, tapi mendengar suara Oline yang serak, dia mengira ada sesuatu yang besar terjadi sepeninggalannya.
[Terima kasih banyak, dan aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik untuk membayar hutangku.]
Oline mengakhiri panggilannya, dan duduk di sisi trotoar. Memandang laju kendaraan di hadapannya, rasa frustasi yang selama ini memenuhi hatinya sudah mulai terbuang dan terbakar dengan sendirinya.
'Ma, semoga mama bisa kuat mendengar penjelasanku!' lirih Oline.
Oline kembali berjalan, untuk pulang ke kontrakannya. Dia harus mencari tempat yang lebih baik dari sekarang. Karena dia ingin membawa sang mama bersamanya.
'Aku harus mencari pekerjaan lain, agar bisa memenuhi semua kebutuhan kami!'
Tekad Oline sudah bulat, ingin menghapus nama sang ayah dalam hidupnya, meski tidak akan pernah bisa.
__ADS_1