Dia Anak CEO

Dia Anak CEO
Kembalinya Masa Lalu


__ADS_3

Gavin menepis tangan wanita yang memegang pundaknya, karena pandangannya fokus pada Oline dari luar kaca cafe, Ryan hanya menghela napas panjang.


"Bakalan jadi panjang, nih!" keluhnya.


Ryan terpaksa meminta taxi yang sudah dipanggilnya untuk pergi, tentunya setelah membayar kompensasi. Lalu mendekati Gavin yang sedang terpana dengan tingkah Oline, yang terlihat humble saat bersama teman-temannya.


"Hai," sapa Ryan pada wanita ayu, yang memegang barang belanjaan di tangannya.


"Eh, hai," balas wanita itu yang terlihat gugup.


Ryan menepuk pundak Gavin, yang masih belum menyadari hadirnya seseorang dari masa lalunya. Wanita yang pernah singgah di hati Gavin dan di mana saat itu mereka sedang masa puber.


"Apaan sih!" Gavin merasa kesal karena diganggu, mengira Ryan yang berani mengganggunya, Gavin lalu berputar untuk melampiaskan kekesalannya pada sahabatnya itu.


Gavin langsung membeku seperti halnya Ryan tadi, saat melihat senyum wanita yang terus dipuja-pujanya saat masih remaja dulu. Wajah ayu dan anggun itu tidak berubah sama sekali, sifat wanita di depannya sangat berbeda dengan wanita yang sedang membuat hatinya berbunga saat ini.


"A--Aisyah?" panggilnya tidak percaya.


Mata Gavin memandang lekat wanita di depannya dengan berbinar, mulutnya seakan enggan terkatup membulat membentuk huruf O. Sedangkan Aisyah nampak malu dan menunduk, wanita itu benar-benar gadis idaman bagi lelaki.


Aisyah Larasati, seorang gadis ayu dan lemah lembut, anak dari kepala sekolah, tempat Gavin dan Ryan bersekolah dulu. Anak terpintar dan berbakat, yang jadi rebutan para siswa kala itu, dan Gavin salah satunya. Akan tetapi, Aisyah memilih pergi untuk mondok di pesantren yang cukup jauh, dari pada harus melanjutkan pendidikannya di sekolah formal tempat ayahnya bekerja.


"Apa kabar, Vin?"" tanya Aisyah, dibarengi dengan senyum yang menawan.


"Ba-baik!" jawab Gavin gugup.


Ryan menepuk jidatnya sendiri, saat melihat bos dan juga sahabatnya itu. Bagaimana tidak, lelaki yang garang dan tegas dalam pekerjaan, selalu bertekuk lutut pada wanita.


"Oline buat aku saja, ya?" bisik Ryan, sengaja mengompori sahabatnya dan langsung membuat Gavin beraksi.


Ryan memegangi perutnya, saat Gavin melayangkan tinju ke arahnya. Wajah Gavin berubah kesal, saat Ryan membisikan kata-kata yang membuatnya tersadar.


"Berani dekatin dia, kamu berurusan denganku!" tekan Gavin. "Atau kamu sudah bosan hidup?" ucap Gavin lirih.


Ryan hanya tertawa sumbang, melihat reaksi Gavin yang berlebihan. Sedangkan Aisyah tersipu malu, karena berpikir dirinya yang sedang menjadi objek perbincangan dua lelaki di depannya.

__ADS_1


Aisyah berdeham, untuk mencari perhatian yang teralihkan dan dirinya menjadi terabaikan.


"Kamu mau ke mana?" tanya Gvain, setelah tersadar.


Gavin tidak mungkin, acuh pada Aisyah. Gavin hanya menghargai, karena Aisyah wanita yang pernah dia puja di masa lalu, bukan wanita yang dia sukai untuk saat ini.


"Menemui saudara di sini," balas Aisyah dengan memberikan senyuman manis.


Tanpa basa-basi lagi, Gavin mempersilahkan Aisyah untuk masuk, Gavin berpamitan pada wanita yang belum beranjak dari tempatnya berdiri, dengan alasan ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Setelah Aisyah berlalu, Ryan langsung digandeng oleh lelaki yang saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.


"Mana Taxinya?" tanya Gavin.


Ryan menghembuskan napas kasar dan sekilas melirik ke arah cafe, dan dia menaikan alis dan dagunya beberapa kali.


"Gara-gara wanita pujaanmu!" ledek Ryan dan Gavin langsung meninju lengan sahabatnya itu.


"Enak saja!" bantah Gavin. "Masa lalu, tetap masa lalu. Tidak akan pernah menjadi masa depan!" imbuhnya dengan tegas.


"Oline yang terbaik," canda Ryan dengan gaya unyu, berpura-pura sedang membayangkan wanita incaran Gavin.


Ryan tersenyum miris, karena Gavin ngambek seperti anak kecil yang permennya dia rebut.


"Aisyah penampilannya sempurna untuk dijadikan seorang istri, ya!" cibir Ryan.


"Iya, penampilannya tertutup dan mempesona, tapi dikalahkan oleh galaknya Oline yang lebih nancap di hati!" balas Gavin dramatis.


Ryan menatap temannya, yang terus berjalan tanpa arah tujuan dan bodohnya, dia mengekorinya. Sepanjang jalan, mereka terus membicarakan dua wanita yang memiliki karakter dan penampilan yang berbeda.


"Oline hanya wanita biasa, apa keluargamu mau menerimanya?' tanya Ryan yang sudah menyerah untuk berjalan dan kini mereka duduk di dalam taxi.


"Dia terlihat berbeda dari wanita kebanyakan, cuek dan tidak memperdulikan penampilan. Padahal, jika dipoles sedikit saja, artis pun akan lewat saat bersanding dengannya.


Gavin kembali mengingat kejadian saat dia bertemu Berta dan kejadian saat di cafe tadi.


"Dia memiliki toleransi yang tinggi dan hal itu benar-benar menjadi daya tarik, apa lagi dia mau menolong orang yaang sudah menyakitinya, itu is the best," jelas Gavin panjang lebar, membuat Ryan melongok tidak percaya.

__ADS_1


"Wah, penilaianmu pada wanita sudah mulai berubah!" ejek Ryan. "Tapi kalau dia matre gimana? Terus kalau dia sudah punya pacar atau suami gimana? Bukannya lebih baik memilih Aisyah, yang kita sudah tahu tentang seluk beluknya?" berondong Ryan.


Gavin terlihat dongkol pada Ryan, bagaimana bisa sahabatnya itu malah menjodohkannya dengan Aisyah. Wanita masa lalu, yang sempat menarik perhatiannya.


"Sudahlah, saat ini yang terbaik adalah Oline. Tidak ada wanita lainnya!" tegas Gavin.


"Lah, kan kamu suka sama dia sejak kelas satu, dan terus mengekorinya. Bahkan kamu terus mengikuti perkembangannya saat dia di pondok. Setelah bertemu Laura, barulah kamu bisa melepaskan dia!" ejek Ryan.


"Saat ini beda, rasa suka dan kagum masih ada, tapi kalau untuk cinta dan masa depan, pilihanku bukan lagi dia!" balas Gavin telak.


Ryan masih terus membahas Aisyah yang membuat Gavin sedikit kesal, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini hanya gadis ketus yang mencuri hatinya sejak pertama bertemu.


"Kalau kamu suka, kamu bisa ambil dia!" imbuh Gavin dengan kesal, karena pembahasan Ryan dari tadi selalu tentang Aisyah dan Aisyah saja.


"Kamu yakin?" tanya Ryan dengan tatapan tajam.


"Sangat yakin!" balas Gavin dengan menunjukkan keseriusannya.


Ryan hanya bisa menghela napas panjang, bisa dipastikan hari-harinya akan berat setelah ini. Karena mereka berdua akan menjadi pelayan di cafe milik Gavin.


"Hmm, besok pakai baju apa, ya?" Gavin bergumam dan mengetukkan jari telunjuknya di dagu.


Ryan menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa dia bekerja pada pria labil di sampingnya.


"Kamu sedang mengataiku?" tanya Gavin penuh selidik dengan tatapan horornya.


"Apa?" tanya Ryan bingung, dan dia menatap Gavin yang masih melihatnya dengan pandangan menyelidik.


"Kamu baru saja mengataiku, kan?" tanya Gavin dengan nada ketus.


Ryan menggelengkan kepalanya, tapi tidak bisa menghindar dari tatapan kesal sahabat baiknya.


'Bagaimana dia bisa mendengarku, ya?' pikir Ryan.


"Kan ... kan!" tegur Gavin.

__ADS_1


Ryan menutup mulutnya, dan berpaling. Menatap ke arah lain dan menulikan pendengarannya.


__ADS_2