
Oline yang sejak tadi hanya jadi penonton kini sibuk mengurus Berta yang tidak sadarkan diri, dia menyalahkan Alex yang tidak tanggap sebagai laki-laki. Kedua kalinya Gavin melihat amarah di mata Oline.
"Laki-laki tidak boleh seperti itu!" ujar Oline.
Tangannya selalu membenarkan posisi roknya yang terlalu pendek, hingga kesulitan untuk berjongkok.
Ryan masuk ke dalam ruang Berta, karena melihat Gavin tadi masuk ke sana. Dikarenakan panggilan alam yang tidak bisa ditunda, Ryan langsung ke toilet. Setelah selesai, buru-buru masuk ke ruangan Berta.
"Ada apa, Pak?" tanya Ryan, yang melihat Berta terkulai di lantai.
"Pecat mereka berdua, dan selesaikan urusanmu dengan dia!" ujar Gavin dengan nada tinggi dan tangannya menunjuk ke arah Berta dan Oline.
Oline yang mendengar dirinya dipecat, langsung berdiri dan mendekati Gavin. Matanya memerah, menahan amarah yang sudah hampir meledak.
"Anda, ya! Seenaknya main pecat!" bentak Oline pada Gavin yang matanya mengerja karena terkejut. "Suatu saat, kamu akan berurusan denganku! Jangan harap aku akan berbaik hati!" Hardiknya.
Gagang sapu yang dipegang Oline, sudah melayang di kepala Gavin. Lelaki itu tidak sempat menghindar, hingga tersungkur. Gavin masih bisa melihat Oline yang melenggang pergi dengan mengatakan sesuatu yang tidak dapat dia dengar.
"Duh, gegar otak nih!"
***
Setelah kejadian di restoran miliknya, Gavin terus memikirkan Oline. Kemudian, meminta Ryan untuk mencari tahu di mana Oline bekerja. Satu bulan lebih, Gavin menunggu kabar tentang wanita yang mencuri separuh hatinya di pandangan pertama. tapi belum bisa menemukannya.
"Kenapa aku memecatnya!" oceh Gavin dengan rasa kesal yang memuncak. "Ah, tapi dia berani memukul kepalaku!" serunya dengan memegang kepalanya yang pernah dipukul oleh Oline.
Lelaki bertubuh atletis itu, menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Berkali-kali menggerutu, karena kesalahannya sendiri, membuat sahabatnya sedikit kesal.
"Vin!" tegur Ryan, dan Gavin hanya melirik.
Ryan dan Adi, adalah sahabat Gavin semasa SMA. Mereka bertiga memiliki kemampuan di bidang masing-masing, tapi yang lebih kentara adalah Ryan, semua nilai mata pelajarannya sangat memuaskan. Jika Adi terkenal sebagai casanova sejak SMA, maka Gavin terkenal hanya menyukai satu gadis saja, sedangkan Ryan lebih suka belajar. Hanya saja, nasib membawa mereka pada jalan masing-masing.
"Iiish! Wanita itu!" Gavin sangat kesal, ketika mengingat Oline, tapi dirinya ingin bertemu. Entah perasaan amacam apa, yang sedang dialami oleh Gavin. "Aaargh!" teriaknya tanpa sadar dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, jika kamu akan jatuh cinta pada gadis cupu itu!!" ejek Ryan.
"Syukurlah, kamu benar-benar sudah bisa move on!" tambah Ryan.
Gavin yang tadinya berjalan mondar-mandir, menggangu pekerjaan Ryan. Terpaksa, menghempaskan bokongnya di sofa putih kesayangannya.
"Tidak! Aku hanya terkesan padanya!" elak Gavin.
"Terkesan? Aku mengenalmu, Vin!" ejek Ryan.
Gavin berdecak, mendengar ejekan dari sahabatnya, tapi tidak dapat dipungkiri, jika dia benar-benar tertarik pada Oline. Parasnya yang biasa saja, tapi tingkahnya yang mampu membuat Gavin terpesona.
"Sudahlah, ayo kita pergi minum kopi!" ajak Gavin.
Gavin dan Ryan menutup pekerjaan mereka, dan pergi untuk menghilangkan penat. Diperjalanan, Ryan mendapatkan telepon dari ibunya dan dipastikan mengenai perjodohan lagi. Ryan sudah bosan, tapi dia tidak berani melawan.
Gavin tahu, perasaan Ryan sedang tidak baik karena tuntutan keluarganya. Hanya bisa menenangkannya, dan mengajaknya untuk menghilangkan penat.
"Pak, saya menunggu atau pulang?" tanya Pak Lukman--supir Gavin, ketika mereka sudah sampai di tujuan.
Pak Lukman langsung putar balik dan menjauh dari kedua lelaki dewasa yang menjadi majikannya, selama lima tahun belakangan. Gavin, sudah menjadi penyelamat kedua orang kepercayaannya itu. Tanpa, Gavin. Pak Lukman dan Ryan, mungkin masih berkubang pada pekerjaan mereka yang tidak tentu penghasilannya.
Ryan langsung memesan dua cappuccino latte flate white dan 2 cake stroberi, saat mereka sudah menentukan di mana akan duduk.
"Masih suntuk?" tanya Gavin santai.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Gavin, Ryan malah menanyakan di mana dia bisa mendapatkan apartemen yang nyaman dengan harga terjangkau pada Gavin. Ryan hanya ingin belajar hidup mandiri, tanpa kekangan orang tua dan bayang-bayang Gavin yang mendominasi hidupnya saat ini.
"Apartemen milikku saja!" jawab Gavin santai.
Jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasi, Ryan sejak awal. Ryan hanya bisa berdecak kesal dengan kelakuan sahabatnya. Namun, dia bersukur. Gavin bukan sahabat yang hanya memanfaatkan dirinya saja. Selalu membayar apa yang menjadi haknya.
"Vin, bisa enggak ngasih saran yang lain!" keluh Ryan.
__ADS_1
"Kamu pikir, aku memberinya gratis?" ejek Gavin dengan menyilangkan tangannya di depan dada. "Apartement yang seharusnya untuk Laura, tapi ...," lanjutnya. Namun, dia terdiam seketika.
"Baiklah, aku ambil apartement itu. Potong gaji saja!" balas Ryan dengan cepat, agar Gavin tidak perlu membahas tentang Laura.
Mereka tertawa bersama setelah terjadi kesepakatan, tapi mata Ryan langsung tertuju pada pramuniaga yang menuju ke arah mereka. Ryan mengedipkan matanya berkali-kali, menarik perhatian Gavin.
"Ngapain sih?" tanya Gavin. dengan mimik wajah keheranan.
Belum juga Ryan menjawab, pramusaji itu sudah mendekat dan meletakan pesanan mereka dengan hati-hati. Pandangan Ryan tidak berpaling dari wajah sang pramusaji, Gavin yang penasaran langsung menatap ke arah yang sama dengan Ryan. Kini, lelaki bermata sipit itu yang terpana dan tidak berkedip, seakan-akan terhipnotis oleh wajah ayu sang gadis.
"Eh, itu bukannya si Oline?" tanya Gavin, ketika Oline sudah menjauh.
"Hmmm!" jawab Ryan.
"Ah! Kamu kenapa enggak bisa menemukan dia?" Gavin bertanya dengan kesal, matanya makin menyipit dan bibirnya mengerucut lucu.
Ryan nyaris tertawa melihat teman sekaligus bosnya itu, bertingkah seperti ABG. Namun, Ryan menahan diri agar tidak melakukannya, karena dia pun terpesona oleh Oline yang kini terlihat sangat cantik di matanya.
"Bodoh!" ujar Ryan lirih, seolah dia baru sadar akan kesalahannya, yang ikut terpana pada gadis yang diincar oleh Gavin yang telah sangat berjasa pada hidupnya.
"Kamu kenapa?" Gavin heran dengan tingkah sahabatnya, dia berpikir jika Ryan masih memikirkan keluarganya. "Udahlah, jangan memikirkan hal itu lagi, masalah apartement bisa diatur kapan kamu mau pindah!" sambung Gavin.
"Siap, bos!" balas Ryan dengan cepat.
Gavin mendekat ke Ryan, mengatakan jika dia ingin menjadi karyawan di sini dan meminta beberapa karyawan yang mengenalnya dipindahkan ke cafe lain. Ryan mengenal Gavin dan dia tahu, jika Gavin benar-benar jatuh cinta pada Oline. Gadis yang tidak sengaja dikenal dan langsung dipecat dihari mereka bertemu tanpa mengetahui kesalahannya. Ryan pun mengikuti permintaan yang sebenarnya perintah baginya. Ryan langsung menghubungi manager, meminta apa yang tadi disampaikan oleh bosnya dan harus dilaksanakan saat ini juga.
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, waktu pergantian shift bagi para pramusaji. Berarti, waktunya Oline pulang kerja. Kesempatan ini, ingin Gavin pergunakan untuk mengikuti gadis yang bisa menggeser Laura dari hatinya.
"Mereka tukar shift, kan? Aku mau mengikutinya, agar tidak kehilangan dia lagi!" ucap Gavin bersemangat.
Semangat Gavin sangat membara, sehingga tidak menyadari seseorang sudah berdiri di belakanganya dengan memegang segelas air di tangannya. Sedangkan Ryan, sedang fokus pada ponsel pintarnya.
"Ini untuk kekurang ajaranmu!" suara lembut, tapi terdengar seperti seseorang yang memendam kekesalan pada Gavin.
__ADS_1
"Oh, ****!" bentak Gavin. Spontan dia berdiri dan mengangkat tangannya, ingin memberi pelajaran pada orang yang menyiram dirinya.
Gavin merasa tidak punya kesalahan pada orang lain.