Dia Anak CEO

Dia Anak CEO
Memulai Misi


__ADS_3

"Kamu!" Gavin tidak percaya dengan apa yang di lakukan orang tersebut padanya.


"Iya, saya!" ujar wanita yang tidak lain adalah Oline.


"Kenapa kamu menyiram saya? Apa salah saya?" tanya Gavin bingung.


Oline mendengkus kesal, ternyata lelaki di depannya ini tidak mengingat siapa dirinya. Ingin rasanya, Oline mencekik lelaki yang sombong ini dengan kedua tangannya. Namun, dia masih bersabar, karena dirinya tidak mungkin berbuat lebih jauh dan menarik perhatian orang-orang sekitar.


"Karena kamu, saya kehilangan pekerjaan! Membuat saya harus pindah dari kontrakan dan menahan lapar beberapa hari karena saya tidak menerima gaji yang jadi hak saya selama kerja seminggu di sana!" Oline menjawab dengan nada tinggi dan wajah yang merah padam.


Gavin bingung menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini, dia diam sejenak memikirkan bagaimana harus menjawab Oline yang tengah marah karena kesalahan yang dia buat terburu-buru. Tanpa sengaja, Gavin melirik Ryan, dan satu ide muncul begitu saja.


"Ma-maaf, Mbak. Saya hanya disuruh dia, agar memecat beberapa orang. Untuk mengurangi pengeluaran perusahaan yang membengkak dan saya harus kerja rodi pada perusahaan itu untuk membayar hutang orang tua saya. Kami terpaksa, Mbak! Terpaksa. Demi kontrak pada perusahaan yang sudah kami tanda tangani dan syukurnya hari ini kontrak kami berakhir, jadi kami merayakannya di sini sambil melihat apakah ada lowongan." Gavin memasang wajah memelas, membuat Ryan menjadi mulas.


"Ide gila apa lagi ini!" gumam Ryan yang merasa menjadi tumbal bagi bosnya itu.


Oline menatap Gavin dengan pandangan iba, dan menatap nyalang ke arah Ryan. Rasa kesalnya langsung berpindah pada Ryan yang terlihat gusar.


"Loh, tapi kenapa kamu dan dia bisa bersama, bukannya dia bos kamu?" Oline baru mencerna ucapan Gavin, dan langsung menyadari keanehan yang terjadi. "Tapi, waktu itu aku dengar kamu yang dipanggil oleh dia!" Oline kembali mengingat kejadian yang membuatnya kesal.


Gavin melipat bibirnya dan memutar otak, agar Oline mau memaafkannya. Tidak terlintas satu pun ide, di benaknya saat ini. Gavin memainkan jarinya dengan cepat di atas meja, sedangkan Oline melipat tangannya di depan dada, menatap dua lelaki yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Saya sepupunya dan pendidikan saya lebih tinggi dari dia, makanya saya bisa menjadi atasannya! Tapi, sekarang jadi pengangguran juga!" Ryan maju dengan memasang badannya, untuk menyelamatkan Gavin di mata wanita yang sedang diincarnya. "Untuk panggilan, Pak. Di kantor yang kemarin itu, diharuskan memanggil Pak pada sesama staff!" Lagi-lagi Ryan berbohong.


Gavin menghembuskan napas lega, dan memamerkan deretan giginya yang putih pada Ryan. Akan tetapi langsung bungkam, ketika Oline melihat ke arahnya. Ryan memberikan tatapan kesal pada Gavin, meski tidak dilihat oleh bosnya yang sedang kasmaran.


"Jadi kalian berdua benaran dipecat? Tapi masih bisa makan minum di tempat seperti ini? Kan mahal?" Oline semakin heran dengan kedua orang di depannya, dan menatap keduanya dengan pandangan penuh selidik.


"Lagi pula, pakaian kalian terlalu mencolok bagi seorang penganguran!" Oline benar-benar tidak percaya.


"Kan tadi saya sudah bilang. Kami lagi cari kerja. Meski kami baru dipecat, kami harus segera mencari pekerjaan yang baru, karena ke depannya kami butuh makan minum dan tempat tinggal. Dengan kami mendatangin cafe dan tempat-tempat lainnya, kami berharap mendapatkan info pekerjaan!" Gavin berbicara senatural mungkin.


Oline masih mencari kebenaran dari mata kedua lelaki di depannya, dan dia memutuskan untuk membantu mereka. Tidak ada masalah pikirnya, kemudian Oline mengangguk dan dia menjentikan jarinya. Tadi, tanpa sengaja dia mendengar akan ada pegawai yang dipindahkan, saat manajernya menerima telepon. Oline langsung maju dan membungkukkan tubuhnya sedikit, ke arah dua lelaki yang baru dua kali bertemu dengannya.


"Hmmm, kalian coba saja melamar pekerjaan di sini saja. Sepertinya besok akan ada posisi yang kosong, tapi aku enggak tau bagian apa!" ujar Oline antusias.


"Kebetulan yang sangat sempurna," Gavin menjawab lebih antusias dari Oline, membuat Ryan menghela napas panjang.


Ryan heran dengan kelakuan sang bos yang jatuh cinta sampai tidak memakai logika. Baru bulan kemarin, Gavin memecat Oline dan langsung galau, sekarang Gavin terlihat seperti anak kecil yang menemukan harta karun.


"Kalian siapkan saja lamarannya, besok datang ke sini lagi. Udah dulu, ya, pengunjung sedang banyak. Mau bantu-bantu sebentar, terus langsung pulang." Oline menegakkan tubuhnya dan langsung pergi begitu saja, karena memang pengunjung sedang banyak di akhir pergantian shift.


Diam-diam, Gavin memandangi Oline yang sedang berpamitan pada teman-temannya. Terlihat mereka sangat akrab, dan saling memberi support. Gavin semakin kagum dan hatinya terus berdebar dengan sangat kencang. Perasaan Gavin pada Oline sangat berbeda, dia benar-benar gadis yang bisa mencuri perhatian Gavin sejak pertama kali melihatnya. Jauh berbeda saat dia di dekat Laura dulu.

__ADS_1


"Yuk, pulang!" ajak Ryan.


"Aku masih belum puas memandangnya," Gavin menolak, dan pandangannya tidak teralihkan dari sosok Oline yang sangat ceria meski terlihat gurat kelelahan di wajahnya.


Berbeda dengan Gavin, Ryan nampak gelisah, karena melihat seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam cafe. Wanita yang sangat Ryan kenal, bahkan membuat dirinya ketakutan. Takut wanita itu akan membuat ulah.


"Ayo, besok kita harus pura-pura datang lebih pagi untuk melamar kerjaan di sini!" Akhirnya Ryan menggunakan alasan, yang membuat Gavin tidak bisa menolak.


Gavin membenarkan apa yang dikatakan oleh Ryan, dia tidak ingin kehilangan Oline. Gadis sederhana yang menggoda hatinya, saat kehampaan tidak ada yang bisa menghapus dari dalam hatinya.


Mereka berdua langsung beranjak pergi, setelah membayar tagihan. Agar Oline tidak curiga, jika mereka benar-benar pengunjung seperti yang lainnya. Sebelum pergi, Gavin menyapa wanita berambut panjang yang di ikat rapih. Gavin berharap, Oline akan terbayang-bayang wajahnya. Ya, meski harapan itu sia-sia.


"Hubungi manager cafe!" perintah Gavin, saat mereka sudah berada di luar cafe.


Ryan mengernyitkan dahinya, lalu bertanya pada Gavin, "mau apa?"


"Mau ngomelin dia! Berani-beraninya, ngasih perkerjaan yang banyak pada Oline!" kesal Gavin.


Ryan mengusap wajahnya dengan kasar, tidak menyangka, Gavin akan sebucin ini pada Oline yang baru dikenalnya, bahlkan Gavin tidak tahu siapa Oline sebenarnya. Ryan tidak bisa membayangkan bagaimana bucinnya Gavin, kala bersama Laura dulu. Ryan langsung berjalan meninggalkan Gavin yang masih menggerutu, untuk mencari taxi yang kosong.


Ryan membeku, saat seorang wanita menepuk pundak Gavin. Bersamaan dengan taxi kosong yang lewat.

__ADS_1


__ADS_2