Dia Anak CEO

Dia Anak CEO
Oline dan Aisyah


__ADS_3

Di tempat lain, Oline menyelesaikan pekerjaan dan langsung mengganti pakaian kerjanya menjadi pakaian santai.


"Hai, Syah!" sapa Oline pada sepupu kesayangannya, yang sudah menunggu sejak tadi.


"Assalamualaikum, Oline cantik," balas Aisyah.


Aisyah memeluk sepupunya itu dan tidak lupa cipika-cipiki, kemudian mengajaknya untuk mencari tempat mengobrol yang lebih enak dan Oline langsung mengangguk setuju.


"Kamu enggak niat pulang?" tanya Aisyah, ketika sampai di resto yang biasa mereka kunjungi.


Oline menghembuskan napas berat, enggan membicarakan masalah keluarganya. Akan tetapi, dia tahu, lambat laun hal ini akan terjadi.


"Kamu tahu sendiri bagaimana papa dan mama, mereka ingin menjodohkan aku terus. Aku bosan!" keluh Oline. "Selain itu, aku harus mengurus perusahaan papa. Kamu tahu aku tidak suka tekanan yang terlalu over!" imbuhnya dengan helaan napas panjang.


Aisyah menepuk tangan Oline yang diletakkan di atas meja, kemudian menyemangatinya. Aisyah juga menyampaikan salam dari orang tuanya untuk Oline, Aisyah mengatakan, jika Oline lebih baik tinggal di rumahnya dari pada harus mengontrak. Tentu saja Oline menolak ajakkan sang sepupu, karena pasti papanya dengan mudah menemukannya.


"Om berkali-kali bertanya padaku tentang kamu, dan aku sudah tidak ingin berbohong lagi!" lirih Aisyah.


Oline menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menyilangkan tangannya di dada, bibirnya mengerucut kemudian dia lipat ke dalam.


"Kamu enggak harus berbohong, lagi pula kamu tidak tahu, kan aku tinggal di mana?" lontar Oline santai.


Kali ini Aisyah hanya menghela napas kesal, tapi langsung tersenyum melihat tingkah sepupunya. Aisyah mengalihkan pertanyaannya pada Oline tentang jodoh, dan hal itu membuat Oline tertawa terbahak-bahak.


"Iiih, aku serius loh!"  Aisyah merajuk.


"Lagian, mana ada yang suka denganku?" balas Oline.


"Kamu itu sangat cantik, kaya, pinter dan yang paling penting, kamu itu sangat baik dan suka menolong orang lain," sanjung Aisyah.


Oline makin menyukai Aisyah, sepupu satu-satunya tempat dia mencurahkan perasaan dan Aisyahlah yang selalu mengetahui di mana tempat persembunyiannya. Oline beruntung karena memiliki Aisyah di sisinya, selain sebagai pelindung, sepupunya itu selalu mengajarkan kebaikan dan kesederhanaan. Terlebih, dia sering mengajari Oline tentang agama. Membuat pribadinya makin membaik.


"Tapi, kan. Mereka tahunya aku yang saat ini, kusam, tidak kaya, dan sangat galak!" ujar Oline dibarengi dengan gelak tawa dari keduanya.


"Kamu memang aneh!" sahut Aisyah geli, ketika Oline bergaya sok cantik, meskipun memang sangat cantik.

__ADS_1


Canda tawa mereka menarik perhatian seorang lelaki yang sangat tampan dan berwibawa, lelaki yang sangat mengenal Oline meski dia tidak memakai make up dan menggunakan baju biasa.


"Hai, Caroline. Apa kabar?" Lelaki itu mendekat dan menyapa Oline.


Oline sempat menutupi wajahnya, agar tidak dikenal, tapi percuma. Lelaki itu sudah mengenalinya, meski penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.


"Hai, Joshua!" balas Oline pada lelaki di depannya.


"Boleh gabung?" tanya Joshua dengan sopan dan di persilahkan oleh Aisyah.


Oline menggaruk kening yang tidak gatal dan menendang kaki Aisyah dengan kesal, tentu saja membuat Aisyah mengaduh dan Joshua tertawa.


"Kalian sahabat yang sangat akrab, ya," Antara bertanya dan kepo menjadi satu.


"Dia bukan sahabatku!" tolak Oline dan mendapat pukulan di tangannya dari Aisyah. "Loh, emang kita bukan sahabat, kan? Tapi sepupuan!" lanjut Oline dengan gayanya yang dingin.


"Eh, iya-ya," Aisyah baru menyadarinya.


Jhosua mengangguk tanda mengerti, dan memilih diam. Memperhatikan dua wanita di depannya yang sedang bersenda gurau.


"Kamu kerja di mana?" tanya Joshua pada Oline, menghentikan candaan dari dua saudara itu.


Aisyah merasa tidak enak, karena sikap Oline yang cuek dan terlalu dingin. Ingin menasehatinya, tapi masih di depan khalayak ramai. Memilih memberikan kode, dan ditanggapi dengan malas oleh Oline.


"Kenapa enggak menjalankan bisnis di perusahaan papamu?" kepo Joshua.


"Aku sudah diusir dan mereka mencoretku dari KK mereka," jawab Oline dengan sedih.


Hal itu membuat Aisyah menghela napas panjang, Aisyah tidak menyangka akan jawaban Oline yang seenaknya. Kegeraman Aisyah mulai nampak, tapi ditanggapi santai oleh Oline. Karena dia tahu, Aisyah tidak mungkin mempermalukannya.


"Mau aku bantu masuk di perusahaan temanku? Atau kamu mau kerja di kantorku?" tawar Joshua.


Oline dengan sedih menolak tawaran lelaki yang selalu memandangnya tanpa berkedip, bahkan lelaki di depannya selalu mengetahui apa yang menjadi kesukaannya.


"Baiklah," lirih Joshua pasrah. "Tapi bolehkan, aku menemuimu saat kamu kerja dan juga santai?" tanya Joshua kemudian.

__ADS_1


"Asal tidak mengganggu pekerjaanku, enggak masalah," jawab Oline dengan mengedikan bahunya.


Joshua mengucapkan terima kasih dan berpamitan, karena asistennya terus menghubunginya. Joshua terlihat enggan meninggalkan kursinya, jika bukan karena ponselnya yang terus berdering.


"Aku permisi dulu, next time kita akan berjumpa dan makan malam bersama," ujar Joshua dengan pandangan memuja pada Oline.


"Aku tunggu," ujar Oline santai.


Aisyah dapat melihat tatapan cinta dari Joshua pada sepupunya Oline, setidaknya Aisyah merasa Oline akan ada yang menjaganya.


"Ciee ... cie, ditaksir cowok keren dan tajir," goda Aisyah dan dibales dengan tatapan membun*h dari Oline.


"Dia bukan tipeku!" ketus Oline.


Oline memiliki kriteria yang jauh dari standart yang dimiliki Aisyah untuk calon suaminya nanti.


Aisyah tertawa mendengar apa yang dilontarkan oleh sepupunya. Aisyah mengajak Oline untuk ke rumahnya, "Lin, nginep di rumah, yuk. Kangen nonton drakor berdua dengan kamu."


Lagi-lagi, Oline menolaknya dengan memberikan alasan yang membuat Aisyah menyerah untuk merayunya.


"Aku pulang dulu, ya. Besok aku harus kerja lagi," ujar Oline lirih, sembari merenggangkan otot-otot yang lelah.


"Yah, kok cepet banget sih. Padahal aku mau cerita tentang lelaki yang aku sukai dan tadi ketemu di cafe tempat kamu bekerja," Sekarang Aisyah yang merajuk.


"Maaf, ya. Nanti kalau libur, kita ngedrakor sampai pagi dan gibahin cowok yang kamu suka. Oke?" tawar Oline yang merasa tidak enak pada sepupunya.


"Oke, janji, ya!" Aisyah sangat senang mendengarnya.


Oline hanya mengacungkan dua jempolnya ke depan dan dan disambut senyum hangat Aisyah.


"BTW, kamu yang bayar, ya. Belum gajian nih!" keluh Oline dengan mengedipkan kedua matanya.


"Iya-iya," Aisyah pasrah, karena dia tahu kehidupan Oline saat ini, tidaklah sama seperti dulu.


Setelah selesai membayar, Oline dan Aisyah beranjak dari duduk mereka dan mereka berpisah.

__ADS_1


Oline berjalan gontai, mengingat kedua orang tua yang pasti merindukannya, tapi Oline tidak suka dengan sikap papanya yang terlalu memaksakan kehendaknya pada Oline. Kakinya membawa Oline pada ujung jalanan yang masih ramai, tapi langkahnya langsung tertahan. Matanya tidak berkedip melihat pemandangan di depannya, Oline tidak pernah bayangkan apa yang terpampang nyata di hadapannya


"Papa!" pekiknya tertahan.


__ADS_2