
Sudut pandang Sultan
Apa ini...semua gelap...aku dimana...? Aku memanggil manggil nama kembaranku yang berupa roh untuk memanduku kembali, tapi tak ada sahutan darinya...Akhirnya aku putuskan untuk berhenti memanggilnya dan aku mulai berjalan menyusuri kegelapan itu, tanpa arah, tanpa tujuan sampai kulihat secercah cahaya remang remang...
Aku melihat pemandangan yang cukup mengerikan, aku melihat sekitar, barulah aku sadar bahwa pemandangan ini terasa lazim bagiku...Aku sadar, aku berada di suatu kamar rawat inap di suatu rumah sakit...
Dan di depanku, seorang remaja terbaring sambil meronta ronta kesakitan di ranjangnya dengan keadaan tangan dan kakinya yang terikat ke ranjang, sementara disekelilingnya terdapat banyak dokter dan perawat sedang memantau kondisinya...Tidak hanya itu, di tubuhnya menempel sangat banyak selang yang terhubung ke berbagai saluran...Di sisi kanan anak itu, ada seorang wanita yang menangis sambil memeluk dan membelai kepala anak itu...
Aku tertegun dan terduduk lemas ketika kusadari bahwa sosok wanita itu ternyata adalah Ibuku sendiri...Kemudian aku menatap anak malang yang terikat di ranjangnya itu, aku semakin syok...itu...itu adalah AKU...
Apa - apaan ini ?! Ini...bukanlah dimensi lain...INI ADALAH MEMORIKU...kenapa??? tapi kenapa memori burukku ini terngiang kembali....
Sesaat aku hanya bisa syok dengan apa yang kulihat...Mulutku menganga, tubuhku membeku...Sesaat berikutnya terdengar olehku tangis pilu kesakitan dari mulutku sendiri dalam memoriku 2 tahun yang lalu ketika aku mengalami sakit keras dan dirawat di rumah sakit selama 4 bulan...Aku menjerit frustasi sambil menutup telingaku karena memori ini terasa begitu menyakitkan bagiku...
"Sultan...tenanglah...kamu sudah tidak apa - apa sekarang..."
Sayup - sayup, kudengar suara ibuku menenangkanku...Perlahan suara lembut ibuku berubah menjadi suara cemas sahabat baikku, Lucas...Perlahan aku mulai melihat cahaya kembali...Semua memori burukku sirna dan aku mulai terjaga...
"Hah...hah...hah...aku dimana...?!" Aku terbangun dan kemudian terduduk di kasurku...Tubuhku bercucuran keringat dan air mataku juga tanpa sadar telah mengalir...Aku langsung membaca Istighfar dan Ayat Kursi...Sahabatku menatapku dengan perasaan cemas dan takut...Dia terduduk di kasur di sebelahku...
Ya...Dia, sahabatku, Lucas saat ini sedang menginap dan tidur di kamarku, tapi tenang saja...kami beda tempat tidur kok...Lagipula hubungan kami hanyalah sebatas sahabat, bukan yang macam - macam kok...kami sama - sama laki - laki normal kok yang menyukai seorang gadis dambaan kami masing - masing...hanya saja memang kami ini bersahabat sudah terlalu dekat...Ok...Back To The Topic...
"Kamu kenapa Sultan, jerat jerit histeris begitu tengah malam begini...kamu buat aku takut aja...kamu mimpi apa sih? nih, minum dulu air ni sambil kamu coba menenangkan dirimu dulu"
Lucas bertanya padaku sambil mencoba menenangkanku dan kemudian menyodorkan segelas air padaku...Aku membaca do'a dulu sebelum meminumnya...Setelah itu aku mengatur pernafasanku dan mencoba menenangkan diriku...
"Haahh...nggak...aku ngak apa apa kok, Lucas...hanya memori burukku yang teringat kembali..."
Aku menghela nafas dan kemudian beranjak dari ranjangku...
"Memori? ah...iya, aku paham...ya ampun...kok bisa sih? ee...eh...kamu mau kemana malam - malam begini?"
Lucas berpikir sejenak sebelum raut mukanya berubah dengan tatapan iba...Aku bisa merasakan kesedihan dari tatapan matanya itu, ia benar - benar iba denganku karena dia lah sahabatku yang paling setia dan paling tau dengan penderitaanku ketika tersiksa oleh sakitku 2 tahun yang lalu...
Aku ngak mau terlihat menangis lagi di depannya jadi aku memilih untuk menjauhinya, tak disangka dia malah mau ngikutin aku...Dia awalnya mau ikut bangkit dari tempat tidurnya, tapi aku melarangnya dan melemparkan bantal ke mukanya...
"Lu ngapain ikut - ikut gua...udah tidur aja lagi sono...ini masih malam...gua cuman mau ngadem bentar kok ke balkon..."
"Lah...kan elu yang bangunin gua tadi BamBank...pake acara ngigau jerat - jerit segala lagi...lu gangguin tidur damai gua aja lu..."
__ADS_1
"Bodo ah..."
Aku menjawabnya dengan menahan senyum...
"Yaudah...gua juga bodo amat ama elu...gua juga pengen ngadem...keringet lo memancarkan aura panas ke seisi ruangan ini..."
"Apa..."
Aku menyikutnya dan lalu merangkulnya...
Aku pergi ngadem ke balkon yang berada di kamarku sambil ngobrol ringan dengan sahabatku mengenai mimpi dan memori burukku serta bercanda gurau dengannya...Setelah merasa lega, kami kembali masuk ke dalam kamar...Aku mengambil wudhu lalu Sholat Tahajud terlebih dahulu sebelum akhirnya aku dan Lucas kembali tertidur sampai menjelang waktu subuh
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=################################\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudut pandang Lucas
Sehabis sholat Maghrib, aku dan Sultan berdiri bersantai di lantai dua istana sambil mengamati hiruk pikuk pegawai kerajaan menjelang malam...Kami berdua berdiri di pinggir dekat tangga lantai dua memperhatikan orang - orang yang sibuk lalu lalang di lantai satu istana sambil mengobrol santai bersama...Kerena rada lelah berdiri kami pindah, kami duduk di bangku yang ada di dekat balkon sebelah kanan...Kami lanjut mengobrol dan bercanda gurau sampai tidak kami sadari hari sudah Isya...
Sebenarnya yang tidak sadar adalah aku, kalau Sultan orangnya agamis, jadi ketika adzan berkumandang ia mendadak diam dan membekap mulutku...
"Allahu Akbar...Allahu Akbar..." (Adzan Isya berkumandang)
"Ada apa Sultan...kok di...mph...Sul...Sultan...Mph..."
"Diam bodoh...itu lagi adzan...dengerin dulu adzan berkumandang"
Ia ngomong dengan suara yang sangat pelan tapi cukup untuk terdengar olehku...Aku memahaminya dan aku memberi isyarat padanya untuk melepaskanku dan aku berjanji untuk diam...
Ia melepaskanku dan aku menepati janjiku padanya...Aku diam dan menghayati adzan...Akhirnya adzan sudah berhenti berkumandang...Ia masih diam sejenak untuk berdoa sebelum dia mulai kembali bawel...
"Sul, udah Isya...aku kembali ke tempatku ya, ke sayap kanan istana, tempat para pengawal dan pegawai laki - laki beristirahat...kamarku di sana...selamat malam Sultan..."
Aku bangkit dari dudukku, baru aku mau meninggalkannya, dia menahan tanganku...
"Sholatmu mas!!!"
Dia menatapku tajam untuk mengingatkanku agar sholat...
"Hehe...iya aku paham kok...aku pasti sholat...tenang aja...aku mau sholat di kamarku aja...aku juga mau beristirahat dan bersiap siap untuk sekolah besok"
__ADS_1
Tatapan matanya berubah yang entah kenapa aku merasa tatapannya seperti tatapan sedih...
"Eng...sholat di kamarku aja yuk...berjemaah kita..."
Ia menyeretku ke kamarnya yang tak jauh dari tempat kami duduk, aku tidak menolaknya sama sekali...
"Yaudah deh...terserahmu..."
Aku mengikutinya masuk ke dalam kamarnya, di depan kamarnya berdiri dua orang pengawal yang menjaga kamarnya...Ia kemudian berbicara dulu pada kedua pengawal itu yg ternyata juga merupakan pengawal pribadinya selain aku...
"Ferdi, Andri, kalian tidak perlu mengawal kamarku malam ini...lihat siapa yang bersamaku...kalian tau kedudukanya kan...kalian bisa beristirahat malam ini..."
Aku menatap kaku kepada mereka berdua karena aku merasa risih dengan perkataan sahabatku yag paling rese ini...
"Baik tuan pangeran Sultan, selamat beristirahat..."
Mereka memberi hormat dan kemudian meninggalkan area sekitar kamar Sultan...Seharusnya sih aku seperti mereka, hormat pada Sultan bila dilihat dari perbedaan kedudukan antara aku dan Sultan...Tapi Sultan tak pernah mau bila aku memanggilnya dengan gelarnya, dia akan marah dan bilang kalau aku ini sahabatnya dan dia tidak mengizinkan sahabatnya memanggilnya dengan gelarnya...
Aku masuk ke kamarnya, mengambil wudhu di kamar mandi yang ada di kamarnya Sultan lalu Sholat Isya berjamaah dengan Sultan yg jadi imamnya...Selesai sholat, kami duduk dan bercanda gurau, hingga waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam...Aku bangkit dan mau kembali ke kamarku, tapi dia lagi - lagi menahanku...
"Tunggu...eng...malam ini kamu bisa ngak menemaniku di sini...entah kenapa aku lagi tidak ingin sendirian..."
Ketika aku melihat gelagatnya, sekilas aku mendapat pandangan...Pandangan yang memilukan...yap...Ini akan menjadi malam yang berat baginya, oleh karena itu aku tidak menolak permintaannya...
Lampu di matikan dan aku berbaring di kasur yg sudah ia sediakan di samping kasurnya...Kami mengobrol sampai kami mengantuk dan akhirnya kami tertidur...
Benar saja firasatku, tengah malam aku dibangunkan olehnya...Ia berteriak, menangis, dan menjerit sambil menggeliat di kasurnya...Dia terus meracau dan mengigau...
"Tidak...tidak...tidak...aku tidak mau lagi...aku tidak mau lagi...keluarkan aku dari sini...kumohon...siapapun..."
Suara jerit tangisnya mengingatkanku pada kejadian memilukan 2 tahun yang lalu yang menimpanya...
"Sul...Sultan...tenanglah sahabatku...kamu sudah tidak apa - apa sekarang..."
Aku mungulangi kata - kata itu sambil menepuk nepuk bahunya mencoba membangunkannya...
Akhirnya dia terbangun...Dia bersimbah keringat dan bercucuran air mata...Aku mengambilkan minum untuknya dan mencoba menenangkannya...Setelah dia mulai stabil aku bertanya padanya, apa yang ia mimpikan...
Sultan hanya menjawabku sekedarnya saja, ia mengatakan bahwa ia tidak apa - apa hanya ingatan buruknya kembali terngiang...Aku paham apa yang ia maksud, memori itu adalah memori mengerikan yang terjadi 2 tahun yang lalu...memori memilukan baginya ketika ia terkena penyakit keras dan menjalani rangkaian pengobatan yang sudah seperti siksaan selama 4 bulan lamanya...Aku juga trauma dgn memori itu karena kala itu aku hampir kehilangan sahabat terbaikku...
__ADS_1
Ia bangkit dari tempat tidurnya menuju balkon di kamarnya, aku pun ikut - ikutan bangkit mengikutinya...aku mengarang berbagai alasan agar aku bisa menemaninya yang lagi dalam trauma parah...aku ingin membuat ia nyaman kembali dan melupakan memori buruknya itu...aku sengaja mengajaknya berbicara dan menghiburnya dengan berbagai banyolan garingku...Setelah melihat ia mulai lega, kami kembali masuk ke kamar untuk kembali tidur...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=