Diamond Heart

Diamond Heart
Episode 8 : Belajar Bersama Sultan


__ADS_3

...


…Lucas…


Setelah kejadian “monyet tampan” (Sultan yang memiliki wajah yang tampan, melakukan suatu akrobat konyol dengan menuruni lantai 2 gedung kelasnya dengan cara bergelayutan di pohon), aku dan Sultan kembali berpencar untuk melanjutkan kelas kami masing – masing berhubung jam istirahat pertama telah habis…


Kami melanjutkan kembali rutinitas kami masing – masing hingga tiba saatnya jam pulang…Aku keluar kelas lebih dulu daripada Sultan…Setelah aku selesai memantau petugas piket dan aku juga telah menunaikan sholat Ashar, aku pergi ke kelas Sultan untuk menunggu Sultan…Cukup lama menunggu, akhirnya kelas Sultan usai juga…Aku kemudian menemani Sultan mengerjakan sholat Ashar nya terlebih dahulu, barulah setelah itu kami bersepeda bersama hingga sampai di istana kerajaan…


Kami memasuki istana bersama – sama dan kami berjalan menaiki tangga ke lantai 2 juga beriringan…Sebelum naik ke lantai 2, kami melepas sepatu kami dan kemudian membawanya...


Setelah itu aku dan Sultan kembali berpencar…Sultan langsung belok kiri dari tangga, menuju kamarnya Sementara aku masih berjalan lurus ke lorong sayap kanan istana, yaitu asrama tempat para pegawai istana yang laki laki beristirahat…Kamarku terletak 4 pintu sebelah kanan setelah memasuki lorong…


Sebenarnya aku memiliki rumah bersama keluargaku yang lokasinya tidak jauh dari istana, tapi karena aku sudah menjadi pegawai istana, yaitu pengawal pribadi pangeran mahkota atau disini kami mengenalnya sebagai pengawal tingkat 3, aku dapat memilih mau tinggal di istana atau tinggal bersama keluargaku di rumah keluargaku…


Aku memilih kedua - duanya…Kalau aku merindukan keluargaku terutama ibuku, aku akan tinggal di rumahku…Dan kalau aku lagi ada latihan kepengawalan atau aku lagi menjalankan tugasku, aku akan tinggal di istana di asrama pegawai istana…


Tapi, kalau di istana, aku tidak sendirian di kamarku…Karena peraturannya, setiap pegawai istana termasuk para pengawal sepertiku yang memilih tinggal di istana harus siap tidur 4 sampai 6 orang dalam satu kamar…Aku kebagian 4 orang sekamar dan kebetulan aku sekamar dengan teman sesama pengawal tingkat 3…


Aku memasuki kamarku dan menyapa penghuni kamarku yang lain…Teman sekamarku menyambutku, tapi hanya 2 orang saja yaitu bang Andri dan bang Bayu yang ada di kamar sementara 1 orang lagi, bang Faisal sedang kebagian tugas menjaga kamar pangeran mahkota alias sahabatku, Sultan…


Aku membereskan barangku lalu aku pergi mandi…Setelah mandi dan berpakaian, aku menghempaskan badanku ke kasurku dan bermain game di hpku…Di kamarku ada 2 buah kasur tingkat, Aku tidur satu kasur tingkat dengan bang Andri, aku di kasur bawah dan bang Andri di kasur atas, kasur kami menghadap vertikal…Sementara bang Bayu dan bang Faisal tidur kasur tingkat yang sama, bang Bayu di kasur atas dan bang Faisal di kasur bawah, kasurnya bang Bayu dan bang Faisal menghadap horizontal…


Sejam setelah aku siap beberes, tepatnya jam setengah 6 sore, teman sekamarku yang lain, yaitu bang Faisal masuk dengan seragam pengawal lengkap…Kami berempat mengobrol sebentar, setelah itu Bang Faisal pergi mandi, bang Andri sedang menjahit songketnya yang robek, dan bang Bayu sedang bermain gitar…Sementara aku, aku kembali asik bermain game…Saking khusyuknya bermain game, aku tidak sadar kalau ada yang mengetuk pintu kamarku…


Selain tidak sadar bahwa ada yang datang, aku juga tidak sadar bahwa mendadak ruangan menjadi sepi…Yang dapat terdengar olehku hanyalah suara – suara batin teman – teman sekamarku…Tapi, sekali lagi aku tidak menghiraukan suara – suara itu...Sampai sebuah buku tipis menampar kepalaku…


*Plak*


(bunyi buku mendarat ke kepalaku)


“Aduh, bang Andri..ngapain sih…ini udah mau menang tau…”


Aku kesal karena kupikir bang Andri yang menjahiliku…Soalnya bang Andri terkadang juga suka menjahiliku dengan melempar barang – barang ringan ke arahku…


“Lah…bukan abang kok, Lucas…orang abang disini sama Bayu…”


Aku masih tidak percaya dengan perkataan bang Andri karena dari nada suaranya, bang Andri seperti sedang menahan tawa…


Begitu pula dengan teman sekamarku yang lain yang juga terdengar seperti menahan tawa…Dari suara batin mereka pun terdengar mereka sedang mengejekku…


“Masa? trus siapa dong bang…hantu? Ih…abang ini…aku hampir menang tau padahal…”


Aku berbalik badan untuk mengecek kebenarannya dan seketika aku syok…


“Menang apaan, somplak…”


Sultan menyeringai dengan usil…Aku kaget karena dia mengagetkanku dengan tenang sekali bahkan saking tenangnya, aku tidak bisa mendengar suara batinnya yang biasanya ributnya minta ampun…


Ni anak, asal kalian tau, dia itu aslinya bawelnya luar biasa…Bawel di luar (cerewet) iya, bawel di dalam (dia kadang suka berbicara sendiri dalam hati) iya juga…


“Waaaa…!!! *Tok!* (suara kepalaku yang terantuk bagian atas kasurku) Ergh aduh…kepalaku…”


Aku kaget dan bangun dengan panik, saking paniknya, kepalaku jadi terantuk langit - langit tempat tidurku…Aku langsung memegang kepalaku karena kesakitan…Teman – teman sekamarku menertawaiku gelagatku yang habis dijahili oleh Sultan…Sementara Sultan sendiri malah kaget dan tampak seperti menyesal telah mengerjaiku…


“Lucas!!! Ya ampun…maaf…kamu nggak apa – apa? Sakit ya? maaf…aku bukan bermaksud hendak melukaimu…sini aku obati…”


Sultan panik dan sedikit mendekat ke arahku…


“Nggak…nggak apa – apa…nggak perlu diobati kok…aku udah biasa…”


Aku berbicara sembarangan karena masih geram dengan Sultan…Tapi aku tidak menyangka, kata – kataku malah memancing emosi Sultan…Aku yang awalnya geram pada Sultan, mendadak ngeri melihat ekspresi dan respon Sultan…


“Jangan terbiasa menyepelekan masalah dan rasa sakitmu, Lucas !…aku nggak suka…aku nggak suka kamu menyepelekan sakitmu karena aku jadi teringat betapa bodohnya aku ketika aku menyepelekan sakitku…diam disini dan biarkan aku mengobati lukamu…”


Aku hanya bisa terdiam ketika mendengar kata – kata Sultan…Aku paham betul apa yang dikatakan oleh Sultan karena aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri ketika Sultan tersiksa dan menderita rasa sakit yang luar biasa di kepalanya karena penyakit yang pernah ia idap beberapa tahun yang lalu…


Dengan perasaan yang sudah campur aduk, akhirnya dengan pasrah aku membiarkan Sultan mengobati luka di kepalaku…Daripada tidurku malam ini dibayang – bayangi oleh tatapan Sultan yang dingin dan menyeramkan…


Aku duduk di pinggir kasurku sambil menggosok – gosok kepalaku yang kesakitan, sementara Sultan mengambil kotak P3K dari atas meja belajarku Sultan kemudian mengambil cairan rivanol dan plester dari dalam kotak P3K untuk mengobati lukaku…


Setelah mengobatiku, aku memberanikan diri bertanya kepada Sultan…


 “Oiya Sultan, ngomong – ngomong ngapain kamu kemari…jarang – jarang kamu ke kamarku…”


Aku bertanya dengan hati – hati pada Sultan…Aku takut Sultan masih kesal soalnya tadi aku sempat membuat Sultan kesal karena omonganku yang sotoy abis…Aku masih duduk di kasurku sementara Sultan melihat – lihat meja belajarku…Untungnya Sultan bukan tipikal orang yang bisa marah berlama – lama…Ia sudah tidak menyuguhkan tatapan mengerikannya lagi…Bahkan ia mulai kembali tersenyum ramah…

__ADS_1


“Hah…kamu lupa ya cas? Kamu sendiri loh yang meminta pertolongan padaku untuk mengajarimu materi matematika yang tidak kamu mengerti…”


Sultan menjawab pertanyaanku dengan senyum heran sambil menggoyang - goyangkan buku “sakti” nya yang meskipun tipis, tapi berisi kumpulan rumus matematika yang ditulis super lengkap dan super rapih oleh Sultan Dengan buku itulah ia menampar kepalaku tadi…


“Astaghfirullah…iya iya…aku lupa kalau aku ada tugas matematika untuk lusa…”


Aku memegang kepalaku dan buru – buru bangkit dari dudukku…


Aku menatap Sultan yang masih tersenyum padaku…Sesaat aku spechless …Aku saja lupa kalau aku yang meminta pertolongan Sultan untuk mengajariku materi matematika yang tidak kumengerti, tapi Sultan…dia sama sekali tidak lupa malahan ia menepati janjinya…Dia benar – benar orang yang baik hati dan dapat dipercayai...


Kebaikan hati Sultan lah alasan terkuatku yang membuatku tetap mau bersahabat dengannya, meski berkali – kali aku dijadikan sasaran dan kelinci percobaan dari kejahilannya Sultan…


Aku sempat bengong menatap Sultan karena masih spechless, sampai Sultan memecah lamunanku…


“Hei…halo…aku datang kesini untuk membantu sahabatku bukan untuk melihat patung menganga gak karuan…”


Sultan menepuk tangannya di depanku sambil tertawa kecil karena melihatku…


“Eh…um…iya…Sultan…makasih banyak ya…aku aja lupa bahwa aku sudah meminta pertolonganmu loh…”


Aku mencari – cari buku matematikaku…


“Hmmm…kalau sudah berjanji, harus ditepati…aku hanya menepati janjiku urusan kamu lupa atau nggak, itu bukan urusanku…lagipula…aku udah tau kok tabiatmu yang pelupa…oiya…Lucas bentar lagi mau maghrib, aku keluar sebentar ya, nyari bukaan…nanti abis buka puasa aku bakal balik kemari…kita mulai abis maghriban, oke…”


Sultan tersenyum santai lalu kemudian dia bangkit untuk keluar dari kamarku sejenak…Ya ampun, iya, aku juga lupa kalau Sultan sedang berpuasa…Aku merasa malu pada diriku sendiri…Sultan bela – belain datang kemari untuk menolong mengajariku sesuai permintaanku meskipun sebenarnya dia sudah capek karena hari ini ia sibuk banget…


Ketika Sultan pergi meninggalkan kamarku, aku bangkit untuk membersihkan dan merapihkan kamarku agar Sultan merasa nyaman...Untungnya, teman sekamarku bersedia untuk menolongku membereskan kamar…


Setelah kamar bersih dan sudah siap, aku mengambil beberapa kudapan yang kusimpan untuk stok seminggu...Syukurnya aku masih punya beberapa bungkus cemilan yang dapat dimakan oleh Sultan…Ada satu bungkus biskuit susu, satu bungkus kripik singkong rasa BBQ, satu bungkus kecil bolu lapis rasa madu coklat, dan dua kaleng minuman berasa…


Aku mengecek tanggal kadaluarsa cemilanku…Hmmm…Untunglah batas kadaluarsanya masih lama…Aku meletakkan cemilanku dengan rapih di atas keranjang kecil, lalu kuletakkan di samping meja belajarku…Barulah kemudian aku pergi mengambil wudhu…


10 menit setelah azan, Sultan datang kembali ke kamarku dengan membawa gelas minumnya….Aku menyambut kedatangannya…Ia bercanda kecil kepada kami…Ia melontarkan sebuah lelucon garing…


Aku menahan tawa ketika mendengar lelucon garing Sultan…Kuakui sih leluconnya itu garing banget, tapi tidak tahu kenapa aku tetap merasa leluconnya itu lucu…Kemudian tawaku pecah melihat ekspresi jenakanya Sultan…Kami saling pandang lalu tertawa bersama…


Aku menyilakan Sultan masuk lalu aku menutup pintu kamarku…Sultan menyapa teman sekamarku dengan ramah…Ia meletakkan gelasnya di atas meja belajarku lalu ia pergi berwudhu...Setelah ia selesai berwudhu, ia mengambil saf imam…Ia mengumandangkan qomat dengan suaranya yang merdu dan kemudian ia menjadi imam memimpin sholat Maghrib kami…


Selesai sholat, karena kami ada agenda, ia hanya berdoa secukupnya saja lalu ia bangkit dan melipat sejadahnya…Aku berdiri dan menuju meja belajarku diikuti oleh Sultan di belakangku…Aku meminjam kursi bang Faisal lalu kupersilakan Sultan untuk duduk…Sultan mengambil kursi itu lalu duduk di sampingku…


Ia membuka bukunya sambil menatapku dengan ramah…


“Eh…anu…materi mengenai ini Sul…aku udah coba mempelajarinya baik – baik...aku udah memperhatikan guruku tapi aku nggak paham…aku udah minta tolong ke teman sekelasku yang paling pintar matematika, tapi aku tetap saja nggak paham…”


Aku membuka buku pelajaranku dan kemudian menunjukkan materi yang tidak kumengerti pada Sultan…Aku juga mengambilkan sebuah buku untuk corat coret Sultan…


“Coba kubaca sebentar…hmmm…eksponen dan logaritma ya?”


Sultan mengamati materi yang kutunjuk sambil meminum air di gelasnya…


“Iya…kalau dasarnya sih aku paham...tapi kalau udah turunan dan pengembangannya yang susah, aku nggak mengerti…eh, Sul, btw kamu mau nyemil gak? Mau yang mana?”


Sambil Sultan mengamati soal yang tidak ku mengerti, aku menawarkan cemilan yang sudah kusiapkan pada Sultan…


“Wah…jangan semuanya…gak perlu boros, ambil aja secukupnya, sisanya simpan aja lagi untukmu…eh, aku mau ini, aku buka yang ini ya…”


Sudah kutebak, Sultan akan memilih bolu lapis madu coklat…Sultan itu suka banget dengan madu atau olahan dari madu…


“Sok, silahkan…”


Aku tersenyum senang melihat Sultan yang bertubuh kurus mau menerima makanan dariku…


“Makasih…eh, sini deh Cas…”


Sultan menyobek bungkusan boluku dan memakannya perlahan dengan memotek bolunya kecil – kecil…


“Apaan Sul…”


Aku mendekat ke arah Sultan…


“Yang ini ya yang nggak kamu mengerti?”


Sultan menunjuk tepat ke pembahasan materi yang tidak kumengerti…


“Iya yang ini…duh…materinya itu susah untuk dipahami…atau…kayaknya aku yang bodoh deh…masa beginian aja aku nggak ngerti…”

__ADS_1


Aku melihat materi yang ditunjuk oleh Sultan kemudian aku menarik nafas…Sejujurnya sih aku rada malu karena merasa diriku bodoh, tapi Sultan justru menyemangatiku…Sultan menatapku dengan tatapan tidak senang…


“Heh…jangan bilang kayak gitu…di dunia ini tidak ada orang yang bodoh…hanya saja kemampuan kita dalam menyerap informasi itu berbeda – beda…kita semua memiliki kelebihan masing – masing dan otak kita juga bekerja memahami materi dengan cara yang berbeda…jangan merendahkan dirimu...kalau kamu emang gak ngerti materi matematika, nggak apa – apa...aku akan membantumu selama aku masih mampu…jangan sungkan…”


Sultan tersenyum gemas ke arahku lalu mencapit hidungku dengan kedua jari tangan kirinya…Sultan memang suka mencapit hidung orang – orang terdekatnya ketika ia sedang gemas dengan orang tersebut…


Sekali lagi aku terdiam dan spechless ketika mendengar kata – kata Sultan...Jujur saja, aku sangat kagum pada Sultan…Aku kagum kepada Sultan sebagai panutan, bukan berarti aku menyukai Sultan ya…pliss deh…Aku bukan gay…Aku punya pacar dan pacarku itu seorang perempuan cantik…


Yang membuatku kagum dari Sultan adalah karena ia meskipun orangnya jahil dan suka melawak, tapi aslinya merupakan orang yang berhati baik, cerdas, dan down to earth banget...


Sultan jelas – jelas merupakan orang yang pintar bahkan merupakan orang yang jenius karena IQ nya Sultan mencapai 170, tapi dia tidak pernah merendahkan orang lain dengan mengatakan orang lain bodoh atau idiot…


Sultan baru akan mengatakan orang lain itu bodoh ketika ia sedang bercanda, itupun tidak pernah ia sangkut pautkan ke tingkat kepintaran seseorang…Sultan mengategorikan bodoh atau idiot itu bukan dilihat dari tingkat inteligensi atau tingkat kepintaran seseorang, melainkan dari kelakuan abnormal seseorang yang ia anggap lucu dan nyeleneh...


Ok…Aku terlalu memuji Sultan, kembali ke inti…


Aku menggosok – gosok hidungku yang memerah karena dicapit oleh Sultan setelah itu Sultan nyengir sebentar dan meminta maaf lalu ia menuntunku mendekatinya, aku memperhatikan setiap penjelasan dari Sultan dengan seksama…


Sultan mulai menerangkan materi secara garis besar terlebih dahulu…Aku mencoba menyimak dan menelaah baik – baik penjelasan dari Sultan…


Dengan sabar, Sultan menerangkan materi secara perlahan sampai aku memahaminya…Ketika aku mengalami kebuntuan, lemot memproses informasi dari Sultan, Sultan mengulangi lagi penjelasannya, menerangkan secara rinci dan menggunakan metode pemahaman yang lebih simpel dan lebih mudah dipahami…Aku mencoba dan terus mencoba untuk memahami materi dari Sultan…


Sayangnya, emang dasar otakku cuman paham mengenai ilmu militer doang (maklum, aku kan pengawal, aku diajari ilmu militer), meskipun Sultan sudah susah payah menjelaskan materinya sampai sesimpel mungkin, aku masih saja kurang paham…


Ketika aku mentok dan otakku terasa kusut, Sultan memberiku jeda…Sultan bilang padaku, ketika kita merasa mumet dengan pelajaran, kita tidak perlu memaksakan diri kita terlalu keras dan jangan pula meninggalkannya...


Sultan bilang, ketika otak sedang dipakai untuk berfikir keras, maka perbanyak mengistirahatkan otak dan lakukan kegiatan untuk menstimulasi otak agar segar kembali…


Sultan menghidupkan musik relaksaksi di hpnya dan mengajakku untuk melakukan senam pernafasan bersama…Sultan juga memintaku banyak meminum air mineral ketika sedang belajar…Kata Sultan, otak akan semakin baik bekerja apabila mendapatkan pasokan darah, oksigen, mineral, dan nutrisi yang lancar dan cukup…


Setelah mengikuti instruksi dari Sultan, kami break sebentar untuk ishoma karena berhubung waktu mendekati jam sholat Isya…Sebelum adzan, aku dan teman sekamarku memutuskan untuk mencari makan malam…Kami keluar sebentar lalu kami kembali pas bertepatan dengan adzan Isya…Seisi kamarku melaksanakan sholat Isya berjamaah dulu, barulah sehabis itu kami makan sambil mengobrol dengan hangat…


Waktu ishoma telah selesai, aku kembali belajar diajari oleh Sultan…Lagi – lagi Sultan mengajariku dengan penuh kesabaran…Ia kembali mengulang materi yang sudah ia terangkan secara perlahan – lahan supaya menempel dalam otakku…


Akhirnya kesabaran Sultan dalam mengajariku berbuah hasil…Perlahan aku mulai mengerti materi yang dijelaskan oleh Sultan…


Ketika aku merasa aku sudah memahami materinya, Sultan memintaku untuk mengerjakan tugasku…Aku mengerjakan tugasku, sementara Sultan mengawasiku sambil menulis sesuatu di buku yang tadi ku sediakan…


Begitu aku selesai mengerjakan tugasku, Sultan meminta bukuku karena ia hendak memeriksa hasil pekerjaanku…Ia mengoreksi jawabanku yang salah…Ia memintaku untuk mengerjakan ulang jawaban yang salah sampai akhirnya jawabanku betul semua…


Setelah aku berhasil menyelesaikan tugasku sampai betul semua, Sultan memberikanku pujian kemudian Sutan memintaku mengerjakan tiga buah soal darinya…Sultan bilang ia memberikan soal untuk membantuku supaya materi yang ia ajarkan dapat menempel lebih lama di otakku…


Aku mengerjakan soal dari Sultan, tanpa ku sadari ternyata hari sudah jam setengah 11 malam…Dengan senang aku mengatakan bahwa aku sudah mengerti materinya dan aku sudah bisa mengerjakan soal darinya...


Aku berencana hendak menyerahkan jawabanku pada Sultan untuk dikoreksi olehnya…Namun ketika aku menoleh ke arahnya, aku mendapati Sultan sudah tertidur di kursi bang Faisal dengan kepalanya terbaring ke meja…Tarikan nafasnya terdengar berat…Dia sudah teler karena memang dia sudah sangat kelelahan…


Aku melihat Sultan dengan perasaan sedih dan bersalah…Ketika aku mau membereskan meja belajarku, tanpa sengaja aku melihat ada buku latihan matematikaku yang sudah diselipi beberapa lembar kertas yang berisi tulisan tangan Sultan berada di bawah kepalanya Sultan…Serta ada secarik kertas di dekat kepalanya…Dengan hati – hati aku mengambil buku dan kertas itu…


Aku mengamati buku latihan matematikaku itu...Aku membuka halaman pertama buku latihanku dan kemudian membaca isi dari secarik kertas yang ada di halaman pertama itu…


Aku terkejut, di kertas yang ku pegang ini tertulis pesannya Sultan yang intinya untuk menyemangatiku...Aku membaca pesan itu kemudian aku membuka halaman - halaman lain dari buku latihanku…Kulihat, setiap ada jawabanku yang salah, pasti diselipkan jawaban yang betul oleh Sultan…


Aku membisu dan terharu…Aku tau sih, sebenarnya Sultan memang suka begini sejak dulu…Tapi tidak tau kenapa, aku tetap saja terharu dengan kebaikannya Sultan…


Setelah puas melihat buku latihanku, pandanganku beralih ke sacarik kertas yang berada di dekat kepalanya Sultan...Aku mengambilnya kemudian membacanya...Rupanya isi dari kertas itu adalah jawaban yang benar dari latihan yang tadi diberikan oleh Sultan Aku duduk kembali lalu dengan kertas itu aku mengoreksi jawabanku sendiri…


Aku kaget dan tidak percaya pada diriku sendiri…Ternyata soal yang tadi diberikan oleh Sultan, sudah mampu kujawab dengan benar…Ketiga soal yang di berikan oleh Sultan, kujawab dengan jawaban yang benar…


Aku menatap Sultan kembali…Dengan suara pelan, aku berterima kasih pada Sultan…Aku kemudian merapihkan buku – buku dan kertas – kertas yang berantakan di meja belajarku…Setelah itu aku bangkit dan merenggangkan otot – ototku…Berhubung hari sudah larut malam, tidak mungkin lagi jika aku membangunkan Sultan dan membawanya kembali ke kamarnya…


Jadi untuk malam ini, aku akan membiarkan kasurku menjadi tempat beristirahat bagi Sultan…Aku kemudian dengan hati – hati mengangkat tubuh Sultan yang sudah teler dari kursi bang Faisal…


Mungkin dikala ini aku cukup bersyukur karena Sultan itu agak susah dibangunkan ketika sedang teler, jadi aku dengan mudah dapat mengangkat dan memindahkan tubuhnya tanpa membangunkannya…


Aku menggendongnya dan kemudian membaringkan dia di kasurku…Aku menyelimutinya dengan selimut tipisku…Setelah itu aku beranjak dari ranjangku…Aku mengintip ke ranjang atas, kulihat bang Andri dan Bayu pun juga sudah tertidur…Hanya tinggal bang Faisal yang masih terbangun sambil bermain hp…Aku mengambil bantalku yang lain yang berada dekat dengan kaki Sultan kemudian aku meletakkan bantalku di karpet…


Aku pergi ke kamar mandi dulu untuk buang air setelah itu aku keluar lalu meminum segelas air mineral di gelasku…Aku mengunci pintu kamarku dan kemudian mematikan lampu kamarku, menggantinya dengan lampu tidur…Aku berbaring di karpet dekat dengan bang Faisal karena bang Faisal memanggilku dan mengajakku mengobrol…


Kami mengobrol sebentar hingga kami mengantuk…Bang Faisal tidur lebih dulu daripada aku…Sebelum aku benar – benar terlelap, aku melihat ke kasurku sebentar untuk mengecek kondisi Sultan…Setelah itu barulah aku memejamkan mataku…


...


...


...

__ADS_1


__ADS_2