
...
...Sultan...
Bel tanda istirahat berbunyi...Para siswa mulai berhamburan berpencar untuk makan ataupun cuman untuk sekedar beristirahat...
Aku keluar dari kelasku lalu berdiri di balkon memandangi sekolahku dari lantai 2 gedung kelasku...Aku menghembuskan nafas...Haahhh...tidak terasa, sudah memasuki minggu ke - 4 sejak awal kami masuk sekolah...
Para siswa baru pun juga sudah mulai sibuk untuk mengikuti organisasi yang mereka pilih...Belajar dari memori pahitku ketika SMP, aku saat ini hanya mengambil 3 organisasi saja, yaitu OSIS, ROHIS, dan Klub Basket...
Sebenarnya aku hanya mau mengambil OSIS dan ROHIS saja...Tapi berhubung aku suka banget main basket, rasanya nggak afdol dong kalau aku tidak mencicipi rasanya berlatih basket di lapangan basket sekolahku ini...
Sementara aku memilih masuk OSIS, ROHIS, dan klub basket, Lucas memilih masuk klub bela diri (karate), OSIS, dan PMR...Ok...Back To Topic...
Saat ini aku sedang menikmati jam istirahat, aku melihat sekitaran sekolah dari balkon kelasku...aku mengamati kelas Lucas...Untuk saat ini aku sedang tidak mau mengganggu Lucas...Lucas memiliki kehidupannya sendiri dan ia berhak membentuk ikatan pertemanan baru...
Bukan mentang - mentang aku dan Lucas bersahabat dekat, jadinya kami harus selalu bersama...Tidak...Persahabatan tidak saling mengekang tidak saling menguasai...Persahabatan itu membebaskan dan saling mendukung...Kami menganut hal itu, makanya ada kalanya kami memilih untuk melakukan aktifitas kami secara terpisah...Yah...Itulah yang kupikirkan awalnya...
Ketika aku sedang berdiri di balkon di depan kelasku sambil melihat sekolah, tiba - tiba Erik, Raka, dan Rafi, teman sekelasku, menghampiriku...
"Hai ketua kelas..."
Raka menyapaku dengan ramah setelah itu ia memperbaiki jilbabnya yang rada berantakan...
"Oh...hai kalian...ada apa..."
Aku berbalik badan untuk menyapa teman sekelas baruku..
"Nggak ada, nyapa doang...eh Sultan...kok kamu sendirian aja sih...mau ke kantin gak bareng kami..."
Rafi berdiri di sampingku dan mengajakku untuk turun bareng ke kantin...
"Ah iya...makasih Rafi, tapi maaf ya, aku lagi puasa Senin Kamis..."
Aku tersenyum kepada temanku...
"Oh...yaudah...kami duluan ya..."
Rafi berbarengan dengan Raka pergi menuruni tangga gedung B sementara Erik tetap menemaniku...
"Loh, Erik? gak ikutan?"
Aku menatap sekilas ke arah Erik...
"Nggak ah...mager...oiya, Sultan...daripada kamu sendirian aja, kita ngobrol yok..."
Erik duduk tidak jauh dari tempatku berdiri...
"Boleh..."
aku menghampiri Erik lalu duduk di samping Erik...
"Kamu ambil organisasi apa Sul..."
Erik mulai bertanya ketika aku sudah duduk...
"Hmm...aku ikut OSIS, Rohis, dan klub basket...kalau kamu..."
"Wah...anak basket rupanya...pantesan aja badanmu cukup tinggi..."
"Hehe...iya...makasih..."
Aku tersenyum canggung...
"Kalau aku ikut klub sepak bola dan Pramuka..."
"Hmm...hobi main sepak bola ya?"
"Hehehe...iya Sultan...eh btw Sultan boleh gak aku bertanya beberapa hal ke kamu..."
Aku menoleh ke arah Erik...
"Selama aku bersedia menjawabnya, boleh saja...silahkan mau bertanya apa..."
"Hmm...pertama, kamu itu memiliki fisik yang unik...kulit putih, rambut coklat, mata coklat cerah...ngomong - ngomong fisikmu itu memang aslinya begitu kah? jarang - jarang loh ada orang Indonesia sepertimu..."
"Oh...ini...iya...asli fisikku memang begini...aku memang memiliki darah blasteran..."
Aku memainkan rambut coklatku lalu merapihkan nya kembali...
"Oalah...blasteran rupanya...pantesan aja...blasteran dengan apa?"
"Hmmm...Aku nggak murni blasteran kok...aku turunan dari orangtua blasteran, ayahku...ibu dari ayahku adalah keturunan Belanda sementara bapak dari ayahku adalah orang Melayu murni...kalau ibuku, ori Indonesia..."
Erik menatapku...
"Kamu bilang nenekmu itu keturunan Belanda, maksudnya? bukan murni orang Belanda gitu?"
"Bukan...nenekku sendiri juga blasteran, kakek buyut ku yang murni orang Belanda...kalau nenek buyut ku itu orang Indonesia asli..."
"Oalah...begitu rupanya...cukup jauh juga ya darah blasteran nya..."
"Ya...kurang lebih begitu..."
Aku menyunggingkan senyum tipis...
"Eh, Sultan..."
Aku kembali menatap Erik...
"Ada apa lagi Erik?"
"Eng? Nggak ada...aku hanya menilaimu sebagai pribadi yang unik saja...terkadang kamu menjadi orang yang friendly, ramah, jenaka dan humoris, suka membuat kehebohan di kelas...di lain sisi, kamu itu orangnya kalem dan lebih suka menyendiri sambil membaca buku, kutu buku jenius yang bijaksana..."
Aku menatap Erik yang menatap ke arahku...
"Hehe...aku ini sebenarnya orang yang ekstrovert...aku senang menjalin pertemanan dengan siapapun...dan aku juga senang membuat orang lain tertawa...tapi, meskipun ekstrovert, aku memang memiliki hobi membaca, bukan cuma buku, tapi juga artikel pendidikan dan Al-Qur'an...aku senang terhadap apapun yang berbau ilmu pengetahuan...dan aku memang rada nggak suka kalau ada yang menggangguku ketika aku sedang asyik membaca...makanya aku suka menyendiri ketika aku sedang asik membaca..."
__ADS_1
Aku menoleh ke arah depanku dan menatap ke arah langit yang berwarna biru dan berawan...
"Hmm...begitu...ok...eh...Sultan...kamu itu kan pintar, kamu mau masuk kelas aksel gak..."
Aku kembali menatap Erik...
"Emang sekolah kita ada kelas akselerasi nya?"
"Ada...sekolah kita ini kan sekolah unggulan... berdasarkan info yang ku dapat dari kakak kelasku yang anak OSIS, katanya bulan depan akan dibuka pendaftaran masuk kelas aksel...bagi yang berminat, boleh mengajukan...semester depan baru kelas aksel itu dimulai...kamu ikutan gak?"
Aku diam dan berpikir sejenak...
"Hmm...kayaknya aku mau mempertimbangkan dulu deh...eh...Erik...awas...!!"
Ketika kami sedang asyik mengobrol, mendadak sebuah bola melambung ke arah kelasku, ke arah kami dan hampir mengenai aku dan Erik...Untungnya kami sigap dan respon menghindar...
Erik kesal lalu sambil menggerutu, Erik mengambil bola tersebut...Tapi sebelum Erik kembali melemparkan bola ke bawah, aku secara tidak sengaja menemukan ada kertas yang ditempel dengan selotip di salah satu bagian dari bola itu...
"Ish...siapa sih orang gak berotak yang menendang bola sampai setinggi ini...kalau kena kaca kan bakalan bahaya...HEI KALIAN...SIAPA YANG MENENDANG BOLA KEMARI...!?! KALAU KACA SAMPAI PECAH KAN BAHAYA...!!!"
Erik mengeluarkan suara lantang lalu mengangkat bola tinggi - tinggi...Sebelum Erik melempar kembali bolanya, aku menahan tangan Erik...
"Eh, Rik...tunggu dulu...tu liat ada kertas yang sengaja ditempel ke bolanya..."
Aku menunjuk ke arah bolanya...Erik menurunkan bolanya kembali...
"Eh, iya ini...apaan ya isi kertasnya..."
Erik mengambil kertas yang ada di bolanya setelah itu melemparkan bolanya kembali ke bawah dengan baik - baik karena ada yang memanggil Erik, meminta kembali bola tersebut...
Aku dan Erik membuka kertas dan ternyata kertas tersebut berisikan sebuah pesan...pesan dalam bahasa Melayu kuno...
"Bahasa apa ini...kok kayaknya aku belum pernah melihat bahasa ini..."
Kami berdua jongkok sambil memperhatikan secarik kertas yang di pegang oleh Erik...Erik lalu membuka kertas tersebut...
"Ini adalah bahasa Melayu kuno...aku paham sih apa bacaannya..."
Aku membacanya kemudian aku menjadi rada gemas, aku mengambil kertas itu dengan baik- baik dari tangan Erik lalu aku berdiri dari jongkok ku dan memperhatikan sekolah dengan seksama...
"Emang apa bacaannya..."
Erik bertanya ke arah ku
"Eee...anu..."
Aku tersentak, aku enggan mengatakan apa arti bacaan yang tertera di kertas tersebut...
Karena artinya adalah : 'untuk Sultan kesayanganku, mari kemari temani aku sayang'...
Aku tau siapa orang rese yang sudah mengirimkan pesan sialan ini kepada kami tepatnya kepadaku...Ya, siapa lagi kalau bukan sahabatku, Lucas...Aduh Erik...kuharap kamu tidak mengerti apa bacaannya...Kalau kamu paham, aku bakalan dicap sebagai gay...
Aku berdiri dan mengintai sekolah dengan tatapan mataku yang tajam untuk mencari keberadaan Lucas...Tidak butuh waktu lama, aku segera menemukan Lucas yang saat ini sedang berada di tepian lapangan bola sambil mengobrol dengan temannya...
Tidak tahu kenapa, tapi setiap kali berhubungan dengan Lucas, kayaknya seketika urat malu ku pada putus semua...Tidak peduli orang mau memperhatikanku atau tidak, aku berteriak lantang memanggil Lucas...
Lucas mendengarku lalu melambai ke arahku...
"Eee...Sultan...kamu kenapa...?"
Erik nampak bingung dengan gelagat ku...
"Engg...nggak ada...Erik...aku ke bawah dulu ya..."
Aku meminta izin meninggalkan Erik...
"Umm...Ok...Eh Sultan, kamu mau ngapain...HIII...Sultan...!!"
Erik awalnya bingung ketika aku memanjat balkon kelasku...Seketika ia langsung panik ketika aku meloncat dari lantai 2 gedung kelasku...Hehehe...Erik tidak tau kalau aku menguasai sedikit ilmu parkour...
Begitu aku meloncat dari lantai 2 gedung kelasku, tanganku langsung meraih dahan pohon yang kokoh...Dengan gesit, aku menuruni pohon sampai aku mendarat di lantai 1...
Semua mata menatap ke arahku, tapi aku tidak mempedulikannya...Aku langsung menuju tempat Lucas yang menatapku dengan cengiran sok merasa tidak bersalah...Aku menghampirinya dan ia langsung mengejekku...
"Waduh, manusia monyet sudah datang...untung aja kamu ganteng, Sultan...kalau nggak, kamu beneran dikira kayak monyet loh..."
Ia mengejekku dengan santai...Aku rada jengkel dengan ejekannya...
"Heh...lo mau cari naas ya ama gua...ngapain lo melempar bola ke arah kelas gua...kalo jendela sampe pecah kan bahaya, bodoh...mana lagi kamu malah mengirimiku pesan yang menjijikan...dasar maho, lo..."
"Idih...yang bodoh itu kamu tau, liat tu...semua mata memandang mu yang baru melakukan akrobat bodoh...kalau raja dan ratu sampe dipanggil cuman gara - gara anaknya, sang pangeran mahkota berulah, kan bakalan berabe..."
Lucas memberikan ekspresi santai sambil menunjuk sekitar...
"Huh...gampang aja...aku tinggal bilang aja ke kepala pengawal, kalau kamu yang mancing aku melakukan hal itu..."
Aku balas mengejek...Lucas seketika menegang...
"Ah...lo mah nggak asik kalau lo kayak gitu, Sul...gua kan cuma bercanda..."
Aku tau Lucas takut dengan kepala pengawal alias ayahnya sendiri...
Ayahnya Lucas kalau sebagai seorang orangtua, sebenarnya merupakan orangtua yang baik dan dekat ke anak - anaknya...Tapi kalau sebagai kepala pengawal, ayahnya tergolong cukup garang...
Dia sering dihukum oleh ayahnya bukan sebagai anak tapi sebagai pengawal hanya gara - gara kelakuanku...Karena Lucas sebenarnya adalah pengawal pribadiku...
Sebagai bentuk tanggung jawabku karna sudah menyeret - nyeret Lucas dalam permainan bodohku, aku selalu turun untuk melindungi Lucas dari hukuman ketika ia hendak dihukum oleh kepala pengawal gara - gara 'tidak becus melindungiku'...Aku menggunakan kedudukan ku dan kontrakku dengan Lucas untuk melindungi Lucas dari hukuman...Tapi aku tidak melindungi Lucas seutuhnya...Aku hanya melindungi Lucas bila menurutku aku turut ambil bagian dari kesalahan yang Lucas lakukan...Yah...Meskipun Lucas adalah sahabatku, aku tetap menegakkan keadilan kok, kalau ia benar - benar salah, ya, kubiarkan dia untuk dihukum...
Aku pun, kalau aku bersalah, aku akan mengakui kesalahanku dan meminta dihukum oleh ayahku...Tenang saja, aku tidak akan pandang bulu kok dalam keadilan...Ok, kembali ke Lucas...
Lucas tegang menatapku...Aku kemudian tertawa ringan lalu aku merangkul dan menggosok - gosok punggung Lucas...
"Hei, kalem...kamu tau kan aku nggak akan sejahat itu...aku yang salah...maaf ya, aku hanya bercanda...maaf karena aku bercanda terlalu berlebihan..."
Tubuh Lucas nampak melemas ketika kurangkul...
"Tumben candaanmu nggak asik, Sul...btw...aku juga minta maaf karna udah memancing emosimu...puasamu masih jalan?"
__ADS_1
Aku duduk di samping Lucas...Sementara Lucas meminum air dari botol minumnya...Dari suaranya jelas terdengar kalau Lucas masih rada syok...
"Hmm...Insya Allah masih...aku nggak tersulut emosi kok...kamu kan tau gimana karakteristikku...nah...ada apa nih kamu manggil aku ke bawah...dengan pesan laknatmu..."
Aku duduk bersilang kaki lalu menatap Lucas sambil tersenyum hangat dengan harapan supaya Lucas bisa kembali rileks...
"Ada apa? kamu nggak liat hp?"
Aku kaget dan kemudian aku tersadar, aku langsung mencari hpku...
"Eh...ada banyak pesan masuk..."
Aku nyengir melihat banyaknya pesan masuk yang belum terbaca olehku...
"Aish...kamu tu jarang banget sih cek - cek pesan di hpmu..."
Lucas duduk dengan kaki terbuka lebar...
"Hehe...maaf...eh...ada pesan dari 'The Power Sick'...ada apa?"
Aku membuka grup chatku...
Ok, sebelum lanjut, aku jelasin dulu mengenai apa itu 'The Power Sick'...Nah...kalau 'Dua Idiot' adalah sebutan untuk hubungan persahabatanku dengan Lucas...kalau 'The Power Sick' itu adalah grup persahabatanku ketika SMP yang terdiri dari 6 orang...Anggotanya ada aku, Lucas, Fatimah, Mita, Ara, dan Erza...Sebenarnya yang menamai kami 'The Power Sick' itu bukan kami, tapi teman - teman kami...Awalnya bernama 'The Power Six' tapi kami mempleseti menjadi 'The Power Sick'...Alasan taman - teman kami menamai kami begitu sih menurutku rada nggak enak...Alasannya adalah karena grup persahabatan kami itu 'kata orang - orang' terdiri dari orang - orang 'hebat' di SMP ku...aku sendiri sih tidak merasa diriku hebat, biasa biasa aja kali...
Yah aku nggak tau tapi...Kita kembali ke topik...
"Nah itu dia, Sri Sultan Aliansyah Qasim...baca pesannya baik - baik...anggota 'The Power Sick' yang lain mengajak reunian...mereka udah pada ribut terutama karna kamu nggak muncul - muncul di grup..."
Aku membaca grup dengan seksama
"Oh iya...maaf ya...hehehe...eh...reuniannya besok ya? jam berapa?"
"Sesudah pulang sekolah...mumpung besok Mita dan Ara yang dari SMK bisa pulang cepat..."
"Hmmm...sebenarnya sih besok aku ada jadwal latihan klub basket...perkenalan awal kayak gitu lah...tapi...karena Mita dan Ara itu anak SMK, mereka punya jadwal praktek sendiri...jadi...kurasa besok aku bakalan cabut dulu dari klub basket...aku ikut..."
Aku berpikir sejenak tapi kemudian aku mengangguk...
"Baguslah...kamu udah chat belum ke grup..."
Lucas menggoyang pelan hpnya...
"Udah dong...kalau nggak nanti aku bakalan mancing cerewetnya Mita untuk bangkit..."
Lucas menatap geli ke arahku ketika aku mengatakan kata cerewet...
"Hahahaha...Mita cerewet? kamu sadar diri gak sih...kamu tu yang paling bawel loh di dalam grup kita...aish...harusnya kamu tu cocoknya sama Mita bukan sama Fatimah...kenapa kamu malah sukanya sama Fatimah..."
Aku memerah ketika mendengar nama Fatimah disebutkan...
"Ehem...kalau mau cari pasangan tu kan enaknya yang punya sifat berlawanan dari kita...kalau sama aja kedua - duanya...ya...hidup akan flat - flat aja...cocok lah...aku yang bawel dengan Fatimah yang kalem...kamu tu yang cocok dengan Mita...kamu orangnya kalem sementara Mita kan orangnya bawel..."
Lucas menatapku dan menyunggingkan senyum mencemooh...
"Huh...memangnya kamu yakin kamu bisa menikahi Fatimah kelak...dan lagipula..Mita itu bukan tipeku..."
Aku menatap Lucas sambil tersenyum ringan...
"Hmm...Insya Allah, aku akan berusaha menikung Fatimah di sepertiga malam ku...aku sudah jatuh hati padanya dan aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan hatinya..."
Lucas menatap lekat ke arahku lalu ia bersiul...
"*bersiul* waw...tidak disangka ternyata Sultan yang alim dan agamis sekalipun juga bisa mengucapkan kata - kata yang romantis ya..."
Aku memerah dengan candaan Lucas...
"Idih...biasa aja...ah...udahlah Lucas...aku sedang berpuasa...bisa - bisa batal puasaku kalau terus memikirkan wanita yang bukan mahromku...oiya, kayaknya udahan dulu ya...besok kita berangkat bareng ke tempat janjian, oke...sekarang aku mau kembali ke kelas dulu...bye Lucas..."
Aku berdiri dan hendak berjalan kembali ke kelasku...Belum jauh aku berjalan, mendadak Lucas memanggilku, menahanku sejenak...
"Oke...makasih ya Sultan...eh...tunggu dulu Sultan..."
Aku berbalik dan menoleh ke arah Lucas...
"Ada apa lagi...?"
Aku berjalan mendekati Lucas kembali...
"Anu...begini...aku ada materi mengenai matematika yang tidak kumengerti...dan kebetulan aku ada tugas yang berhubungan dengan materi tersebut...kamu mau nggak mengajariku nanti...?"
"Oh...itu...kalau mengajarimu mengenai materinya, aku bersedia...tapi kalau untuk menyelesaikan tugasmu, maaf saja, aku menolaknya..."
Aku memegang daguku dan melihat ke arah Lucas...
"Aku hanya meminta diajari materinya kok..."
Lucas kemudian bangkit dari duduknya...
"Hmm...kalau begitu oke saja, aku bersedia...nanti sore ketika kita sudah pulang, aku akan ke kamarmu ya...dadah...aku kembali ke kelas dulu...oiya...satu lagi..."
Aku berjalan mundur lalu mendadak aku melemparkan kertas berisi pesan menjijikan Lucas tepat mengenai kepala Lucas...
"Aw...apa ini...?"
Lucas menunjuk ke arah kertas yang kulempar...
"Surat cintamu...bodoh..."
Aku melambai sambil nyengir gemas...Kemudian aku kembali ke kelasku...
Lucas terdiam sejenak memperhatikanku yang berjalan menjauhinya lalu kemudian ia berbalik untuk kembali ke kelasnya...
Kami kembali ke kelas kami masing - masing untuk melanjutkan pelajaran sebab jam istirahat juga sudah selesai...
...
...
__ADS_1
...