DIANTARA GURUN DAN SAMUDERA

DIANTARA GURUN DAN SAMUDERA
2. Lepas kontrol


__ADS_3

πŸ“―HALLO....REVISI UNTUK BEBERAPA BAB YA GUYYSSSπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ’πŸ’πŸ’πŸ“―


Sejak pagi tadi Leon dan istrinya duduk di gazebo tepi danau di temani teh hangat,keduanya saling bersandar di sana sambil menikmati matahari pagi.


"Mommy........ anak-anak sudah bangun?"


"ya Deuz selalu bangun lebih awal......,"


"Mom......"


"hmmnnn?"


"sejak melahirkan Deuz,Zeus....,mommy sulit sekali liburan sendiri.....anak-anak sudah besar....kalau ada impianmu yang belum terkabul.....sekarang adalah waktunya....."


Casandra memejamkan mata dan menarik nafas lewat hidung beberapa detik lalu ia hembuskan lagi lewat bibir mungilnya yang di kecup lembut oleh sang suami.


"kenapa sih Papi selalu lepas kontrol,ups!" Leon melanjutkan aksinya mengecup kening Casandra,saat itulah terdengar siulan bersahut sahutan dari balkon salah satu kamar anak mereka yang mengarah di danau.itu sosok si sulung yang berdiri mengawasi mereka dari awal lalu kembali masuk ke dalam kamar,dimana ada sosok yang mengerang lirih di balik selimut dalam tidurnya,dan Deuz duduk di sana mengecup dan mengusap Surai gadis itu sambil berbisik.


"jika saja kamu patuh,akupun tidak akan lepas kontrol kan my Queen"


"ngghhh sakit"


"ini belum seberapa,suaramu saat ini malah membangkitkan semua yang kupendam" cup cup cup suara decakan bibir Deuz mengecup bibir mungil itu yang hanya bisa merintih lirih tanpa perlawanan,pria itu menarik selimut menutupi paha mulus yang terlihat ada tanda merah kebiruan di beberapa tempat.namun gadis itu tetap pulas dengan sesekali merintih dalam mimpinya,suara sapaan maid di balik pintu agar segera turun sarapan mengurungkan niat Deuz lebih lama mengecup pemilik hatinya.


🌹🌹🌹


Suara kicau burung,angin sepoi dan suara gemercik air terdengar di telinga Zeyna,namun matanya masih berat,tubuhnya harus istirahat dari keletihannya di perjalanan ke Vila keluarga ini dan juga karna amarah seseorang.teringat jelas kemarin saat selesai sarapan pagi dan masuk kamar untuk bersiap kemari,Kakak sulungnya mengecupnya tiba-tiba saat muncul dari balik tirai,tidak berhenti di sana,sang kakak membuka kemeja yang di kenakan Zeyna menyuruhnya mandi lalu sebelum meninggalkan kamar,ia mendapatkan bisikan penuh intimidasi.


"temui kakak di kamar nanti malam di rumah Alpen,dan kali ini terakhir kamu pergi tanpa pamit dari kakak....."


tubuh Zeyna bergetar dan jantungnya berdebar tak karuan beberapa menit,hingga ia buru- buru mandi dan menyusul ke mobil orangtuanya yang siap-siap berangkat,karna lelah jalan-jalan sendirian dengan motor mencari kakak keduanya,Zeyna kembali tertidur di mobil hingga ia terjaga saat makan siang ternyata ia telah di pindahkan ke kamar,saat makan siang di rumah Alpen,kakak sulungnya tak ikut karna sedang mengunjungi Paman David di rumah perkebunan anggur,Zeyna pergunakan waktu bermain game sambil menemani neneknya nonton.hingga tertidur di sofa dan kini ia baru bangun dengan perut lapar tapi berada di kamar kakak sulungnya,berdiri di depan kaca besar memeriksa tubuhnya,dan berguman dalam hati jika tak ada yang kurang dari tubuhnya,hanya beberapa bekas kecupan mendalam hingga berbekas dan ia harus berendam seharian di dalam air hangat agar tak membuat Maminya murka.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Saat Deuz menuruni tangga ke ruang keluarga sudah terlihat di meja makan kehadiran adiknya Zeuz, kedua orangtuanya dan juga kakek Neneknya dari kedua belah pihak,serta bibinya yang cantik Lea,paman bibinya kembar Yuka dan Yoga juga di sana.ini liburan keluarga besar kedua orangtuanya,dan selalu dirinyalah yang paling Santai.


"pagi semua....."


"selamat pagi Deuz,kami menunggumu...... mana si kecil Zeyna nak?"


Deuz tersenyum mencium punggung tangan kedua bibinya lalu yang lain kecuali Zeuz adiknya.


"mungkin dia masih tidur,biar nanti aku yang bawakan sarapan untuknya"


"anak itu kemarin paling cepat-cepat ke kamar demi datang di sini,eeh sejak tiba di sini,dia nempel sama kakek dan neneknya hingga ketiduran sendiri,huuhh tidak mau membantuku siapkan sarapan hingga hari ke dua ini"

__ADS_1


"biarin saja mom,,selama 6 bulan ini dia lelah sekolah juga kan"


"ya Zeus benar.....biarkan dia istirahat,dia cucuku yang paling kecil dan paling suka menemaniku sejak kakak-kakaknya dan Paman bibinya sibuk dengan urusan mereka...."


Itu tanggapan dari Victoria yang melirik Zeuz,tapi cucu keduanya itu malah menatap kakaknya Deuz yang terlihat menikmati makanannya dengan senyum merekah.lalu mengedipkan mata pada adiknya yang nyaris tersedak dengan tingkah kakaknya itu.Plok plok plok itu tepukan tangan kakek Napoleon yang memberi instruksi agar semua tenang untuk mendengarkannya.


"karna Zeuz sudah kembali di rumah,maka Aku harus memberikan dia hadiah......"


lalu terdengar suara kaki dari ruang tamu,sosok wanita cantik masuk dan memberi hormat,tentu saja semua terpana,kecuali Zeuz.pemuda itu melanjutkan sarapannya dengan cepat lalu berdiri meninggalkan meja makan sambil bicara tegas.


"kado kakek istimewa sekali,tapi aku ingin setia pada kekasihku,kado kakek terlalu kuno"


Gadis itu menatap tajam tak terima tapi Zeuz sungguh tak peduli malah menuju kamar adiknya zeyna.tak lama kemudian Deuz ikut berdiri dengan senyum rupawannya sambil membawa sebuah piring berisi sarapan ke arah kamarnya.


"maafkan adikku ya nona,kakek nenek kami yang amat kami cintai...aku juga undur diri...aku harus mengantar sarapan untuk Zeyna,para nona-nona di meja makan silakan berbincang"


Tatapan ramah ia tujukan pada sosok tamu spesial yang terpesona dan akan membalas dengan senyuman,namun di detik berikutnya gadis itu melihat ada tersirat ejekan di mata Putra sulung Bos leon.ya...Deuz memang penuh misteri dan sangat rupawan tapi siapapun harus hati-hati padanya seperti adiknya kini tak menemukan Zeyna di kamar,dan ia menerobos ke kamar kakaknya yang sedang duduk bersila sambil menatap pintu kamar mandi yang terdengar gemercik air bertanda ada orang mandi di dalam sana yang bisa sang adik tebak.


"Kak,jangan melebihi batas.....,kau bisa ketahuan Daddy"


Zeuz tak mendapat jawaban apapun,kakaknya ini telah berulang kali mendapat peringatan,tapi sejak kembali dari Medan perang kakaknya itu seperti kehilangan sesuatu yang Zeuz rindukan.


"kak .....,ingat dia masih anak-anak,apakah tidak kasihan padaku kak,setidaknya tahan dirimu dan jangan buat Daddy memisahkan kita lagi" Zeus bersandar pada kakaknya yang berdiri menatap dirinya dalam setelah jas resmi sejak tadi pagi,dan saat seseorang keluar dari pintu kamar mandi dengan handuk kimono menelan ludah takjub,terutama pada sosok berambut panjang yang siap berbalik,lalu sosok pria tampan berambut hitam basah berkacamata tak lain Zeus dan si sulung Deuz di depan kaca sedang menatap intens padanya sambil bicara pada sang adik kedua.



"sebegitu sayangnya kau padaku ya?"


"bukan hanya itu saja,kita baru 1 hari bersama,ingatlah dulu aku di tinggal pergi saat kita sedang di taman"


Zeuz masih ingat saat berusia 15 tahun sedang asiknya dia bermain basket bersama Deuz yang tiba-tiba di jemput pamannya pergi ke Luar negeri,sungguh ia merasa kesepian dan melewati masa remajanya tanpa ada kakak kesayangannya di rumah.


"keluarlah dulu,tidak sopan mempermalukan tamu dari kakek Napoleon,kau tahu hal itu akan menyakiti hatinya,tolaklah dengan penuh hormat, jam 8 aku akan menyusul kamu di lapangan kita main basket....pagi ini" Deuz membujuk adiknya agar patuh dan benar saja sang Direktur perusahaan Babelion itu segera keluar ruangan dan berpapasan dengan bibi Lea di tangga turun,bibinya yang kini berusia 28 tahun masih saja cantik dan ciri khasnya yang agak angkuh mendominasi watak dari ayah ibunya selalu mendampingi bibi Lea dari kecil.


"Zia......kita perlu bicara"


"tidak untuk saat ini,aku sungguh kesal padamu huh!"


"Zia Lea jangan pura-pura menutup mata dengan semua yang terjadi di rumah ini!"


Zia(bibi dalam bahasa Italia),langkah Zeuz makin panjang mengikuti kearah mana bibi kecilnya masuk ke ruangan kerja kakaknya yaitu sang Ayah Leon,di sana telah duduk seorang gadis yang berbeda dari yang tadi di meja makan.


"ohhh my.....aku salah masuk,Daddy berselingkuh,aku akan keluar mengadu pada mommy" Zeus akan berbalik tapi bibinya menahan lalu ayahnya yang mengeleng menekan keningnya kesal di saat bersamaan ibunya keluar dari pintu ruang baca dengan sangat cantik menuntunnya duduk.


"tentu saja tidak ..,Daddy akan mati jika melakukan hal kotor yang ada di otakmu nak,,gadis ini memang tamu untukmu,kenalkan ini anak teman mommy"

__ADS_1


Zeuz mendesah lalu hentakkan tubuh di samping bibinya untuk meminta perlindungan jauh dari perjodohan yang malah angkat bahu dan melirik ke arah jendela tak ingin membela ataupun ikut campur urusan kakaknya.


❀️❀️❀️❀️


Sedangkan di sisi lain,di mana Deuz duduk mengeringkan rambut Zeyna yang sedang menyantap sarapannya dengan lahap.


"ummn enak...makasih kak"


"setelah ini kamu akan kemana?"


"aku ingin ikut Zia Lea ke rumah temannya,boleh?"


"tentu saja boleh,dan jangan lupa aturannya,jika di langgar hukumanmu bukan hanya kecupan,okey paham?"


Sekali lagi sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Zeyna yang terlihat tetap fokus mengunyah,dan berdiri membetulkan letak leher bajunya sebelum keluar mencari sang bibi kesayangan.


Saat Zeyna pergi,Deuz bersandar di samping jendela melihat pemandangan di kaki gunung Alpen yang di kelilingi salju,ia menutup mata sesaat lalu melirik sebuah cincin kecil melingkar di jari kelingking kanannya.


"sungguh aku selalu lepas kontrol" saat itupula seseorang mengetuk pintu,Deuz melangkah malas membuka pintu hingga di depannya berdiri sosok paman sulungnya yang baru tiba,matanya yang indah persis mata indah milik gadis pujaannya.


"Zio Luis....." Deuz bagai mendapat suntikan vitamin memeluk penuh rindu,tapi pria rupawan penuh misteri itu melangkah gontai ke arah jendela,duduk di kursi menghadap balkon kamar memegang sebatang rokok dan menatap tajam pada Deuz.


"Zio Luis tunggu di sini,aku akan bilang pada Dad dan mom kalau...."


"jangan.....,aku hanya ingin melihatnya sebentar....berjanjilah bahwa kau akan menjaganya dengan baik....."


"Zio Luis.....kami merindukanmu...."


"berjanjilah nak....."


Deuz mendengar hal itu langsung terpaku,paman sulungnya masih saja datang dan pergi seperti hantu,hatinya yang tadi senang langsung berubah sedih,berganti gugup saat sepasang langkah yang masuk tanpa permisi masuk di kamar,dan orang yang biasa lakukan hal itu hanya Zeyna.


"kak Deuz......!,meja makan sudah sepi....kata bibi mel ...kakek berdua sedang rapat dadakan di aula keluarga,,dan nenek berdua sedang naik perahu memancing di tengah danau....antar aku kesana..."


Zeyna memeluk pinggang Deuz dan merajuk manja menatap memelas seperti itu di awasi sepasang mata dari balik balkon,dan sosok itu menatap nanar.


"hei.....tenanglah....jangan sedih seperti itu....okey....kita akan kesana....tapi sebelum itu.." Deuz berniat mengenalkan Zeyna pada paman sulungnya tapi saat melirik kearah balkon,hanya tersisa kepulan asap dari rokok yang di letakkan dalam asbak di pagar pembatas teras balkon.


"kak......Deuzzz......,sebelum apa?" gadis itu sangat menggemaskan,tapi Deuz melangkah lebih detail memeriksa sekitar kamar,namun seperti biasa sosok rupawan itu telah pergi dari sana tanpa pamit.


"ummnn Bau rokok.....,aku aduin sama mommy ya...!"


Zeyna akan keluar seperti biasa mengadu,tapi Deuz tak ingin semakin panjang masalahnya nanti,ia cepat memeluk Zeyna dan menutup pintu lalu mengecupnya bibir gadis itu yang langsung cegukan.


"uukk.....kakak!"

__ADS_1


"biar kamu percaya kalau kakak tidak merokok"...alasan yang sungguh konyol bukan,dan seperti itulah karakter polos Zeyna yang selalu tak bisa berontak jika mendapat sentuhan dari kakak sulungnya.


"pergilah ambil jeketmu....kita menyusul Nenek memancing...." Zeyna berlari dengan pipi merona,sedangkan Deuz di sana menahan diri agar tak lepas kontrol untuk hari ini saja.kembali mengecek arah mana pamannya pergi,hingga meraih teropong melihat sebuah motor telah melesat jauh di balik kaki gunung Alpen.


__ADS_2