Diary Ecca Season II

Diary Ecca Season II
Episode 71


__ADS_3

...Tentang Dia...


"Kamu habis dari mana aja sih? Sampai basah kuyup gitu, nanti kalau masuk angin gimana?" Tanya ibuku.


"Maaf Bu!" Jawabku.


Kemudian aku buru-buru ke kamar mandi...


"Entah kenapa aku jadi lupa kalau ini jaket punya Dewa!" Ujarku.


"Kenapa aku jadi begini padahal... Ah sudahlah!" Seruku sembari menggerutu.


"Udah biar ibu cuci baju kamu!" Seru ibuku.


"Ah, nggak usah Bu aku ajah!" Jawabku.


"Lalu ini jaket siapa Ca?" Tanya ibuku.


"Ah itu jaket kawan ku!" Jawabnya.


"Kok, kamu pake?" Tanyanya.


"Ia tadi kebetulan aku minjem jaket temen ku?" Jawabku.


"Lain kali jangan begitu kasian temen kamu nanti!" Ujar ibuku.


"Baik Bu!" Seruku.


ooOoo


“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.”


"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah...." (QS.Al-Baqarah:165)


Gunung gunung yang menjulang tinggi di kejauhan seakan menantang untuk ditaklukkan. Langit biru terhampar di atas padang gundul terbentang jauh hingga ke semenanjung yang sebelumnya tak pernah dijamah. Semua yang dulu cuma bagian dari lintasan sejarah, namun kini selamanya telah jadi pengingat akan dirimu. Semua yang dulu pernah mengungkapkan seluruh jejak petilasan dan penaklukanmu. Bentang alam dari seluruh kekayaan yang kini engkau simpan dalam perbendaharaanmu pribadi. Alam liar dari horizon pikiran dan khazanah perasaan yang nyaris tak terselami.


Tidak ada lagi rahasia yang engkau tutupi dari mata kami, selain daripada ceruk ceruk terdalam dari palung palung yang tersembunyi di balik mimpi mimpimu. Sungguh, tiada lagi kebahagiaan yang mampu mewakili perasaan kami saat ini, karena engkau telah mengijinkan kami untuk menjadi saksi mata; hasrat dari hasratmu, kerinduan dari kerinduanmu, cinta dari cintamu.

__ADS_1


Bagaimana kami mampu membalas kebaikan hatimu yang sungguh tiada terkira? Sebab hanya tulus kata dari apa yang tak terucap namun telah puas kami saksikan, akan menggenapi seluruh janji dari semua yang telah engkau beri namun tak akan pernah kami miliki. Akan tetapi, sudah cukuplah itu semua bagi kami, karena engkau telah mengijinkan kami mengagumi keelokan panorama dari apa yang selama ini engkau simpan rapat rapat sebagai harta pusaka yang aku terima darimu.


"Kenapa aku bisa membawa jaketnya?" Tanyaku dalam benakku.


"Ah sudahlah, besok akan aku kembalikan ke orangnya!" Jawabku.


"Kamu kenapa ngomong sendirian ajah?" Tanya ibuku.


"Ah nggak Bu!" Jawabku.


"Ywdh makan dulu gih!" Seru ibuku.


"Ia Bu!" Jawabku.


"Padahal aku belum begitu mengenal dekat dia, tapi sekarang aku harus mengembalikan jaketnya kepadanya" ujarku.


"Terus dimana aku bisa bertemu dengannya?" Tanyaku.


"Ah, kali aja nanti aku ketemu dia di angkot!" Seruku.


Dada ku bergetar, hati ku berdetak dengan kencang kala aku mengingat perkenalan ku kala itu dengan Dewa. Entah siapa dia, kenapa dia seperti seseorang yang aku kenal. Kenapa dia haru mirip dengan David padahal David telah tiada, lalu bagaimana aku bisa berinteraksi dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan David ku.


Tiba-tiba aku bertemu dengannya...


"Eh, Ecca!" Serunya.


"Ah, eh kamu!" Ujarku.


"Owh iya ini jaket kamu!" Seruku sembari mengembalikan jaket milik Dewa.


Jarak terkadang membuatnya menjadi asing, membuat seseorang tak percaya akan kekuatan cinta. Silangit yang sama kamu berada, namun belum kamu temukan satu sosok pilihan-Nya.


Bagiku hidup hanya selalu hitam dan putih, kebahagiaan akan selalu berbanding lurus dengan kesedihan. Kita hanya menunggu waktunya bergiliran bukan?. Begitupun dengan kesunyian. Hari ini terasa ramai, mungkin esok kita akan berdialog lagi dengan kesendirian.


Meski dalam keramaian aku masih merasa kesepian, entah kenapa sunyi sepi ku rasa tanpa seseorang yang bisa menemani ku di kesendirian ini, tak terasa sudah semakin jauh aku berjalan sendiri.


Egois ku rasa bila aku mengeluh saja tanpa mau berusaha, entah kenapa goresan pena ku sampai pada titik kosong dimana tinta hitam yang ku tulis diatas kertas putih ternyata telah habis, setiap yang ku tulis sesuai dengan perjalanan hidup dimana hati menangis menjerit menceritakan setiap perjalanan hati yang lirih, meski sang waktu berbicara dengan nada yang lirih sambil di temani sang piano yang terus berbunyi dengan merdunya seperti melodi sendu yang menohok hati.

__ADS_1


Jarum jam terus berdetak kencang ke arah sumbu yang tak terbatas dengan penuh ke haluan aku terus bertanya kepada diriku sendiri, hari ini apakah akan lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya atau malah akan memberikan aku kesibukan uang sebenarnya membawaku pada rasa takut untuk memulai perubahan.


"Ah, jaketku terimakasih!" Serunya.


"Sama-sama!" Jawabnya.


"Kayaknya rumah kamu nggak jauh dari rumah ku deh!" Ujarnya.


"Hmm, mungkin!" Jawabku ketus.


"Kamu kenapa dari tadi ngeliatin aku ajah?" Tanyaku.


"Ah, enggak apa-apa kok!" Jawabnya.


Sedari tadi di angkot dempet-dempetan dan banyak penumpangnya, sehingga angkotnya penuh. Itu pula yang menyebabkan aku jadi duduk berdekatan dengan Dewa, rasanya canggung sekali apalagi aku sebenarnya tak ingin dekat-dekat dengannya. Perasaanku dan juga... Ah, entahlah sebenarnya aku sangat tak sanggup bila dekat dengan Dewa, ia sangat-sangat membuat aku teringat dengan sosok David.


"Ah, maaf!" Seruku saat tak sengaja bersenggolan dengan David.


"Ah, tidak apa-apa!" Jawab Dewa.


Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam dan tak berbicara sama sekali, bergeming dan hanya terdengar suara angkot saja. Rasanya aneh sih, aku sekarang berubah jadi sosok yang pendiam dan tak banyak bicara sebenarnya sedikit malu tapi aku hanya terbiasa untuk tidak memperdulikannya.


"Ah, sudah sampai.. kiri bang!" Serunya sembari menyodorkan ongkos angkot.


"Sekalian sama dia ya bang!" Ujarnya.


"Ah, gak usah!" Seruku.


"Ah, sudah gak apa-apa!" Jawabnya.


"Hmm, makasih!" Seruku.


"Ia, sama-sama!" Jawabnya, kemudian ia terburu-buru untuk pergi masuk ke dalam kampus.


"Hmm, aku masuk duluan ya!" Serunya.


"Ah, iya!" Jawabku.

__ADS_1


Entah kenapa jika melihatnya aku malah teringat kembali pada David, nama depannya hampir sama dari D.. Dewa. Kenapa ya, kok bisa ada orang mirip dan sama ya? Padahal bukan saudara sepertinya, dan lagi setahu aku David gak punya saudara, apalagi saudara kembar. Karena David sama kayak aku anak satu-satunya alias semata wayang.


ooOoo


__ADS_2