
...Perubahan Zaman...
"Ah, sudah sampai.. kiri bang!" Serunya sembari menyodorkan ongkos angkot.
"Sekalian sama dia ya bang!" Ujarnya.
"Ah, gak usah!" Seruku.
"Ah, sudah gak apa-apa!" Jawabnya.
"Hmm, makasih!" Seruku.
"Ia, sama-sama!" Jawabnya, kemudian ia terburu-buru untuk pergi masuk ke dalam kampus.
"Hmm, aku masuk duluan ya!" Serunya.
"Ah, iya!" Jawabku.
Entah kenapa jika melihatnya aku malah teringat kembali pada David, nama depannya hampir sama dari D.. Dewa. Kenapa ya, kok bisa ada orang mirip dan sama ya? Padahal bukan saudara sepertinya, dan lagi setahu aku David gak punya saudara, apalagi saudara kembar. Karena David sama kayak aku anak satu-satunya alias semata wayang.
ooOoo
Dulu kita biasa pakai SMS dan handphone juga masih jadul, tapi sekarang semenjak perkembangan dan perubahan zaman kini handphone beralih fungsi menjadi smartphone dan dapat digunakan untuk jejaring sosial dan juga untuk memotret. Apalagi ada aplikasi-aplikasi yang juga turut serta membentuk manusia menjadi manusia modern dengan hadirnya fitur-fitur smartphone dan juga aplikasi yang mendukung mempermudah seseorang bukan hanya dalam mencari informasi tapi juga untuk bertukar informasi.
"Ca!" Seru Deva.
"Hai!!" Ujar Devi.
"Kalian ini main foto-foto ajah!" Seruku.
"Maklum handphone baru!" Jawab Deva.
"Dasar!" Ujarku.
"Kamu udah punya smartphone belum?" Tanya Devi.
"Hmm, belum emang kenapa?" Tanyaku.
"Yah jadul, zaman sekarang lagi musim handphone yany canggih kayak gini Ca, bisa WiFi, bisa foto-foto dan juga bisa WhatsApp" ujar Deva panjang lebar.
"Ia nanti aku juga beli handphone baru!" Seruku.
"Yaudah beli gih di toko terdekat!" Ujar Devi.
"Hmm, matrial maksud kamu?" Tanya ku polos.
"Hadeuh, mentang-mentang toko matrial samping kampus ya gak gitu juga kali!" Jawab Deva.
"Ywdh ngapain sih bahas Hp. Sekarang ini kita harus menyelesaikan skripsi kita, kalian berdua mau kalau kita gak lulus-lulus dan tetap jadi mahasiswi abadi?" Tanyaku.
"Ya, enggaklah!" Jawab Devi.
"Ywdh, makanya hari ini kita harus selesaikan skripsi kita, biar bisa langsung wisuda dan langsung penuhi cita-cita kita...!" Seruku dengan penuh bergebugebu.
__ADS_1
"Cita-cita jadi calon istri atau ibu maksud kamu?" Tanya Deva polos.
"Hadeuh, ya masa udah sarjana malah mau tiba-tiba kawin ajah gitu?" Tanyaku.
"Ya minimal kerja dulu lah biar punya pengalaman!" Seruku.
"Owh" jawab Devi.
"Ywdh sini!" Seruku.
"Apanya?" Tanya Deva.
"Tugas yang kemarin aku suruh kerjain?" Tanyaku.
"Ya ampun!!! Astaga sampe lupa!" Jawab Deva.
"Astaghfirullah aku juga lupa!" Jawab Devi.
"Kalian ini gimana sih, gimana kita bisa ngerjain kalau buku-buku itu malah ketinggalan!" Seruku marah.
Alhasil pagi itu, aku memarahi Deva dan Devi karena mereka berdua benar-benar tak bisa di ajak kerjasama buku yang selesai kita kerjakan malah tertinggal dirumah. Di lain sisi kita harus melanjutkan Bab yang baru, Deva dan Devi mereka berdua benar-benar keterlaluan.
Akhirnya aku memutuskan ke kantin, karena kepala ku tak bisa berfikir. Dari pada pusing lebih baik aku ke kantin dan makan-makan.
"Tuh kan dia marah, kamu sih?!" Seru Deva.
"Deh, kan kamu yang lupa!?" Ujar Devi.
"Ah, yaudah kita ambil aja dirumah yuk!" Seru Devi.
Lalu aku ke kantin...
"Hadeuh, mereka berdua membuat aku jadi berselera makan, Bang siomaynya satu.!" Ujarku.
"Baik neng!" Jawab tukang siomay.
"Bu, nasi uduknya satu!" Ujarku sembari memilah-milih makanan.
Lagi enak-enak milih makanan tiba-tiba ada, kak Fikri yang datang...
"Ecca!" Serunya.
"Eh, kak Fikri!" Jawabku sembari mulut ku di penuhi makanan.
"Kamu sampe belepotan gitu!" Ujarnya sembari membersihkan mulutku yang penuh dengan makanan.
"Ah!" Jawabku, seketika dadaku bergetar aku tak kuasa keti melihat kak Fikri dari dekat.
"Maaf!" Ujarnya.
Kemudian aku buru-buru membersihkan wajahku dengan tisu.
"Ah,!" Jawabku.
__ADS_1
"Kamu ini makan kok buru-buru gitu, udah gitu banyak lagi, kayak orang kesurupan ajah!" Ujar kak Fikri sembari tertawa melihat tingkah polos diriku.
"Hehehe!" Ujarku yang juga ikut tertawa.
Seketika, aku jadi menertawakan ulah konyol diriku sendiri. Tetapi aku bersyukur, karena ada kak Fikri membuat aku jadi merasa senang dan seketika bisa melupakan tentang skripsi ku.
Tak kala semuanya memperhatikan kala aku mengenakan toga di kepalaku, perasaan bahagia dan senyuman indah di wajahku yang lantas tak serta merta membawaku kepada kenyataan bahwa aku lulus dengan nilai yang bagus. Aku sangat bersyukur, sekaligus senang dan juga bahagia, namun di lain sisi aku selalu saja teringat pada David ku.
"Ca, foto yuk!" Seru seseorang di balik kejauhan yang tak lain dan tak bukan adalah kak Fikri.
Dia datang bersama dengan Deva dan juga Devi, kak Fikri sekarang bekerja di kampus sebagai salah satu asisten dosen. Di balik semua, pekerjaan dan juga penantian panjang akhirnya aku lulus dan dengan bangga aku persembahkan toga ku untuk Ayah dan juga Ibu ku tercinta.
"Ah, ayok!!" Jawabku.
Kak Fikri sangat baik dia juga telah membantu diriku dalam menyelesaikan tugas-tugas skripsi ku yang sangat banyak, tetapi semua lelah ku terbayarkan dengan pencapaian yang luar biasa bahkan jauh di atas rata-rata.
"Alhamdulillah!" Syukurku.
"Ibu gak nyangka kamu bisa jadi sarjana!" Seru ibuku sembari mencium pipiku.
"Ia Alhamdulillah Bu ini semua juga berkat do'a ayah dan juga ibu" jawabku.
"Ayah mana?" Tanyaku.
"Tu dia!" Sambil menunjuk ke arah puluhan balon yang telah ayahku persiapkan untuk menyambut acara kelulusan ku.
"Ya ampun ayah sampe repot-repot gitu!" Ujarku.
"Selamat ya, nak!" Seru ayahku sembari memeluk ku.
Aku tak menyangka di sela-sela acara wisuda itu aku melihat sosok David. Dia tersenyum ke arah ku, dan dia melambaikan tangannya.
"David!" Seruku.
"Kenapa Ca?" Tanya ibuku.
"Ah, enggak. Aku kayak melihat seseorang" jawabku.
Namun kemudian sosok tersebut hilang dan lenyap...
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya ku dalam benakku.
"Ca!" Seru Deva.
"Foto dulu!" Ujar Devi.
Dalam situasi ini aku merasa carut marut, karena aku nantinya tak akan bisa bertemu lagi dengan Deva dan juga Devi sahabat ku yang sudah aku anggap sebagai saudara ku sendiri.
"Berarti abis ini kita gak bisa ketemu lagi dong?" Tanya Deva.
Cinta adalah candu jangan menggebu nanti jadi babu kekal di dalam semu, cinta itu anugrah jangan terlalu marah nanti luka parah nikmati dengan pasrah, cinta juga bisa mendewasakan pergi untuk menyabarkan menjatuhkan untuk menguatkan pelangi yang indah setelah hujan yang sangat deras.
ooOoo
__ADS_1