
...Pelangi Setelah Hujan...
Ada kebahagiaan yang aku rasa bersama dengan cinta dan juga setiap hal yang aku hayalkan dengan itu aku merasa bahwa Tuhan selalu bersamaku menjaga ku dan juga melindungi ku. Karenanya aku kuat karenanya aku merasa bangga menjadi diriku sendiri, meski aku sadar bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna semuanya mempunyai kelebihan dan juga kelebihannya masing-masing. Aku sadar setiap asa yang aku punya terkadang menjatuhkan diriku sendiri dan juga terkadang semua lelah yang ku perbuat bukan hanya memberi ku bahagia tapi juga memberikan peluang untuk tetap maju dan sukses.
"Kayaknya ada yang ngeliatin aku deh?" Tanyanya dalam benaknya.
Kemudian dia berubah dengan ekspresi terdiam dan berpura-pura membersihkan dirinya dari air hujan yang mengalir mengguyur dan membasahi dirinya.
"Kenapa kamu ngeliatin aku ajah?" Tanya cowok tersebut sembari mendekati aku ditempat ku berteduh.
"Deh siapa lagi yang ngeliatin kamu, GR!" Jawabku.
"Hmm, David apa dia David?" Tanyaku dalam benakku sembari memperhatikan cowok tersebut.
Aku hanya bisa termenung dan berfikir, kenapa bisa orang yang telah meninggal dunia punya kembaran yang sama dan mirip banget. Wajahnya, bibirnya, matanya, sungguh sangat-sangat mengingat ku kepada David. Semakin aku melihatnya semakin hatiku terasa sakit, pedih sangat pedih sungguh cinta ini sangat menyiksa ku.
ooOoo
Pelangi dengan warna yang berbeda mereka berkumpul bersama dan menjadi sebuah cahaya indah di langit, memberikan pemandangan indah yang membawa kebahagiaan. Namun, dia hanya ada sementara dan tak selama-lamanya. Hujan membawa kedamaian kepada sang awan dan juga alam, namun apakah hujan mampu menepis setiap kesuraman dalam hidupku.
Aku bernyanyi di balik awan sembari bertanya kepada sang mentari, kenapa pelangi hanya datang sekejap kemudian pergi lagi? Apa dia tak sadar kalau aku selalu menunggu pelangi setelah hujan? Tapi kenapa pelangi terkadang muncul terkadang tidak? Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan?.
"Kamu kenapa?" Tanyanya.
"Ah, enggak!" Jawabku.
"Kamu berlinang air mata!" Ujarnya.
"Ah, tidak ini hanya kelilipan saja kok!" Jawabku.
"Kelilipan tapi kok... Ah sudahlah!" Ujarnya dalam benaknya.
__ADS_1
Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik. Bukan, bukan karena kata sementara itu menyenangkan, hakikatnya, yang singkat tak akan pernah sepadan.
Bukan juga karena kata selamanya terdengar mustahil, sejatinya taka ada yang bisa terjadi di bumi, kalau kau bertanya kenapa, sebenarnya aku juga tidak tahu.
Aku bukan perasaan. Aku hanya berada di tubuh seorang perempuan yang tiap langkahnya berhadapan dengan perasaan. Dan sejujurnya tak enak, membosankan, mudah senang, mudah kecewa, mudah sedih, tapi juga mudah memaafkan.
Kadang ingin sekali aku hidup di dalam pikirannya, iya dia seorang laki-laki yang dari tadi cuma mendengar, cuma membaca, tapi tak pernah merasa.
Lantas semua bergeming, dalam suasana canggung berdua bersama lelaki yang tak aku kenal. Aku dan dia hanya terdiam dan tak bisa berbicara satu sama lain.
"Ah, rasanya tak nyaman. Tapi hujan tak kunjung reda!" Ujarku dalam benakku.
Tiba-tiba...
"Eh, maaf!" Serunya.
Tiba-tiba ia menyenggol ku...
"Kenapa hatiku berdebar-debar!" Ujarku dalam benakku.
"Kamu kedinginan?" Tanyanya sembari mencoba memecahkan keheningan.
"Ah, tidak.... (Sembari menggigil memegang tubuh)" jawabku.
"Hmm, nih pakai!" Serunya sembari memberikan jaket yang ia pakai.
"Ah,...(David)!!" Seruku dalam benakku.
Kemudian aku menoleh ke samping seraya mencoba menutupi wajahku yang berlinang air mata, kemudian aku menyapu air mataku. Rasanya nafasku terasa sesak aku tak tahu kenapa aku bisa berjumpa dengan David lagi tetapi dia bukan David ku.
Bukan kisah Romeo dan Juliet yang kisahnya apik tertulis dan juga di filmkan, bukan pula tentang Rama dan Shinta yang termasyhur. Bukan orang kaya, cuma orang biasa, bukan penulis tapi hanya seseorang yang ingin meluapkan setiap perasaan lewat bait kata-kata dan juga goresan tinta yang ku tuangkan bersama hati dan juga perasaan.
__ADS_1
Bait semusim yang tertulis manis tentang kisah kasih aku bersamanya yang duduk di pelataran cinta bersama dengan hati ku yang selalu terngiang-ngiang akan bisikan cintanya yang begitu merdu, tanpa batas waktu yang terungkap tapi tak mampu ku ucap. Aku hanya seseorang yang memujanya di balik kejauhan, aku hanya hanya seseorang yang berusaha keras untuk tetap setia bersamanya meski aku hanya berada di balik kejauhan, jangan tanyakan perasaan ku jika kau tak bisa beralih dari masa lalu yang menghantuimu karena ini sungguh tidak adil.
Aku hanya ingin kamu tahu meski dalam kejauhan aku selalu ada untukmu, meski semua cinta yang ku beri mungkin tak sebesar dengan pengorbanan yang kau beri untukku, ketika aku mencari dirimu tapi kamu dimana.
Jika mengingat waktu-waktu yang telah kamu habiskan dengan sahabat, segalanya pasti terasa menyenangkan, bukan? Meski pertengkaran kerap mewarnai persahabatan yang terjalin di antara kamu dan dia, tetapi perasaan jengkel dan amarah akan cepat tergantikan dan nggak pernah betah lama bersarang di hati.
Perselisihan pasti ada perbedaan pasti ada semua terjadi karena kita sahabat saling membantu dan membutuhkan, ingatkah tentang kertas bekas? Kertas bekas di bawah mejaku berisikan kenangan indah bersamamu sahabatku, sahabat terbaikku hujatan berceceran kepadaku masalah berdatangan kepadaku tetapi engkau sahabatku tak pernah mengeluh untuk menyemangatiku.
"Hachhhiu (Bersin)" ujarnya.
"Kayaknya dia mulai bersin, ya gimana gak bersin lepek gitu bajunya!" Seruku dalam benakku.
"Lagian kamu ngapain main hujan-hujanan sih?" Tanyaku.
Tanyaku sembari mencoba memecahkan keheningan, karena kita hanya berdua duduk dan mencoba menepi di tengah hujan yang sangat lebat.
"Ah, aku sebenarnya sangat suka hujan... Sedari dulu hujan sudah seperti bagian dalam hidupku, kamu tidak akan pernah bisa merasakan sensasi dimana kamu layaknya anak kecil yang sambil tersenyum menari-nari di tengah hujan" ujarnya panjang lebar sembari menceritakan.
"Lah kenapa dia kayak aku, dulu!!" Jawabku dalam benakku.
"Kamu kenapa? Aku aneh ya?" Tanyanya.
"Ah, nggak kenapa-kenapa!" Jawabku.
"Hm, banyak yang bilang kalau aku aneh karena aku suka bermain hujan. Padahal sebenarnya aku ini lemah dan gampang sakit, ibuku selalu memarahi aku jika aku bermain hujan tetapi aku sangat suka sekali main hujan-hujanan!" Ujarnya.
"Hm, Childs!" Jawabku.
"Apa?" Tanyanya.
"Ah, enggak kenapa-kenapa kok!" Jawabku.
__ADS_1
"Hadeuh untung dia gak denger (wkwkwk)" ujarku dalam benakku.
ooOoo